
Langit cerah, Ann merasakan kebahagiaan luar biasa menemukan keluarga baru meski hatinya mengganjal atas perasaan rindu yang datang tiba-tiba kepada Alman. Handphonenya sudah berkali-kali berbunyi, waktu menunjukkan pukul 09.55 WIB, jadwal pertemuan nanna dan nonnonya tinggal lima belas menit lagi bersama Alman, laki-laki yang dia rindukan. Hati Ann semakin berdebar tidak karuan.
Sekian lama dia tersiksa, sekian lama dia menanti untuk menatap si mata elang itu, inilah kesempatannya untuk berjumpa dan menatap puas wajah Alman. Namun di sisi lain dia masih gelisah, apakah yang akan terjadi nanti saat Ann berjumpa dengan Alman. Apa pendapat Alman ketika mengetahui dia adalah cucu kandung dari investor yang ditujunya. Lambat laun nanti semuanya akan terbongkar, lebih baik segera saja agar semua tidak menjadi beban. Risiko hal yang wajar. Ann bertekat untuk jujur.
*****
Diwaktu yang bersamaan, Alman berkali-kali mondar-mandir berjalan di ruangannya, berkali-kali dia menatap ke kaca. Alman mengenakan setelan jas hitam merk Dormeuil Vanguish II yang sering dipakai para selebritis kenamaan. Dia semakin tampan saja terlihat. Jas mahal itu menambah kharismanya.
"Apa dandananku cukup begini saja Al?" Zellin datang dengan dandanan sempurna. Dia mengenakan outvit dengan warna bright or shock pink merk terkenal, Gucci. Alman menatapnya sesaat.
"Tanya pak Alex, aku tidak ingin menatapmu untuk menilai." Alman menjawab cuek. Dia membenarkan rambutnya yang keluar sedikit dari sibakan klimisnya. Zellin merengut dan kembali berdiri mematut di depan kaca.
"Heran sama kamu Al, hanya kamu yang berani menolakku, pria di luar sana berebut menginginkan gadis secantik aku." Zellin kesal dikacangin.
"Cantik menurutmu, tetapi tidak bagi mataku. Tetap yang tercantik adalah Anne Steafanny. Istriku yang kucintai, dan selalu di hati." Alman menjawab lantang tanpa peduli perasaan Zellin yang semakin dongkol saja.
"Tolong bersikap baik saat di sana nanti. Aku tidak ingin kehilangan proyek besarku." Alman bicara kepada Zellin.
__ADS_1
"Apa perlu aku menambah keromantisan sayang?" Zellin bertanya menggoda.
"Sayang? Sayang katamu? Ih..., najis!" Alman bergidik mendengarnya. Zellin menebalkan muka, seolah dia tidak mendengar ucapan itu.
"Pak Alex, Indra."
"Iya pak."
"Tolong bawa lagi salinan proposalnya."
"Siap." Indra menjawab. Tak lama kemudian mereka menuju ke ruang pertemuan eksklusif lantai enam, ruangan berukuran delapan kali sepuluh meter yang berada depan pintu lift jalur khusu karyawan.
"Selamat pagi Ibu dan Bapak, semoga kalian nyaman menginap di hotel ini." Alman beramah tamah menyalami bu Alyne dan pak Yoko, Alman menebar pesona senyum tampannya. Dia ingin memberikan kesan yang baik di depan calon investornya itu.
"Ini bu, pak, kenalkan istri saya, Zellin." Alman merengkuh tangan Zellin, mengajak mendekat ke tempat duduk yang sudah disediakan untuknya. Pak Alex dan Indra menunggu di dekat pintu. Zellin tampil sempurna, kecantikannya semakin memesona dengan perpaduan pakaian dan sepatu hak tinggi keemasan yang dia kenakan. Di pergelangan tangannya melilit beberapa buah gelang emas segala ukuran dan motif. Jam tangan seharga mobil nangkring cantik pula di pergelangan kirinya. Rambutnya disanggul tinggi menyesuaikan dengan acara-acara para pengusaha hebat.
"Istrimu cantik sekali pak Alman, kau sungguh beruntung." Pak Yoko tersenyum ramah dan mengajak santai. Mereka kemudian duduk berhadapan di kursi persegi empat yang panjang dengan cover putih. Di sebelah dinding di hadapan mereka sudah siap sebuah layar untuk menampilkan paparan Alman secara langsung. Alman tidak ingin proyeknya dikerjakan anak buah, karena proyek ini adalah satu-satunya langkah cepat menghadirkan kembali kekasih hatinya, Ann. Di depannya sudah ada sebuah laptop notebook samsung Galaxy Book Flex i5 8gb 512GB SSD seharga hampir empat puluh juta. Zellin meletakkan tas mewahnya di meja depan dia duduk. Bu Alyne mengutak-atik handphone nya lalu terdengar seperti memanggil seseorang.
"Tunggu sebentar pak Alman, biarkan cucu kandung saya ikut pertemuan ini, agar dia terbiasa menghadapi beberapa karakter rekan bisnis, dan situasi yang dihadapi." Bu Alyne bicara ramah. Alman seketika mengangguk.
__ADS_1
"Iya bu, santai saja, saya malah lebih leluasa mengambil napas agar tidak terlalu tegang." Alman menjawab.
"Kok tegang pak Alman?" Pak Yoko bertanya sambil membuka-buka lagi print out proposal Alman.
"Iya, khawatir proyeknya ditolak pak Yoko." Alman berseloroh.
"Hahaha..., bisa saja, seperti kita baru kenal sehari saja pak Alman." Pak Yoko menjawab. Raz, wanita muda dan cantik, sekretaris Bu Alyne telah siap menulis semua yang menjadi agenda pertemuan. Dia duduk di sebelah kursi kosong samping bu Alyne. Zellin nampak mengajak ngobrol bu Alyne dengan ramah. Empat buah kamera video dengan tripot tinggi sudah menyala dari tadi. Semenit terlewat, dua menit berlalu hingga sampai sepuluh menit belum ada tanda-tanda kehadiran seseorang yang ditunggu bu Alyne. Akhirnya pak Yoko menyuruh Alman mulai presentasi.
"Silahkan pak Alman dimulai saja, mungkin cucu kandung kami tidak mau ke sini. Dia agak pemalu soalnya," Pak Yoko mengintruksikan.
"Baiklah pak saya mohon izin." Alman kembali membuka laptopnya yang dia lipat saat mengobrol dengan pak Yoko. Dia mulai menghidupkan pointer hitam dari sakunya. Layar sudah menampakkan sebuah dekstop bergambar sangat indah. Nuansa perkebunan dengan segala jenis tanaman bunga dan buah. Di tengah tempat duduk yang menghadap ke laut, nampak sepasang manusia duduk berpelukan dengan mesra. Masing-masing satu tangan mereka menunjuk sebelah ke arah matahari yang hampir tenggelam. Burung camar nampak terbang di atas laut biru yang berbuih memecah karang. Sebuah gerbang masuk dipenuhi aneka warna bunga bertuliskan 'Ann's Garden'.
"Fantastik!" Pak Yoko langsung mengomentari gambar dekstop yang terlihat. Alman tersenyum riang.
"Pak Yoko harus melihat desain di dalamnya." kepercayaan diri Alman seketika meningkat. Dia yakin pak Yoko akan menyukai proyeknya. Bu Alyne juga ikut tersenyum senang.
"Seperti impian mommy juga ya dad...," Bu Alyne menanggapi. Alman mengangguk senang. Dia mulai membuka aplikasi untuk dia presentasikan secara utuh tentang rencananya membangun sebuah kawasan wisata di hutan pinggir laut, tempat dia dan Ann pertama kali bertemu, tempat dia dan Ann sejenak menghabiskan waktu. Tempat yang Alman tidak ingin melupakan kenangan bersama Ann di sana meski baru beberapa bulan saja terjadi.
"Izinkan saya berdiri bu Alyne dan pak Yoko." Alman mengangguk takzim. Sejenak menenggak air putih, dia siap memulai pengenalan proyek barunya. Dia merasa sudah plong untuk berbicara, pak Yoko dan bu Alyne nampak sudah tertarik dengan idenya. Alman nampak begitu bersemangat.
__ADS_1
Namun baru saja dia akan berbicara, seketika kerongkongannya terasa tercekik, mulutnya menjadi bisu, tatapannya nanar ke arah pintu yang tiba-tiba tersibak. Konsentrasinya pada proyek yang dia siapkan berhari-hari hingga bermalam-malam tanpa tidur menjadi buyar seketika. Seorang wanita cantik masuk dengan langkah pasti. Dia mengenakan blus motif berwarna putih dengan empat kancing aktif dan ditutup jaket koranda hitam keputihan. Kalung dua puluh carat menyembul di lehernya yang tertutupi kerah sanghai. Ann mengangguk ramah dengan kesempurnaan bentuk wajahnya menampilkan senyum. Di tangannya Ann menggenggam plastik berisikan sebuah jam tangan. Keduanya bertatapan dalam waktu yang lama. Keduanya pun merasakan getaran yang sama. Getar kerinduan membuncah yang terhalang jarak dan komunikasi. Alman terpukau, dia bahkan tanpa menyadari telah menjatuhkan pointer ke lantai.
*****bersambung*****