Laut dan Cinta

Laut dan Cinta
Ke Pusara


__ADS_3

Ann diam saja saat di mobil. Hatinya masih tidak bisa tenang berada disamping Alman. Bagaimana kalau nenek mengetahui hubungan mereka. Nenek pasti akan marah besar kepadanya. Dia kembali akan kehilangan pekerjaan dan memberatkan keluarga Bibi Ratih lagi. Di lain hati, menjauh dari Alman seumpama bunuh diri pada hati dan cintanya. Sedangkan untuk mencoba tetap bertahan saling mencintai, itu juga sama dengan membunuh cinta keduanya.


"Bagaimana dengan nenek?" Alman mencoba membuka percakapan, dia tidak ingin suasana menjadi kaku sedangkan hati mereka berdialog dengan ramah dan saling merindukan.


"Beliau sangat baik." Ann menjawab singkat tanpa menoleh. Dia mengutak-atik handphone pembelian dari neneknya Alman.


"Kau menyukainya?" Alman bertanya lagi, menoleh sesaat dan memberikan senyum terbaik.


"Sangat."


"Beliau baik sekali, sama dengan ibu dan ayah. Hanya kakek yang agak keras didikannya." Alman menjelaskan, sedangkan Ann menyimak saja. Sepintas saja dia menatap Alman yang sedang mengemudi.


"Dimana ibu dan ayahmu? Mengapa mereka jarang kelihatan?" Ann mengorek sedikit.


"Mereka menghabiskan waktu di rumah kak Nitha, mengasuh cucu satu-satunya sambil membimbingku mengelola BRC Hotel. Mereka sudah tidak sabar menginginkan cucu dariku." Alman begitu terbuka kepada Ann. Sesekali tangannya mulai usil ketika keduanya sudah nampak akrab kembali. Melupakan bahwa mereka telah ada pembatas. Ann berkali-kali menepis tangan Alman yang mencoba menggenggamnya. Namun namanya Alman, sekali ditolak dia berusaha lagi. Hingga Ann pun pasrah, membiarkan Alman memegang jari jemarinya sambil terus mengemudi dengan santai.


"Ann...." rendah sekali nada suara Alman memanggil wanita di sampingnya.


"Andaikan kakek tidak menyetujui hubungan kita dan masih menuruti keinginannya untuk menjodohkanku dan mensegerakan pernikahan. Apa saranmu?" Alman mengeratkan pegangan tangannya. Berharap Ann memberikan jawaban seperti yang dia harapkan.


"Turuti saja keinginan mereka, itu pasti yang terbaik." Ann menjawab dengan nada pasti. Tapi hatinya terasa sakit, dia menginginkan Alman menjadi miliknya.


"Dan bagaimana denganmu?" Alman melonggarkan genggaman. Dia kembali mengemudi dengan kedua tangan. Ada raut kecewa yang nampak. Jawaban Ann tidak seperti harapannya.

__ADS_1


"Pikirkan kamu dan masa depanmu saja Alman, jangan pikirkan aku lagi. Cukup aku yang memikirkan masa depanku." seolah cuek Ann menjawab, batinnya meringis memohon bantuan Alman untuk tetap melindunginya.


"Jika bisa itu sudah kulakukan Ann." Alman menjawab lemah.


"Maksudmu?" Ann menoleh, namun Alman tidak ingin menatapnya.


"Kita menikah saja." Alman menghentikan mobil dengan mengerem tiba-tiba.


"Jangan bodoh." Ann nampak tidak sedang.


"Kita hanya butuh wali hakim, dua orang saksi dan penghulu yang jelas." kali ini Alman menatap wajah Ann dengan pasti. Dia memandang bola mata yang bicaranya tidak sesuai isi hati. Alman menetralkan mobil, mereka berhenti sejenak di pinggir jalan. Alman meiringkan badan ke kiri, sedangkan tangan kanannya menekan ke stir mobil.


"Berhentilah bicara Alman, jangan pernah melakukan hal konyol itu. Ayo tolong antarkan aku ke pusara ibu." Ann salah tingkah ditatap seperti itu. Namun Alman malah menggerakkan wajah Ann agar menatap wajahnya.


"Masa depanmu lebih penting. Kau pewaris harta kakekmu, jangan kecewakan beliau." Ann menjawab. Alman tersenyum sumbang, sedikit lesung pipi di sebelah kirirnya membentuk.


"Aku rela kehilangan semuanya, asal kan kau mau menerima keadaanku." Alman bicara serius. Dia mulai kembali membawa mobil melaju dengan perlahan.


"Berhentilah membuatku berhalusinasi. Turutilah kehendak kakekmu, kau akan bahagia nanti. Kalau denganku..., ha! Hanya derita dan kesengsaraan yang akan kau terima. Aku sebatang kara, adikku entah dimana dibawa laki-laki iblis itu." Ann berbicara halus namun penuh makna.


"Tidak Ann! Aku tidak akan bahagia jika bukan kau yang bersamaku." Alman mematangkan keputusan. Dia tumbuh dewasa dalam sekejap, sejak mengenal Ann dengan lika-liku peristiwanya. Alman bukan lagi pria muda kaya raya yang semalam bisa menghabiskan uang ratusan juta hingga milyaran rupiah demi wanita dan kenikmatan sesaat. Alman bukan lagi laki-laki yang sebulan bisa sampai tujuh kali berganti wanita cantik dan seksi. Alman sudah berubah. Entah sejak kapan, dia mulai jatuh hati dengan gadis malang yang ia sering memanggilnya.


"Ah, sia-sia saja berbicara denganmu. Sudahlah Alman, pikirkan apa yang akan kau dapatkan dengan menikahiku." Ann agak menaikkan intonasi suaranya. Dia tidak ingin berdebat.

__ADS_1


"Kebahagiaan." Alman menjawab pasti.


"Tidak ada kebahagiaan jika nanti kita mau makan saja susah. Kau akan menderita jika menentang kehendak kakekmu, kau tidak akan sanggup. Berdeda denganku, nagiku derita adalah teman hidup yang setia." lagi-lagi Ann mengingatkan.


"Jika bersamamu, deritaku akan teratasi Ann. Percayalah. Kita akan tetap bisa hidup bahagia tanpa limpahan harta dan kekayaan kakek." Alman dibutakan cinta oleh gadis itu. Dia bersikokoh mengatakan bisa bahagia dengan menikahi Ann.


"Diamlah, tunggu aku di mobil saja, aku akan turun sendiri ke pusara ibu." Ann turun dan tanpa merespons lagi ke Alman yang masih saja bicara tentang masa depan mereka. Alman menatap gadis itu dengan membawa sebotol air mineral. Ann menyiramkan air ke pusara ibunya. Kemudian dia duduk, menengadah tangan dan berdoa dengan khusuk. Air matanya kembali meleleh, bahunya ikut bergetar kembali. Terbayang lagi sosok ringkih yang sering disakiti ayah tirinya. Sosok wanita yang tak pernah terbuka tentang identitas dirinya. Ann meratap lagi dengan pilu. Beberapa kumbang hutan berbunyi nyaring dari pohon-pohon besar sekitar perkuburan. Cuaca mendung mewarnai sore itu.


"Ibu, semoga engkau tenang di sana. Ann sangat merindukan ibu ketika ada orang yang menyebut nama seperti nama ibu. Ibu, Ann bingung, Ann sangat mencintai laki-laki yang telah banyak membantu Ann menyambung nyawa dan bertahan hidup, tetapi untuk membersamainya dalam sisa usia serasa tidak mungkin bu. Ann merasa jauh dari kata layak untuk memilikinya. Ibuuu..., bantu Ann agar segera menghapus bayang-bayangnya dari kehidupanku ibu. Hadirlah di mimpi Ann, berikan Ann jalan keluar dari masalah ini. Ann tidak punya tempat lagi untuk berbagi cerita. Ann sangat mencintainya bu...,"


"Dia juga sangat menciuntai anakmu tante...," Ann terhenti tangisnya ketika tiba-tiba Alman sudah berada di belakangnya dan menyambung kalimatnya. Ann mengelap air matanya perlahan dengan tisu yang dipegangnya dari mobil.


"Ann pulang ya bu, semoga ibu tenang di sana. Bantu Ann menemukan Rafi." Ann kembali menaburkan kembang bougenvile aneka warna ke pusara almarhum ibunya, Darina. Ann berdiri dan langsung menuju mobil Alman diparkir. Dikiranya Alman akan segera mengikutinya, namun dia salah. Alman malah duduk bersimpuh di pusara ibunya Ann.


"Tante, aku Alman, izinkan aku menjaga anak tante. Aku tidak akan menyakitinya, tidak akan membuat dia menangis. Aku berjanji tante, semoga tante tenang di sana. Aamiin." Alman bicara di pusara yang masih bertabur gundukan tanah merah. Dia ikut mengambil botol berisi air yang diletakkan Ann. Disiramnya ke tanah kubur itu dari arah kepala ke ujung kaki.


Ann terdiam dari jarak sepuluh meter melihat apa yang dilakukan Alman di pusara ibunya. Saat Alman berjalan sudah di dekatnya. Dia lekat menatap mata pemuda kaya raya itu.


"Terima kasih untuk semuanya. Aku tidak ingin berhutang budi terlalu banyak kepadamu." Ann bicara tulus, Alman memegang kedua tangannya, menunduk dan perlahan melepaskan tangan kanan, membelai rambut Ann dengan penuh sayang.


"Berhentilah menyuruhku menjauhimu, karena semakin sering kau mengusirku, hatiku akan semakin dekat dengan jiwamu." Alman memeluk gadis itu. Perlahan mengecup keningnya. Ann memejamkan mata, menikmati kecupan sayang dari laki-laki yang bersamanya. Hatinya kembali berdebar. Namun kebimbangan semakin menghantuinya.


*****bersambung*****

__ADS_1


__ADS_2