
Sekitar sepuluh menit kemudian, Pria dingin itu kembali ke pondok kayu dengan tangan menjinjing sebuah ransel hitam.
"Nih pakai, nanti kamu masuk angin pake kemban sepanjang waktu." Dia melemparkan dengan halus ransel hitam merk Eiger itu. Ann menerimanya dengan mata terbelalak bahagia. Dia segera membuka resiting tas dan nampak isi tasnya ada tiga buah BH dan 6 buah celana dalam. Sepasang sepatu putih sport berlist ping. Tiga lembar baju kemeja lengan panjang berwarna merah hati, tosca dan putih, selembar celana Chinos wanita bertali depan warna cream, selembar celana jeans warna biru gelap dengan tabur depan putih dan style bolong sejari. Selembarnya lagi jeans polos slim berbahan halus warna hitam.
"Terima kasih banyak pak, entah dengan apa aku bisa membalas kebaikanmu." Ann bicara menatap ke arah Pria yang duduk di pintu dengan kaki nenjuntai ke tangga rumah papan. Lama dia menunggu Pria itu berbalik, namun dia seperti tak peduli dengan ucapan Ann.
"Terima kasih pak, apa kau mendengarku?" Ann berharap mendapatkan respon. Jika saja Pria itu mengangguk dia tidak ingin kehilangan momen itu, setidaknya dia yakin Pria itu menerima terima kasih darinya. Namun laki-laki itu tak juga menjawab.
"Rupanya kau tidak mau mendengarkan aku berbicara ya om. Baiklah, untuk ketiga kalinya, entah om mendengar atau tidak, aku sangat berterimakasih atas pertolonganmu om." Ann bicara panjang dan kembali asyik dengan pakaian baru yang diberikan Pria dingin itu.
"Om am om dari tadi, A De eS, ADS namaku." Akhirnya Pria itu menjawab meski masih dengan nada dingin.
"Kok seperti merk produk om hanya tiga kata yang tidak lazim disebut." Ann mulai cerewet karena lidahnya menjadi kaku mengeja panggilan nama seperti itu.
"Kalau begitu kau panggil saya nama lengkapku, Alman Daniyal Aji Syahbana." Pria dingin itu menoleh sambil menjawab. Wajahnya tanpa ekspresi yang berarti bagi Ann yang seketika tertawa terbahak-bahak.
"Kalau begitu namaku juga ganti om, bukan Ann, tapi Reynitha Daniyal Aji Syahbana." Ann merasa lucu mendengar nama yang sangat familiar di kotanya yang disebutkan sang pria misterius penolongnya. Bagaimana tidak, hampir semua wanita seusianya hingga wanita tua sekalipun selalu menyebut-nyebut keluarga terkaya di kota Muntok itu. Pemilik BRC Hotels and Resort keturunan Aji Syahbana menjadi idaman para gadis di kotanya. Daniyal adalah anak tunggal Aji Syahbana yang memiliki dua orang anak. Reynitha Danial Aji Syahbana menikah dengan bule asal Turki dan mengelola minimarket tempat Bakar, ayah tiri Ann bekerja sebagai tukang parkir. Anak kedua mereka adalah Alman Danial Aji Syahbana. Seorang General Manajer yang mengelola hotel dengan tiga ratus kamar. Hotel terbesar dengan 11 lantai yang sering dipakai untuk acara-acara kantor maupun pesta-pesta besar dengan pegawai yang banyak. Hotel yang sering diisi oleh turis berwisata ke Muntok atau bahkan ke Bangka Belitung pada umumnya. Dan acara tahunan ketika datang rombongan kapal wisatawan asing dengan menaiki kapal mewah Ocean Adventure berasal dari puluhan negara membuat hotel itu penuh. Dan bekerja di sana meski hanya menjadi Office Boy atau Cleaning Service sudah bisa berbahagia karena di sana gajinya besar.
"Ayo dong om, namanya siapa biar aku enak memanggilmu." Ann berhenti tertawa. Dia sudah selesai mengenakan sepasang baju baru yang diberikan pria itu. Kemeja merah hati panjang di atas lutut dipadukan dengan jeans biru tua taburan putih berlubang sejari. Rambutnya yang sudah mengering disisirnya dengan jari, tersibak indah membuat dia nampak begitu cantik. Wajahnya yang tadi lebam memerah dikerubung ulat bulu sekarang sudah nampak bergairah. Pria di pintu menatapnya terpesona.
"Namaku tidak berubah dan sudah kusebutkan tadi."
"Yang serius dong om. Aku panggil apa?" Ann masih belum percaya.
"Kalau begitu panggil saja sesukamu." Pria itu kesal lagi.
"Hemzzz..., baiklah. Bagaimana kalau kupanggil om Bara? Kedengarannya keren."
"Bara? Panas dong." Pria itu menjawab lucu meskipun dengan intonasi dingin.
" Bara itu Baik Hatinya om...." Ann sembarangan saja mengarang.
"Lha eRnya kemana? Kalau Baik Hatinya mah bagus dipanggil Be Ha." Sepintas senyum pria dingin itu keluar. Tak ingin meladeni gadis aneh di dekatnya dia akhirnya pergi menuruni anak tangga.
"Ih dasar mesum." Ann miso-miso dibuatnya, namun tak urung senyum manisnya terkembang lebat. Merasa geli mendengar Pria tadi menyebut BeHa.
__ADS_1
"Habisnya kamu aneh, dikasih tahu malah tidak percaya." Pria itu kemudian berjalan mengambil tangga lipat yang tersandar di rumah unggas, menggotongnya ke arah pohon durian. Nampak beberapa buah durian sudah lepas dari dahannya, menggantung karena sudah ditali dengan tali rapiah oleh pegawai kebunnya. Ann mengintai dari balik jendela apa yang dilakukan pria itu di bawah.
"Perasaan tidak musim durian, tetapi mengapa di tempat ini duriannya masih rendah namun sudah berbuah lebat sekali." Ann membatin. Dia memandangi Pria itu hanya naik dua tangga dan langsung bisa memotong tali rapiah, lalu membawa durian ke tanah. Beulang-ulang memindahkan tangga lipat aluminium, tiga buah dalam satu batang yang sudah jatuh. Dia mengambil di empat batang dengan hasil sebelas buah durian. Ann tidak sabar, dia ikut turun ke tanah dan berjalan ke arah Pria itu.
"Om Bara biar kubantu mengangkut duriannya ya. Mau dibawa kemana?" Ann langsung berjongkok dan mengambil durian dekat kaki tangga aluminium yang dinaiki Pria tampan itu. Pria itu hanya diam saja, menggeleng-gelengkan kepala.
"Hey minggir dari sana gadis aneh."
"Biarkan aku membantumu." Ann menjawab lagi.
"Aku mau turun jangan dekat tangga, jauh-jauh dariku kenapa? Tuh kau angkut yang itu." Pria itu kembali dibuat kesal. Bagaimana tidak, Ann malah berjongkok di dekat pangkal tangga yang sedang dinaikinya. Ann mendongak dan seketika menutup mata, di atasnya dia melihat sang pria penolongnya hanya dengan boxer saja. Ann menjauh. Mengapa dia begitu bodoh tadi.
"Benar-benar gadis aneh, atau jangan-jangan dia sengaja mau mengintip 'beoku'." Pria itu menggumam.
"Apa? Aku mau mengintip apamu? Ih dasar laki-laki semuanya mesum." Ann terdengar ikut kesal.
"Terbalik! Wanita yang suka mesum, tidak setia, materialistik." Pria itu menjawab cepat.
"Laki-laki aneh." Ann berhenti berdebat, dibawanya dua buah durian ke rumah papan. Kedua ketiaknya dia renggangkan semaksimal mungkin agar duri durian tidak mengenai baju barunya.
"Agar tidak terkena baju baru om Bara." Ann menjawab.
"Lha baju begituan saja diawas-awas seperti baju harga jutaan saja." Pria yang Ann panggil Bara mencemoohnya. Namun seketika Ann menoleh ke arah Bara. Matanya seketika kembali tertutup kristal kesedihan, berkaca-kaca.
"Kau tidak tahu banyak hal tentang hidupku. Satu hal kukatakan, mungkin sudah lebih lima tahun aku tidak pernah merasakan baju baru." Ann berurai air mata.
"Hey gadis cengeng, jangan sensitif begitu, saya hanya bercanda saja." Bara salah tingkah dibuatnya. Ann menggosok matanya dengan telapak tangan setelah mengurungkan mengelap kedua mata dengan bajunya. Bara mengeluarkan sapu tangan dari boxernya, dia memberikan kepada Ann.
"Kau begitu cengeng. Tapi aku penasaran, masa iya kau sudah lama tidak membeli baju baru?" Bara menatap serius ke arah Ann.
"Iya benar, jangankan beli baju, beli beras saja susah om. Ah, aku jadi ingat ibuku. Bantu aku keluar dari sini ya om, tolonglah, kalau sudah di jalan besar, aku bisa berjalan kaki sendiri." Ann menjawab masih terisak. Bara diam saja menatapnya. Keningnya berkerut.
"Kalau lebaran pakai baju apa? Kau kan sudah gadis." Bara masih bingung.
"Kebetulan boss pecel tempatku bekerja dulu punya anak seusiaku, dia kuliah di Bandung. Jadi beliau sering memberikanku pakaian bekas anaknya."
__ADS_1
"Lebaran memakai pakaian bekas?"
"Itu jauh lebih baik daripada tidak memakai baju." Ann menjawab lucu, dia sudah mampu menguasai diri dari kesedihan yang datang tiba-tiba. Bara tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepala. Bara membelakangi Ann sambil memberi makan ikan lagi. Ditaburnya lagi dedek halus dari penggilingan padi. Sejenak ikan berkumpul dan nampak menganga-nganga mulutnya ke permukaan air, kolam bercipratan dengan lompatan-lompatan ikan yang lincah, Ann ikut mengamati.
"Kau suka makan durian?" Bara kembali lagi mendekati Ann.
"Saya suka sekali pak. Biasanya kalau musim durian di daerah Kemang itu, aku dan adikku akan berangkat Subuh-subuh mencari durian orang yang jatuh. Kadang kami bertemu **** hutan." Ann bercerita lagi sementara Bara hanya mendengarkan. Dia semakin bingung dengan kehidupan gadis itu.
"Kenapa tidak beli saja?"
"Mahal pak harganya, kadang paling murah harga sepuluh ribu, itupun hanya segepalan tangan, yang sisa-sisa."
"Mahal?"
"Iya kalau harga durian sudah dua puluh ribu sebuah, kami sudah tidak terbeli lagi." Ann menjawab jujur. Bara terdiam lagi. Dua puluh lima ribu itu mahal?
"Ini makanlah sepuasmu...." Bara menyodorkan durian yang sudah dibukanya. Ann terbelalak melihat isinya. Dagingnya berwarna kuning terang. Tangannya bergerak akan mengambilnya. Bara menahan tangannya. Mereka sejenak bertatapan.
"Cuci tangan dulu." Pria itu mengingatkan. Ann tersenyum malu, dia berdiri dan menuju air mancur yang jatuh tiada henti dari belahan bambu besar ke kolam ikan. Bara kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. Ann kembali dengan kerongkongan yang menelan ludah. Diambilnya isi durian itu, digigitnya daging buah yang lunak, manis dan legit sekali. Dipandanginya durian itu dengan seksama.
"Itu durian Musang King, Papa membeli bibitnya sendiri waktu kunjungan kerja ke Malaysia." Bara menjelaskan tanpa ditanya.
"Ini durian terenak yang pernah aku makan om Bara." Ann menghabiskan sebuah besar daging buahnya. Dipandanginya bijinya yang hanya sejempol jari tangannya.
"Andai saja ibu dan adikku bisa ikut merasakan ini." Ann bergumam lagi.
"Gadis cengeng, kau boleh membawa semuanya untuk ibu dan adikmu." Bara menjawab gumaman Ann.
"Kau mendengarnya?" Ann heran bertanya.
"Aku melihat ekspresimu."
"Terima kasih banyak om Bara." Mata Ann kembali berkaca-kaca. Rafi pasti begitu senang menerima ini. Ann menghabiskan sebuah, terdengar bunyi sendawa besar dari mulutnya. Beruntung bara sudah menjauh darinya, jadi sendawa itu tak terdengar lagi.
*****
__ADS_1