Laut dan Cinta

Laut dan Cinta
Darina


__ADS_3

Di hotel, Ann menunggu nenek presentasi sambil duduk dii salah satu kursi peserta berjumlah dua ratus orang. Dia menatap nenek yang dengan lincah dan penuh kharisma menyampaikan materi. Sesekali senyap hadirin senyap, komsemtrasi dengan apa yang diucapkan nenek, sesekali pula riuh terdengar suara tepuk tangan dan decak kagum. Bu Cita sungguh memotivasi para pengusaha di ruangan itu.


*****


Alman di hotel yang berbeda mengikuti acara lain. Meski sesekali fokus pada agenda kegiatan, hatinya terkadang bergetar mengingat Ann yang menyuruhnya menjauh dan fokus kepada pernikahan. Haruskah aku menikahi gadis itu? Zellin. Dia tidak ubahnya seperti gadis-gadis lain yang telah ditidurinya. Alman kurang begitu konsentrasi. Dia terkadang bicara dan merutuk sendiri dalam hati. Kemudian di sela-sela acara, dia menelpon Pak Alex dan Indra agar menyusulnya ke Pangkalpinang.


Beberapq jam kemudian, Bu Cita selesai dengan materinya, waktu lebih setengah jam seperti jadwal seharusnya. Peserta sangat antusias berdiskusi langsung dengan pemilik BRC Hotel yang sangat terkenal di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung karena hanya hotel BRC yang megah dan fasilitas bintang lima pemiliknya adalah masih keturunan rumpun Melayu asli. Sedangkan hotel-hotel lainnya adalah milik warga keturunan.


*****


"Maaf bu, boleh dibantu administrasi bu Cita?" Seorang panitia kegiatan mendekati Ann. Ann mengangguk dan mulai menulis biodata nenek, ada pula lembaran kwitansi honor dan transport nara sumber kegiatan. Setelah semua dilengkapinya, Ann menyodorkan kertas-kertas itu untuk ditandatangani Bu Cita.


"Kita sudah selesai, tolong kamu telpon Alman, dan tanyajan dia sudah selesai belum acaranya." ucap Bu Cita kepada Ann yang berdenyut hatinya mendengar nama itu, namun dia tidak bisa menolak.


"Kamu punya nomor handphonenya kan?" Nenek bertanya lagi. Ann mengangguk kecil sambil menekan nomor "Pangeranku." yang disimpan sendiri oleh Alman tadi di dalam mobil. Berulang kali dia mencoba menelpon namun tidak sekali pun diangkat.


"Mungkin dia sibuk." Ann bergumam sendiri dan segera melaporkan ke Bu Cita.


"Biarlah nanti saya yang telpon sendiri dia itu, merepotkan saja." Nenek langsung menelpon Alman. Hanya tiga detik langsung tersambung.


"Al, kau sudah selesai acaranya?" Nenek langsung bertanya begitu terdengar suara sapaan Alman dari seberang.


"Belum nek sebentar lagi." Alman menjawab.


"Mau kami tunggu atau naik taxi?" tanya Nenek lagi.


"Pak Alex dan Indra sudah menuju kemari, nanti Al sama pulang sendiri saja," jawab Alman.

__ADS_1


"Ih kau itu menyusahkan orang saja. Baiklah kalau begitu kami akan menemui Zellin dulu baru pulang." Nenek menghentikan panggilannya. Namun tak lama kemudian Alman menelpon balik. Nenek menerimanya.


"Kenapa menemui Zellin nek?"


"Kenapa? Tidak boleh? Dia kebetulan pulang hari ini, tetapi belum langsung ke Mentok, dia dijadwalkan ayahnya untuk perkenalan di hotel mereka." Nenek menjawab panjang.


"Kenapa Nenek harus menemuinya?" Alman mengulang lagi pertanyaannya.


"Kamu kenapa sih?" Nenek bingung kepada cucunya itu.


"Nenek langsung pulang saja." Alman swperti memerintah.


"Nenek sudah terlanjur berjanji, tidak mungkin Nenek membatalkan." Nenek menjawab tegas.


"Ah Nenek, janganlah. Kalau begitu jemput Al, Al ikut bersama nenek." Al meminta dijemput. Nenek kembali dibingungkan.


"Tidak disangka kita bertemu di sini Bu Cita, terakhir kita bertemu di acara KADIN SUMSEL di Jambi kalo nggak salah." Seorang Nara sumber luar daerah, Pak Yoko Aidi, beramah tamah dengan nenek sambil berjalan mendekat ke arah Ann yang setia menunggu. Wajahnya tampan, putih bermata agak sipit dengan dagu runcing. Pakaianannya sangat rapi dengan stelan jas abu-abu. Senyumnya menawan mengingatkan pada ketampanannya diwaktu lampau.


"Iya pak Yoko, lama juga tidak bertemu. Bagaimana kabar istrinya? Mengapa beliau tidak diajak kemari?" Nenek tersenyum ramah bertanya. Sementara Pak Yoko seketika terdiam dengan senyum kecil kaku mendengar nama istrinya disebut.


"Anu bu, istri saya harus banyak istirahat. Dia mengalami semacam depresi, ingat anak perempuan kami satu-satunya yang dulu merajuk dan menghilang tidak berkabar hingga sekarang." Pak Yoko mengajak ibu Cita duduk kembali. Mereka nampak akrab karena sering bertemu di beberapa acara sebelumnya.


"Owh iya yang katanya dulu pernah mengusir menantunya itu ya?" Nenek bertanya serius.


"Iya. Dia bahkan belum pulang hingga sekarang. Entah bagaimana nasibnya. Menurut anak tetangga, dia merasa pernah melihat seseorang yang mirip Darina di pasar, dia berjualan sayuran." Pak Yoko bicara dengan nada sedih. Ann seketika menoleh. Hatinya berdebar ketika pak Yoko menyebut nama yang sama dengan ibunya. Dia jadi sangat merindukan mendiang ibunya, dia ingin pergi berziarah ke pusara ibunya segera.


"Owh semoga ada kejelasan pak Yoko. Saya hanya bisa membantu berdoa, putri Anda bisa ditemukan. Owh ya mengapa tidak mencoba menyebar foto ke media sosial online atau koran?"

__ADS_1


"Sudah sering sekali kami lakukan, tetapi belum berhasil juga bu Cita." Pak Yoko menjelaskan.


"Bagaimana kalau Bapak coba di koran Bangka? Bukankah kata Bapak seseorang melihatnya di sini." Nenek mengusulkan.


"Owh iya. Akan saya coba bu Cita, terima kasih sudah mengingatkan. Kami hanya punya foto sewaktu dia menikah, waktu itu umurnya baru dua puluh empat tahun. Dan ini sangat menyulitkan." Pak Yoko mendesah panjang. Ann mendengarkan saja. Tak lama kemudian keduanya kembali bersalaman pamit.


"Kasihan sekali pak Yoko, kehilangan putrinya." ujar nenek kepada Ann ketika mereka sudah berada di mobil.


"Padahal itu putri tunggal mereka." lanjut nenek lagi.


"Lho kenapa bisa begitu nek?" Ann bertanya.


"Dulu, kata bu Yoko, dia marah besar kepada menantunya yang mengelola hotel mereka di Palembang. Kasusnya, dulu bahkan masuk koran Sripo bertahun-tahun. Si Darina itu punya pacar, tetapi dia dipaksa menikah dengan anak konglomerat keturunan Arab. Darina pun menikah setelah berbagai alasannya tetap ditolak orang tuanya. Setelah menikah, dia malah mendapati suami jodohan Pak Yoko dan istrinya itu selingkuh. Dia marah besar kepada semuanya dan kabur. Menurut suaminya, Darina hamil waktu itu." Nenek yang tahu banyak karena diceritakan langsung dari bu Yoko melanjutkan cerita ke Ann. Ann menyimak saja. Ingin dia mengatakan, nenek juga jangan menjodohkan Alman dengan orang yang tidak diinginkannya, tetapi itu hanya terucap dalam hati. Karena dia tidak ingin mengganggu rencana keluarga Alman.


"Mengapa kau nampak sedih mendengar ceritaku Ann?" tanya nenek. Ann tersenyum.


"Maaf nek, seketika Ann ingat almarhumah ibuku, namanya kebetulan sama dengan nama anak Pak Yoko."


"Benarkah?" Nenek terkejut mendengarnya.


"Ibumu orang mana?" lanjut nenek bertanya.


Ann baru akan menjawab, namun telpon nenek terlanjur berbunyi. Alman menelpon.


"Nek sudah dimana? Alman sudah di lobby ini."


"Iya tunggulah sebentar lagi, kami menuju ke sana." Nenek menjawab sementara Ann mengutak atik handphonenya mengabarkan ke Fee agar bisa menemaninya ke pusara ibunya. Mobil menuju ke hotel dimana Alman sedang menunggu untuk menumpang kembali kendaraan Bu Cita. Sementara Pak Alex, Indra dan sopir berpandangan kembali saat sudah menempuh tiga puluhan kilo perjalanan, Alman mengabarkan agar tidak usah menyusul untuk menjemput. Ketiganya tertawa sambil kembali menuju BRC Hotel.

__ADS_1


*****bersambung*****


__ADS_2