
Setelah merasa sudah aman dan jauh dari pengejaran Do dan Jef, pria tampan bertubuh atletis dengan hidung mancung segera menurunkan Ann dengan kasar.
"Ah, mimpi apa aku semalam, niat ingin mencari ketenangan di dalam hutan malah menemukan gadis gila sepertimu." Dia mengibas-ngibaskan tangannya yang pegal karena lama menggendong Ann.
"Maaf, aku tidak tahu kamu ada di sana. Aku mencoba peruntungan menyelamatkan nyawaku." Ann berjongkok dan mencoba menutupi batas dada yang tidak ada bajunya. Dia hanya berlilit kain milik pria penolongnya.
"Aku tidak peduli ucapanmu." Pria itu meninggalkannya sendirian di bawah pohon deruing (makanan ular seperti ara tetapi kecil) yang daunnya sudah mengeriting dimakan ulat kecil gatal berduri tiga di belakang badannya. Ulat kecil itu berwarna coklat gelap.
"Terima kasih telah menolongku, kau mau kemana? Ini dimana? Bantu aku menemukan jalan keluar atau kembali ke tempat sungai berbatu tadi. Aku ingin memakai bajuku." Ann menghiba, bahunya mulai dijatuhi satu dua ekor ulat bulu coklat. Dia mulai kegatalan.
"Menjauhlah dari pohon itu, di sana arah jalan keluar. Ke arah sana jalan menuju sungai tadi. Jaraknya sama sekitar satu kilo dari sini." Pria itu bicara sambil menunduk-nunduk mencoba melintasi jalan setapak yang berlilit rumput berakar. Ann malah kebingungan. Sejenak menoleh ke belakang, akhirnya dia malah berlari mengikuti langkah laki-laki di depannya.
"Pergilah jangan ikuti aku!" Pria penolongnya malah mengusirnya dengan kesal.
"Aku tidak tahu harus kemana? Siapa namamu? Terima kasih sudah menolongku." Ann gelagapan sambil mulai menggaruk-garuk tubuhnya yang mulai gatal.
"Obati bintik-bintik di badanmu itu, ini daun ini bisa menolongmu." Pria dingin itu bicara lagi tanpa menjawab pertanyaan Ann. Dia menunjuk rumpun kapulaga di dekat pohon deruing yang dipenuhi ulat gatal.
"Ambil bagian dalam batang, dan gosok ke badanmu." Laki-laki itu bicara sepintas menatapnya. Kemudian dia kembali berjalan. Ann sudah memerah sekujur bahu, ulat itu telah menebarkan bulu-bulu halusnya. Ann menggosok-gosok belakang mencoba membuang ulat di tengkuknya, ulat sebesar pangkal sapu lidi itu seperti menempel saja. Dengan menjerit-jerit ketakutan dia melompat-lompatkan kaki. Sekujur badannya mulai gatal dan memanas disertai merinding kegatalan bercampur ketakutan.
"Tolong aku, aku tak tahan lagi...." Ann berada pada masa kegatalan yang parah sehingga membuat napasnya berat. Ditambah ketakutan melihat pacat di sela-sela dedaunan basah mulai bermunculan. Dia fobia melihat pacat berdiri seakan-akan ingin mencolek betisnya yang tak beralas apapun. Dia mencoba melompat-lompat tetapi tidak kuat lagi menjauh, akhirnya tubuhnya limbung dan dia terkulai lemas.
"Buk!" Tubuhnya ambruk di tanah. Pria penolongnya seketika menoleh melihatnya.
"Hei kau bisa menipu penjahat tadi, tetapi tidak bisa menipuku. Aku tidak akan terpengaruh. Jangan tidur di situ. Di sana tanahnya lembab dengan tumpukan sampah. Banyak ulat bahkan kalajengking juga ada di sana." Pria itu berbicara sinis dan melanjutkan langkahnya. Namun sekitar sepuluh langkah dia berjalan tidak ada respon dari gadis aneh yang barusan terjatuh, dia akhirnya mengkhawatirkan gadis yang tertidur mendadak tadi.
"Jangan-jangan dia pingsan benaran." Seketika dia berlari ke arah Ann dan mendapati pacat sudah menempel di tiga titik betis mulus itu. Pria tampan itu menariknya dengan kuat, pacat sudah memerah. Dia membuangnya. Wajahnya terkesiap melihat sekujur badan dan bahkan wajah gadis itu sudah memerah dan menebal.
"Hei bangun, kau kenapa?" Setelah membuang ulat-ulat di badannya, pria itu menarik sebatang kapulaga muda. Digendongnya lagi Ann dengan sekuat tenaga. Dibawanya berlari ke depan menyusuri jalanan semak dan belukar. Dia biarkan kakinya tergores duri dan tersandung akar. Dengan terengah-engah dia membopong badan Ann yang kainnya sedikit melorot dengan sambungan penguat ujung kain di sela-sela payudara ikut terlepas.
"Kau ini siapa sih? Kok merepotkan saja." Pria itu menggumam dan kemudian meletakkan Ann di sebuah rumah kayu bertiang tinggi di tengah hutan lebat. Keringatnya mengucur deras menggotong tubuh tak berdaya itu hingga satu kilo lebih. Pria itu mencuci batang kapulaga, digeprok-geprok bagian batang yang memerah dengan sebuah kayu kecil di pondok itu. Setelah memar dan menjadi halus dia membuka lilitan kain Ann.
"Bangunlah hei, ini obatnya kamu gosokkan sendiri." Dia mencoba menggoyang-goyangkan tubuh itu. Namun tetap tidak ada respon.
"Jangan-jangan dia sudah mati." Pria itu mendekatkan pipinya ke hidung Ann. Ann terbangun dan langsung mendorong wajahnya dengan spontan.
"Kau mau apa? Ini dimana? Hah? Kau memperk0saku ya?" Ann melihat kainnya sudah separuh terbuka.
"Gadis gila, aku masih waras, mana mungkin aku mau memperk0samu. Tadi kau pingsan di bawah batang deruing." Pria itu menjauh. Dia memalingkan wajah, menatap ke luar jendela rumah kayu seukuran empat kali lima meter itu. Ann terdiam, dia mengingat lagi apa yang baru saja terjadi dengannya.
__ADS_1
"Ah pacat itu, pacatnya banyak sekali." Ann kembali melompat-lompat di dalam rumah kayu. Pria penolongnya menoleh kesal ke arahnya.
"Berisik. Pakailah obatmu, lalu pergilah dan carilah dimana ibumu." Pria itu emosi melihat ekspresi Ann yang nampak berlebihan, padahal dia memang fobia dengan pacat dan lintah, ular ataupun serangga lainnya, meski dia adalah anak petani singkong dan sayuran lainnya.
"Mana obatnya?" Ann berhenti berjingkrak dan melompat, dia kemudian duduk lagi sambil mengedikkan bahu, merasa geli membayangkan dia dikerumun ulat dan pacat.
"Cari sendiri." Pria itu menjawab sambil mengambil handphone di dalam tas pancingnya, terdengar suara handphone dihidupkan. Setelah hidup bunyinya tidak berhenti. Klentang klentong berderak berdering. Begitu banyak orang yang menghubunginya, namun tidak ada satu panggilan pun yang dia terima. Lalu dia menelpon seseorang.
"Halo, tolong kamu antarkan sepasang baju wanita seukuran M ke sini segera. Eit eit eit, dengan dalamannya juga ya. Apa? Ukuran? Mana aku tahu ukuran BHnya. Tunggu sebentar."
"Hei, berapa ukuran BH dan celana dalam serta sepatumu?" Pria itu bertanya kepada Ann yang sudah sibuk menggosok-gosokkan obat racikan pria misterius itu. Dia menghadap ke arah berlawanan dengan pria penolongnya.
"Kau bertanya kepadaku pak?" Ann menoleh sesaat. Kainnya sedikit melorot lagi. Pria itu sempat menatapnya dan segera mengalihkan pandangan.
"Memang ada orang lain di sini selain kita berdua? Apa ada orang lain selain kamu yang harusnya memakai BH?" Pria itu menjawab dingin. Ann hampir tertawa ngakak mendengarnya.
"Owh. Ukuran 38, sendal atau sepatu ukuran 37 pak." Ann menjawab masih dengan menggosok-gosokkan umbut batang kapulaga.
"Kok, ukuran sepatumu kecil, ukuran anumu besar?" Pria itu bingung.
"Iya anuku memang besar meski badanku ramping." Ann menjawab. Pria itu kembali ke handphone yang tidak dia matikan. Dia menepuk kening kebingungan.
"Ukuran sepatunya 37 dan anunya 38." Pria itu menutup sambungan teleponnya. Dia turun dari tangga rumah kayu itu dan berdiri puluhan meter lebih dari Ann yang sudah agak baikan kondisinya.
"Kau sudah baikan?" Ann kaget dan buru-buru kembali ke arah rumah pondok papan bagian dalam.
"Iya pak alhamdulillah." Ann menjawab pelan sambil menganggukkan kepala.
"Jangan panggil aku pak, usiaku dua puluh enam tahun." Pria tampan itu menjawab.
"Iya. Terima kasih untuk semua pertolonganmu." Ann menganggukkan kepala sopan.
"Aku merasa tidak menolongmu." Laki-laki itu masih acuh saja menjawab.
"Siapa namamu? Aku harus memanggilmu siapa? Aku Anne Stefanny. Panggil aku Ann." Ann mencoba mengajak bicara lagi laki-laki yang sudah menolongnya.
"Aku sudah tahu namamu. Bukankah pacarmu tadi memanggilmu berkali-kali." Pria itu menjawab.
"Dia bukan pacarku." Ann memotong.
__ADS_1
"Aku tidak peduli pacarmu atau bukan."
"Dia komplotan yang akan menjualku." Ann mencoba menjelaskan.
"Aku pun tak peduli kau jualan atau bukan." Pria itu dingin sekali menyahut.
"Siapa namamu? Kau dingin sekali pak." Ann menghela napas dan bicara jujur.
"Kau panggil siapa saja terserah."
"Baiklah om."
"Hei jangan om dong, memangnya aku begitu tua? Kau ini wanita sama saja, sok akrab, sok romantis, ujung-ujungnya hanya memanfaatkanku dan selingkuh. Dasar wanita. Durjana semua wanita itu." Pria itu kembali emosi. Dia memukul-mukul tiang tangga. Ann hanya diam. Dia tidak berani bicara lagi. Rasanya tenggorokannya baru terasa kering, haus sekali dia rasakan. Perutnya pun mulai keroncongan. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.46 WIB, terlihat di jam dinding pondok papan itu. Jam dengan desain indah, nampak bertuliskan BRC Hotels and Resort.
"Dia suka juga memakai jam gratisan sepertiku." Ann bergumam lirih melihat jam di dinding itu. Jam sebuah hotel terbesar di kota kecilnya. Hotel bintang lima yang berada di wilayah nol kilometer, tepat di samping rumah dinas Bupati Bangka Barat. Rumah yang dulunya ditempati para petinggi Belanda di zaman pengasingan Bung Karno dan Hatta. Rumah besar dan gagah itu dihancurkan dan dibuat sebuah hotel oleh orang kaya ternama di kota Mentok. Aji Syahbana.
"Kucruuukkk kucrukkk kucruuukkk...." tiba-tiba perut Ann berbunyi, Pria itu mendengar dari jarak hampir tiga meter.
"Kau lapar gadis sial?" Pria itu melepaskan handphonenya lalu naik ke rumah papan itu. Melewati Ann yang merasa risih dan serba salah karena pakaiannya. Dia merekatkan kedua paha agar kainnya tidak terbuka. Kepalanya menunduk pada dua lutut yang kedinginan.
"Ini ada roti tawar, makanlah." Pria itu menyodorkan sebuah piring plastik tupperware hijau berisi seplastik roti tawar merk AA, sekaleng susu Frisian Flag Gold, se cup kecil mentega dan selai durian. Ann mengangkat wajah, berputar menatap ke mata laki-laki dingin itu. Meski dia tidak begitu ramah, namun kebaikannya tak ternilai, batinnya.
"Aku tidak lapar pak, hanya ingin segera pulang ke rumah. Ibuku, entah kenapa aku sangat merindukan ibuku." Ann bicara terpatah, air matanya menganak sungai. Penglihatannya kabur tertutupi kristal kesedihan itu.
Pria itu memalingkan muka, dia benci melihat tangisan wanita. Dia tidak ingin terpengaruh lagi. Dia tidak ingin ditipu air mata buaya wanita lagi. Dia masih ingat, bagaimana Cintya merengek minta dibelikan mobil sport karena dihina teman laki-lakinya, dia belikan mobil sport, dia ingat bagaimana rengekan Cintya ingin dibelikan tas mewah seperti punya para artis, dia pun terpengaruh dan iba. Dia belikan juga tas milyaran itu. Dia ingat pula bagaimana dengan sesenggukan Cintya minta dibelikan rumah mewah di pinggir jalan, dia turuti juga. Semua keinginan kekasihnya itu dia turuti, dia tidak ingin melihat kekasihnya bersedih. Demi cintanya, demi menahan air mata pujaan hatinya, dia rela mengeluarkan uang berapa pun dia minta. Namun apa balasannya? Pengorbanannya menjadi sia-sia. Hanya ditinggalkannya ke Korea untuk urusan bisnis selama dua minggu bersama rombongan Pak Anindya Bakri dan teman-teman pengusaha lain dari Bangka Belitung selama dua minggu dengan agenda kegiatan serta kepulangan ke tanah air dipercepat, dia mendapati kenyataan pahit. Cintya ditemukan di sebuah hotel sedang pesta shabu dengan seorang teman lelakinya. Hancur hati pria itu, tak terbendung rasanya amarah. Ingin dia menghabisi gadis kotor itu. Namun dia menjernihkan pikiran, terlalu bodoh jika dia harus mengotori tangan dan mulut untuk marah pada gadis murahan. Kecantikannya hanya kamuflase untuk mendapatkan keuntungan material darinya. Dia memutuskan menenangkan diri ke hutan, tanah luas, hak milik keluarganya yang telah dilepas oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bangka Barat dari rute Hutan Raya. Dia menyuruh asisten pribadinya membawakan keperluan menginap dan menyuruh pegawainya yang merawat area itu untuk pergi ke kota. Namun semua gagal, bukannya mendapatkan ketenangan, dia bahkan mendapatkan masalah baru dengan hadirnya gadis sial bernama Ann.
"Hey gadis sial, makanlah dulu, perutmu berbunyi." Pria itu mendekatkan diri ke arah Ann setelah kembali mendengar perut Ann keroncongan. Dia membuka bungkus roti tawar, mengambil sehelai, mengoles mentega, menambahkan selai durian lalu menutupnya dengan roti tawar satunya lagi. Dia melakukannya dengan cematan dibantu sebuah pisau kecil.
"Habiskanlah ini dulu, nanti aku akan mengantar ke ibumu." Pria itu menyodorkan roti di atas bahu kanan Ann yang masih menangis diam. Sesenggukan dengan bahu bergetar.
"Jangan merepotkanku, jika kau tidak makan, kau mati di sini, itu akan membuat masalah baru bagiku. Makanlah dan ini minumanmu." Pria itu memaksa Ann mengambil roti tawar di tangannya. Ann bergeming mengulurkan tangan, mengelap dengan ujung kain yang dipakainya kedua matanya yang basah. Mulutnya terasa asin karena lelehan air mata.
"Terima kasih banyak." Ann mulai mengunyah. Dia memasukkan roti tawar itu sambil menangis. Matanya begitu lekat menatap lelaki yang telah menolongnya.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak ingin ada wanita jatuh cinta lagi kepadaku." Pria itu kembali turun, handphonenya berbunyi.
"Halo, iya. Tidak perlu masuk. Letakkan saja di pintu pagar, aku akan ke sana mengambilnya. Kau pergilah...." Pria itu menutup telpon dan beranjak menuju sebuah motor hijau penuh lumpur di sekujur rodanya.
"Aku pergi sebentar, kau jangan kemana-mana." Pria itu berpamitan dengan suaranya yang bersaing dengan suara knalpot motor besar yang ditungganginya. Ann mengintai dari balik jendela kaca.
__ADS_1
"Siapa dia?" Ann bertanya sendiri sambil menghabiskan roti tawar tadi. Kemudian dia membuka sebotol air kemasan yang tadi disodorkan sang pria misterius. Dia menenggak sampai habis, bahkan tak tersisa setetes pun di botolnya.
***** bersambung *****