Laut dan Cinta

Laut dan Cinta
Potongan Rindu


__ADS_3

Pukul 04.30 dini hari. Ann terjaga tiba-tiba. Dia duduk di pembaringan sambil menggosok mata, menuang air putih ke gelas bening di samping tempat tidurnya, lalu menenggaknya habis tak bersisa. Keheningan menyapa, hanya satu persatu terdengar suara kokok ayam bersahut-sahutan dari kejauhan. Ann menatap suara halus wanita yang mendengkur di sebelahnya. Kamar super mewah. Ann tidur di kamar super mewah bersama bu Alyne Lucianna tadi malam, hanya ada mereka berdua, sedangkan pak Yoko beralih ke kamar lainnya.


Semalam, hampir jam dua pagi, Ann ditanya banyak perihal kehidupan bu Darina. Semua keterangan Ann tidak ada yang diragukan lagi. Yang paling menjadi bukti kuat adalah saat Ann mengatakan ibunya punya bakat luka coklat kehitaman di betis kiri. Bentuknya mirip ikan. Ann menjelaskan pula, kalau yang telah membunuh ibunya adalah Bakar.


"Harusnya aku sudah menghabisinya saat dia datang ke sini." Bu Alyne emosi. Sekretarisnya mencoba menghubungi nomor Bakar yangvtertera diberkas yang ditinggalkannya, namun tidak tersambung lagi. Pak Yoko dan istrinya menginginkan Rafi agar bisa bersama-sama dengan mereka.


"Ketika dia datang, kita belum tahu kisahnya honey," Pak Yoko menjawab pelan. Bu Alyne hanya terdiam menahan emosi. Semua keterangan Ann dicatat oleh pengacara pendamping keluarga pak Yoko. Ann tidak diragukan lagi identitasnya. Untuk meyakinkan secara perdata, mereka sudah sepakat akan tes DNA sebelum memboyong Ann ke Palembang.


"Sebenarnya Nonno dan Nanna, Ann lebih menikmati tinggal di Bangka saja daripada pindah ke sana." Ann nampak keberatan saat kakek dan neneknya berencana membawanya ke Palembang.


"Kenapa Ann?" Bu Alyne bertanya heran.


"Di sini Ann bisa mengingat semua tentang ibu, terlalu banyak kenangan di kota ini, meski pahit mengenangkan semuanya membuat kerinduanku kepada ibu berkurang." Ann jujur mengakui.


"Sudahlah, nanti kita pikirkan semua itu. Kebahagiaanmu prioritas utama kami saat ini nak." Pak Yoko menjawab. Dia paham dengan keadaan Ann.


"Maksudnya kalau di Palembang Ann lebih leluasa melanjutkan kuliah kemana dia mau. Minimal dia paham ilmu ekonomi dan manajemen hingga nanti tidak ada masalah ketika harus terjun langsung mengelola hotel. Nanna mau dia kuliah hingga selesai minimal eS dua." Bu Alyne menjelaskan. Pak Yoko tersenyum.


"Di Bangka juga ada kampusnya Nanna..., ada juga ekonomi dan manajemen." Ann mengingatkan neneknya.


"Tetapi Ann...," Bu Alyne ragu-ragu. Namun mata Pak Yoko mengisyaratkan agar Bu Alyne segera diam.


*****


Ann kembali berbaring, di sebelahnya terdengar napas nenek lembut dan teratur. Ann agak gelisah. Mendengar kata kuliah yang dicetuskan neneknya yang minta dipanggil Nanna karena neneknya memang masih keturunan Italia dan Australia. Bu Alyne memanggil neneknya Nanna, Ann pun dia sarankan memanggilnya Nanna pula. Ann sangat girang mendengarnya. Namun ada perasaan lain pula, gelisah dan khawatir. Kuliah di Palembang? Itu adalah impiannya sejak lama dan belum kesampaian, tapi saat ini? Entahlah, Ann nampak kebingungan.


"Kau mulai kuliah setelah selesai melahirkan Ann." terngiang lagi ucapan neneknya. Ann menatap langit-langit kamar president suite hotel BRC. Setiap hal yang terhubung dengan Alman, masih menyisakan kegalauan baginya. Meski dia mencoba ikhlas pergi menjauh dari Alman, namun sesekali bantahan dari hatinya pun datang. Dia ingin sekali hidup bersama laki-laki yang sudah menorehkan keturunan kepadanya. Namun untuk sekedar membayangkan merusak hubungan kekeluargaan Alman dan kakeknya atau mengganggu keharmonisan Alman dengan istri pilihan keluarganya, Ann bergidik ngeri. Dia tidak ingin menimbulkan masalah dalam kehidupan laki-laki yang dicintainya. Melepas Alman, meski pun itu sakit, namun harus dia lakukan.


"Kau sudah bangun Ann? Apa Nanna mendengkur hebat malam ini? Nanna begitu bahagia semalam, mungkin dengkuran Nanna telah mengganggu tidurmu. Betapa tidak, setelah sekian lama tidak bisa tidur dengan nyenyak, untuk pertama kalinya, Nanna tidur tanpa beban." Bu Alyne terbangun sambil bicara panjang, dia menguap lembut mendekati Ann. Di luar, suara pengajian dari masjid Baitul Muntok sudah sayup-sayup terdengar.


"Hemz..., Nanna tidur pulas sekali, dengkuran Nanna halus, tidak mengganggu Ann, tetapi Ann kepikiran kuliah yang dibahas semalam. Mimpi besar Ann bisa kuliah Nanna, namun untuk sementara Ann merasa berat." Ann mengutarakan hal yang mengganjal di hatinya.


"Nanna paham sayang, kau tidak harus kuliah dalam waktu dekat. Sekarang kau harus fokus dengan kehamilanmu, tidak untuk yang lain." Bu Alyne memeluk Ann hangat. Dibelainya rambut Ann yang kemerahan.


"Rambutmu asli nak?" Neneknya itu bertanya.


"Asli Nanna," jawab Ann.


"Kau mengecatnya?" Bu Alyne bertanya lagi.


"Hehe iya saat itu. Saat Ann masih bekerja sebagai sekretaris...,"

__ADS_1


"Bu Cita kan?" Nanna memotong dengan senyuman manis.


"Betul Nanna."


"Bu Cita malam saat kami datang bercerita banyak tentang cucu menantu rumahnya, diceritakannya pula perihal perangai cucu kandungnya si..., siapa itu?" Bu Alyne nampak mengingat-ingat.


"Al, Alman nanna, namanya Alman." Ann menjelaskan.


"Iya. Katanya perangainya berubah lagi saat dinikahkan dengan cucu sahabat suaminya." Bu Alyne tersenyum menjelaskan.


"Kok bisa?" Ann antusias bertanya.


"Sini nanna bisikkan Ann. Kata bu Cita, Alman sebenarnya sudah punya istri. Bu Cita sangat menyukai istrinya Alman yang pertama."


"Tapi?"


"Yah begitulah, Pak Aji itu rupanya sangat kolot, masih hidup di dunia lampau. Dia memaksa Al menikah dengan porselin."


"Zellin."


"Kau tau?"


"Katanya bu Cita, Alman kembali mabuk-mabukan, dan suka marah-marah berlebihan saat ada kesalahan sedikit saja."


"Mengapa begitu?"


"Dia kesal terpisah dari istri yang dicintainya Ann. Padahal ini kota kecil, tetapi Alman tidak berhasil menemukannya. Nanti pak Aji akan menyesal sendiri, seperti kami, saat mencoba memisahkan dua insan yang saling menyayangi kami bahkan harus kehilangan Darina." Bu Alyne nampak bersedih lagi mengenangkan anaknya.


"Apa Alman masih mencari istrinya nanna?" Ann bertanya penasaran.


"Selalu, kata bu Cita, cucunya itu masih mencari istrinya dulu, bahkan mereka mengecek semua CCTV rumah warga di pinggir jalan saat Alman tidak sengaja seperti melihat sosok Ann."


"Tapi dia nampak bahagia bersama istri jodohan kakekknya nannna,"


"Alman itu adalah bisnis nak. Invertor mana mau menaruh uang pada keluarga yang tidak harmonis. Mereka dituntut tampil cantik, memukau dan jadi panutan di depan kamera."


"Selalu?"


"Wajib setiap saat, kau juga akan merasakannya nanti. Meski habis berantem dengan suamimu, saat ada kamera, kau tetap harus menggenggam erat tangannya." Bu Alyne menjelaskan.


"Meskipun Alman dan istrinya bersama memotong tumpeng, bersuap-suapan dan tertawa ceria nanna?" Ann semakin penasaran.

__ADS_1


"Bisa jadi hanya kamuflase nak. Eh kamu banyak tau soal Alman ya." Bu Alyne sedikit tersadar.


"Yaaahhh nanna, dia itu lebih familiar dari seorang selebritis." Ann berkilah.


"Iya ya. Katanya sih dia sangat tampan ya."


"Mungkin."


"Kau tak tau?"


"Tau sih nanna."


"Apa kau belum pernah melihatnya?"


"Pernah nanna."


"Nanti kita akan bertemu dengannya, peermu, kau katakan dia tampan atau tidak. Jam sepuluh pagi kita ada pertemuan dengannya. Itu tuh, dia mengajukan proposal kerja sama pembangunan Ann's Garden."


"Ann's Garden?"


"Kau boleh menilai proposalnya sayang. Kau juga bisa memutuskan menerima atau menolak permohonan itu." Bu Alyne berdiri menuju toilet. Suara adzan Subuh sayup-sayup sudah terdengar. Ann menatap sebuah proposal di atas meja sofa ruangan yang ditunjukkan bu Alyne.


Dia benar-benar akan mewujudkan mimpinya. Tetapi mengapa masih Ann's Garden? Bukan Zellin's Garden?


Dada Ann bergetar hebat, kerinduan kembali menyentak relung hatinya. Satu demi satu slide yang pernah mereka lewati seketika bermunculan di ingatannya.


"Jangan makan durian dulu ya sayang..., siapa tau tembakanku tepat sasaran, kau hamil, durian itu panas, tidak boleh untuk kehamilan di trimester pertama,"


"Mau ikan nila apa ikan emas Ann sayang? Abang cedokkan nih?"


"Apa? Mau makan jambu jamaika lagi? Doyan amat sih sayang."


Ann menelan ludah, kembali tenggorokannya terasa kering, Ann menitikkan air mata.


"Kau kenapa menangis Ann?" Nenek sudah kembali dari toilet.


"Aku terharu, masih serasa mimpi bertemu keluarga sedarah. Ann tidak sebatang kara nanna." Ann berbohong. Perlahan nenek kembali mendekatinya, memeluk cucu salah satunya pewaris harta kekayaan mereka yang melimpah selain Rafi yang belum diketemukan.


"Nanti saat kau siap, kau kasih tau nanna, siapa suamimu yang sebenarnya. Nanna curiga, kalian hanya salah paham saja." Bu Alyne memeluk erat Ann kembali. Ann memejamkan mata, namun slide demi slide kehidupannya bersama Alman di villa kayu bermunculan lagi. Ann menjadi sangay merindukan Alman.


*****bersambung*****

__ADS_1


__ADS_2