
Ann selesai wawancara, setelah tadi dia sempat pergi sejenak untuk makan siang bersama Fee yang jelas ditolak lamaran kerjanya, dia kembali melihat pengumuman yang ditayangkan langsung di layar besar yang ada di ruang pertemuan tersebut. Pengumuman dibuat per divisi dan jenis jabatan. Sementara Fee menunggunya di lobi hotel.
Sesampainya di room tiga lantai lima, Ann segera membaur bersama para pelamar lainnya melihat pengumuman. Ada yang sudah keluar dengan wajah lesu dan ada pula yang histeris karena diterima. Ann mendekati layar, dan betapa dia begitu senangnya melihat ada nama Anne Steafanny di deretan nomor tiga pelamar cleaning service. Ann bersorak girang. Sebentar lagi dia akan menjadi karyawan dan menghasilkan uang. Ann segera kembali ke lobi melewati tangga, dia tidak ingin menunggu antrian menuju ke bawah karena di depan lift begitu ramai. Sesampainya di lobby hotel dia mencari Fee dan memeluknya. Fee ikut bahagia meskipun hanya Ann yang diterima. Itupun hanya sebagai cleaning service.
"Hey berisik tau." Mereka tidak menyadari Rara sudah berdiri di belakang mereka dengan tatapan mata tidak senang. Ann dan Fee berhenti berpelukan sambil berjingkrak.
"Ini lobby hotel bukan rumah kalian, baru juga lulus jadi cleaning service lagaknya bukan main." Rara mencemooh. Ann mencoba diam saja. Fee sudah kembali meradang. Ann menenangkan. Beberapa pelamar nampak banyak keluar dari lift, ada yang berfoto-foto di lobby hotel dekat patung ikan emas merah raksasa yang didesain begitu indah menyerupai sebuah taman dengan air mancur di beberapa titik mencurah. Ada pula yang berfoto di beberapa titik hotel mewah itu. Ann cuek kepada Rara, dia malah asyik memerhatikan keramaian di lobby.
"Muka ndeso seperti kalian tidak cocok kerja di sini." Rara masih mencari masalah.
"Hey mbak Rara, maaf ya. Saya dites oleh bagian HRD bukan kamu. Saya diterima, artinya saya layak." Ann tidak tahan juga akhirnya. Dia menjawab meski masih dengan nada yang tenang.
"Tidak usah sok akrab deh, panggil Rara segala. Cih!" Rara seperti meludah. Bebapa orang menatapnya heran. Ann mengangkat bahu tidak mengerti. Mengapa ada mahkluk yang jahat hati seperti Rara. Namun Ann diam saja membiarkan Rara marah-marah sendiri.
"Dasar gadis miskin, tidak tahu ayah kandungnya siapa, punya ayah tiri suka mabuk-mabukan bahkan membunuh istri sendiri." Rara bicara mengagetkan Ann. Tidak banyak yang tahu siapa dirinya yang sebenarnya, Tak banyak yang tahu soal keluarganya.
"Hey sebenarnya apa masalahmu denganku sih?Kau siapa? Mengapa kau menyerangku tanpa sebab?" Ann berdiri, dia marah. Mengingat ibunya dia sangat bersedih, apalagi diungkit-ungkit karena dibunuh ayah tirinya.
"Aku siapa? Itu bukan urusanmu gadis miskin."
"Jika bukan urusanmu mengapa kau begitu nampak membenciku?"
"Dasar gadis lonteh! Kau pasti sudah tidak perawan lagi kan?"
"Hey apa maksudmu?" Ann terkejut dibuatnya.
"Kau kan sudah dijual ayah tirimu ke komplotan itu, pasti kau sudah digilir mereka." Rara bicara sinis.
"Hey kau semakin menceracau, sok tau kehidupan orang saja. Dasar gadis gila."
"Aku benar kan? Kau sudah digilir om-om kan?" Rara sengaja menaikkan suaranya. Beberapa orang mulai mendekat. Petugas hotel mencoba menenangkan.
"Gadis gila!"
"Dasar kau pel@cur sok suci!" Rara bicara sambil ditarik lengannya oleh petugas hotel.
"Kau gadis gila sok tau kehidupan orang."
__ADS_1
"Diam lontehhh...." Rara seketika meraih segelas air lemon yang disediakan di lobby hotel itu dan menyiramkan ke wajah Ann. Ann yang tidak sempat mengelak seketika terpejam menahan perih. Fee segera menuntunnya ke toilet yang ditunjukkan petugas hotel. Sementara Rara diamankan petugas.
*****
"Tunggu aku di tempat tadi Fee, biar aku bersihkan sendiri wajahku." Ann meminta. Fee pun kembali ke kursi semula. Ann mengusapkan air keran ke wajahnya, membuka mata perlahan-lahan. mengelapnya dengan tisu. Namun tak urung bajunya menjadi basah semua bagian depan. Ann tidak habis pikir mengapa Rara bersikap seperti itu kepadanya padahal dia tidak mengenal gadis itu sama sekali.
Ann selesai mengusap wajah dan membersihkan bajunya. Dia terburu-buru keluar dari toilet dan tak sengaja menabrak seseorang laki-laki paruh baya yang berpakaian sangat rapi. Kaca matanya jatuh dan terinjak sepatunya sendiri.
"Hei, kemana matamu? Orang buru-buru mau menemui pak Alman malah kau tabrak pula. Kalau jalan yang benar! Ini kaca mata mahal tau."
"Maaf Paman, mataku masih perih sebelah, aku tidak bisa melihat dengan sempurna." Ann memelas ketakutan.
"Itu urusanmu, jangan mengacaukan urusanku. Kau tahu? Aku buru-buru mau tanda tangan kontrak dengan pak Alman. Huh dasar wanita sialan!"
"Maaf paman."
"Maaf maaf maaf maaf, aku tidak butuh maafmu, awas saja kalau aku terlambat dan tidak mendapatkan kontrak itu, habis kau." Laki-laki itu menunjuk muka Ann yang masih bertutup kedua tangan.
"Ada keributan apa di sini?" agak berat nadanya, terdengar suara seseorang bertanya. Keduanya menoleh seketika.
"Pak Alman?"
"Maaf pak, Saya terlambat lagi. Saya ditabrak gadis sial ini. Dimana pak, dimana kita akan melakukan akak kerjasamanya?" Laki-laki paruh baya menunduk-nunduk terlalu ramah. Nampak benar kalau senyum itu hanya sebuah sandiwara.
"Aku berubah pikiran. Kontrak kita dibatalkan pak Riko."
"Lho? Kenapa pak? Aku sudah berjuang mati-matian demi proyek ini." Pak Riko menjawab, wajahnya langsung berubah merah padam. Tidak ada lagi senyum mencari muka. Yang ada urat leher menahan emosi."
"Pertama kau terlambat, kedua, etika mulutmu tidak searah dengan kontrak yang kau rencanakan, ini hanya kontrak sosial masyarakat untuk membuatmu maju ke Pilkada. Aku membatalkan semuanya karena yang ketiga, kau membentak-bentak perempuan."
"Ini karena wanita itu yang...."
"Keempat, kau orang yang tidak bertanggung jawab, melempar kesalahan ke orang lain. Pergilah. Silahkan cari hotel lain yang mungkin akan mendukungmu." Alman meninggalkan Pak Riko yang langsung memendam dendam. Dia meninggalkan hotel dengan terburu-buru bersama umpatan dan gumaman yang tidak jelas lagi.
"Bapak mencari seseorang?" Sekretarisnya, Alexandra, biasa dipanggil pak Alex bertanya melihat bosnya celingukan. Bukannya menjawab, Alman malah mendekati petugas yang berdiri di dekat pintu masuk lobby. Sejenak bicara, nampak petugas menunjuk ke arah Ann yang duduk menunduk di kedua pahanya. Alman mendekat.
"Kau menangis lagi?" Alman mengabaikan tatapan heran para pegawai hotel, pelamar kerja dan pak Alex yang kebingungan.
__ADS_1
"Mengapa kau menangis? Apa aku harus selalu bertemu denganmu dalam keadaan terkena sial dan bersedih?" Alman memegang bahu kanan Ann.
"Pak, Bapak mengenal gadis itu?" Pak Alex kebingungan dibuatnya.
"Tidak pak Alex, aku sedang bersandiwara seolah-olah mengenalnya." Alman menyindir. Pak Alex menjauh seketika sambil menahan senyum agar tidak meledak menjadi tawa.
"Ikut aku, berdirilah." Alman menarik Ann dengan paksa. Ann seketika mengikuti langkah cepat Alman menuju lift khusus karyawan. Fee kebingungan dibuatnya.
"Ann...," Fee mencoba memanggil.
"Kau pulanglah dulu Fee...." Ann yang tak bisa melepaskan diri lagi dari cengkraman tangan Alman melambai dengan sebelah tangan.
"Kenapa sih om?" Ann mencoba bertanya.
"Kamu yang kenapa?"
"Maksudnya?"
"Mengapa selalu lemah. Mengapa tidak membalas saat dilempar air jeruk?"
"Dimana om tau?"
"Aku sudah mengamatimu dari lantai dua. Kau selalu ragu-ragu, jika seperti itu selamanya kau akan ditindas orang lain Ann."
"Mengapa Om Bara tidak menjawab panggilanku?"
"Kapan?"
"Pagi tadi."
"Jadi benar tadi kau yang memanggilku?"
"Benar om. Waktu om menuju lift karyawan."
"Aku merasa itu karena aku terlalu merindukanmu. Suaramu sampai terngiang-ngiang."
"Apa?" Ann menoleh menatap laki-laki baru saja bicara. Tidak ada jawaban. Pintu lift sudah terbuka di lantai delapan. Alman masih menarik lengan Ann menuju ke sebuah ruangan. ADS ROOM'S. Alman mengambil sebuah kartu di saku depan jasnya, ia menggesekkan kartu sensor, seketika Ann ternganga setelah pintu terbuka. Alman mendorong Ann masuk ke dalam dan pintu segera tertutup.
__ADS_1
*****bersambung*****