
Menunggu memang sesuatu yang sangat membosankan. Namun kali ini, pepatah itu tidak berlaku bagi Alman. Hampir dua jam lamanya dia menunggu ustadz Hasan menyiapkan segalanya. Namun dia tidak emosi sedikitpun. Untuk pertama kali dalam sejarah kehidupannya, dia bertingkah begitu dewasa. Alman berkali-kali menyemangati Ann yang masih dihantui rasa bersalah atas keputusan Alman. Dia belum begitu memahami karakter asli keluarga itu. Meski di luaran banyak orang mengatakan Alman begitu tempramental sejak dikhianati Cintya, namun Ann merasakan Alman yang jauh berbeda. Sangat berbeda dari tebaran buah bibir yang beredar di masyarakat. Alman yang suka sekali membentak karyawan karena hal sepele. Malam ini, Ann melihat Alman adalah sosok yang sangat penyayang, dia begitu dewasa dan pengertian.
"Kau hidup mewah dan berkecukupan dari kecil Alman. Bagaimana mungkin kau akan bertahan hidup tanpa limpahan harta?" Ann kembali bertanya dengan tatapan iba. Namun Alman malah membelai rambut Ann dengan sabar.
"Tenanglah Ann, harta itu bisa kita cari nantinya. Selama kau bahagia, aku akan turut bahagia bersamamu."
"Entahlah." Ann mendesah panjang. Tak lama kemudian istri ustadz Hasan datang bersama dua orang wanita paruh baya juga. Mereka nampak begitu ramah.
"Nak Ann, ayo ikut ibu ke ruangan dalam." Ustadzah Khumairoh, istri ustadz Hasan mengajak Ann ke dalam ruangan keluarga. Ann menuruti kemauan mereka setelah menatap Alman yang mengangguk mengizinkan.
"Maaf nak, kita berdandan seadanya saja untuk kenangan kalian nanti." Bu Hani, istri pak RT mulai membuka dompet besar berisi aneka bedak dan peralatan make up lainnya. Ann hanya mengangguk.
"Maaf ibu-ibu, kami merepotkan." Ann merasa terharu.
"Tidak nak, kalian tidak merepotkan, ini tidak sebanding dengan kebaikan Pak Alman selama ini, tetapi memang agak aneh, seperti kisah di drama-drama saja, Pak Alman membawamu untuk menikah di malam hari dengan apa adanya, padahal jika dia mau, kalian bisa berpesta tujuh hari tujuh malam dengan mewah di hotel terbesar di kota ini, hotel keluarganya sendiri." Bu RT tertawa kecil.
"Entahlah bu, dia tidak ingin dijodohkan dengan wanita yang segalanya tidak sebanding denganku. Dia pewaris harta kakeknya pula." Ann menjelaskan.
"Iya kami sudah tahu nak Ann, Bapak sudah bilang tadi apa yang kalian ceritakan dengannya." Bu Khumairoh menjawab tersenyum.
"Tapi ini sangat langka, dia mau menikah segera karena mau menjaga kehormatanmu. Dia takut khilaf Ann. Berbeda dengan rumor yang sering mengatakan Pak Alman sangat playboy." Bu RT menjawab tersenyum. Ann pula melebarkan sudut-sudut bibirnya.
"Alhamdulillah bisa melihat langsung pak Alman yang memang luar biasa tampannya." Bu Nining ikut berkomentar, tangannya mulai merias wajah Ann yang memang sangat cantik. Bu Nining adalah pemilik Deva Salon warga binaan pak RT. Dia jauh lebih muda dari usia Bu Hani dan Ustadzah Khumairoh. Dengan cekatan, tangan itu mencoba memberikan sentuhan terbaik untuk Ann. Butuh waktu hampir satu jam dengan mengenakan pakaian adat Muntok yang berwarna merah. Akhirnya Ann tampak semakin memukau. Dia begitu cantiknya. Di luar Alman juga diganti dengan pakaian yang sama. Bu RT dan Bu Hani sudah selesai menggelar karpet dua kali tiga meter berwarna biru motif bunga mawar. Bunga shabby sudah ditata di atas kasur busa yang diletakkan di tengah-tengah karpet. Sementara di luar terdengar sudah ada lebih sepuluh orang laki-laki dewasa hadir. Mereka warga binaan pak RT tempat ustadz Hasan berdomisili. Penghulunya adalah pak Hasan sendiri yang memang bertugas di KUA Muntok. Pak RT dan Imam masjid menjadi saksi. Ann dan Alman akan segera menikah.
*****
Alman dan Ann disandingkan selayaknya pasangan pengantin. Prosesi yang hanya memakan waktu sekitar setengah jam itu berlangsung hikmat. Sempat sebelum prosesi dimulai Ann ditanyai lagi oleh mereka siapa nama ayah kandungnya, namun ibunya tidak pernah sekalipun mengatakan hal itu. Ketika para jemaah bertanya lagi siapa keluarganya, biar bisa menggunakan wali nasab, Ann pun menyebutkan hanya Rafi yang dia tahu bagian dari keluarhanya, itupun tidak tahu rimbanya. Mereka kasian mendengar kisah Ann yang jujur mengatakan mereka tinggal di pinggir hutan desa Kemang bersama dua rumah tetangga, dan rumahnya telah habis dibakar oleh ayah tirinya, Bakar.
Alman mematikan ponselnya yang dari tadi tidak berhenti berdering. Begitu juga dengan Ann, Alman yang menyuruhnya untuk ikut mematikan ponselnya. Beruntung, tidak ada kendala sama sekali dalam prosesi pernikahan itu. Mereka akhirnya sah menjadi pasangan suami istri. Pernikahan pun tercatat dengan berkas menyusul. Keduanya berbahagia meskipun masih menyimpan ganjalan di hati.
Tidak ada meja plasmanan, tidak ada jamuan lagi setelah prosesi. Tamu undangan paham apa yang terjadi. Mereka bersenda gurau saja setelah menjadi saksi pernikahan putra pewaris hotel BRC di Muntok. Alman hanya sejenak menghidupkan ponselnya, dipakai untuk mengabadikan momen spesial dalam kehidupan mereka. Pernikahan sangat sederhana di rumah sahabatnya yang pernah dia berikan bantuan seratus buah Alquran untuk anak anak tahfiz yang dikelola ustadz Hasan dan bantuan lainnya seperti mengumrohkan dua pengurus masjid per tahun di masjid-masjid besar yang ada di kota Muntok.
__ADS_1
"Permisi pak, apa Pak Alman benar ada di sini?" Seorang kurir datang dengan membawa dua puluh paket hamburger dan minuman kemasan brown sugar boba milk lokal dari sebuah cafe yang melayani pesanan antar malam hari.
"Ada di dalam." Seorang tamu yang menjawab. Alman dipanggil Bapak yang lainnya pula.
"Saya .au antar pesanan pak." Kurir itu bicara pelan melihat kebingungan beberapa orang yang menatapnya dari teras.
"Pesanan apa dik?" Ustadz Hasan bertanya.
"Menu ala kadarnya Ustadz, tunggu ya dik." Alman yang baru keluar masih dengan baju pengantin segera menjawab. Kurir terkejut, tidak menyangka Pak Alman yang terkenal sangat kaya dan royal menikah malam-malam dengan tamu hanya beberapa orang saja.
"Bapak beneran menikah atau lagi shuting?" Kurir itu benar-benar keheranan. Alman tersenyum mendengarnya.
"Lagi syuting dek." Alman menjawab sambil mengambil kantong-kantong itu. Dia membayar dengan sisa uang di dompet dan ternyata kurang. Dia ke dalam dan berbisik-bisik di telinga Ann.
"Sayang, boleh pinjam uang mahar tadi seratus ribu. Saya pesan burger dan minuman online, kurang duitnya." Alman berbisik pelan sekali, seketika keduanya saling pandang dan tersenyum.
"Duduk dan bagikanlah burger dan minumannya, ini bukan pinjaman. Saya yang traktir." Ann berdiri dan mengambil dompetnya menuju kurir yang menunggu di luar. Dia tidak menyentuh uang cash lima juta yang diberikan suaminya sebagai mahar. Di dompetnya masih ada beberapa uangnya dari gaji pertama yang dibayar nenek di awal.
"Ann? Kau kok ada di sini?" Kurir itu membuka topinya.
"Andri?" Ann tak kalah terkejut mengetahui siapa kurisnya.p
"Kau menikah dengan Pak Alman? Kau tidak mengabarkan ke mbak Ratih sama sekali?" Andri, adik kandung Bibi Ratih terkejut bukan main.
"Nanti akan kujelaskan semuanya ke bibi." Ann menjawab.
"Apa pak Bakar dan Rafi tau?" Andri kembali bertanya.
"Kau tau dimana mereka?" Ann malah balik bertanya.
"Ah sudahlah. Cepat bayar pesanannya, burger dua puluh biji kali lima belas ribu, brown sugar baba milk sepuluh ribu per cup, dua puluh cup, jadi pas lima ratus ribu." Andri menyudahi, dia tidak ingin bicara lagi. Ann memberikan uang pembayaran lalu kembali ke dalam rumah Ustadz Hasan setelah Andri pergi. Sementara di dalam rumah, masing-masing yang hadir sudah sibuk makan sajian pertama kali yang mereka nikmati. Bukan rendang daging atau menu hajatan lainnya, tetapi burger online dan minumannya. Karena yang hadir rata-rata orang yang rajin ke masjid dengan usia paruh baya ke atas, mereka banyak yang tidak pandai menikmati burger. Bahkan di antara mereka ada yang baru pertama kali menikmati menu itu.
__ADS_1
"Kata orang enak makan burger, tapi aku tidak merasakan enaknya. Entah rasa apa ini, seperti rasa roti kering biasa." Kakek Poniman, usia delapan puluh satu tahun menggerutu lucu. Beberapa orang tertawa mendengarnya.
"Maaf Eyang, makannya bukan satu-satu diambil dari atas, tetapi serentak begini...." Pak Yuda mencontohkan menggigit burger dengan benar.
"Owh pantesan gak enak, salah cara makannya tho." Kakek Poniman menyusun kembali burger penutup yang tadi digigitnya perlahan-lahan. Beliau pun mencoba memasukkan ke dalam mulutnya, namun burgernya malah lari-lari, akhirnya mulut Pak Poniman blepotan dengan saos dan mayo saja.
"Haduh, tidak bisa aku makan makanan ini, kubawa pulang saja, nanti kupotong-potong saja pakai gergaji besi...." Kakek Poniman mengembalikan burger ke plastik mika bungkusnya tadi. Dia hanya menyeruput esnya saja. Tamu yang tidak seberapa itu akhirnya terkikik melihat ulah Pak Poniman yang paling sepuh di antara mereka. Alman yang dari tadi melihat kakek Poniman bersusah payah memakan burger, keluar dengan sebuah pisau kecil yang dipinjamnya dari Ustadzah Khumairoh, dia memotong-motong burger itu dengan rapi. Kali pertama dia melayani orang lain. Biasanya air putih segelas saja dia dilayani oleh pelayan atau sekretarisnya Alex atau Indra.
"Ya Allah anak pak Aji Syahbana memotongkanku kue aneh ini, rasa mimpi, terima kasih banyak nak, semoga kalian sehat, rukun damai dan segera mendapatkan keturunan." Kakek Poniman terharu melihat apa yang Alman lakukan, dia akhirnya bisa merasakan burger yang sering disebut-sebut cucunya merupakan makanan para bule.
"Dari burger ini mengajarkan kita akan sebuah arti hidup. Rasa yang berbeda, dinikmati sesuai porsinya akan melahirkan rasa yang sangat enak." Ustadz Hasan bicara sambil menikmati burgernya.
"Eyang tadi makan tutup rotinya saja, tidak enak, pak RT makan daun seladanya saja tetapi pahit katanya, Ustadz Hutbi makan dagingnya saja, perut tetap tidak bisa kenyang. Artinya rasa pahit, pedas, manisnya kehidupan jika kita mampu menempatkan hati pada porsinya, kita tidak akan dikalahkan dalam pertarungan apapun itu. Saat sedang berbahagia tetap berbagi dan bersyukur, saat sakit dan menderita atau kekurangan, tetap optimis dan berusaha. Jangan putus asa, jangan tinggi hati pula. Seperti burger ini, dari atas atau bawah kita tidak langsung menemukan gigitan ke dagingnya. Gigi harus lebih menekan melewati tomat yang asam, saos yang pedas, mayo yang nano nano, daun selada yang pahit baru kita menemukan daging yang gurih, maka bersabar saat ada ujian, dan bersyukur saat berbahagia. Tak terkecuali untuk Pak Alman. Semoga pernikahan kalian sakina mawaddah warahmah." Ustadz Hasan menyudahi.
"Aamiin." Tamu segelintir itu mengaminkan.
*****
Satu jam kemudian tamu sudah pulang dan setelah berbasa-basi, membersihkan wajah dan riasan, berganti pakaian, Alman dan Ann pun berpamit dan berterima kasih kepada Ustadz Hasan yang telah banyak membantu menghalalkan hubungan mereka. Alman menatap jam di dinding ruangan. Tepat jam setengah dua belas malam.
"Di kota ini, hanya kita yang menikah sekaligus resepsi tengah malam Ann." Alman berbicara tersenyum lucu.
"Ini ulahmu." Ann menjawab gemas.
"Demi cintaku padamu." Alman menjawab.
Keduanya pun diantar ke motor oleh beberapa orang yang masih ada di rumah itu. Waktu begitu singkat. Dalam hitungan jam, mereka kini sudah sah menjadi suami istri.
*****
Di waktu yang bersamaan, nenek tidak bisa tertidur, dipandanginya foto Alman dan Ann yang sedang menikah berkali-kali. Dia bahagia menatapnya, namun mengingat kehancuran hubungan Alman dengan suaminya, hatinya ikut retak dan berpikir keras mencari cara bagaimana menyatukan mereka lagi. Malam kian larut, tetapi nenek belum bisa terpejam sedikitpun. Pikirannya menerawang, menerobos angan dan alam.
__ADS_1
*****bersambung*****