
Belum jauh laju kendaraan yang ditumpangi keluarga Zellin. Kakek naik dengan tergopoh-gopoh ke lantai atas. Dia langsung menggebrak pintu kamar Alman yang tidak terkunci. Alman yang sedang duduk di sofa depan tivi kamarnya seketika menoleh dan berdiri.
"Hei anak kurang ajar, apa yang telah engkau lakukan hah? Kau mempermalukan kakek di depan sahabat baik kakek Al. Kau kejar mereka dan segeralah meminta maaf. Persahabatan kakek berpuluh-puluh tahun hancur begitu saja karena ulahmu." Kakek begitu begitu marah. Matanya melotot dengan urat leher menyembul besar. Tangannya mengacung menunjuk wajah Alman yang terdiam.
"Maaf kek." Alman bicara pelan.
"Maaf maaf maaf, semuanya menjadi berantakan. Jika begini sikapmu, kakek tidak akan pernah mewariskan kepemilikan hotel atas namamu!" Kakek benar-benar emosi dibuatnya. Alman hanya diam, dia telah duduk menunduk di sofa.
"Jangan berharap bisa mewarisi hartaku, kau hanya berfoya-foya saja. Giliran mau dinikahkan saja dengan wanita baik, terpelajar, cantik dari keturunan yang jelas kau malah menolak. Gonta ganti wanita, menghambur-hamburkan uang saja taumu." Kakek masih emosi. Dia bicara meluap-luap.
"Maaf kek, selama ini kakek memang terlalu...."
"Diam! Tidak usah kau bicara lagi. Jika tidak mau menikah dengan Zellin, silahkan kau angkat kaki dari rumah ini. Kuhapus semua data dirimu dari hak warisku." Kakek menunjuk muka Alman dengan geram sambil mengibaskan syalnya yang terjatuh dari lilitan belakang.
"Kakek mengusir Al?" Alman berdiri, menatap mata kakeknya dengan tajam. Nenek mencoba menarik kakek yang masih tersulut emosinya. Pak Daniyal menarik Alman agar duduk dan diam saja. Jangan menyahut saat kakek sedang marah. Bu Rily datang menarik Alman menjauh.
"Duduk saja nak, duduk. Al, kau duduk di sini. Jangan menjawab kakekmu." Bu Rily menenangkan, dia berbisik samar.
"Sekarang kakek mengusir Al hanya karena menolak Zellin? Kakek memang hebat, laki-laki terpandang, kaya raya. Jika kakek benar-benar memutuskan membuangku hanya karena menolak Zellin, itu lebih baik. Jadi aku bisa pergi dari rumah ini dan menikah dengan gadis pilihanku sendiri." Alman bicara tegas. Dia tersenyum sinis dengan wajah memerah juga menahan emosi.
"Apa kau bilang? Gadis mana yang menjadi pilihanmu? Setiap malam kau bahkan bergonta ganti wanita." Kakek belum puas memarahi cucunya itu. Bahasanya semakin kasar saja.
"Itu tidak akan terjadi lagi kek, berfoya-foya, bermain wanita, tidak akan ada lagi dalam kehidupanku, aku akan segera menikahi satu gadis yang bisa membuatku bahagia." Alman dengan percaya diri menyahut. Matanya menatap Ann yang juga sudah naik ke lantai dua mengiringi nenek.
"Anak siapa? Paling juga wanita tidak jelas." Kakek mencemooh.
"Ini kek, ini wanita yang kucintai. Aku mengenalnya sebelum seisi rumah ini mengenalnya. Aku akan menikahi Ann, sekretaris nenek. Ann! Aku akan menikahinya."
"Alman!"
"Alman!"
__ADS_1
"Alman!"
Bu Cita, Pak Daniyal, dan Bu Rily berbarengan menyebut nama Alman. Mereka memperingatkan agar Alman berhenti bicara dan jangan lagi menjawab omelan kakek. Biasanya kakek akan berhenti sendiri jika yang dia marahi diam. Mereka berpandangan menatap Alman dan Ann. Ann terperanjat. Dia sunggu tidak menyangka Alman akan secepat itu bicara.
"Apa kau bilang, kau akan menikahinya? Silahkan saja nikahi siapa yang kaucintai itu, mulai malam ini kau keluar dari rumah ini dan kau..., kau juga kupecat mulai detik ini." Kakek ikut menunjuk wajah Ann yang tersirap.
Ann benar-benar tercengang, berkali-kali dia menelan ludah, dia menatap Alman kebingungan. Entah apa yang ada di pikiran Alman. Bukankah dia sudah berulang-ulang mengatakan agar melupakannya. Dia malah membuat keributan dan membuka rahasia hubungan mereka. Ann terduduk, dia berlutut ke Kakek. Air matanya begitu cepat keluar.
"Maafkan saya pak. Saya yang salah. Saya tidak akan menampakkan diri lagi mulai malam ini. Tetapi mohon kakek jangan mengusir Alman, tolonglah pak." Ann berurai air mata. Kakek tidak menanggapi.
"Mengapa seleramu sekarang berubah? Tidak adakah yang lebih baik dari wanita tak jelas ini?" Kakek mendekati Alman lagi. Dia bertanya sinis.
"Kakek jangan ikut campur lagi kehidupanku. Semua pemberian kakek, semua barangku pembelian hasil dari uang kakek kukembalikan malam ini." Alman mengambil kunci motor di laci mejanya.
"Ini semua kartu Kredit dan ATM yang ada padaku, kuserahkan kembali." Ann mengeluarkan isi dompetnya, dia kemudian memegang dompet di tangan kirinya beserta kunci motor. Lalu tangan kanannya meraih tangan Ann keluar.
"Ayo Ann kita pergi dari sini."
"Kamu kenapa Alman. Jangan gegabah seperti ini." Ann menepiskan tangannya saat sudah di luar. Alman tak menggubrisnya.
"Naiklah."
"Apa yang kau lakukan?"
"Naiklah kubilang." Alman menatap Ann penuh arti.
Ann naik ke belakang Alman. Tak lama kemudian suara motor terdengar keluar meninggalkan halaman rumah megah itu.
"Alman!" Bu Rily berteriak memanggil, namun Alman sudah menelusuri jalanan sepi membonceng wanita yang benar-benar dia sayangi. Nenek masuk ke kamar diam-diam. Bu Rily tersedu masuk pula ke kamar mereka. Kakek mematung seperti orang hilang ingatan, dia menekan dada kirinya, sesak seketika datang. Pak Daniyal duduk sendiri di kursi teras utama dengan pikiran yang ikut kebingungan. Tak lama kemudian dia menyusul masuk ke kamar menemui istrinya.
"Sudahlah jangan ditangisi. Paling juga dia menginap di hotel, markasnya kan di sana. Dia tidak akan bertahan tiga hari tanpa kartu-kartu yang dia tinggalkan." Pak Daniyal membujuk istrinya. Namun Bu Rily masih saja terisak.
__ADS_1
"Meski agak nakal, dia itu tidak pernah membangkang dan marah. Tapi kenapa tadi kelihatan dia benar-benar marah Pa."
"Sudahlah, besok atau lusa dia pasti sudah kembali." Pak Daniyal meyakinkan. Sedangkan nenek dari kamar membuka brankas dan mengambil uang seratus juta rupiah. Diam-diam menelpon pak Yoga dan menyuruhnya mengantarkan ke Alman yang nenek yakin masih berada di rumah kontrakan Ann. Sementara Alman membawa Ann ke sebuah masjid, menemui seorang ustadz yang masih sahabatnya. Dia menelpon dan mengabarkan membawa Ann ke rumahnya.
"Mohon maaf ustadz, tapi yah begitulah kehidupan. Aku tidak punya apa-apa lagi sekarang karena kakek sudah mengusirku dari kehidupannya. Aku ingin memulai hidup baru, aku akan menginap di rumah kontrakannya, aku ingin menikahinya malam ini juga."
"Wah kok seperti buru-buru Pak Alman." Ustadz muda itu tersenyum-senyum saja.
"Aku tidak ingin dia cemas bersamaku. Biarkan kami halal dan memulai kehidupan menjadi orang biasa." Alman meyakinkan diri. Sedangkan Ann hanya diam membisu. Dia merasa aneh dengan gebrakan yang dilakukan oleh kekasih hatinya itu.
"Baiklah, tunggu di sini, saya akan menelpon pak RT dan pengurus masjid. Kalian butuh saksi, dan wali hakim jika dia tidak ada ayah kandung lagi."
"Baiklah ustadz." Alman menjawab, sedangkan ustadz klke dalam rumah, menelpon beberapa orang yang berkaitan dengan permasalahan Alman dan Ann.
"Alman, apa yang kau lakukan?" Ann bertanya saat mereka hanya berdua saja di ruangan itu.
"Diamlah dan jangan banyak pertanyaan. Cukup jawab saja pertanyaanku Ann. Maukah kau menikah denganku malam ini dengan mahar uang lima juta rupiah di dompetku....?" Alman menatap Ann penuh harap. Ann pusing dibuatnya. Tetapi melihat kesungguhan dan pengorbanan Alman yang rela meninggalkan harta benda demi dirinya, Ann akhirnya mengangguk. Air matanya meleleh tidak tertahan lagi.
"Kita tidak pulang ke kontrakan dulu?" Ann bertanya.
"Setelah aku sah menjadi suamimu, kita ambil barang-barangmu."
"Kita ambil? Kita akan kemana?"
"Ke tempat pertama kita bertemu."
"Ke kebun? Malam-malam?"
"Itu lebih baik."
Ann diam saja. Dia dibingungkan dengan tindakan agresif seorang Alman dalam mengambil keputusan. Namun apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Alman sudah memulainya, akan sulit baginya jika berhenti di tengah jalan. Hanya saja dia butuh waktu untuk menenangkan hatinya yang nerasa semua itu hanya sebuah mimpi.
__ADS_1
*****bersambung*****