
visual Anne Steafanny (Ann), 18 tahun
visual Alman Daniyal Aji Syahbana (Al, Alman)
Alman terbangun karena cahaya matahari telah menembus tirai jendela kamar dengan pintu kaca yang sudah terbuka. Ann yang sudah terbiasa bangun pagi nampak sudah bersih dan rapi. Dia sudah menyiapkan sarapan. Sedangkan Fee sudah pergi jam lima pagi sehabis Subuh tadi.
"Rambutmu tidak basah Ann? Kalian tidak anu tadi malam?" Fee yang sedang sarapan bertanya heran. Mulutnya mengunyah halus nasi goreng telur dadar. Dia menatap rambut gadis yang hampir berusia delapan belas tahun di hadapannya itu. Gadis yang tidak sekolah TK, tapi langsung masuk SD di usia lima tahun.
"Anu apaan sih?" Ann pura-pura tidak mengerti maksud Fee. Dalam hatinya dia paham sekali apa yanh ditanyakan Fee.
"Yah, pengantin baru kan biasanya anu..., masa kalian tidak?" Fee menyuap lagi sambil bicara.
"Nanti saja, kasian kamu mendengarnya, kamar kita kan hanya bersekat dinding tipis...." Ann berdiri mendekat dan memegang bahu Fee.
"Fee..., kami pamit ya, jangan nangis kalau nanti mendapati kamarku sudah kosong." Ann bicara perlahan. Dipeluknya Fee dari belakang. Fee mendongak, menoleh melepaskan sendok ditangannya, badannya setengah berputar.
"Kalian mau kemana?" Fee bertanya dengan raut wajah sedih bercampur kaget.
"Alman mengajakku ke suatu tempat. Mungkin kami akan menetap di sana." Ann menekankan dagu ke bahu kanan sahabatnya yang seketika menunduk.
"Jangan pergi..., kalian di sini saja. Atau sebaiknya kalian datang saja ke rumah itu, memohon maaf kepada pak Aji, agar semuanya kembali normal." Fee menyarankan perlahan.
"Aku sudah berusaha membujuk Alman, namun dia tidak berubah, katanya dia akan membawaku." Ann mencium sejenak pipi sahabatnya itu, kemudian kembali duduk di kursi hadapan Fevia.
"Katakan kalian akan kemana?" Fee nampak tidak bersemangat lagi menyuap nasi. Dia .enkpang kedua tangan di dagu. Matanya nampak begitu sedih.
"Aku kan punya nomormu, nanti kami akan kabarkan. Aku belum tahu kemana dia akan membawaku." Ann menjawab. Dia berdiri mengambilkan air minum untuk Fevia. Ann mendekatkan ke sebelah kanan Fee gelas itu, Fee berdiri, dia merengkuh pundak sahabat baiknya. Fee dan Ann berpelukan erat. Meski usia persahabatan mereka masih baru, namun hati mereka merasa cocok. Saling berbagi dan mengerti dalam kedewasaan.
"Segera kabarkan dimana nanti kau berada." Fee menangis dan melepas pelukan pelan-pelan. Dia tidak ingin nampak bersedih. Kemudian dia bergegas pergi ke hotel BRC, tempat dia menjadi cleaning service.
*****
"Paket..., paket bu, permisi....!" seperginya Fevia ke hotel BRC, Ann mendengar suara seorang kurir di luar pagar. Dia bergegas menuju ke sana.
"Untuk siapa bang?" Ann bertanya kepada kurir yang masih mengenakan helm tertutup.
"Penerima atas nama ibu Anne Steafanny." Kurir menjawab.
"Iya saya sendiri, tapi paket apa? Saya tidak ada pesan paket online yang belum datang." Ann heran. Dia ragu-ragu menerimanya.
"Nggak tahu bu, tolong ibu tandatangani di sini, bukti bahwa ibu sudah menerimanya." Kurir itu bicara ke Ann sambil menyodorkan selembar kertas dan sebuah pena hitam.
"Ini isinya apa? Dari siapa?" Ann masih ragu. Di tangan kurir nampak sebuah paket tidak begitu banyak, namun agak tinggi. Ann nampak membaca-baca paket di tangan kurir yang sudah membuka help dan sama-sama kebingungan, namun tidak ada pengirimnya.
"Apa kita retur ya bu?" Kurir itu bingung sendiri dibuatnya.
__ADS_1
"Iya retur saja, saya merasa tidak pesan paket." Ann menjawab.
"Tapi ini tinggal terima saja bu, uang segalanya semua sudah lunas kok." Kurir kembali menjelaskan.
"Kenapa sayang?" tiba-tiba Alman dengan mata masih belum fresh benar mendekati Ann. Dia berjalan tanpa sendal seperti kebiasaan di rumahnya. Dia memegang pundak Ann penuh sayang.
"Lho bapak? bapak pak Alman pemilik BRC hotel kan?" Kurir terkejut melihat kehadiran Alman.
"Alman? Alman siapa?" Alman pura-pura kaget. Dia sengaja mengecoh agar kurir tidak membahas dirinya lagi.
"Owh bukan ya. Iya mirip saja mungkin, soalnya Pak Alman gak mungkin pakai baju tidur wanita seperti itu." Kurir bicara sambil tersenyum. Ann dan Alman bertatapan menahan tawa.
"Ada paket untuk ibu Anne Steafanny, tapi ibunya bilang diretur saja karena ibunya merasa tidak memesan." Kurir yang menjawab.
"Mana paketnya, boleh saya lihat?" Alman melepas tangannya dari pundak Ann dan mendekat ke arah kurir.
"Ini pak." Kurir kembali memberikan paketnya.
"Paketnya diterima dik." Alman tersenyum dan mengangguk ramah ke arah Kurir.
"Baik pak, eh sepertinya Bapak pak Alman beneran ya? Saya pernah lihat Bapak langsung waktu di hotel ada pelatihan. Bapak narasumbernya." Kurir ngotot setelah mendengar suara Alman berbicara. Alman memasang wajah bingung.
"Maaf dik, kamu salah orang, gak mungkin saya di rumah ini kalo saya pak Alman." Alman tersenyum setelah memaraf kertas yang disodorkan pak Kurir.
"Iya juga ya, Bapak mirip sekali tapi. Sama persis." Kurir itu menggaruk-garuk kepalanya kemudian memasang helm dan kembali ke motor lalu pergi dengan perasaan bingung. Ann menutup pintu teralis.
"Kenapa diterima?" Ann bertanya bingung.
"Nanti berbahaya." Ann meragukan kembali.
"Maksudnya?"
"Nanti berisi bom."
"Hahaha..., bom mana ada bentuknya kecil begini. Yuk masuk. Ini pasti dari nenek." Alman membawa paket ke dalam. Dengan perlahan dan hati-hati dia membuka paket itu. Benar saja di dalam paket nampak uang ratusan ribu bertumpuk, bukan seratus tetapi dua ratus lima puluh juta rupiah. Alman menghitungnya dengan cepat setiap lipatan pembatas. Ada kertas bergulung kecil, sebuah dokumen kepemilikan tanah di sepanjangan jalan Tanjung Kalian, tanah tempat keduanya pertama berjumpa dalam keanehan. Alman melihat semuanya masih atas namanya. Selembar kertas bertulis tangan yang rapi, persis tulis tangan bu Cita. Ann dan Alman sama-sama hapal bentuknya.
"Nenekmu?" Ann menatap Alman bertanya.
"Siapa lagi yang akan berbuat begini? Ibu? Ibu tidak berani menentang sikap kakek." Alman menjelaskan.
"Cucuku Alman dan Ann, selamat berbahagia nak, nenek tahu kalian sudah menikah di malam buta. Ini bekal untuk kalian berbulan madu. Pergilah barang sejenak, istirahatkan pikiran kalian. Setelah semuanya terasa lebih baik, kembalilah, pulanglah ke rumah ini, rumah kalian berdua. Sementara kalian berlibur, nenek akan membujuk kakekmu. Kau tau sifat kakekmu Al, dia tidak akan benar-benar membuang cucu kesayangan. Jangan lupa aktifkanlah nomor handphone kalian. Dan jangan lupa segera berikan kakekmu cucu, hatinya nanti pasti akan luruh."
Alman dan Ann saling berpandangan setelah membaca selembar kertas itu. Ann menjadi sangat merindukan Bu Cita, bos yang pertama kali memberikannya handphone baru.
"Aku merindukan Bu Cita." Ann terisak.
"Nenek! Beliau nenekmu juga Ann." Alman meralat perkataan Ann.
"Iya, aku merindukan nenek. Ingin memeluknya, bersimpuh memohon restu hubungan kita."
__ADS_1
"Dia merestui, kau baca kalimatnya."
"Iya."
"Ann bersiaplah, pergi belikanku pakaian barang beberapa stel, jangan lupa yang dalem-dalem juga. Semua ukuran M. Aku kegelian memakai punyamu yang sempit-sempit dan berenda-renda." Alman menarik-narik celana dalam yang sedang dipakainya. Ann merasa malu sendiri dibuatnya.
"Beli dimana? Satu-satunya mall yang besar dengan barang-barang bagus hanya ada di lantai satu hotelmu. Milik keluargamu, kau tidak masalah aku pergi ke sana?" Ann bertanya.
"Beli di butik-butik saja. Nanti kamu gak sengaja dikenali orang-orang kakek. Ini uang dan dokumennya kau simpan saja." Alman menunjuk isi paket yang tadi mereka buka.
"Aku? Menyimpan uang sebanyak ini?" Ann terbelalak kaget. Dia memegang uang satu juta saja jarang sekali. Paling dia hanya bisa menyimpan uang di dompet saat ibunya masih hidup hanya dua ratus ribu. Ini seperempat milyar? Ann memegang-megang uang kertas yang masih berbau dan rapi.
"Iya simpan dan pakailah apa-apa yang menjadi kebutuhanmu. Nanti aku mau beli mobil pick up untuk perlengkapan bertani." Alman bicara lagi.
"Bertani?" Ann bertanya bingung.
"Katanya kau kan bertani dari dulu, mengapa kaget begitu?" Alman bicara santai.
"Kalo aku sih iya, tapi kalo kamu?"
"Nanti kau lihat saja bagaimana aku bertani."
"Kurang yakin kau bisa...."
"Apa? Tak yakin? Gampang itu mah. Sudah ah, aku mau mandi, pergilah berbelanja, semua keperluanmu belilah semua." Alman masuk ke kamar mandi. Sementara Ann bingung, jam segitu mana ada butik yang buka.
"Tapi belum ada butik yang buka jam segini...."
"Hah? Masa sih hanpir jam delapan belum buka juga."
"Biasanya butik buka jam sembilan, begitu kata bibi Ratih."
"Jadi? Abang pakai baju ini masih berapa lama lagi?" Alman meringis melihat ke arah Ann. Dia berhenti berjalan dan perlahan membuka baju tidur yang dia kenakan semalaman.
"Biasanya temanmu pulang jam berapa?"
"Nggak tentu."
"Hidupkan hapemu dan bilang jangan dulu pulang."
"Kenapa?"
"Bilang saja begitu."
"Iya tapi alasannya kenapa?"
"Bilang saja suamimu mau memulai berladang."
"Maksudnya bagaimana sih bang?" Ann bertanya sambil meletakkan uang ke atas kasur busa yang dilepekkan saja di lantai tempat mereka semalam tidur berdempetan. Namun Alman tidak menjawab, dia sudah melepaskan semua pakaian tidur Ann berwarna ping berkembang-kembang yang dia kenakan.
__ADS_1
"Ih...!" Ann yang menoleh seketika kaget, nampak di belakangnya Alman sudah nyaris tel*njang.
*****bersambung*****