Laut dan Cinta

Laut dan Cinta
Puzzle Kehidupan


__ADS_3


Ann menatap nanar sebuah foto baru berbingkai besar kuning keemasan bermotif indah pyang baru saja dipasang Bu Rosi di Aula Panti asuhan Khadijah. Dia berdegup kencang, nampak suaminya begitu mesra berpegangan jemari pada sebuah pisau plastik saat membelah nasi tumpeng. Keduanya menampilkan senyuman indah ke arah kamera. Sangat serasi terlihat, namun begitu menyakitkan bagi seorang Ann.


"Siapa yang datang semalam bu Ros?" Ann tak urung bertanya juga meski dia yakin kalau yang disebut donatur tetap adalah keluarga kaya raya suaminya, Pemilik hotel BRC Muntok.


"Kamu sih tidak hadir Ann, acaranya asyik sekali lho. Alman sama istrinya begitu mesra dan berbahagia. Apalagi saat mereka membagikan amplop sumbangan ke setiap penghuni panti. Oh ya punyamu ada di ibu, nanti ibu ambilkan. Isinya sama, seratus lima puluh ribu perorang." Bu Rosi menatap kembali foto di dinding sambil berbicara. Ann kembali merasakan kehilangan potongan kebahagiaannya. Bagaimana mungkin dia sendirian menunggu Alman di villa kayu tengah hutan, sedangkan orang yang ditunggunya, sudah berbahagia dengan sang istri barunya, jodohan kakek kesayangannya.


"Andai kamu melihatnya, Pak Alman nampak semakin tampan saat malam hati Ann." Bu Rosi tersenyum menjelaskan. Ann tidak mampu bersuara. Dia mengingat hampir setiap malam dia tak bosan menikmati wajah tamoan suaminya itu. Benar, memang Alman bertambah tampan ketika di keremangan. Melihat raut wajah Ann yang sedih, perlahan Bu Rosi tanggap.


"Maaf Ann, mungkin kamu ingat suamimu ya, yang waktu itu ibu lihat melambaikan tangan dari kejauahan kepadamu. Bersabarlah, Tuhan sedang mengujimu." Bu Rosi memeluk Ann yang mulai meneteskan air mata. Ingin dia bercerita banyak dan mengatakan kalau Almanlah suaminya yang dilihat Bu Rosi tidak begitu jelas. Almanlah orang yang telah menorehkan luka yang dalam di kehidupannya. Alman telah mendustainya, bagaimana bisa dia telah berbahagia dengan istri barunya yang dulu ditolaknya dan mengajaknya menikah di tengah malam. Alman yang dinantinya ternyata sudah berbahagia. Ann mendesah perlahan, pamit dan segera menuju ke kamarnya. Bu Rosi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena iba.


*****


Satu jam kemudian, Ann ke kantor Pencatatan Sipil untuk meminta salinan kartu keluarganya. Bukan hal yang mudah, dia kekurangan administrasi pendukung. Ann terpaksa bolak balik naik ojek online kembali ke kantor Polsek Muntok, melaporkan sekaligus meminta surat keterangan kebakaran. Dia diminta mengirimkan foto sisa kebakaran dan rekaman minimal tiga orang saksi. Ann harus pula kembali ke lokasi rumahnya dulu. Sesampainya di sana, Ann malah mendapati sebuah bangunan baru.


"Bakar telah menjualnya Ann." begitu jawaban tetangganya ketika Ann bertanya perihal bangunan yang mulai ada pondasinya.


"Dimana tua keparat itu nek? Apa dia ke sini dengan Rafi?" Ann bertanya lagi. Namun nenek, tetangganya itu tidak tahu. Ann kembali kecewa. Setelah meminta video penjelasan bahwa memang pernah ada kebakaran dan surat dari RT terdekat, Ann kembali ke kantor Polsek Muntok.


Menunggu sekitar satu jam di Polsek Muntok akhirnya Ann mendapatkan surat sakti, surat keterangan yang bisa digunakan untuk mengurus segala dokumen penting yang ikut terbakar waktu itu.

__ADS_1


Ann kembali ke kantor Pencatatan Sipil. Setelah mengikuti beberapa prosedur yang disyaratkan, Ann mendapatkan salinan Kartu Keluarga kembali. Tak sabar Ann ke parkiran dekat tukang ojek menunggunya. Dia ingin memastikan siapa orang tua kandung ibunya.


Sesampai di parkiran, dengan mata hanya sejengkal berjarak dari kertas yang dilebarkannya, mata Ann benar-benar terbeliak takjub, girang, bingung dan banyak rasa lainnya, berkecamuk di hatinya. Bulir bening dari matanya kembali jatuh. Di Kartu Keluarga itu dengan Kepala Keluarga Bahar, tertulis pula nama Ibu kandung Darina adalah Alyne Lucyanna. Dan nama ayah kandungnya Yoko Aidi.


Ann tak habis pikir, selama ini dia belum pernah membaca dengan teliti dokumen itu. Paling-paling menjelang Ujian Nasional atau pendaftaran sekolah baru, berkas itu dimintanya kepada ibu untuk dilampirkan sebagai syarat administrasi sekolahnya. Dia tidak pernah membaca tulisan kecil-kecil bergaris itu.


Ann tersenyum kembali menumpang ojek menuju tempat fotokopian. Ann memotokopi dokumen itu lebih banyak lagi agar jika hilang satu, dia masih ada salinannya. Kemudian kembali lagi ke capil untuk meminta stempel basah. Ann tidak merasa capek karena dia bertekat ingin merubah hidupnya.


Sepulangnya dari panti, Ann menyimpan salinan Kartu Keluarganya di lapisan baju-baju miliknya dalam koper. Benar, pak Yoko adalah kakeknya. Ann akan mencari waktu yang tepat untuk menemui pemilik hotel SDwipa Palembang itu. Dia tidak sendiri, dia tidak hidup sebatang kara, dia masih memiliki sambungan pertalian darah dengan orang yang pernah berjumpa dengannya, Pak Yoko Aidi, ayah kandung ibu kandungnya, Darina.


*****


"Aku melihat istriku dibonceng ojek online, mengapa kau hanya memandangku dan tersenyum seolah melecehkan. Hah!" Kembali dia melabuhkan tinju besarnya ke wajah sang sopir.


"Maaf pak, kupikir Bapak bercanda, bukankah istri Bapak ada di hotel?" Isman, remaja sipir baru Pak Alman memohon ampunan dan mencoba menjelaskan. Dia berpikir Alman sedang bercanda.


"Itu yang di hotel bukan istriku! Dia hanya penyambung nyawa kakek. Istriku Ann gobl*k!!! Ann. Anne Stefanny namanya." Alman menerjang sekali lagi ke arah Isman yang seketika terduduk memegangi perutnya. Dua sekretaris Alman berlarian mendekat.


"Sabar pak, tahan emosi, apa yang telah salah?" Pak Alex bertanya, sementara Indra hanya diam saja dan mengiring langkah Alman menuju ke ruang kerjanya. Meninggalkan Isman yang kesakitan di lantai lobby hotel yang megah. Alman diam saja, dia membuka pintu ruang kerjanya dengan keras, lalu mendudukkan diri dengan kasar di kursi mewahnya.


"Tolong cari rekaman CCTV di seluruh jalan lampu merah Senang Hati yang menuju ke Puput. Aku baru saja melihat Ann namun setan itu tidak menghentikan mobilnya." Alman masih dengan napas marah bicara kepada kedua sekretarisnya.

__ADS_1


"Siap pak. Kami akan mengirim orang." Pak Alex menjawab cepat.


"Lakukan sendiri, bekerjalah diam-diam tanpa sepengetahuan kakek." Alman masih bicara dengan nada emosi. Dia memegang keningnya sebelah kanan. Kepalanya terkulai malas di sandaran kursi. Tangan kirinya menepuk-nepuk perut sebelah kiri. Matanya terpejam namun intonasi suara berisi kemarahan tak menurun iramanya.


"Atau pasang di iklan media online atau cetak, Saya mencari Ann dan menunggu kabar darinya." Alman seolah mendapat ide bagus.


"Itu akan mengganggu kesehatan Pak Aji pak." Pak Alex memberanikan diri mengingatkan.


"Lagi-lagi kakek, kakek dan kakek. Kenapa dia tidak segera meninggal saja. Menyebalkan." Alman menggenggam tinjunya erat menahan emosi. Sesalnya berkepanjangan menemui sumber suara di bandara.


"Sudah keluarlah kalian, jangan mengganggu, aku mau sendiri sekarang." Alman mengusir kedua sekretarisnya. Lalu menutup wajah dengan koran di mejanya.


"Dia kembali lagi tempramen seperti dulu sejak menikahi Nona Zellin." Pak Alex berbisik kepada Indra.


"Mungkin dia akan kembali baik jika menemukan istri yang dirindukannya, ibu Ann." Indra menjawab.


"Bisa jadi." Pak Alex menjawab lesu.


Keduanya pun keluar dari ruangan dengan raut sedikit kebingungan. Bagaimana memulainya mencari titik-titik CCTV orang di pinggir jalan, sesuatu yang agak mustahil. Kalau pun ada pasti tidak akan nampak jelas. Bukankah orang-orang membuat rumah bukan persis di pinggir jalan, ada jarak sekitar dua hingga lima meter. Keduanya berpandangan dan kemudian menggeleng bersama disertai senyum kegetiran.


****bersambung*****

__ADS_1


__ADS_2