Laut dan Cinta

Laut dan Cinta
Pergi


__ADS_3

Hari ketiga Ann menunggu, namun tidak ada tanda-tanda Alman akan menemuinya di villa kebun itu. Ann semakin gelisah saja, sementara mual di pagi hari terasa lebih parah. Bau kotoran unggas semakin membuatnya ingin muntah. Ann curiga, ada mahkluk baru di dalam rahimnya. Dia sudah terlambat haid. abisa jadi, seperti digaan Alman sebelumnya, dia sudah hamil.


Alangkah senangnya Alman mendengar berita ini? Sayang sekali Ann tidak punya keberanian datang ke rumah maupun ke hotel Alman. Sedangkan untuk mencoba menghubunginya, dia tidak punya apa-apa lagi. Semua handphonenya sudah raib.


Ann terpikirkan untuk kembali membeli hanphone baru. Bukankah dia masih menyimpan banyak uang pemberian nenek Alman. Beruntung Alman menyarankan uangnya tidak dibawa semua sebelum berangkat kemarin. Ann mengambil simpanan yang ditaronya di dalam lemari pakaian plastik, utuh uangnya tidak tersentuh sama sekali. Ann menarohnya di dalam tas pemberian bibi Ratih. Sedangkan tas yang mereka beli saat sebelum pindah ke villa telah hilang digondol maling.


***


Siang yang panas, beberapa kembang durian terjatuh ditiup angin. Ujung-ujung pepohonan melambai-lambai, bambu-bambu bergeseran ditiup angin menimbulkan nyanyian abstak. Sepasang burung enggang lewat mengintai unggas-unggas yang banyak. Unggas-unggas yang makan di tempat gentong besar terbalik yang turun otomatis, jadi tidak perlu memberi makan setiap hari, karena ketersediaan makanan bisa menampung selama bahkan dua minggu. Gentong akan terus menurunkan makanan melalui pipa elastis panjang ke baskom di tanah. Pergerakan paruh unggas kemudian kembali menurunkan sedikit demi sedikit makanan dari gentong itu.


Jambu jamaika pun ada beberapa jatuh membusuk. Ann mengambil beberapa yang ranum, mencucinya di dekat mata air berkran belahan bambu besar. Ann kemudian kembali menikmati nikmatnya jambu yang dicampur cabe, garam dan gula merah. Mualnya terasa berkurang.


*****


Jam satu siang Ann kembali ke pinggir pantai, dia menemukan tempat persembunyian kemarin. Pertemuan tiga ujung dahan yang lebat dengan batang besar membuatnya terlindungi dari pandangan orang luar. Hanya dia perlu hati-hati dan menjaga keseimbangan badan agar tidak terjatuh. Dia duduk sambil menikmati kembali bekal yang dibawanya. Nampak kembali olehnya empat orang laki-laki paruh baya meletakkan perlengkapan menjaring tidak jauh darinya duduk. Ann bahkan bisa dengan jelas mendengar obrolan mereka.


"Kalian hadir tidak di resepsi pernikahan pemilik kawasan ini semalam? Masyarakat biasa semua diundang...." Seorang diantara mereka bertanya sambil membuang puntung rokok ke atas pasir.


"Tidak! Mewah sekali ceritanya. Perhelatannya di BRC Hotel bahkan dengan mengundang artis ibukota." Salah seorang menimpali. Ann mendengarnya dengan hati berdegup kencang. Dia tidak menduga akan mendengar obrolan seputar kehidupan Alman dari atas dahan pohon. Ann menajamkan pendengarannya kembali.


"Mereka memang serasi, Pak Alman tampan sekali, istrinya selalu sumringah seperti bidadari, si Delin. Mana sama-sama pewaris hotel dan perusahaan lagi. Aduuhhh..., enaknya jadi mereka." lagi-lagi, laki-laki yang membuang puntung rokok berbicara. Dia membuka baju kaosnya. Melemparkan ke atas kantong bekal yanh dia bawa.


"Zellin bukan Delin." temannya merevisi.

__ADS_1


"Iya Delin apa Zellin gak tau, bukan anakku soalnya." si bapak menjawab tak bersalah.


"Hahaha...." Mereka serentak tertawa.


"Tapi dengar-dengar pak Alman pernah menikahi gadis miskin di malam hari sebelum menerima perjodohan dengan Zellin." Laki-laki yang agak gendut giliran bicara.


"Katanya sih begitu. Hah! Hanya di cerita dongeng gadis miskin nikahnya sama pewaris hotel bintang lima. Di dunia nyata mana ada?" rekannya menjawab. Hati Ann kembali berdenyut. Memang terasa aneh. Mengapa semua itu baru terasa sekali sekarang. Ann mulai tidak nyaman.


"Tapi beneran lho, saya kan satu RT sama pak ustadz Hasan. Saya hadir waktu mereka menikah. Mereka nampak saling mencintai." terdengar penjelasan dari salah satu mereka.


"Ah seperti tidak tahu Alman saja. Dia akan merenggut semua keperawanan yang ada di kota ini." sinis, salah satunya menjawab.


"Tidak pak, saya yakin, mata mereka saling membutuhkan." lawan bicaranya mencoba bertahan dengan pandangannya.


"Paling juga dia mau mengambil keperawanannya. Apalagi hanya gadis miskin yang lugu, dinikahi, ditinggalkan begitu saja dengan segala alasan."


Mereka kemudian beranjak menuju ke pinggir laut, meninggalkan perlengkapan lain di dekat dinding tembok tinggi dekat Ann bersembunyi. Mendengar obrolan para laki-laki itu hatinya sakit sekali. Dia menjadi ragu sendiri. Benarkah Alman benar-benar meninggalkannya dengan berpura-pura. Apakah mungkin Alman melakukan itu? Sedangkan separuh hatinya begitu yakin dengan ketulusan cinta sang suami. Ann mengelap air matanya perlahan dengan jemari tangan. Keempat laki-laki tadi sudah merentangkan jaring panjang. Satu orang menunggu dekat pinggir, tiga orang lagi nampak berjalan ke tengah laut bahkan hingga seleher. Mereka memegang jaring panjang itu. Ann turun perlahan, dia ingin sekali berteriak, meraung-raung karesa sesak. Namun apa dayanya. Dia wanita muda yang tersesat raga dan hatinya, mencintai seorang pewaris kekayaan keluarha Aji Syahbana. Menangis pun tak ada artinya lagi.


Ann naik kembali ke villa kayu, dia kemudian mengemas semua barang miliknya. Pikiranya telah bulat, dia akan pergi dari sana. Alman sudah menikah dengan Zellin, dia hanya perlu melatih hatinya agar lapang. Dia hanya wajib membuang nama Alman secara perlahan. Alman telah pergi meninggalkan raganya, Alman telah ingkar dengan janjinya. Dia rupanya menikahi Zellin juga. Percuma dia menunggu. Hati Alman sudah tak lagi untuknya. Ann berkemas kembali dengan air mata tak henti menetes.


*****


Ann berjalan hampir satu jam di hutan keluarga Alman itu. Kunci segala kunci dia lemparkan ke dalam pagar baja setelah dia menggemboknya dari luar. Ann tidak ingin membawanya serta. Hanya uang pemberian nenek dibawanya semua untuk bekal dia bertahan. Ann memanggul satu tas hitam dan sekantong pakaian lainnya. Dia berhenti di pinggir jalan raya. Beberapa kendaraan melintas namun tak ada satu pun yang berhenti. Separuh sopir merasa janggal ada gadis cantik minta tumpangan di pinggir jalan dekat hutan lebat. Mereka banyak prasangka, dikira Ann komplotan begal atau penjahat lainnya. Ann kembali dibingungkan situasi. Hari sudah hampir jam tiga sore, dia masih berdiri menunggu. Namun hampir satu jam menunggu tetap tidak ada sopir yang menghentikan laju kendaraan mereka. Ann memejamkan mata, berdoa kepada Allah.

__ADS_1


"Ya Allah, bantu aku, tolong kirimkan seseorang yang bisa membawaku dari sini...." air matanya mengalir kembali.


***


Setelah hampir gelap, doanya terjawab, seorang laki-laki tua pengantar minuman isi ulang dari arah pelabuhan dengan keranjang rotan berhenti dan menatapnya.


"Nak darimana? Mau kemana sudah hampir Magrib begini?"


"Pak, tolong aku pak, tolong antarkan ke tempat bu Rosi."


"Bu Rosi pengelola panti Khodijah ya?"


"Iya pak."


"Kau dari mana nak?"


"Aku tersesat pak."


Akhirnya Ann bonceng di motor bapak yang baik itu. Sejak Ann berdiri ratusan bahkan ribuan kendaraan yang lewat. Lalu lalang manusia dari pantai Tanjung Asmara dan Tanjung Kalian. Separuh dari mereka adalah penumpang dari Palembang baru turun dari Kapal Penumpang. Namun tidak ada yang mau berhenti karena sekarang sudah ramai kasus begal dan kejahatan lainnya. Ransel Ann diletakkan ke keranjang sebelah kiri, sedangkan kantong besar diletakkan ke keranjang sebelah kanan. Ann membonceng di belakang persis. Pak tua yang baik itu memajukan duduknya hingga hampir menyentuh bagian depan motor demi memberikan tempat yang longgar untuk Ann.


"Kau masih gadis nak? Kemana orang tuamu?"


Bapak tua itu bertanya heran saat menurunkan Ann di depan sebuah bangunan besar 'Yayasan Khadijah'. Namun Ann hanya berterima kasih berkali-kali tanpa menjawab. Hanya air matanya yang tak henti mengalir.

__ADS_1


"Ya sudahlah, masuklah nak, kau pasti punya alasan atas semuanya. Semoga sehat dan bahagia ya nak." Bapak itu tahu betul raut wajah gadis yang sedang kesusahan. Lagian, setiap yang menuju ke rumah singgah itu, pastilah orang-orang yang bermasalah. Bapak kembali menjalankan motornya, meninggalkan Ann yang sejenak ragu, antara ke rumah bibi Ratih atau masuk ke Panti Asuhan miliknya Bu Rosi. Jika hapal nomornya, Ann merindukan Fee, sahabatnya. Dia ingin ke sana. Memeluk Fee, bercerita banyak tentang kesusahan hidup. Ann berdiri termangu dan masih kebingungan.


****bersambung****


__ADS_2