
Langit cerah di kota Pangkalpinang mengiringi hiruk pikuk kehidupan manusia, menyertai segala rasa. Bahagia dan sedih, terkadang sejalan beriringan tanpa kepastian. Tawa dan air mata pun menyibak kepekaan hati. Ada yang piawai menyiasati hidup, berbahagia sekedarnya saja saat beruntung dan bersabar diri saat mendapati kesusahan.
Tanpa disadari, usai sudah pernikahan Alman dan Zellin yang dihelat sederhana di rumah pak Suharli. Nampak wajah-wajah lega dari keluarga Zellin. Kakek Alman pun sudah agak mendingan meski masih duduk di kursi roda. Sesekali dia bercanda lagi dengan pak Aji Syahbana, mengingat masa-masa remaja mereka dulu, saat mereka sepakat janji menikahkan keturunannya, tanpa menyadari janji itu telah merenggut kebahagian beberapa hati yang kecewa.
"Mereka sudah menikah, kau berjanji tidak akan menuntut Alman untuk meniduri cucu sahabat kesayanganmu itu, terserah dia, mau tidur bersama atau tidak kita tidak bisa memaksanya." Bu Cita menggerutukkan gigi ke pak Aji Syahbana sambil berbicara.
"Aku tidak khawatir, jika sudah menikah, mereka pasti akan jatuh cinta dengan sendirinya." Pak Aji Syahbana menjawab tenang.
"Dan jika ke depan kau mau bunuh diri lagi, silahkan, lebih cepat lebih baik agar tidak ada lagi hati yang kau sakiti." Bu Cita bicara semakin sinis ke suaminya yang hanya menatapnya diam.
"Ann adalah gadis baik, nasibnya saja kurang beruntung, dia bukan cucu sahabatmu." Bu Cita menjauhi suaminya. Mengajak segenap keluarga segera bersiap pulang ke Mentok. Zellin langsung ikut serta bersama mereka.
"Aku akan tinggal sendiri di hotel nek." Alman bicara ke neneknya saat di mobil. Pak Aji, pak Daniyal dan bu Rily seketika menatap Alman. Hanya Zellin dan nenek yang pura-pura tidak mendengarkan.
"Aku akan tidur dengan istriku yang kucintai...." Alman sengaja memancing emosi Zellin.
"Zellin istrimu Al." Pak Aji mengingatkan.
"Hanya di atas kertas. Hatiku hanya menikahi satu orang, itu Ann." Alman menjawab. Tak ada lagi yang menanggapi. Suasana di dalam mobil seketika hening. Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing. Sedangkan nenek seketika resah gelisah setelah membaca whatapp dari orang suruhannya yang mengabarkan dia tidak menemukan Ann karena saat masuk bandara, dia lupa memakai masker, tidak diizinkan masuk oleh petugas dan kehilangan hp diparkiran saat dorong-dorongan marah dengan petugas.
"Kemana dia...?" Nenek menggumam tanpa sadar.
"Siapa nek?" Alman bertanya. Namun nenek tidak menjawabnya. Alman pun ikut diam karena nenek tidak juga bersuara.
*****
Sesampai di Kota Muntok, Alman yang kembali diberikan fasilitas mewahnya, segera kembali ke rumah khususnya di BRC Hotel. Dia menyiapkan beberapa pakaian untuk dibawanya ke villa kayu. Diam-diam dia mengendarai motor menuju ke sana. Dan betapa sedihnya Alman mendapati keadaan villa masih seperti saat dia tinggalkan bersama Ann kemarin. Tidak ada tanda-tanda ada yang telah datang.
"Ann...."
"Ann!!!"
__ADS_1
"Ann, kau dimana sayang?" Alman memanggil-manggil istrinya namun tidak ada sahutan. Dia mencari ke seluruh penjuru perkebunan mereka namun Ann tidak nampak juga. Alman putus asa mencari di sana, dia menelpon neneknya.
"Nek, dimana Ann? Al mengira dia nenek suruh pulang ke villa kami. Dia dengan siapa?" Alman dengan napas memburu karena rasa capek dan menahan amarah serta kekhawatiran.
"Al maaf nak, maafkan nenek." Suara nenek terdengar terisak.
"Ada apa nek? Ann dimana?" Alman semakin khawatir.
"Si Denis tidak menemui Ann kemarin, dia dilarang masuk karena tidak pakai masker dan malah buat keributan dengan petugas...." Nenek terisak lagi.
"Apa?" Alman terduduk lemas mendengarnya. Dia mencoba menelpon nomor hape Ann, namun tidak tersambung. Dia coba menghubungi nomor handphonenya sendiri, sama saja, tidak ada yang tersambung. Alman segera keluar dari kebunnya, dia berkendara lagi menuju rumah Fee. Namun hatinya berdenyut kembali. Rumah kontrakan itu malah tertutup dan di pintu teralis ada spanduk sepanjang satu meter bertuliskan DIJUAL/ DISEWAKAN ke nomor sekian. Ann sejenak mematung, lalu Alman langsung kembali menuju hotelnya. Dia seperti orang kebingungan mencari-cari cleaning service yang serumah dengan Ann. Namun dia tidak menemukan orang yang dia cari. Dia tanyakan gadis bernama Fee, namun tidak ada yang tahu nama itu.
"Tolong kumpulkan cleaning service yang ada, suruh ke ruang rapat sekarang." Alman memerintah kepala Divisi F dan B. Dia duduk di sofa ruang tamu kantor.
"Sebagian belum hadir pak, menunggu pergantian shift." Pak Heru, menjawab.
"Yang ada sekarang suruh kumpul, saya tunggu segera di ruang rapat lantai ini." Alman memerintah.
"Sudah bubar." Alman terduduk lemah kembali di sofa. Para pegawai itu berpandangan kebingungan lalu membubarkan diri. Jauh dari Alman mereka bisik-bisik kembali saling bertanya meski pun tidak satu pun yang tahu jawaban pasti.
"Suruh datang segera semua cleaning service shift selanjutnya." Alman memerintah.
"Tapi belum jam empat pak." Pak Heru mencoba mengingatkan.
"Saya tunggu tiga puluh menit lagi, semua sudah kumpul, atau besok tidak usah datang lagi termasuk Bapak." Alman menatap tajam ke arah Pak Heru yang kaget mendengar jawaban Alman.
"Iya pak iya-iya-iya pak, segera saya informasikan." Pak Heru gugup melihat sikap Alman yang kembali seperti saat dia mengetahui Cintya berselingkuh dan tertangkap berduaan di hotel bersama laki-laki lain. Pak Heru segera kembali menginformasikan melalui grup whatapp.
"Ditunggu ya pak. Paling lama tiga puluh menit mereka sudah datang." mencoba menetralisir amarah sang bos pak Heru mengangguk takzim meski usianya jauh lebih tua dari Alman.
"Suruh segera." Alman kembali memerintah.
__ADS_1
"Sudah pak, dan maaf pak, apa saya boleh tau kenapa mereka harus dikumpulkan?" melepas kebingungan, Pak Heru mencoba bertanya.
"Aku mencari seseorang." Alman menjawab.
"Bapak bisa sebutkan saja namanya, kami bisa panggil secara pribadi." Pak Heru berdiri tegak dengan kedua tangan di depan.
"Itulah masalahnya, aku tak tau namanya." Alman menyeringai.
"Owh." Pak Heru tersenyum geli. Dia mencoba menahan senyum agar tidak melebar.
"Panggilannya Fee. Apa ada cleaning service yang bernama Fee? Cepat cari!"
"Baik pak."
Lima menit kemudian pak Heru kembali dengan dokumen tebal berisi Curriculum Vitae dan foto masing-masing di sebelah kiri atas lembaran CV karyawan.
"Pak Alman, saya sudah cek di database online kita, tidak ada karyawan kita bernama Fee." agak ragu pak Heru bicara. Alman menatapnya.
"Kalau Pi? Atau Vee?" Alman bertanya.
"Saya coba ketikkan semua yang Bapak sebut tapi tidak ada. Ini pak, dokumen kepegawaian terbaru bagian R dan B, mungkin Bapak mengenali orangnya lewat foto." dengan tersenyum dan nada setenang mungkin pak Heru memberikan dokumen dengan hardcover hitam. Alman menerimanya, langsung membuka lembar demi lembar CV pegawai. Di akhir lembaran Alman memicingkan mata lebih lama dan menarik kertas itu dari plastik pembungkusnya.
"Ini ni telpon gadis in sekarang suruh ke sini." Alman menunjuk foto Fee.
"Owh itu, panggilannya Nur pak, nama aslinya Nur Peniyah."
"Owh, iya entahlah perasaan Fee, panggil dia ke sini sekarang."
Pak Heru segera memencet nomor hp yang tertera di CVnya. Namun tidak pernah tersambung. Beberapa orang mengatakan, Nur sudah dari kemarin tidak masuk kerja. Alman kembali terduduk lemas dan menyuruh para cleaning service segera membubarkan diri. Mereka pergi dengan keadaan bingung. Baru datang sudah disuruh pulang kembali sedangkan waktu masih lama masuk ke shift berikutnya.
***bersambung***
__ADS_1