Laut dan Cinta

Laut dan Cinta
Pagi Pertama


__ADS_3



Alman menutup setengah pintu jendela kamar, dia menghidupkan kipas angin sambil melihat Ann yang duduk di atas kasur sambil menelungkupkan wajah ke kedua lututnya. Dadanya seketika berdebar-debar tidak menentu. Sungguh pemandangan yang masih sangat tabu dia rasakan.


"Kenapa menunduk?" Alman mendekatinya.


"Kau kenapa tidak berpakaian Alman? Aku malu...." Ann bicara halus seperti tingkah anak kecil mendapat nilai merah.


"Kenapa? Kau malu? Atau kau malah merasakan sesuatu?" Alman tersenyum manis menatapnya, dia sengaja menggoda wanita cantik yang sudah sah menjadi istri tercintanya.


"Berhentilah menggodaku, pakailah pakaianmu." Ann masih menunduk berbicara.


"Ini belum seberapa sayang jika dibandingkan ketika kau datang tanpa menoleh ke sana kemari langsung bertelanjang bulat di depanku." Alman tertawa renyah, giginya yang rapi dan putih semakin menambah ketampanannya.


"Aku tidak tahu kau di sana." Ann menjawab singkat.


"Dan kau tidak tahu pula getaran hatiku melihat tubuh indahmu kan? Bagaimana lututku bergetar membayangkan sesuatu yang erotis tiba-tiba muncul." Alman bicara lagi sambil terus mendekati Ann. Tangannya menyentuh pundak Ann yang masih tertunduk malu.


"Alman...." Ann mendongak perlahan-lahan ketika bahunya merasakan ada sentuhan seseorang, suaminya sudah duduk di dekatnya dengan hanya mengenakan celana dalam putih miliknya tanpa yang lain lagi. Sesuatu yang aneh bersembunyi di baliknya.


"Ann...." Alman menyusun bantal dan guling lebih tinggi. Perlahan dia merebahkan Ann yang masih menata rasa aneh dalam dirinya.


"Alman...."


"Ayolah, kita bercinta di awal pagi." Alman menarik selimut yang sudah dilebarkan sebelumnya dan seketika menutupi badannya hingga atas pinggang sedikit. Ann gelagapan, gelisah rasa hatinya berada di dekat Alman dengan badan tanpa busana. Tidak seperti semalam.


"Kau mau apa?" Ann kembali bertanya. Dia merasa serba salah.

__ADS_1


"Mengembalikan milikmu...." Alman menarik celana dalam Ann yang dipinjamnya. Dia menaikkan celana dalam itu persis di atas wajah Ann. Ann seketika menariknya. Wajahnya memerah menahan malu.


"Alman..., jangan membuatku semakin malu." Ann menyembunyikannya di bawah bantal.


"Setelah ini, kau tidak akan malu lagi melihatku dengan segala busana Ann." Alman mulai menjatuhkan wajahnya perlahan. Dia menutup bibir Ann yang hendak bicara lagi dengan bibirnya yang memerah seksi. Bibir tipis Ann tak mampu lagi berkata-kata. Dia menahan napas mengimbangi ciuman dalam suaminya. Alman menjatuhkan badannya ke sebelah kiri Ann, dia menatap mata indah Ann yang bulat seperti mata boneka. Dielus-elusnya rambut Ann yang agak kemerahan. Berkali-kali pula tangan kiri Alman menarik-narik hidung Ann yang mancung. Dimain-mainkannya pula bibir merah merekah yang begitu lembut.


"Terima kasih, atas semuanya." Ann berterima kasih lagi.


"Kau berterima kasih nanti saja, setelah aku memberimu kado istimewah." Alman bangkit, direngkuhnya pinggang langsing gadis cantik memesona itu. Dinaikkannya sedikit bahunya dengan tangan kiri, lalu perlahan tangan kanan Alman membelai kembali rambut halus wangi khas shampo. Gairahnya semakin bertambah.


"Ikhlas?" Alman bertanya dengan tangan siap membuka kemeja putih yang dikenakan istrinya. Kali pertama dia bertanya dan izin ketika ingin mendapatkannya dari seorang wanita. Selama ini, dia begitu mudahnya memangsa gadis-gadis cantik dan seksi, serta matre yang menginginkan tubuh gagah dan limpahan materi yang dia miliki. Kali ini, dia berbeda. Perasaan sayang menyelinap dalam hingga terasa ke ubun-ubun. Tatapannya mesra menantikan jawaban Ann yang kemudian mengangguk disertai senyuman.


"Kau pernah melakukan ini sebelumnya sayang?" Alman bertanya sambil mulai melepas satu demi satu kancing baju Ann. Dalam pikirannya separuh wanita pasti sama dengan banyak wanita yang pernah ditidurinya. Rata-rata mereka sudah sering melakukannya bahkan dengan banyak laki-laki. Ann tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepala.


"Aku percaya." Alman menjawab gelengan lemah istrinya barusan. Dia percaya istrinya belum tersentuh tangan kotor.


"Maafkan aku Ann, aku bukan laki-laki baik selama ini. Hidupku yang berlimpahan harta sangat memudahkanku melakukan semuanya. Aku bukan perjaka lagi." Alman selesai membuka kemeja yang dipakai Ann. Ann diam menatapnya dalam dengan bola mata yang begitu indah memesona.


"Mengapa kau memakai baju kekecilan seperti ini? Ini merepotkan...." Alman menarik tank top hitam itu melalui kepala Ann. Rambut Ann tersibak-sibak karenanya. Ann tersenyum saja, tak henti matanya menatap wajah laki-laki yang berada di dekatnya.


"Waw, inilah yang membuat hasrat kelelakianku meronta Ann. Melihat ini pertama kali membuatku tak mampu memejamkan mata sedetikpun. Kau tau?" Alman menatap nanar ke payudar@ Ann yang besar menggoda. Alman memainkan putingnya seketika. Sesekali dia meremas-remas bagian sintal, padat berisi menggairahkan itu. Ann menikmati saja. Matanya merem melek ketika Alman mulai memainkan put!ng kecoklatan itu dengan bibirnya. Wajahnya perlahan naik, mencium bibir, dagu, dan seputar mata gadis cantik itu.


"Ann....?"


"Ehhmmm...."


"Hiduplah denganku sampai maut yang memisahkan kita." Alman mendesah berbicara, dia menyapu seluruh wajah Ann hingga meninggalkan lendir-lendir dari ludah sang playboy. Dia kemudian mulai menarik rok pendek hitam yang dikenakan Ann. Membiarkan tubuh mereka bersatu tanpa sehelai benang pun. Alman dengan pengalamannya bergerilya hebat ditubuh gadis cantik itu. Melahap satu demi satu bagian tubuh yang mampu membangkitkan gairah. Ann tersulut, gairahnya menyeimbangkan irama permainan sang suami.


"Alman...,"

__ADS_1


"Iya sayang."


"Tolong berdiri sejenak."


"Apa kau ingin melihatnya lebih jelas sayang?" Alman dengan penuh percaya diri bertanya. Ann hanya mengejeknya dengan menyembilkan lidah merah dan lembut yang barusan menari-nari bersama lidah Alman.


"Tolong jendela dan tirainya ditutup rapat." Ann tersenyum sambil menggeliat manja.


"Aduh, kirain adindaku mau melihatnya yang sedang on. Hehe...." Alman tersenyum sendiri dibuatnya.


"Jendela dan tirainya jangan on." Ann menggoda suaminya.


"Kenapa? Silau ya?" Alman kembali bertanya.


"Aku malu." Ann tersenyum, sementara Alman seketika berdiri, berjalan ke arah jendela dengan tanpa busana, Ann menelan ludah berkali-kali melihat sesuatu yang menantangnya tertegak-tegak mengikuti irama langkah kaki seorang Alman.


"Kita hidupkan lampu tidur ya sayang?" Alman mematikan kontak lampu kamar dan memasang lampu tidur kebiruan berbentuk kupu-kupu. Suasana seketika bertambah romantis. Alman kembali mendekati istrinya, melanjutkan aksinya dengan liar. Mencium dan mel*mat bibir Ann yang lebut dan ranum. Ann semakin menggeliat-geliat manja dibuatnya. Meski itu pengalaman pertama baginya, dia sangat adaptif. Perlakuan Alman yang sudah berkali-kali menaklukkan gunung cinta hingga di pendakian-pendakian terjal dan curam, pendakian yang membahayakan membuat Ann ikut mengimbangi gerakan-gerakan Alman. Dia bahkan mulai berani memegang senjata pamungkas yang dari tadi mengerang keenakan. Ann mulai mahir, Ann mendapatkan pasangan yang tidak kaku lagi dalam urusan ranjang. Mereka bersama, mereguk kehangatan cinta dalam janji-janji yang tercipta di pagi yang indah. Ann bukan gadis lagi. Dia sudah menyerahkan dirinya secata utuh kepada Alman yang terpuaskan karena bercinta dengan cinta sejatinya. Ann menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Alman memeluknya dari depan. Keduanya berhadapan, saling tatap mesra dengan janji cinta setia untuk masa depan.


"Terima kasih."


"Terima kasih." Keduanya berterima kasih bersamaan lalu tersenyum penuh arti. Alman mengubah posisi tidurnya. Dia terlentang dan memanjangkan lengan. Melatakkan kepala Ann untuk bersandar sambil menikmati wajah tampan suaminya.


"Ann, aku akan selalu ada untukmu. Berjanjilah, apapun yang terjadi ke depannya, kau tidak sendirian, berjanjilah kau tidak akan berpaling kepada laki-laki lain, kau harus tetap selalu setia menunggu jika memang harus menunggu." Alman berbisik di telinga Ann. Perlahan wajah berjambang itu mengecup kembali kening Ann dengan anak-anak rambut yang menempel karena keringat.


Sementara di jalanan, sudah ramai terdengar deru kendaraan lewat. Butik pun pasti sudah buka, begitu batin Ann.


"Aku akan mandi Alman, mau ke butik, mencarikanmu pakaian." Ann mencoba berdiri, namun tangan Alman menariknya kembali hingga kembali ke pelukan pujaan hatinya.


"Butiknya belum buka jam segini, masih cukup waktu untuk kita bermain sekali lagi." Alman mulai bereaksi kembali. Pagi pertama bagi mereka, tak cukup satu kali. Alman kembali membangkitkan permainan, hingga keduanya kembali mereguk kenikmatan cinta yang halal.

__ADS_1


"Ai Loph yu Ann, sangat, sangaaattt cinta kamu." Alman berbisik lirih setelah menyelesaikan misi kedua kalinya. Dia membiarkan saja ketika Ann berdiri menuju kamar mandi yang terletak di bagian belakang. Alman menghidupkan handphonenya, seketika membuka aplikasi jejaring sosial milik Mark, matanya terbelalak. Di beberapa headline new online berita tentang Pemilik BRC Hotel terbaring koma menjadi topik utama. Alman menyusul Ann ke kamar mandi, kembali mematikan handphone, dia belum bisa memutuskan apa yang akan dia lakukan nanti.


*****bersambung*****


__ADS_2