Laut dan Cinta

Laut dan Cinta
Pelarian Ann


__ADS_3

Dia melangkahkan kaki dengan pasti. Diciuminya hingga beberapa kali adik satu-satunya yang berusia delapan tahun dari pernikahan ibunya dengan Bakar, seorang laki-laki paruh baya, pemalas dan pembuat onar. Ayah tirinya itu bertubuh gempal, rambut keriting menekan ke atas karena keseringan pakai topi dengan rambut gondrong. Kulitnya hitam berminyak, kumis lebat dan bercincin batu akik hampir di segala jari tangan. Perutnya buncit. Pekerjaannya tukar parkir disebuah mini market di kota kecil ujung Barat Bangka. Uang yang dia dapat terkadang hanya dipakai untuk berjudi, main wanita dan hura-hura tidak karuan. Berjam-jam berdiri dengan rokok terpacing di bibir, menunggu uang dua ribu dari para pelanggan mini market, dihabiskan sesaat untuk karaoke bersama para wanita jal@ng di sebuah pusat karaoke yang berada di ujung desa Kemang, di lembah bukit Menumbing. Tempat tidak jauh dari gubuk bambu mereka.


"Pergilah Ann, dan jangan pikirkan ibu karena ibu bisa sendiri. Songsonglah masa depanmu, jangan sampai hidupmu seperti ibu." Wanita paruh baya yang nampak sudah sepuh karena urat leher bermunculan di lehernya yang tinggi dan kurus. Matanya cekung kekurangan gizi dan terlalu capek bekerja serta sering dipukuli. Di bawah matanya masih nampak lebam-lebam membiru. Dia berjalan ke arah dapur berlantai tanah dengan bilik bambu merekah bertambal plastik bekas baliho. Sinar matahari menyembul masuk ke dalam rumah. Waktu menunjukkan Pukul. 06.00 WIB.


"Ann berjanji akan mengirimi ibu dan Rafi uang lewat kantor pos jika Ann sudah punya uang." Gadis cantik, berambut hitam sebahu dengan kulit sedikit hitam karena setiap hari terpanggang matahari itu bicara pelan. Kembali dia menyeka air mata, mengambil tas jinjing besar pemberian mantan bossnya di warung pecel ulek. Lima menit lagi, mobil akan datang menjemputnya. Dan benar saja, lima menit kemudian mobil Hilux silver datang, nampak di atasnya belasan gadis belia sudah duduk di atas mobil beralas terpal. Ada yang menutup kepala dengan jaket, ada yang memayungi kepala mereka dengan topi atau potongan kardus air mineral. Senyap saja di sana, tidak ada suara cekikikan khas gadis belia yang berbahagia.


"Ann, apa ibumu menangis saat kau pergi?" Tini, sahabat masa kecilnya itu bertanya pelan ketika Ann sudah dinaikkan oleh kedua laki-laki bertato yang kekar.


"Kurasa iya, soalnya setiap kali aku berpamitan dia menjawab sambil menjauh, tidak ingin menampakkan wajah sedih di hadapanku, tak ingin pula menatap wajahku yang bersedih." Ann menjawab pelan. Nadanya bergetar hangat.


"Aku sedih dan juga takut." Tini bicara tertahan. Gadis lainnya mulai ikut mengobrol dan berkenalan dengan berbisik-bisik. Mereka adalah para gadis dari keluarga miskin yang akan diangkut menyebrangi lautan. Sesuai isi kontrak dari tim penjemput mereka dikatakan bahwa, mereka akan dipekerjakan di beberapa restoran Cina yang berada di Thailand. Karena desakan ekonomi yang morat-marit dan catatan gaji yang akan diterima dalam jumlah besar, mereka pun tergiur dan mendaftarkan diri untuk menjadi pelayan restoran. Para gadis belia itu sama dengan Ann, berusia sekitar tujuh belas tahunan, tamat SMA dan tidak punya uang untuk kuliah, bahkan ada diantara mereka yang bahkan tidak menamatkan Sekolah Dasar sama sekali.


*****


"Cepat turun..., semua turun, ayo turun." Setelah setengah jam berada di atas mobil bak terbuka itu, sopir yang menjemput mereka berteriak kencang diantara derai angin laut yang sangat kencang.


"Kita di mana ya om?" Salah satu dari mereka bertanya.


"Sudah jangan banyak tanya, silahkan naik. Kapal sudah lama menunggu." Sopir menjawab sambil membantu para gadis turun menenteng tas bawaan. Tangan sopir itu memanfaatkan kesempatan, dia menepuk-nepuk pantat mereka saat berusaha turun di mobil yang tidak dibukakan kait pengunci pintu bak mobil bagian belakang. Mereka hanya meletakkan satu buah kursi plastik biru untuk membantu mereka turun ke pelataran dermaga.


"Ini dermaga apa om?" Ann yang merasa heran melihat situasinya bertanya saat turun dari mobil. Dia merasa dermaga ini berbeda dengan dermaga tempat biasanya dia menjual makanan. Dia bahkan baru melihat dermaga kecil ini. Disela-sela kebingungannya, anak rambutnya yang tertiup angin melambai-lambai. Disekanya dengan jemari lentik tangan kiri. Dandanannya begitu rapi meski bukan dengan pakaian baru. Rok pendek hitam, dengan tshirt berwarna putih bahan jagung lengan pendek dimasukkan ke dalam rok. Kakinya menempel pula sepatu kesayangan yang dihadiahkan tetangganya berprofesi tukang barang bekas saat menemukan di tempat pembuangan sampah. Merk Gucci namun kulit luar sudah melepuh dan bagian telapak sepatu sudah disol.


"Sudah naik saja ke kapal, banyak bacot kamu ya! Kapalnya mau segera berangkat, cepat naik. Kalau kamu ketinggalan kami yang repot." Sopir malah memerintah tanpa menjawab pertanyaannya.


"Om juga belum naik, katanya akan ikut bersama kami sampai ke Thailand." Ann mencoba protes.


"Plak!" satu tamparan mendarat di pipi mulus Ann, langsung memerah. Bukan hanya Ann yang terkejut tetapi belasan gadis yang bersamanya duduk di bak terbuka tadi menatap heran.


"Ann, kamu tidak apa-apa?" Tini mendekat meski kakinya sudah hampir menapaki jembatan penghubung lantai dermaga dengan pintu kapal. Dia melihat Ann kena pukul dan mencoba menolong.


"Pergi masuk kamu! Jangan coba-coba mengikuti gayanya yang cerewet." teman sopir, laki-laki kurus berkalung rantai putih sekelingking wanita berat tujuh puluh tiga kilo mendekat, dia mendorong Tini segera masuk ke pintu kapal. Tini tak berdaya. Badannya berjalan menuju kapal dengan kepala menoleh ke belakang.


"Hey! Siapa namamu tadi? Anne Stefanny! Cepat masuk!" Sopir mobil pick up kembali menghardik Ann. Dia memukul bahu kiri gadis cantik itu.


"Aku tidak jadi ikut berangkat om, aku punya firasat yang buruk, aku mau bertemu ibuku." Ann mulai menangis sambil menggosok bahu yang dipukul sopir tadi. Kesedihan tiba-tiba menghujam dadanya. Ulu hatinya menyiratkan sebuah ketakutan. Bukankah ibu dia tinggalkan dalam keadaan sedang bertengkar besar dengan ayah tirinya yang kejam. Ann merasa ibunya sedang dalam bahaya.


"Tidak ada yang boleh batal berangkat. Bukankah kalian telah dijual oleh keluarga kalian sendiri? Jadi kalian sudah menjadi hak kami." Sopir itu menjawab ketus, dia menarik rambut Ann dengan keras. Ann melepaskan diri.

__ADS_1


"Apa yang Bapak bilang? Kami dijual? Bukankah di perjanjian kerja kami akan mengisi restoran Thailand dengan menu masakan Cina?"


"Hahahaha..., orang miskin begitu gampang percaya. Bagaimana mungkin kalian yang tidak paham bahasa sana akan benar-benar bekerja di restoran. Kalian ini lugu apa pura-pura lugu saja sih...." Sopir dan temannya terbahak-bahak menertawakan. Sementara Ann semakin berlinang air mata mendengar penjelasan sopir itu.


"Jadi? Kami akan kalian bawa kemana?" Ann kembali menangis. Jantungnya berdegup kencang. Entah kenapa dia sedih sekali mengingat ibunya.


"Kau mau tau? Kalian akan menjadi milik tuan baru kalian, mereka sudah berada di dalam kapal, selebihnya silahkan nikmati saja karena kami tidak akan terlibat lagi dengan gadis yang sudah masuk ke pintu kapal itu." Si tengil yang kurus menjawab dengan terkekeh. Dia menyulut sebatang rokok sambil mulai menarik siku Ann.


"Masuklah, jangan merepotkan kami. Selama kamu belum masuk ke kapal, kami pasti akan kena masalah." Sopir kembali mengingatkan.


"Baiklah, jangan paksa aku, biarkan aku berjalan sendiri masuk ke sana dan tolong antar aku turut serta, aku takut terjatuh, lautnya sedang pasang." Ann bicara sambil menenteng tasnya menelusuri pasir putih bercampur biji-biji dan daun-daun beserta ranting-ranting mati pohon ketapang. Kakinya menimbulkan lubang-lubang baru di atas pasir.


"Baiklah nona manis, kami akan mengantarmu, lihatlah itu anak buah bos barumu sudah memberikan kode agar kau segera masuk." Si cempreng bicara sambil membuang puntung rokok ke lantai jembatan kayu menuju kapal. Dia menginjak-injak rokok yang masih menyala di atas jembatab kecil yang panjangnya sekitar lima puluh lima meter ke tengah laut yang sedang pasang. Kapal nampak bergoyang-goyang diterpa gelombang pasang air laut Tanjung Kalian Muntok.


"Hati-hati nona cantik, pastikan langkahmu kokoh agar bisa bertahan menuju pintu kapal." Si cempreng memegang tangan kanan Ann, sedangkan tasnya sudah dilempar si sopir ke seorang laki-laki yang berada di dalam kapal. Pas di tengah jembatan, Ann dengan cekatan melepaskan pegangan tangan si Ceking dan segera melompat ke air laut setinggi dua meter lebih. Ketiga lelaki yang tidak menyangka hal itu akan terjadi saling berpandangan.


"Set@aaannn..., dia sengaja cari mati. Mana dia? Kemana gadis bodoh itu?" Sopir mobil pick up miso-miso. Dia menghentak-hentakkan kaki ke lantai yang ikut bergoyang karena gelombang. Tangannya bahkan seketika memar karena dia pukulkan ke pegangan di jembatan kayu menuju jembatan penghubung ke kapal.


"Itu dia muncul Do! Kau kejar gadis itu, katamu dia yang tercantik tetapi dia malah yang mau kabur. Cepat kalian tangkap dia!" Laki-laki berambut merah klimis dengan dagu beranting dan bibir hitam berteriak seraya menunjuk ke arah Ann yang muncul sekitar dua puluh meter dari dia melompat. Laki-laki cungkring dan yang dipanggil Do segera berlari menelusuri jembatan kecil di tengah laut itu. Dia menyusul Ann yang sudah naik ke daratan dengan sekujur baju yang basah. Dia melarikan diri masuk melalui celah dedauan di pinggir pasir pantai tanpa sepatu kesayangan lagi. Bajunya yang berwarna putih dan basah membuat BHnya yang berwarna ping nampak jelas. Dia gunakan kesempatan untuk kabur dengan lari sekuat tenaga. Sementara kedua laki-laki yang mengejarnya sudah mengacungkan pistol dan mulai masuk hutan pinggir pantai pula.


"Ann, keluarlah! Kita akan mengantarmu kembali berpamitan kepada ibumu dan berangkat setelah kau setuju, keluarlah." Suara sekuat tenaga dari seorang laki-laki yang dihalau angin Barat lekat di telinganya yang semakin jauh meninggalkan bibir pantai menuju sebelah Timur. Kedua laki-laki yang mengejarnya kembali menunduk, menyusuri jejak titik-titik air yang menetes dari baju yang dikenakan Ann.


"Kau pikir bisa lari dari kami? Jangan bermimpi Ann, jika kau tidak kutemukan hari ini, aku yang akan dihabisi oleh mereka." sambil bergumam Do menyingkap dedauan lebar yang biasa dibungkuskan masyarakat Bangka membuat lontong, membalut tempe atau membungkus tape singkong. Daun simpur. Do kembali menyusuri ke arah Timur karena tanah kering di hutan, separuh menyisakan titik-titik air. Do yakin itu titik air dari baju Ann yang basah.


*****


Sementara Ann, dia sejenak berhenti dan menoleh. Dengan berlari setengah berjongkok di antara dedauan pinggiran hutan Pantai Tanjung Kalian sebelah Utara, dia mengatur nafas. Dia bolak-balik berusaha mengecoh jalan yang dilaluinya dengan mengulang langkah-langkahnya ke arah yang berbeda. Dia terus berlari hingga lebih setengah jam lamanya. Beruntung kakinya masih mengenakan kaus kaki pendek. Jadi tidak terlalu banyak duri yang menusuk. Namun betis putih jenjangnya penuh goresan-goresan dengan putih membekas bahkan ada yang sampai berdarah. Tangan yang menyibak ranting, daun dan batang-batang segala macam di hutan yang tidak dikenalnya itu juga banyak menimbulkan goresan dan luka. Semua tidak ia rasakan. Dengan menahan diri agar tidak terjatuh dan ditemukan bandit yang sedang menjegalnya dia tetap berlari. Namun sekuat-kuatnya tenaga wanita, akhirnya lumpuh juga. Nafasnya sangat ngosh-ngoshan. Berkali-kali dia berhenti-berjongkok memegang kedua lutut dan mengatur pernapasan. Namun baru saja dia melepaskan kaus kaki yang sudah berat bekas terinjak lumpur dan tanah hutan, dia menoleh sekitar dua puluh meter di belakangnya si Cungkring dan Do sudah hampir mendekatinya. Dia kembali menegakkan badan. Menerobos lari kembali menuju hutan sebelah Timur. Sekitar tiga menit dia kembali berlari, dia terkejut. Nampak olehnya pemandangan yang sangat menakjubkan. Batu-batuan besar dan tinggi tersusun rapi di tengah perkebunan karet yang tidak terurus. Batu-batuan itu mengitari sebuah sungai jernih dari mata air sendiri. Batu-batu kecil nampak dari permukaan air yang berkedalaman sekitar dua meter.


"Ann..., keluarlah."


Ann semakin tergagap, napasnya tidak boleh terhenti. Dia tidak boleh tertangkap.


"Aku harus sembunyi." Lalu dengan berjongkok dia berjalan merayap di sela-sela dedauan agar tidak terlihat. Tiba-tiba Ann melihat ada sebuah kain tergeletak di atas sebuah batu yang indah. Dia berdiri dan segera melepaskan semua pakaiannya. Dengan mematahkan ranting besar, dia sekejap menggali lubang di tanah di bawah sebuah batu seukuran tas anak sekolah. Dia lepaskan semua pakaiannya satu persatu. Tsirt putih, BH ping berenda-renda cantik, dibukanya resliting rok hitam dia turunkan seketika dan dia buka pula celana dalam cream. Dia tel@njang bulat, tak sehelai benangpun menutupinya. Dia duduk dan mengubur semua pakaian yang dilepasnya, lalu menghilangkan jejak dengan menimpanya dengan batu besar. Setelah selesai, lalu dia ikatkan kain panjang yang dia temukan ke badannya yang ramping.


"Kok harum kainnya? Ini pasti punya bidadari seperti cerita di film-film itu." Ann bicara sendiri sambil menyisipkan ujung kain ke sela-sela payud@ra sebelah kanannya.


"Itu milikku, dan aku bukan bidadari." Ann terkejut dan langsung menoleh. Bagaimana mungkin dia tidak melihat sepasang mata elang menatap ke arahnya. Di tangannya nampak masih memegang pancing dengan joran yang sudah dipendekkan. Dia berdiri empat meter darinya bertel@njang tadi.

__ADS_1


"Kau siapa? Kau melihatku tadi? Apa kau sudah lama berdiri di situ? Kenapa kau tidak bersuara?" Ann gelagapan, malu dan rasa ingin marah. Namun laki-laki dengan mengenakan boxer tipis itu tidak menjawab. Ekspresinya lebih terkejut lagi dari wajah Ann.


"Apa kau sedang bermasalah?" Laki-laki tampan berusia sekitar 26 tahun, berperawakan tinggi dengan kulit putih bertanya.


"Tidak! Aku tak punya masalah. Kaulah yang membuat masalah denganku, mengapa kau diam saja melihatku tak berbusana?" Ann bersuara keras. Dia malu dan marah sekali kepada pemuda tampan itu.


"Suaranya di sebelah sini boss." terdengar suara si Cungkring semakin dekat. Ann tersadar kembali sedang dalam pengejaran dua lelaki yang akan menjualnya. Benar saja, dia melihat Do dan Cungkring sudah berada sekitar lima meter jarak darinya. Ann tak mampu lagi untuk berlari, berjalan saja lututny sudah gemetar. Tidak mungkin dia pergi dan lepas dari kedua laki-laki itu. Dia hampir pasrah apalagi melihat dua tembakan ke udara dari pistol di tangan Do, namun seketika dia menghambur, bergelayut manja ke leher laki-laki yang berdiri di dekat kolam hutan yang indah. Ann tak punya pilihan lain demi untuk menyelamatkan nyawanya.


"Ann..., keluarlah atau kutembak kau." Satu tembakan lagi ke atas membuat keduanya terperanjat. Ann memutar badan si pria tampan, dia berbalik mendekat lebih erat lagi. Ann tak punya pilihan lain saat itu, Ann harus tetap bertahan hidup. Ann tidak ingin mati konyol. Ann harus kembali dan bertemu ibu. Secepat kilat dia menempelkan wajah ke wajah pria tampan yang membelalakkan mata karena terkejut. Belum hilang rasa penasarannya, Ann sudah melum@t bibir seksinya, ******* yang hangat dan nampak bernafsu. Bahkan tangan Ann berani turun mendekapkan genggaman ke tempat tersensitif pria tampan itu.


"Ann?" Do seketika mendekat. Jarak mereka sekitar dua meter lagi. Nampaknya keduanya mencurigai Ann.


"Tolong selamatkan nyawaku..., tolonglah, aku masih ingin bertemu ibu, ibuku sakit keras...." Ann berhenti melum@t bibir pria itu, kini tangannya menyusuri bahu kekar laki-laki di pelukannya. Dia nampak seperti sedang begitu ingin bercinta.


"Anne?" Do mencoba memiringkan wajahnya untuk melihat wajah Ann dengan lebih teliti. Namun pria di dekapannya malah memiringkan wajah Ann dengan sengaja untuk menghindari tatapan Do. Pria itu justru menutupi wajahnya dengan memberikan ciuman bertubi-tubi. Ann membalas kembali melum@t bibir pria itu, dia lingkarkan kedua tangan ke pinggangnya.


"Ann?"


"Hey kalian! Ann..., Ann..., Ann..., mengganggu saja, kita sudah susah-susah bulan madu ke sini, masih saja ada orang bodoh seperti kalian...." Pria tampan menggertak Do dan Cungkring. Dia tidak gentar melihat pistol di tangan Do.


"Eh maaf maaf maaf pak. Tapi apakah kalian ada melihat seorang wanita berambut sebahu seperti wanitamu itu melewati jalan ini?" Do bertanya. Dia kaget mendapat bentakan tiba-tiba.


"Kami sudah tiga hari di sini, belum ada seorang pun yang lewat." Pria dalam pelukan Ann menjawab.


"Owh baiklah, ayo Jef kita cari lagi gadis sialan itu...." Do mengajak Jef kembali ke arah pinggiran pantai. Ann berusaha melepaskan diri namun pria tampan itu masih menciuminya.


"Tolong lepaskan, mereka sudah pergi." Ann berusaha melepaskan diri namun pria tampan justru menggendongnya sambil membawa tas pancing. Dia tersenyum manis menatap Ann, menjauh dari sana.


"Hey jangan kurang ajar kamu, aku tadi hanya bepura-pura." Ann berusaha melepaskan diri, namun laki-laki itu terus menggendongnya menjauh dari sungai berbatu yang indah.


"Diamlah, dua pasang mata masih mengintaimu, jika wajahmu terlihat, aku tidak bisa menolongmu lagi...." Pria itu berbisik sambil menundukkan kepala seakan mencium Ann. Ann terdiam, dia kembali melingkarkan tangan ke leher laki-laki yang tidak dikenalnya itu.


"Terima kasih." perlahan, Ann menaikkan kembali lehernya dan memberikan kecup@n hangat kepada si pria. Dan dari balik semak di sebelah batu besar dua laki-laki bersitatap.


"Dia benar-benar bukan Ann, ayo kita kembali dulu ke kapal, mungkin mereka harus pergi tanpa Ann." Do bicara dengan lesu sambil menyisipkan kembali pistol ke pinggangnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2