
Ann mulai masuk kerja. Tiga hari berturut-turut dia dibimbing kakak perempuan Alman satu-satunya, Nitha. Dia diajarkan untuk melakukan tugas sebagai sekretaris pribadi nenek. Intinya, antara Ann dan nenek tidak akan pernah ada rahasia. Rahasia nenek akan menjadi rahasia Ann pula, meski rahasia pribadi Ann tidak harus menjadi rahasia nenek.
Hari keempat, Ann mandi pagi sekali. Dia mengontrak sebuah rumah yang tidak jauh dari kediaman nenek. Ann menolak ketika diberikan kamar pribadi di rumah nenek. Dia ingin sendiri di luar jam kerja, mulai jam sepuluh malam hingga jam lima pagi. Karena rutinitas jadwalnya dari jam enam pagi hinggga jam sepuluh malam. Selebihnya dia boleh pulang dan seketika dipanggil nenek kapanpun juga harus siap datang. Ann digaji besar, makanya dia bisa mengontrak sebuah rumah dua kamar di daerah strategis bersama Fee, sahabatnya yang begitu pengertian.
Selesai mandi, dia berpakaian selayaknya seorang sekretaris pribadi pemilik hotel termegah di kota itu. Dia juga dijadwalkan Nitha untuk mengambil kelas private belajar bahasa inggris dengan salah seorang direktur sebuah pusat kursus bahasa asing. Mr. Dika. Setelah semua selesai jam lima Subuh Ann dan Fee sudah di atas motor. Fee mengantar Ann ke rumah besar berlantai tiga di kawasan jalan utama Lintas propinsi yang menghubungkan Bangka dengan Palembang.
"Kau cantik sekali Ann, kita akan ke Pangkalpinang hari ini, nenek diminta mengisi dua jam acara Musyawarah Kamar Dagang dan Industri Babel di hotel Aston Pangkalpinang" Nenek mengingatkan lagi. Ann mengangguk. Acara itu sudah ada di otaknya bahkan agenda nenek hingga seminggu ke depan sudah lekat di memori kepalanya.
Ann bergerak lebih cepat seperti arahan Nitha, menyiapkan segalanya termasuk keperluan pribadi nenek seperti baju ganti. Dengan cekatan dia membuka lemari dan memasukkan semua barang yang penting untuk dibawa termasuk laptop toshiba Satellite Radius P25W-C2300-4K, pointer dan kaca mata.
"Kau luar biasa nak, pekerjaanmu memuaskan." Nenek memakai sepatu berhak besar 4cm di kursi kamar. Dia menatap Ann yang sangat cekatan bekerja.
"Terima kasih nek, tegur langsung jika aku melakukan kesalahan." Ann tersenyum menyahut. Dia siap dengan sebuah tas jinjing kecil dan sebuah tas laptop pula di tangan.
"Baiklah ayo kita pergi. Eh apa mobilnya sudah siap?"
"Iya pak Yoga sudah lama memanaskan mesin di garasi depan."
"Kau hebat." Nenek memuji Ann lagi.
"Mampir sebentar ke hotel ya pak Yoga, aku ada keperluan di sekretariat." Nenek bicara ketika pak Yoga menjalankan mobil menuruni tebing, memutar melewati pasar induk untuk kemudian memutar menuju hotel BRC di nol kilometer kota Muntok.
"Siap bu." Pak Yoga mengangguk sambil menjawab. Mobil melaju di sepinya pagi Kota kecil sebelah Barat pulau Bangka.
*****
Suasana di hotel masih nampak lengang. Hanya sebuah mobil putih sejenis yang ditumpangi nenek sedang parkir di depan lobby utama. Sopir siaga di sisi kanan pintu depan, dua petugas hotel tegak menunggu dengan posisi siap di samping pintu kiri kanan mobil bagian belakang.
"Nenek belum pergi? Kemarin katanya mau jadi pembicara di...." Alman bertanya melihat nenek berjalan cepat menuju sekretariat lantai satu.
"Nenek ada keperluan sebentar di sini." Nenek menjawab sambil berjalan. Dia memotong ucapan cucu laki-laki satu-satunya. Sementara Ann mengikuti dari belakang menyeimbangkan langkah kaki nenek yang masih lincah di usia tuanya.
"Owh." Alman tersenyum, dia yang barusan berjalan tegap dan cepat bersama dua sekretaris pribadi, seketika menghentikan langkah dengan kepala kaku menoleh ke arah nenek. Serasa ingin mengikuti nenek atau segera berlalu. Alman dan Ann sempat bertatapan mata sejenak. Keduanya bersama merasakan desiran cinta dan kerinduan. Alman merasa kerinduannya sedikit terobati melihat gadis yang tak pernah hilang di pikirannya. Apalagi mereka sudah mencatat kenangan indah bersama. Ann melirik sepintas saja ke sekretaris kedua Alman, seorang laki-laki muda yang tampan. Ann pikir Alman akan mencari seorang wanita cantik untuk mendamlinginya seperti di drama-drama romantis. Bos besar mencari sekretaris yang cantik dan seksi kemudian saling jatuh hati. Ann bergumam dalam hati. Otaknya memutar seketika ke sana ke mari.
__ADS_1
"Kita langsung pergi pak Alman?" Pak Alex bertanya melihat Alman yang berlagak seperti orang bodoh. Menunjuk-nunjuk dan mengarahkan langkah ke arah nenek dan pintu keluar berulang-ulang, kedua tangannya memegang dasi panjang yang terulur karena kancing jasnya tidak ada yang terpasang.
"Ehmmm..., Bapak berdua silahkan ke kantor saja, saya akan ikut bersama nenek." Alman bicara tersenyum ramah. Ide telah dia dapatkan. Pak Alex dan Indra berpandangan heran. Namun perintah Alman adalah wajib untuk dilaksanakan dan jarang sekali keputusannya akan berubah. Keduanya pun menyuruh sopir pribadi Alman untuk menginstirahatkan mobil mewah itu di parkir khusus keluarga Pak Alman.
"Sudah pergi cucu tengilku. Dia nampak bersemangat lagi beberapa hari ini." Bu Cita menatap depan hotel yang mulai ramai dan tidak mendapati mobil Alman di sana. Beberapa mobil taxi biru nampak mengambil tamu yang sudah check out pagi-pagi sekali. Biasanya itu tamu yang akan melakukan penerbangan mulai jam sepuluh pagi keluar dari Bangka. Karena jarak kota Muntok membutihkan waktu hampir tiga jam untuk sampai ke bandara Depati Amir yang terletak diPangkalpinang.
"Nek!" Alman mengejutkan bu Cita yang hampir naik mobil bersama Ann."
"Eh kemana mobilmu? Kirain sudah pergi. Bukankah kamu ada agenda di Pangkalpinang juga hari ini?" Bu Cita heran melihat Alman yang cengengesan dengan sebuah tas laptop di tangan.
"Begini nek, Al ingin bercerita banyak bersama nenek. Jadi Al memutuskan menumpang mobil nenek saja ke sananya." Alman tersenyum menggemaskan membuat bu Cita mengernyitkan keningnya.
"Tumben, kamu ini mulai aneh Al, biasanya diajak satu mobil sama nenek saja nggak mau, alasannya nenek suka ngomel-ngomel terus, mengganggu tidurmu di mobil." Bu Cita bicara panjang.
"Justru itu, Al sudah rindu mau satu mobil sama nenek. Al kangen ocehan nenek. Al kangen nasihat-nasihat nenek." Alman yang memang biasa disapa Al oleh keluarga dekatnya langsung memegang bu Cita. Namun matanya sesekali mencuri pandang ke arah Ann yang menarik napas panjang berkali-kali melihat ulah cucu majikannya.
"Yah sudah naiklah." Nenek mau menutup pintu, namun Alman menahannya.
"Nenek di depan saja, Al tidak terbiasa di depan." Alman membantu nenek yang seketika turun sambil menatap bingung ulah cucunya.
"Owh iya nek. Alman." Alman memegang tangan Ann yang tidak bisa menolak karena bu Cita masih menatap ke arah mereka.
"Ann pak." Ann menjawab dengan menelan ludah yang terasa mengganjal di tenggorokan. Nenek mulai menyandarkan diri di kursi depan. Dia membuka handphone dan mulai asyik menelpon sahabat lamanya di Palembang. Sementara di belakang, Alman mulai beraksi, dadanya berdebar setiap memandang wajah Ann yang semakin cantik saja. Ann memang sudah diajak Fee ke Anine Salon untuk mengubah gaya rambut, menata alis dan membersihkan wajahnya.
"Apa yang kau lakukan?" Ann berbisik ke Alman yang mulai meraba jemari tangan kirinya.
"Aku ingin menikmati hari bersamamu." Alman ikut berbisik. Sopir sejenak menatap ke spion tengah, bergantian ke arah nenek, dia akhirnya tersenyum sejenak lalu memutar kaca spion agak ke samping. Dia tidak ingin membuat keduanya menjadi risih..
"Berhentilah nanti nenekmu tau...." Ann mencoba menepis tangan Alman.
"Tidak masalah, akan lebih baik kalau nenek tau...." Alman memeluk lengan kiri Ann yang menjadi serba salah.
"Kau akan segera menikah. Mari kita saling melupakan." Ann bicara pelan. Mata mereka beradu. Ada kerinduan yang sama di bola mata mereka. Alman sejenak menatap nenek yang mulai menutupi wajah dengan tisu, alamat sebentar lagi akan ada suara dengkuran halus. Alman tak sabar menunggu itu. Sementara pak Yoga, sopir kepercayaan nenek meninggikan volume musik. Nenek mulai mendengkur halus tanpa sedikitpun terusik. Alman tak sabar, dia yang sudah terbiasa makan-makanan mentah dalam nafsu dan cintanya, saat ada kesempatan langsung merengkuh leher sebelah kanan Ann, mendongakkan wajah gadis itu menghadapnya. Bibir seksi Ann begitu menggodanya. Alman mencium bibir itu begitu lama. Melum*tnya hingga basah.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu Ann." Alman berbisik halus. Hembusan napasnya teraaa panas bergairah.
"Berhentilah, dan lupakan perlahan, nanti juga kita akan terbiasa." Ann menjawab sambil menyingkirkan wajah itu dari wajahnya. Dia tidak ingin menodai kepercayaan nenek. Tak mungkin dia mengganggu pernikahannya yang sudah dimatangkan keluarga laki-laki di sebelahnya. Alman terdiam menatap Ann yang sengaja memalingkan wajah ke sebelah kanan. Menatap ke luar jendela mobil. Pepohonan nampak berlari mengejarnya. Ann menarik napas panjang berkali-kali. Debaran dan getaran di hatinya memang tak terlihat, namun rasa itu bisa dibaca oleh Alman.
"Kau yakin bisa hidup tanpaku nantinya?"
"Yakin."
"Meski aku tidak bahagia?" Alman bertanya lagi.
Ann terdiam. Dia mengutak atik handphonenya. Melihat-lihat aplikasi jejaring sosial yang baru diinstallnya. Temannya pun baru dua puluh satu Fevia Hong salah satunya, mualaf yang bisa akrab dengannya dalam sekejap mata. Melihat Ann tak menggubrisnya, Alman sekejap mata merebut hape itu. Mengetikkan sebuah nomor, menyimpannya sendiri, dan memanggil ke nomornya. Handphonenya berbunyi.
"Malam nanti aku akan menemuimu." Alman menegaskan sambil mengembalikan handphone.
"Untuk apa kau menemuiku? Apa kau begitu penasaran dengan tubuhku?" Ann tidak punya pilihan lain. Dia ingin Alman segera menjauhi kehidupannya. Dia tidak peduli meski bicara kasar.
"Iya, aku menginginkannya karena kau sudah meracuni mataku pagi itu." Alman menjawab seketika. Sejenak keduanya berpandangan lalu kembali terdiam. Pak Yoga ikut bersenandung mengikuti irama lagu, sementara dengkuran halus itu semakin besar saja.
"Dan jika sudah mendapatkan tubuhku, kau berjanji akan melupakanku dan fokus kepada pernikahanmu dengan Zellin?"
"Kalimat penghinaan apa itu Ann?" Alman seketika menatapnya tajam.
"Bukankah kau menginginkan tubuhku?"
"Apa menurutmu aku hanya memikirkan hal itu?" Alman tersinggung. Ann diam saja, menatap keluar jendela mobil lagi.
"Jika aku hanya menginginkan tubuh wanita, seribu perawan bisa kudatangkan dalam semalam untuk kugagahi." Laki-laki itu kumat sombongnya. Dia membiarkan panggilan telepon di saku jasnya berdering-dering tanpa dijawab.
"Maaf Alman. Aku tidak bermaksud menghinamu, pergilah dari kehidupan pribadiku." Ann bicara pelan, setitik air matanya jatuh di pipi.
"Aku tidak ingin pergi." Alman meninggikan suaranya.
"Kalau begitu aku yang akan pergi." Ann menjawab sambil menatap mata Alman yang kaget mendengarkan. Wajahnya mulai berubah, kembali kusut dan tidak berbicara lagi. Dia menjauh, duduk ke ujung kursi sebelah kiri. Ann hanya melirik dengan ujung mata. Hatinya terasa sakit.
__ADS_1
*****bersambung*****