
Ann menatap heran ke arah Bakar. Begitu hebat rencana laki-laki licik pembunuh ibunya itu.
"Darin...? Kau Darina nak? Benarkah nak kau Darin?" Bu Alyne Lucyanna mendekati wanita yang perlahan mendekat pula ke arahnya.
"Ibuuu...." Wanita itu menanggapi.
"Ibu?" Seorang pendamping hukum keceplosan kagetnya. Menurut catatannya Darina bukan memanggil ibu kandungnya dengan panggilan ibu. Atau gara-gara dia hilang ingatan?
"Dia hilang ingatan bu." Bakar tanggap akan suasana. Bu Alyne kembali duduk di sebelah suaminya.
"Aku tidak merasakan sesuatu hubby. Dia bukan Darina." Bu Alyne menggeleng dengan senyum kecewa.
"Tapi benar bu, itu Darina." Bakar kembali mencoba meyakinkan.
"No..., no..., no..., jangan masukkan dia ke daftar orang untuk tes DNA. Sia-sia saja. Dia bukan Darin. No Daddy, dia bukan Darin." lagi-lagi bu Alyne bicara. Wanita cantik keturunan Australia itu punya firasat yang sangat tajam.
"Baiklah bapak dan ibu silahkan pergi...." Kuasa Hukum yang mendampingi mengangguk ramah menyilahkan Bakar dan Wanita paruh baya itu pergi.
"Jadi kalian tidak menginginkan keturunan sah kalian? Aku punya bukti. Darina punya seorang putra bernama Rafi, tolong ambil dia untuk tes DNA bersama Bapak dan Ibu. Itu satu-satunya jalan agar kalian percaya." Pak Bakar berdiri menarik tangan Wanita yang menempatkan diri sebagai seorang Darina. Mereka segera pergi.
"Tunggu! Dimana Rafi yang kau sebutkan itu? Bawa dia ke sini segera, kita bisa tes DNA," Pak Yoko menurunkan suara.
"Jika kalian tidak percaya, kami akan segera pergi. Pikirkan saja kata-kataku, pikirkan semua kenangan yang kuceritakan, pikirkan matang-matang, setelah itu hubungi aku di nomor yang ada pada berkas di dalam map. Ayo Darin!" Bakar menarik tangan wanita di sebelahnya seketika. Wanita itu menurut. Pak Yoko, istrinya dan orang-orang yang membersamai mereka berpandangan. Sementara Bakar berjalan menuju pintu keluar. Ann tak tahan lagi. Ketika Bakar melewatinya, tinju kanannya menghantam muka culas itu sekuat tenaga.
"Buggghhh!!!" tinju Ann melayang tepat pada sasaran.
__ADS_1
"Hei kau siapa? Berani memukulku hah?" Bakar mengangkat tangannya hendak balik memukul, namun beberapa orang di dekat pintu yang mengantri bertemu pak Yoko berusaha melerai.
"Suaraku, dengarkan suaraku dengan teliti, pasti kau tak bisa melupakan suaraku bajin9an!" Satu pukulan lagi di wajah Bakar mendarat sukses.
"Bugghhh!!!"
"Kau mau mati ya? Plak! Plak! Plak!" tiga tamparan di pipi kiri Ann mendarat pula dengan sempurna. Bakar tersulut emosinya. Dia membalas pukulan Ann dengan tamparan tangan kasarnya. Pipi kiri Ann seketika memerah. Namun tak nampak karena tertutupi masker biru Bioaxi.
"Mengapa kau bunuh ibuku anjjjiiiinggg!!!...." Ann melepaskan sepatunya, kembali melabrak wajah Bakar dengan hebat. Keberaniannya muncul tiba-tiba. Nyalinya naik tinggi dari sebelum-sebelumnya. Sudah lama dia ingin membalaskan dendam atas kematian ibu tercintanya. Sekarang dia bertemu kepada pembunuh licik itu, bahkan dengan membawa kelicikan baru, berkonspirasi menjadikan wanita culas menjadi seorang Darina palsu, seolah-olah menjadi ibu kandungnya yang sudah meninggal.
"Kalian yang membuat keributan silahkan keluar. Sekarang!" tiba-tiba seorang Kuasa Hukum yang mendampingi menelisik kemurnian pengakuan orang-orang yang menemui pak Yoko datang mrmbentak. Ann terkejut.
"Tapi pak...." Ann mencoba menjelaskan.
"Kau juga wanita muda tetapi kurang ajar. Aku melihatmu duluan melayangkan tinju ke arah wajah pak Bakar, dia nampak jauh lebih tua darimu." Kuasa Hukum Pak Yoko itu bicara lagi.
"Dan kau wajar keluar tanpa harus menunggu antrian pembuktian pada pak Yoko." sinis sekali jawaban orang yang menbentaknya. Ann melirik ke arah orang yang sudah duduk di depan pak Yoko. Entah siapa pula itu. Namun Ann tidak bisa melihatnya lebih jelas lagi, pintu kamar sudah dikunci. Ann dikeluarkan dengan paksa dari ruangan President Suite yang ditempati pak Yoko dan istri. Ann kebingungan. Dia kemudian mencari kembali sosok Bakar, namun dia telah kehilangan jejak, lorong-lorong ditelusurinya, namun Bakar dan wanita itu telah menghilang bagai ditelan bumi.
*****
Ann kembali ke kamar 602. Mencoba mengetuk pintu berkali-kali namun tak juga dibukakan. Sedangkan beberapa peserta yang tadi antri di dalam perlahan keluar satu persatu diantar Kuasa Hukum Pak Yoko yang sangat kekar. Ann tidak punya kesempatan untuk menyalib melalui pintu yang hanya terbuka sedikit dan dijaga.
"Pak Yoko, tolong izinkan saya pak. Saya mungkin cucu yang sedang Bapak cari sebenarnya. Ibuku, ibuku Darina sudah meninggal. Beliau punya dua orang anak pak. Aku entah anak siapa, dan Rafi, Rafi yang tadi disebutkan Bakar benar adanya, dia anak ibu, dia anak Darina dengan om Bakar yang jahat." Ann tersedu di depan pintu setelah semua orang yang hadir untuk memberikan kesaksian (kepalsuan) telah semua pergi. Ann menunduk sedih, baru saja dia berharap bisa menemukan keluarga agar tidak merasa sebatang kara di dunia, namun kenyataan tidak sesuai harapannya. Dia bukan saja tidak diakui kesaksiannya, tetapi semenit waktu untuk menjelaskan pun tidak diberikan kepadanya. Ann benar-benar merasa bersedih. Baginya, di situlah ujung penantiannya memiliki keluarga. Namun semua kandas. Ann tertunduk duduk dengan melipat kaki di depan pintu 602, wajahnya menekuk ke lutut yang berdiri.
"Apa gadis gila itu masih menunggu di luar?" terdengar oleh Ann suara ibu Alyne bertanya.
__ADS_1
"Masih bu. Apa perlu saya panggilkan bagian security?" seseorang menjawab.
"Panggil saja. Gadis kurang ajar seperti itu tidak mengenal putus asa." suara bu Alyne semakin melemah, Ann menduga bu Alyne bicara sambil berjalan mengarah menjauhinya.
"Tok tok tok...." Ann kembali mengetuk pintu.
"Bu, biarkan saya sejenak menatap wajah ibu, aku hanya ingin mengobati kerinduanku kepada ibuku. Tolonglaaah bu, Ibuku memang mirip sekali denganmu...." Ann bangkit lagi, dia masih berusaha meyakinkan orang-orang di dalam kamar. Namun tidak ada juga yang berempati kepadanya. Ann kembali kecewa. Lalu dia berdiri menelungkup menghadap pintu dengan kedua tangan menempel ke daun pintu.
Saat Ann menelungkup itulah, tiba-tiba pintu terbuka lebar mendadak, Ann tersungkur ke lantai. Hidungnya terasa sakit sekali. Namun dia diam saja saat terbangun. Meredam rasa sakit sendirian. Di depannya berdiri wanita yang memang mirip sekali dengan ibu kandungnya, Darina. Ann tersenyum girang bercampur sedih. Matanya lekat menatap Bu Alyne Lucyanna. Merasa ditatap seperti itu, bu Alyne menjauhi Ann dengan mundur beberapa langkah.
"Tetaplah di sana bu, aku tidak akan menyakiti ibu. Meski kalian tidak ingin mendengar kesaksianku, izinkan aku menatap wajah ibu yang begitu mirip dengan ibuku. Tolonglah bu, tolong izinkan aku menatap wajahmu yang cantik dan secantik ibuku. Ijinkan aku menatap mata teduhmu yang persis seperti mata ibuku, Darina."
"Hey kau seperti pemain sinetron saja, pergilah." Kuasa Hukum yang tadi mengusirnya tersenyum sinis melecehkan. Ann membalas senyum sinis itu dengan diam. Matanya berair, lekat menatap bu Alyne.
"Bu, aku menemukan keluarga ibu yang selama ini ibu sembunyikan dari Ann. Ibumu mirip sekali denganmu ibu, entah ibumu yang awet muda, atau beban hidupmu yang telah menuakan wajah cantikmu. Tetapi kalian sama cantiknya...." Ann bicara dengan linangan air mata. Maskernya nampak mulai basah. Bu Alyne seketika nampak berubah. Raut wajahnya menyimpan penasaran yang luar biasa.
"Maaf bu, bolehkan aku menumpang memelukmu sesaat, sesaat saja bu, aku tiba-tiba merasakan kerinduan yang sangat dalam kepada ibuku yang sudah meninggal, namanya juga Darina. Setiap kali aku menanyakan siapa dan dimana ayah kandungku, dia selalu mengajakku membicarakan hal lainnya. Dia berusaha mengalihkan perhatianku, hingga aku berpikir mungkin memang aku tidak punya ayah kandung lagi. Aku tak tega melihatnya kembali bersedih saat aku membahas ayah kandungku dan keluarga ibuku lainnya. Dia seperti tidak ingin mengenangkan semua hal yang ingin kuketahui. Ibu..., jadilah ibuku semenit saja..., aku sangat merindukannya...." Ann mendekati Bu Alyne yang terdiam. Bu Alyne tidak menjauh, dia bahkan ikut merentangkan tangan memeluk Ann yang terisak-isak hebat.
"Mana pak? Mana yang mau dibawa keluar?" dua orang security datang ke dekat pintu yang terbuka.
"Ini pak, dia sudah tidak pantas lagi ditoleransi, mungkin dia berniat jahat memeluk ibu Alyne dengan tangisan palsu." Wanita cantik yang berada di dekat Pak Yoko yang terdiam menunjuk ke arah Ann. Dengan sigap tubuh Ann ditarik security. Pelukannya terlepas begitu mudah.
"Izinkan aku berterima kasih dulu...." Ann mencoba melepaskan diri. Dia meronta sesaat. Namun security itu menariknya paksa, hingga membuat masker Ann terlepas dan jatuh. Ann kemudian berbalik, wajahnya nampak jelas menatap ke arah bu Alyne.
"Terima kasih banyak bu, terima kasih banyak atas pelukannya...." Ann mendada dengan tangan kanannya yang terlepas dari pegangan security. Bu Alyne Lucyanna seketika membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Daddy! Dad, oh my Hubby, lihatlah, lihatlah dia datang..., lihatlah Honey..., aku melihat Darina dua puluh tahun yang lalu, heiii..., lepaskan gadis itu." Bu Alyne berlari ke arah Ann yang seketika jatuh dan pingsan, tangan kanannya erat menekan ke arah perutnya yang sakit tiba-tiba.
*****bersambung****