
Pak Alex dan Indra berpandangan dengan senyum mengembang bahagia. Ann sudah kembali, minimal tugas mereka tidak bertambah dengan hal-hal yang mengada-ada seperti pencarian pak Alex dan Indra yang disuruh Alman ke tempat zumba wanita dengan menyamar menjadi wanita demi mengamati keberadaan Ann.
Ann berjalan penuh percaya diri memasuki ruangan eksklusif itu. Semua mata menatap ke arahnya. Terpanah dalam.
"Ann..., akhirnya kau datang juga sayang, kau datang diwaktu yang tepat. Aku merindukanmu Ann, sangat merindukanmu...," Alman berjalan cepat ke arah Ann yang tersenyum ramah dengan rambut terurai. Ingin dia membalas berjalan ke arah Alman pula, memeluknya seketika itu juga dan melepaskan kerinduan yang telah lama terpendam. Namun nampak oleh matanya, Zellin seketika berdiri dengan raut wajah gusar ketika melihat kehadirannya. Ann langsung mengambil pilihan lain.
"Nanna, nonno..., maaf aku terlambat." Ann seperti tidak melihat Alman yang berjalan ke arahnya dan berhenti dengan wajah bingung melihat Ann mengabaikannya.
Tidak mungkin aku salah orang, dia pasti Ann. Bahkan semua titik hitam dan tahi lalat di sekujur tubuhnya aku telah hapal....
Alman membatin. Wajahnya tersirap malu karena diacuhkan. Dia melihat kedua sekretarisnya membuang muka menahan tawa. Alman menjentikkan telunjuk kanan ke arah 'benda berharga' Indra.
"Awww...." Indra menjerit. Alman berjalan kembali dan duduk di kursinya. Niatnya presentasi seketika terhenti. Matanya lekat menatap Ann yang sangat dia rindukan.
"Ann, kami hampir memulainya tanpa kamu, sini sayang." Bu Alyne memeluk Ann dengan penuh kasih sayang. Ann menatap ke tampilan layar besar di dinding dengan bersandar santai di kursinya. Dia mengacuhkan saja tatapan mata Alman yang seakan ingin menelanjanginya.
"Oh maaf pak Alman, hampir lupa, ini pak, kenalkan ini cucu kandung saya yang ibunya sudah hampir dua puluh tahun meninggalkan kami. Alhamdulillah ketemu di Bangka." Pak Yoko mengenalkan Ann kepada Alman. Alman mengangguk ramah dengan tawa serupa seringai saja. Alman merasa aneh.
Aku bukan hanya mengenalnya pak Yoko, tetapi aku bahkan sudah menghabiskan malam yang indah, dan berbagi kehangatan, kebahagiaan juga derita bersamanya....
Alman membatin tak mengerti. Bagaimana mungkin Ann dan dia terpisah sejenak dan tiba-tiba saat bertemu, Ann yang tidak punya siapa-siapa menjelma menjadi seorang cucu konglomerat seratus Indonesia. Alman benar-benar bingung dibuatnya.
__ADS_1
"Pak Yoko, boleh saya bicara sesaat dengan cucu bapak?" Alman tidak tahan dibuatnya. Dia tidak ingin berlarut dalam tanya. Pak Yoko tersentak, kaget dan menatap bu Alyne.
"Hal seperti itu harusnya pak Alman tanyakan langsung ke cucu saya." pak Yoko tersenyum dibuatnya.
"Lanjutkan saja presentasinya pak Alman, nanti saja kita berbincang lebih jauh. Lagian ini tidak pantas, anda meminta bicara empat mata dengan cucu kami, sedangkan di sebelahmu duduk cantik seorang ratumu. Apa tidak akan ada masalah? Bu Zellin, bagaimana pendapatmu?" Bu Alyne bertanya langsung kepada Zellin yang wajahnya nampak semakin kusut melihat kondisi Alman. Sedangkan Ann santai saja seolah tidak mendengarkan keributan. Dia asyik menatap layar handphone yang baru saja dibelinya semalam. Iphone sebelas pro max 512GB, dibayari nannanya, bu Alyne.
"Alman suami yang sangat setia kok bu Alyne, silahkan saja kalau Alman menginginkan bicara empat mata dengan Ann. Dia tidak akan tega meninggalkanku yang sedang hamil muda ini." Zellin bicara mendayu-dayu meminta simpati. Ann seketika menoleh ke arah Zellin. Alman mengerutkan kening kaget bercampur bingung.
Dia hamil? Anak siapa? Aku tidak jadi menghamilinya saat mabuk dulu....
Alman membatin dibuatnya.
Dia hamil? Aku tidak mungkin mengacaukan semuanya....
Alman benar-benar telah berbahagia dengan Zellin. Bagaimana mungkin dia bisa hamil jika tidak disetubuhi. Alman sudah berkhianat kepadaku....
Serasa diiris-iris, segumpal daging di dalam tubuhnya yang rapuh menjerit berdarah-darah. Hati Ann sekarat. Dia merasakan kepalanya seakan terangkat tinggi ke awan, kemudian terhempas tiba-tiba ke bumi. Hancur berkeping-keping, serasa semuanya menjadi remuk redam. Ann ingin menangis, namun dia masih kuat menahannya.
"Ann, apa yang kau lakukan? Tidakkah kau mengenaliku?" Alman tidak peduli dengan pasangan tua di dekat mereka yang menunggu Alman segera presentasi. Ann masih tak peduli, dia mengutak-atik handphone dengan lincah, bibir merahnya menutup rapat. Raut wajahnya menyiratkan kesedihan yang dalam.
"Pak Alman, mungkinkah kita mengenali Ann yang sama?" Pak Yoko merasakan ada yang tidak beres.
__ADS_1
"Iya pak, maafkan aku, mungkin aku salah mengenali orang. Mohon izin melanjutkan penyampaian saya yang tertunda." Alman mengalihkan mata dari Ann yang tak sekalipun menatapnya lagi. Alman mencari-cari pointer yang dipegangnya tadi..
"Ehm..., mohon maaf pak Yoko dan bu Alyne saya tidak jadi berdiri. Bolehkah saya duduk di sini saja menjelaskan?"
"Silahkan nak." Pak Yoko segera menanggapi. Alman masih mencoba mencuri-curi pandang ke arah Ann. Ingin sekali dia langsung memeluk Ann yang diam tanpa ekspresi berarti. Alman membatin kembali.
Kau tidak merindukanku sama sekali Ann? Tapi mengapa hatiku seakan ingin meledak karena rindu kepadamu....
"Baiklah, sebelum saya jelaskan rincian rencana pembangunan dan lainnya, saya ingin sampaikan alasan kenapa saya ingin membuat sebuah resort ini pak, bu." Alman mulai dengan bicara formalnya.
"Silahkan pak Alman." Pak Yoko menyilahkan.
"Berawal dari pertemuan mengesankan saya dengan seorang wanita cantik di lokasi rencana pembangunan, kami akhirnya saling jatuh cinta. Saling menyayangi, berbagi cinta dan harapan. Berbagi sedih dan kegetiran. Intinya, keseluruhan hidupku terasa mulai berarti setelah mengenalnya. Kekacauan yang kubuat dalam hidup selama ini, ingin kubenahi sejak mendapatkan kasih sayangnya. Kekayaan yang kubangga-banggakan selama ini mulai terasa tak berarti lagi dibandingkan satu jiwa yang aku ingin membersamainya hingga malaikat membawa rohku meninggalkan jasad." Alman mulai melankolis, air matanya perlahan menyembul. Pak Yoko dan bu Alyne berpandangan. Sedangkan Ann masih pura-pura tidak mendengarkan. Zellin saja yang semakin menampakkan taring ketidaksukaan.
"Terus pak Alman?" Nanna Ann penasaran.
"Kisah cinta kami belum sempurna, potongannya masih menebar di arah yang berbeda. Kakek memaksaku menikah dengan cucu sahabatnya, aku ingin menikahi kekasihku. Akhirnya, karena pilihannya menerima perjodohan atau hengkang dari garis penerus tahta dan kekayaan melimpah, aku lebih memilih hengkang dari semua itu. Aku memilih bersama gadis pilihanku."
"Kalian melarikan diri?" Bu Alyne semakin antusias mendengarkan.
"Pertemuan macam apa ini?" Zellin seketika bangkit dari kursi, menarik tas dengan cepat, tanpa berpamitan dengan relasinya, Zellin meninggalkan ruangan dengan membanting daun pintu. Lagi-lagi pak Yoko dan istri hanya berpandangan tidak mengerti. Alman tak peduli. Ann melayangkan pandangan sesaat ke arah Alman yang sangat menantikan pandangannya.
__ADS_1
*****bersambung*****