Laut dan Cinta

Laut dan Cinta
Raga yang Terpisah


__ADS_3

Ann masih menunggu suaminya, sudah beberapa kali petugas bandara mendekatinya, bertanya apa yang menjadi kendala keberangkatannya. Mendengar penjelasan Ann, mereka terenyuh dan menawarkan banyak bantuan, ada yang datang memberikan nasi kotak, kue, minuman dan tisu. Namun tidak satu pun yang dia sentuh. Ann masih mencoba berbaik sangka, dia menunggu Alman dengan patuh hingga malam tiba. Hingga penumpang mulai sepi, hingga tak ada lagi penumpang lainnya. Hingga petugas cleaning service datang mengepel lantai untuk yang terakhir kalinya.


"Maaf ibu, kita tinggal menunggu penerbangan dari Jakarta sekali lagi. setelah itu, ruangan ini akan dikunci. Ibu bisa menunggu di mushola depan." Petugas wanita tiga orang mendekati Ann. Ann hanya mengangguk, dia beranjak menarik kopernya dengan langkah gontai. Satu per satu air matanya berjatuhan.


"Dik, kalau mau ikutlah bersamaku ke kos-kosan dekat sini. Istirahat di sana saja. Nanti misal suaminya ke sini mencari, kita ada petugas keamanan yang bisa mengabarkan." Seorang petugas bandara wanita lebih tua dari Ann menawarkan. Namun Ann hanya menggeleng lemah.


"Jika tidak menyalahi aturan, biarkan aku tetap menunggunya di sini." Ann mengiba, air matanya semakin deras. Ingin rasanya dia menelpon Danu yang tadi menyopirinya, mungkin dia ada informasi. Namun Ann tidak ingin gegabah. Dia tidak ingin membuat masalah baru. Dia akan mencoba menunggunya beberapa waktu lagi. Sementara perutnya keroncongan minta diisi. Namun selera makannya seketika menghilang.


"Kalau begitu, biar kami menemanimu." Seorang petugas, Airin namanya berkata meminta persetujuan Ann yang segera mengangguk.


"Terima kasih, maaf jika ini merepotkan." Ann menunduk lesu. Wajahnya semakin tak bergairah. Meski baru beberapa jam saja dia ditinggalkan Alman, kerinduannya sangatlah dalam. Hatinya bergetar hebat menanti kehadiran suami tersayang, menjemputnya pulang bersama meski tak jadi terbang ke Palembang. Namun hingga datang penumpang terakhir dari jakarta jam sebelas malam belum ada tanda-tanda kehadiran laki-laki yang selalu menggenggam erat tangannya, yang selalu mengucap janji setia, yang bahkan rela meninggalkan kemewahan demi bisa bersamanya. Ann semakin sedih. Dia sangat bingung. Ann mencoba menghubungi bu Cita, namun nomornya tidak aktif. Ann menarik napas dalam berkali-kali. Air matanya tak henti berjatuhan.


*****


"Lha? Kau masih di sini nak? Suamimu mana?" Bu Rosi yang tadi sempat mengobrol dengannya saat Alman pergi menuju meja informasi, menegurnya heran. Bu Rosi adalah penumpang terakhir pesawat malam ini. Dia berhenti sejenak di mushola untuk sholat sambil menunggu sopir penjemputnya datang.


"Dia belum kembali juga bu." Ann menjawab lemah.


"Suamimu?" Bu Rosi serius menatapnya. Ann mengangguk pasti.


"Sudah kau telpon dia?" lagi-lagi bu Rosi bertanya.


"Hpnya dua-dua ada di dalam tasku." Ann menunjuk tasnya sambil mengelap air mata. Rambutnya yang panjang terurai disibakkannya ke belakang.


"Kau sudah kabarkan kepada keluarga lainnya?" Bu Rosi memegang tangan Ann. Mencoba menenangkan wanita muda yang sedang bersedih.


"Tidak ada yang tersambung." Ann menjawab.


"Mau lapor polisi? Biar ibu yang temani."


"Tidak perlu bu."


"Mari pulang bersama dengan ibu, kalian dari mana?"


"Rumah di Mentok Bangka Barat bu."

__ADS_1


"Kebetulan kalau begitu, ayo naik sama ibu sebentar lagi sopir datang." senyum bu Rosi begitu lebar, ramah dan ikhlas.


"Kau tidak kenal ibu?" Bu Rosi bertanya lagi dengan senyum semakin lebar.


"Tidak bu, maaf saya lama di pinggiran hutan, tidak begitu gaul jadinya." Ann menjelaskan.


"Iya tidak apa-apa. Ibu kepala yayasan Khadijah di jalan baru."


"Owh. Ini ya ibunya. Terima kasih bu Rosi. Maaf merepotkan." Ann agak terhibur bertemu dengan salah satu aktivis kemanusiaan pengelola Panti Asuhan Khadijah, di sana ada segala jenis manusia dengan nasib yang kurang beruntung, dari bayi baru lahir hingga yang hampir kembali ke tanah lagi. Ann pernah hampir dititipkan ke sana oleh Bakar, ayah tirinya. Namun gagal karena ibunya bersikeras menghidupi Ann dengan tangannya sendiri.


*****


Sementara di tempat yang berbeda, beberapa jam yang lalu, Alman keluar bandara dan menemui nenek yang mengejarnya tepat sampai sebelum keberangkatan Alman dan Ann ke Palembang.


"Mengapa nenek ke sini? Pesawat kami hampir berangkat." Alman mencoba protes. Namun nenek terlanjur jauh mengejarnya pasti untuk sesuatu yang sangat penting.


"Pulanglah dan temui kakekmu sekarang. Dia sekarat." Nenek bicara memerintah.


"Ah sudahlah, dia hanya berpura-pura saja." Alman tersenyum sinis.


"Alman! Dia benar-benar sekarat, tolong temui dia dan minta maaflah sekarang. Dia ada di rumah sakit propinsi ruang VVIP."


"Kau tahu kakekmu berhutang budi dengan kakeknya Zellin. Dulu saat kakekmu terpuruk dan benar-benar di langkah nol, kakeknya Zellinlah yang percaya dan mau berinvestasi di usaha awal kakekmu. Tolonglah Alman, tolonglah temui kakekmu untuk nenek." Nenek berlinang air mata. Alman menjadi ragu seketika.


"Aku akan bicara dengan Ann terlebih dahulu." Alman mempertimbangkan.


"Tidak! Ann sudah ada yang mengurusnya. Dia aman."


"Sebentar saja, aku ingin mengajaknya menemui kakek."


"Jangan, kakekmu pasti akan semakin kacau." Dua orang memegang Alman seketika, menaikkan ke mobil Alphard hitam milik neneknya yang sedari sudah terbuka pintunya di pintu keluar bandara.


"Tunggu dulu nek, aku mau menemui Ann."


"Jalan Pak Yoga." Nenek membiarkan Alman meronta. Tanpa mengindahkan permohonannya lagi untuk sekedar pamit dan memberikan pilihan pada istrinya.

__ADS_1


"Nek, tolong aku tidak bisa meninggalkannya." Namun nenek tidak peduli. Pak Yoga sudah mengemudi dengan cepat.


"Ann sudah dewasa Alman. Dia pasti menerima kalau kau harus menikahi Zellin." Nenek bicara pelan. Mulutnya kembali mengunci.


"Menikahi Zellin?" Alman mengerutkan keningnya.


"Setidaknya selamatkan kakekmu dulu, nanti kalian bisa bernegosiasi perkara lainnya."


"Nenek, ini tidak mungkin nek, meski Ann menerimanya, aku tidak mungkin mengkhianatinya. Aku sangat menyayanginya." Alman berargumen.


"Lagian kasian Ann sendirian, dia pasti menungguku. Kami ada urusan penting." Alman menambahkan.


"Aku sudah menyuruh seseorang mengurusnya, diamlah." Nenek memerintah lagi.


Alman terdiam. Mereka sudah sampai di sebuah rumah sakit propinsi. Nenek menuntun Alman yang masih dipegang dua orang laki-laki, Alman tau mereka adalah security BRC Hotel. Sesampainya di ruangan VVIP Alman menyaksikan sebuah pemandangan yang mengerikan. Kakeknya terbujur kaku dengan beberapa selang di wajah dan badan . Dia tidak sadarkan diri namun tetap reaktif dengan suara orang.


"Aji, bangunlah cucumu kesayanganmu sudah datang." Nenek memulai percakapan di ruangan. Hanya ada Alman, nenek dan Kakek. Yang lain menunggu di luar.


"Kakek...? Kakek kan hebat kenapa jadi begini?" Alman bicara seraya mendekat ke tempat kakeknya dibaringkan. Alman menggenggam jemari kakek. Seketika gelombang di monitor bereaksi disertai bunyi beep yang panjang pendek berganti.


"Dia bertindak gegabah, ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Kakeknya Zellin mengungkit-ungkit masa lalu." Nenek bicara tanpa ekspresi.


"Sudah jelas keluarga itu tidak baik, masa pernikahan main paksa."


"Mereka tidak memaksa, hanya menagih janji kakekmu mempererat silahturahmi karena Daniyal gagal dijodohkan dengan Bu Titik."


"Kalau papa bisa menolak, kenapa aku harus berkorban? Aku hanya mencintai istriku saja saat ini. Tidak ada orang lain lagi nek." Alman berteriak geram. Monitor kembali dengan beep panjang. Perawat dan dokter berlarian mendekat. Beep panjang belum berhenti gelombang semakin menghilang perlahan, dan nampak hampir lurus, namun Alman seketika menghoyangkan tubuh kakeknya.


"Kek, jangan bercanda, bangunlah, aku akan menuruti keinginan kakek. Aku akan menikahi Zellin sesuai permintaan kakek, bangunlah, jangan bodoh, bangun kek." Alman berteriak di telinga kakeknya. Lama tidak ada reaksi, namun air mata kakek mulai keluar.


"Dia kembali."


"Pak! Pak Aji bisa dengar saya. Tolong gerakkan jari sebagai pertanda pak." Dokter yang menangani memanggil kakek. Dan sebuah keajaiban, jari telunjuk kakek bergerak lagi. Perlahan monitor menampilkan gelombang lagi. Kotak PR yang sebelumnya hanya diangka lima hingga 8 kembali menjadi 85, saturasi oksigen juga kembali naik. Perlahan mata kakek membuka.


"Kau kembali nak?" menggerakkan kepala ke arah Alman.

__ADS_1


"Iya, aku akan menikahi Zellin kek." Alman menjawab lemah. Setiap menyebut kata Zellin hatinya berdenyut memikirkan Ann.


*****bersambung*****


__ADS_2