
Pagi yang cerah, suasana lokasi perkuburan desa Air Putih yang selama ini sepi mendadak ramai. Sekitar lima meter mengelilingi kuburan bu Darina sudah dipasang garis polisi. Banyak warga ikut menyaksikan pembongkaran kuburan bu Darina. Tenda di sebuah rumah warga terdekat sudah dipasang dan ditutupi dengan plastik sejenis kantong jenazah yang lebar. Tim forensik telah menyiapkan segalanya untuk mengambil sampel DNA bu Darina. Meski tim forensik telah menyarankan cukup mengambil sampel darah keturunan yang masih hidup, namun Bu Alyne ingin melihat anaknya langsung meski sudah tidak bernyawa.
***
Pembongkaran telah dimulai setelah sejenak melakukan pengajian di sekitar perkuburan oleh pengurus masjid desa Air Putih. Segala jenis pengharum atau wewangian dan masker telah disiapkan. Setelah hampir setengah tahun dikuburkan, perhitungan mereka jenazah bu Darina sudah membusuk.
Ann duduk di kursi plastik di luar garis polisi, matanya sembab karena tangis. Serasa kemarin baru kejadian ibunya meninggal karena kebakaran. Pembongkaran ini mengungkit luka lamanya yang baru saja mau mengering. Ann bersandar ke badan Alman yang berdiri di belakang kursi yang didudukinya.
"Jangan menangis sayang, tidak baik bagi bayi kita." Alman berbisik di telinga Ann. Bu Alyne mendengarnya.
"Alman benar Ann, berhentilah menangis nak." Bu Alyne bicara menyabarkan. Ann mengangguk dan mengelap hidungnya yang memerah dengan tisu yang sudah kusut diremas-remasnya. Alman berjongkok karena pegal. Dia meletakkan dagu ke kepala Ann. Dipeluknya erat wanita yang sangat dia sayangi dan sempat terpisahkan.
"Kain putihnya sudah terlihat." ujar seorang penggali kubur. Semua mata kembali fokus ke lubang kubur. Meja tempat kantong jenazah didekatkan lagi ke arah lubang kubur. Namun aneh, subhanAllah, masyaAllah, ratusan orang yang menakutkan bakalan adanya bau busuk dari mayat namun penasaran ingin melihat prosesi pembongkaran seketika saling pandang. Semakin jelas nampak putih kain kafan, seketika angin berdesir lembut, menyejukkan wajah mereka di sana, bau harum semerbak tiba-tiba tercium. Mereka berpandangan takjub. Para pengurus masjid semakin meninggikan suara zikir mereka. Takbir bersahutan terdengar. Ann semakin kencang menangis.
"Allahuakbar, insyaAllah husnul khotimah...."
"MasyaAllah..."
"Subhanallah..."
"LaailahaillaAllah...,"
Semua warga yang hadir menyeru kepada Allah, sungguh semua ma'unnah Allah, ketika jenazah diangkat, bau semerbak semakin tercium. Jenazah masih utuh seperti baru dikubur beberapa jam yang lalu. Bu Alyne dan Ann mendekat, mereka mengiring langkah para penggotong menuju tempat yang disiapkan untuk pengambilan sampel DNA.
"Ibuuu...." Ann memanggil ibunya saat kain pembungkus dibuka. Kesedihan yang sama saat dia datang ke kuburan itu. Hanya kali ini dia bisa melihat wajah ibunya meski sudah tak bernyawa lagi. Walaupun dikelilingi banyak luka bakar di bagian wajah. Ann menatap jelas, ibunya seperti sedang tertidur dengan bibir tersenyum.
"Ibu..., ibu..., aku menemukan keluarga ibu meski ibu menutupinya hingga ke liang lahat. Maafkan Ann ibu, maafkan Ann yang tidak melihat kepergian ibu." Ann masih histeris. Alman menariknya menjauh. Dipeluknya erat istri tercintanya.
__ADS_1
"Sabar sayang, sabar."
Sementara, bau harum menebar di sekitar pemakaman. Harum yang belum sekalipun tercium sebelumnya.
"Dokter dan pak polisi, maafkan aku, izinkan aku sejenak memeriksa bagian kaki jenazah ini." Bu Alyne begitu tegar, tak setetes pun air matanya tumpah, nampak kedewasaan dan keikhlasan atas sesalnya di masa lampau. Lalu bu Alyne menyingkap betis jenazah bu Darina, nampak yang dia cari, sebuah bakat hidup berbentuk seperti ikan sedang berenang.
"Bagaimana bu? Kami bisa memulainya?" Dokter bertanya.
"Mohon maaf pak tunggu sebentar, Daddy sini." Pak Yoko mendekat ke bu Alyne yang baru memanggilnya. Hanya ada empat orang dokter, empat orang polisi, empat orang pengurus masjid, Pak Yoko dan Bu Alyne, Ann dan Alman di ruangan itu. Warga hanya diperbolehkan melihat dari jauh ke arah ruangan tertutup itu. Bu Alyne sedikit menjauh, dia mengambil gambar berkali-kali ke jenazah bu Darina. Dia nampak berdiskusi singkat dengan pak Yoko.
"Pak dokter dan pak polisi, kami memutuskan untuk tidak mengambil sampe dari jenazah ini. Kami yakin dia seratus persen darah daging kami." Bu Alyne menemui dokter dan polisi yang menunggunya.
"Jadi?" mereka nampak kebingungan.
"Ya pengambilan sample DNA dibatalkan saja." Bu Alyne kemudian mendekati imam masjid, berdiskusi lagi tentang apa yang harus dilakukan agar jenazah anak mereka kembali dikuburkan tanpa menyelesaikan rencana pengambilan sampel DNA. Maka tidak sampai setengah jam jenazah dinaikkan dari liang lahat, langsung disholatkan lalu dikuburkan kembali. Sebelum ditutup bagian wajah.
Ann mencium jenazah itu. Petugas kembali menurunkan ke liang lahat, menimbun dan Ann dan keluarga menabur bunga di atas pusara yang nampak baru kembali. Antara percaya dengan tidak, antara keimanan dan hal-hal berbau ilmiah, setelah kuburan ditutup, bau harum semerbak tadi seketika menghilang. Kini tersisa para penggali kubur yang disisipkan amplop tebal oleh bu Alyne. Terisa kendaraan operasional dinas sosial dan rumah sakit kembali membereskan semua perlengkapan mereka. Tersisa para wanita yang mendekati Ann bertanya banyak perihal masa hidupnya bu Darina. Tersisa mobil polisi yang setelah semua jelas selesai, pamitan pulang juga. Semua mereka yang membantu, sudah pula diberikan amplop tukar bensin oleh bu Alyne.
Mereka meninggalkan areal pemakaman desa Air Putih dengan hati dipenuhi sejuta perasaan. Berkecamuk antara kesedihan, kelegaan dan rasa lainnya. Bu Alyne dan Ann duduk di belakang. Ann menyandarkan badan ke pangkuan neneknya. Pak Yoko duduk bersama Alman yang menyopir sendiri.
"Nanna...,"
"Kenapa sayang?"
"Andai Ann berjumpa nanna lebih cepat...,"
"Takdir nak, jodoh itu takdir, pertemuan juga takdir, begitu juga dengan kelahiran dan maut, semua sudah digariskan, Allah yang mempertemukan dan memisahkan kita." Pak Yoko memotong. Air matanya tak terbendung lagi. Niatnya untuk melihat anaknya bahagia hampir dua puluh tahun lalu, berakhir dengan perpisahan yang panjang, dan tatapan sepihak. Darina pergi dengan hati dipenuhi amarah dan kekecewaan. Namun dia mendapatkan yang spesial dari Allah. Mungkin ada banyak di belakang kemarahannya, kebaikan yang dia lakukan. Pak Yoko menarik napas panjang.
__ADS_1
"Dia tidak pernah menyesalkan kami di hadapanmu Ann?" Pak Yoko bertanya menoleh ke belakang.
"Ibu tak pernah sekalipun mengeluh nonno."
"Dia hanya marah sesaat, tetapi entah mengapa dia tidak segera pulang."
"Ibu selalu bangun malam, tahajud yang lama. Saat itulah dia mengeluh." Ann menambahkan.
"Anak malang." Bu Alyne menggelengkan kepala perlahan. Kemudian sejenak hening. Ann sudah duduk kembali. Alman tak henti menatap wajah Ann dari spion. Dalam keadaan menangis dan mata sembab pun, kecantikan Ann tiada duanya dan selalu mendebarkan.
"Besok kami akan pulang dulu, Ann tolong carikan tanah atau rumah yang enak untuk ditempati. Darina tidak ingin ke Palembang, maka kami akan membersamainya di sini saja." Bu Alyne bicara pelan.
"Bagaimana nonno dan nanna akan mengelola hotel?"
"Ada banyak keluarga kepercayaan. Nonno bisa mengontrol dari kejauhan." Pak Yoko bersandar di jok mobil dengan santai. Dibukanya kaca mata dan diletakkan ke saku baju kirinya. Alman hanya diam mendengarkan. Mereka menuju ke hotel BRC dengan santai, tanpa tau, di pemakaman, seorang laki-laki bertubuh pendek dengan perut buncit sedang marah-marah di perkuburan sendirian.
"Mengapa kau tidak membuka identitasmu saat hidup Darinaaa..., aku bisa kaya raya dulu...." Bakar menghentakkan kaki dengan emosi ke kuburan yang kembali basah. Dipastikan tak ada sahutan.
Aku harus berusaha menukar harga Rafi dengan uang milyaran rupiah....
Bakar tersenyum sinis, tanpa menyadari dahan pohon mati segenggaman tangan di atas kepalanya patah terinjak lompatan tupai.
"Pluk!" kayu itu menimpa kepalanya.
"Kau marah padaku Darina?"
Bakar menoleh ke semua arah, tidak ada siapa-siapa lagi, hanya ada tiupan angin sejuk mendesirkan bulu romanya. Bakar berlari kencang menuju jalan raya.
__ADS_1
"Hantuuu...."
*****bersambung*****