Laut dan Cinta

Laut dan Cinta
Mabuk


__ADS_3


Beberapa hari setelah melihat Ann namun tidak berhasil menemuinya, Alman semakin menjadi-jadi amarahnya. Sedikit saja karyawan hotel berbuat kesalahan akan mendapatkan amarahnya yang tak terkontrol dari pria tampan berjambang itu.


"Maaf pak, kami sudah mencoba mencari setiap rumah di pinggir jalan yang memiliki CCTV, namun tidak ada yang menangkap sosok Ann di atas ojek, sangat banyak ojek yang lewat, dan...."


"Plak! Plak! Plak! Plak!" belum selesai pak Alex menyampaikan informasi kepada majikannya, kedua belah pipinya sudah mendapat hadiah istimewah, tamparan dari Alman. Sekali di pipi kiri dan sekali di pipi kanan. Indra juga mendapatkan bonus yang sama. Sangat adil, dua tamparan keras di pipi keduanya.


"Kalian tidak becus! Pulang sana! Biarkan saya sendiri di sini." amarah Alman kembali naik.


"Tapi pak ini sudah malam, Bapak ada jadwal makan malam bersama keluarga." Pak Alex mencoba mengingatkan.


"Masa bodoh dengan makan malam, pergi saja kalian!" Alman menunjuk tegas ke arah pintu masuk.


"Tapi pak, Bu Cita sudah bilang bapak harus...,"


"Aku tidak akan menuruti perintah mereka lagi. Pergilah." Alman mendorong kedua sekretarisnya keluar ruang kerjanya. Dia mengunci pintu lalu meluapkan amarah dengan membanting semua yang berada di atas meja kerjanya.


"Aaarrrggghhh!!! Aaaannn!!!" Alman berteriak memanggil nama Ann, namun yang mendengar hanya beberapa office boy, cleaning service dan beberapa pegawai hotel shift malam. Mereka saling tatap dengan teman-temannya dan kemudian menggeleng-gelengkan kepala melanjutkan pekerjaan.


Pak Alman kembali sifatnya seperti semula....


*****


Jam satu dini hari, Alman dibawa pulang oleh pak Alex dan Indra yang ditelpon pemilik RR-Disco, sebuah diskotik di kaki pegunungan. Alman mabuk berat. Mulutnya menceracau selalu memanggil Ann. Pak Alex dan Indra membopong Alman menuju ke kediamannya di BRC hotel. Beberapa karyawan hotel memalingkan wajah seakan tidak melihat kondisi boss mereka.


Sesampai di ruangannya yang didesain khusus seperti sebuah rumah mewah dalam sebuah hotel mewah itu, Alman dibaringkan di sofa luar. Saat pak Alex dan Indra akan melepaskan pakaian dan sepatu Alman, tiba-tiba Zellin keluar dengan senyum khasnya.


"Kalian bedua boleh pergi, aku bisa mengurusnya." Zellin mengusir kedua sekretaris Alman dengan menjentikkan belakang punggung tangan. Pak Alex dan Indra berpandangan tak mengerti.


"Tidak! Pak Alex dan pake Alex, Pak Alex dan pak Alex jangan pergi. Pak Alex harus bersamaku, sampai Ann datang. Dia akan datang malam ini, kami akan menari bersama, kami akan berbagi kehangatan cinta..., Ann..., datanglah Ann..., datanglah dan peluklah aku, Almanmu kedinginan Ann...." Alman menceracau setengah sadar. Pak Alex dan Indra berpandangan kembali. Pak Alex melepaskan sepatu dan kaus kaki Alman.


"Kuperintahkan keluar kalian! Segera keluar kalian berdua!" Zellin yang cantik dan bergelar Magister itu membentak sekretaris Alman kembali dengan wajah menyeramkan.


"Tetapi bu, Pak Alman tidak ingin ditinggalkan sendiri. Dia sudah lama tidak mabuk-mabukan lagi, barulah malam ini dia...."


"Ceramahlah di masjid kalau mau ceramah, aku bisa mengurus suamiku sendiri." Zellin mengusir kembali, sementara Alman sudah mulai berhenti menceracau, matanya semakin sayu, dia akan terlelap dengan mulut masih bau alkohol.


"Baiklah bu, kami akan keluar setelah memberinya minum." Pak Alex meminta.

__ADS_1


"Tidak usah, aku tahu apa yang harus aku lakukan." Zellin menjawab. Sementara Alman perlahan membuka mata dan kembali menceracau. Dia bangkit untuk duduk namun kembali terjatuh ke belakang.


"Ann..., Aku menunggumu sayangku, kekasihku, aku seperti orang gila saat tidak bersamamu. Ann...."


"Plak!"


"Bu!"


"Bu!"


Pak Alex dan Indra kaget melihat Zellin malah menampar mulut Alaman yang menceracau.


"Ann? Kau menamparku? Kau menamparku Ann? Kau mau kita melakukan sensasi baru lagi? Ayo sini sayang, ayolah kita bercinta lagi...." Alman kembali tertidur. Kesadaranya belum nampak sama sekali.


"Izinkan kami membawa Bapak ke ruangan lain bu." Pak Alex berusaha menarik Alman. Namun Zellin menepiskan tangan pak Alex dengan kasar.


"Silahkan dibawa, dan besok kalian positif dipecat." Zellin mengancam dengan wajah berseringai jahat. Pak Alex tidak ingin mengambil resiko, dia terlalu takut untuk kehilangan pekerjaan, anak-anaknya butuh sekolah.


"Baiklah bu, tolong urus Pak Alman, berikan dia minum yang banyak, air putih campur garam." Pak Alex menjawab lagi, sementara Indra masih diam saja.


"Pergilah kalian, aku tau apa yang harus kulakukan." Zellin kembali membentak. Pak Alex dan Indra keluar ruangan istimewah itu. Mereka turun melalui lift ke lobi. Dengan suara berbisik-bisik Pak Alex menelpon bu Cita.


"Apa? Dia mabuk berat? Zellin? Baik-baik-baik terima kasih pak Alex."


*****


Sementara itu di ruangan istimewah Alman, Zellin telah mencampurkan obat perangsang pada air putih yang dituangnya di gelas bening. Padahal meski Zellin tidak menambahkan obat perangsang, Alman yang mabuk berat saat itu dengan kesadaranya yang berkurang membuat hubungan seksual mudah saja terjadi.


Setelah melakukannya denganku, kau akan selalu mengingat dan menginginkan bercinta denganku....


Zellin tersenyum sinis. Dia mulai melepas jaket hitam Alman. Zellin melemparkannya ke lantai. Tangannya mulai liar, Zellin ingin Alman memberikannya titisan darah generasi mereka. Zellin ingin segera hamil, menurutnya kehamilannya pasti bisa menghentikan otak Alman untuk tidak selalu mengenang sosok Ann. Hanya ini kesempatan bagus baginya. Alman tidak sadarkan diri, dia akan merangsang dan menggodanya.


*****


Merasakan ada pergerakan di atasnya, Alman kembali terjaga, matanya mencoba membuka namun dia kembali terpejam, wiski itu telah mengambil lebih separuh kesadarannya. Namun Alman berusaha kembali membuka mata, namun nampak berat mata itu bekerjasama dengan hatinya. Alman duduk.


"Pak Alex! Indra!"


"Mereka sudah pergi. Hanya ada kita berdua di sini."

__ADS_1


"Kau siapa?"


"Aku Ann, aku sudah kembali kepadamu, kau mabuk, minumlah dulu air putih ini agar kau sadar." Zellin membantu Alman menenggak habis semua minuman yang disodorkan Zellin.


"Kau kemana saja Ann? Aku merindukanmu...." meski mata setengah terpejam, Alman mencoba merengkuh wanita di depannya.


Dia mulai masuk perangkapku, biar dia yakin harus ada kamera video....


Rencana Zellin berjalan mulus.


"Ann..., kau mau kemana? Jangan menjauh lagi. Ayo..., ayolah bercinta denganku lagi..., aku ingin bercinta denganmu Ann...." Alman melenguh. Hasratnya muncul.


Setelah menghidupkan perekam, Zellin melepaskan pakaiannya satu per satu. Hingga yang tersisa hanyalah bra hitam dan celana dalam karet berwarna merah.


"Kau memakai beha yang kubelikan dulu sayang? Ann..., kemana saja kau baru datang?" Alman memeluk Zellin. Otaknya yang mabuk, mengira wanita yang sedang dipeluknya adalah Ann.


"Ayo Alman, ayolah kita bercinta lagi." Zellin berbisik di telinga Alman.


"Kau berani sekarang yaaa, kau mulai nakal Ann.... Kau tak lagi malu-malu seperti sebelumnya?" Alman membuka matanya yang terasa berat, entah berapa sloki habis wiski ditenggaknya. Dia benar-benar merindukan Ann, dalam ketidaksadarannya, wanita yang mulai menempelkan bibir ke bibirnya adalah Ann, istri tercintanya, yang dia nikahi di malam gelap tanpa kehadiran keluarga keduanya.


"Kau sudah berani Ann, lanjutkan, aku suka gigitan-gigitanmu, aaahhh...," Alman mulai membalas meski dalam ketidaksadaran. Zellin membuka pakaian suaminya itu hingga yang tersisa hanyalah celana dalam saja. Zellin mencoba meraba bagian kelelakian Alman, namun tidak ada nampak ereksi berarti. Zellin sedikit kecewa, kalau 'kelelakiannya' itu tidak bereaksi, tidak eresi, bagaimana mungkin akan ada ****** yang bisa membuahi sel telurnya. Zellin bergerya lagi lebih semangat. Dia berkali-kali mencium wajah Alman. Zellin berkali-kali pula mencoba memautkan bibirnya ke bibir Alman, namun meski bereaksi, 'anunya' Alman tidak berdiri tegak, Zellin bahkan mencoba memasukkan 'alat spesial' Alman itu ke dalam mulutnya.


Kau akan bertekuk lutut setelah aku hamil dan kau melihat video ini....


Sinis, sambil bergerilya, tangan gentayangan di lekuk tubuh lelaki kekar, tinggi, putih ganteng dengan brewok yang kurang terurus, Zellin terus mencoba membangkitkan birahi Alman. Dia bahkan sudah sangat bereaksi melihat tubuh gagah suami yang tidak menginginkannya itu. Zellin semakin gila, dengan mata terpejam namun bibir terus menceracau memanggil dan menyebut nama Ann, Alman menikmati sentuhan ganas mulut Zellin ke 'benda rahasia' miliknya. Titik kehormatan kelaki-lakiannya perlahan mulai ereksi, namun kesadarannya belum kembali juga.


"Ann..., kau nakal sekali kali ini...." Alman mengerang menikmati permainan culas Zellin.


"Klik!" Tiba-tiba pintu terbuka, Pak Alex dan Indra ternganga melihat pemandangan di depan mereka. Zellin sedang berjongkok seakan mau mengunyah 'alat tersembunyi' milik Alman.


"Anj!iiiii...ng!!!! Mengapa kalian kemabali?" Zellin mencoba menutup pintu dengan pakaian seadanya. Napasnya malah ngosh-ngoshan seakan sedang birahi tinggi. Pak Alex dan Indra mundur dan berbalik menatap ke belakang, menghindari pandangan yang menggiurkan.


"Zellin? Apa yang sedang kau lakukan? Kau mencoba memperk0sa Alman?"


"Siapa yang mempek0sanya? Diakan suamiku nek."


Zellin bergumam lirih, mulutnya ternganga diam melihat nenek berdiri di ambang pintu dengan wajah menahan amarah. Dua detik kemudian Zellin berlari ke kamar dan segera mengunci pintu. Sementara Alman, masih terbujur dengan mulut menceracau memanggil nama Ann, wanita yang sangat dia rindukan


"Ann..., datanglah Ann...."

__ADS_1


Nenek menggeleng-gelengkan kepala, air matanya menitik jatuh ke pipi.


*****bersambung*****


__ADS_2