
Matahari mulai menyengat, hari beranjak jauh, dengan tertatih berjalan kaki menyusuri jalan rahasia menuju ke villa milik suaminya, Ann menahan tangis. Kesedihan dan kerinduan bertahta di sanubarinya. Ann berharap Alman ada di villa kayu mereka, menunggunya kembali ke sana. Ann menumpang ojek online yang kebingungan ketika dia minta berhenti di pinggir jalan berhutan, sedangkan untuk menghubungi Alman, handphonenya entah terjatuh dimana dia tidak sadar lagi. Ann hanya bisa bergumam lirih.
"Apa aku memang ditakdirkan untuk selalu menderita ya Allah...." Ann tak mampu membendung kristal kesedihannya yang satu per satu mulai berjatuhan. Terkadang pandangannya gelap karena air mata. Dia mengelap dengan ujung lengan bajunya.
Membutuhkan waktu hampir satu jam bagi Ann berjalan menyusuri hutan menuju villanya. Satu yang menguatkannya, Alman mungkin menunggunya di sana.
Ann mengeluarkan kunci yang dipegangnya, duplikat kunci segala kunci yang dikasihkan Alman padanya. Dia melihat mobil pick up mereka belum berubah. Masih parkir di gerbang pintu masuk utama. Sama persis seperti posisi saat mereka tinggalkan.
"Alman belum pulang...." lirih sekali suaranya menggumam.
Ann masuk ke villa mereka, tidak dia temukan Alman di sana. Dia turun ke sungai berdinding batu, tempat mereka pertama kali bertemu, namun letih dia berjalan, tidak dia temukan juga suaminya di sana. Dia istirahat, menenggak seteguk air putih. Perutnya mulai keroncongan. Matanya mulai nanar melihat sudah puluhan durian yang terkulai di tali-tali pengikat. Durian yang sudah sangat ranum. Baunya menyengat hingga ke beranda villa kayu tempat dia duduk sambil mengibas-ngibaskan ujung baju ke wajah. Panas. Ann turun dengan bersusah payah membawa tangga aluminium lipat yang biasa dipakai mengambil buah durian masak. Diambilnya tiga buah durian. Dibawanya berulang balik ke beranda villa.
Ann mengambil serbet , melipatnya dan menekan pada ujung buah durian yang sudah merekah. Ditekannya sekali dengan tangan kiri sementara tangan kanan menarik sebelah kulitnya. Namun perutnya seakan meronta ketia durian berhasil dibukanya. Hidungnya merasa durian itu terlalu menyengat, dia mual parah hingga menutup kembali durian itu.
"Mungkin aku masuk angin dan kecapean." Ann kembali bergumam dan membaringkan diri. Aroma durian semakin membuat perutnya seakan mau mengeluarkan seisi perut yang tidak seberapa.
"Aku akan menunggumu di sini sayang, hingga aku yakin kau memang tidak mencariku lagi, aku akan pergi." Dia sejenak meratap bersamaan jatuhnya bulir bening ke pipi. Matanya menatap langit biru, seakan dia melihat Alman tersenyum menatapnya. Diarahkannya pandangan ke sebelah lautan membentang nan indah, kesedihannya bertambah. Alman berdiri disana, melambaikan tangan dengan senyum khasnya. Ann mendesah, dimanapun, nampak wajah Alman, sang kekasih yang dia rindukan. Lelah rasanya duduk di beranda Villa, Ann masuk ke dalam, mengambil sebuah bantal lembut, kembali tercium bau Alman. Ann terlentang memikirkan banyak hal hingga semenit, dua menit dan entah menit keberapa, tanpa disadari, perlahan matanya terpejam. Dia tertidur karena kelelahan.
__ADS_1
*****
Pagi kedua Ann di villa kayu. Semalaman dia tidak bisa memejamkan mata, bukan hanya karena dia sudah tidur siang harinya tetapi karena dia was-was berada di villa sendirian. Bagaimana nanti kalau ada orang jahat?
Disaat dia ketakutan seperti itu kembali terngiang-ngiang di telinganya suara Alman mengatakan tidak ada seorang pun yang berani masuk kawasan itu. Kecemasannya sedikit berkurang. Namun mata tetap enggan terpejam juga. Hingga ketika puluhan ayam jago di dekat villa kayunya berkokok, dia tidak terpejam sedikit pun.
*****
"Bagaimana pun hidup, kau harus tetap berjuang untuk kehidupanmu nanti nak. Menikahlah dengan orang yang kau cintai, jangan seperti ibu." Ann terngiang kembali ucqpan ibunya, Darina. Setiap kali pipi ibunya memar karena kelakuan Bahar, maka kalimat itu diulangnya terus kepada Ann. Ann hanya bisa mengangguk mengiyakan.
Ann turun dari tangga villa setelah puas memandang hamparan laut pagi hari, dia memetik beberapa rumpun sawi Pakcoy. Dia pun menangkap dua ekor ikan nila gendut-gendut menggunakan cedokan panjang dengan diujung gagang dipasang besi bulat melingkar berjaring. Begitu mudahnya dia menangkapnya. Alman sudah mengajarinya dengan memberikan sedikit makanan, ikan akan mendekat dan angkat cedokan perlahan. Dia masak, lalu ingin sarapan. Tumis sawi dan bakar bumbu ikan nila besar, dia sangat doyan. Namun baru saja dia mau menyantap nasi, rupanya kembali perutnya terasa bergejolak. Nasi membuatnya ingin muntah. Ann mendorong nasi dan lauk serta sayur jauh darinya. Dia tidak akan melanjutkan makan. Perutnya berontak, berutnya menolak. Ann kemudian turun mengambil beberapa buah mangga irwin yang besar, mangganya masih mengkal, diuleknya dengan garam dan cabe rawit juga sedikit gula merah. Dengan lahap dia bahkan menghabis dua buah mangga lebih.
"Ya Allah, aku sudah telat haid beberapa hari..., apa mungkin aku hamil?" Ann bicara pelan pada dirinya sendiri. Dia lantas menandai kalender yang tergantung di dinding papan itu.
"Iya aku sudah telat haid lebih seminggu...." Ann kembali bergumam pelan. Dia meraba perutnya. Kerinduannya semakin membuncah untuk sang suami. Ingin sekali rasanya menanyakan perihal ini.
*****
__ADS_1
Langit semakin membiru, panas sangat terasa, namun karena banyaknya pohon di sekitar villa, Ann masih merasakan kesejukan. Perlahan dia turun ke arah pantai. Dibawanya beberapa potongan mangga yang sudah dibalur garam cabe dan gula merah. Dia menuruni satu demi satu tangga tanah menuju ke tepian pantai. Dia berhenti di depan pintu keluar menuju pantainya. Seekor anjing berlari ketakutan karena kehadirannya. Nampak dua orang laki-laki tua menatap ke arahnya. Lalu mereka kabur seketika.
"Han..., han..., hantuuu...." Seseorang diantara mereka menjerit. Ann menunduk menatap pakaian bagian bawahnya. Dia tidak mengenakan kain pocong, mengapa mereka ketakutan? Ann segera turun dan sembunyi dibalik rimbunnya pohon mangga harum manis yang lebat. Dia menatap pantai yang indah sambil membayangkan hari-hari kemarin yang dia lewati bersama Alman tercinta. Tiba-tiba dua laki-laki berlari tadi sudah kembali lagi bersama empat orang lainnya. Ann terdiam, tak ingin mereka memyadari kehadirannya.
"Di sana, beneran tadi ada seperti seorang wanita duduk santai di depan pintu. Tadi pintunya terbuka." Laki-laki tadi menunjuk-nunjuk ke arah pintu pagar yang kokoh.
"Iya benar, tadi aku juga beneran melihatnya. Dia memang benar-benar hantu...." mengiyakan, sahabatnya ikut berkomentar.
"Ah, kalian saja yang penakut, mana mungkin ada hantu di siang begini." Seseaorang lagi bicara sambil memutar badan dan pergi meninggalkan mereka yang masih mematung.
"Iya, ih kalian hanya mengganggu pekerjaan kami saja." yang lain menimpali.
Mereka kembali membubarkan diri. Hanya dua orang laki-laki tadi yang mulutnya nampak masih menggumam.
"Apa jangan-jangan itu peliharaannya keluarga Daniyal ya..., makanya keluarga itu semakin kaya saja."
"Bisa jadi. Ayo kita pulang."
__ADS_1
Ann tersenyum mendengar omongan keduanya, jarak persembunyiannya dengan bibir pantai tempat laki-laki itu berada paling hanya sepuluh meter saja. Ann pelan-pelan turun dari pohon dan segera kembali ke villa. Berat rasa langkah kakinya menahan kerinduan yang semakin membuncah. Namun dia harus menunggu, tidak mungkin Alman akan melupakannya.
*****bersambung****