
"Sopir bilang kau nampak sedang mengejar kendaraan kami nak?" ramah sekali pertanyaan itu muncul disertai senyum tulus seorang wanita tua. Deretan gigi putih bersihnya nampak mengkilat. Dia naikkan kaca matanya ke atas rambut bagian atas. Nenek itu meletakkan dagu ke jendela mobil yang terbuka. Ann membalas senyum nenek dengan ramah pula meski napasnya belum kembali normal. Dia masih terengah-engah.
"Ini, dompet nenek terjatuh dekat counter hape tadi. Saya sudah berusaha meneriaki nenek, tetapi nenek sudah terlanjur menutup pintu dan tidak mendengarnya." Ann memberikan dompet coklat bercampur cream bermerk itu. Dia juga menatap wanita muda di sebelah kanan nenek duduk. Wanita paruh baya itu mengangguk dengan santun. Dia tak kalah cantiknya dengan nenek. Bibirnya merekah berhias lipstik mahal.
"Kau mengejarku untuk ini? MasyaAllah, wanita mana yang telah melahirkan dan mendidikmu. Budi baikmu sudah sangat langka saat ini. Dimana kendaraanmu? Kenapa berlari? Kenapa tidak menyusul kami dengan kendaraanmu agar lebih cepat?" Nenek akhirnya turun dari mobil sambil memegang dompetnya. Ann tersipu saja.
"Saya tidak punya kendaraan nek, tadi naik ojek, tapi karena selisih paham dengan penemuan dompet ini, dia meninggalkan saya." Ann mengangguk-angguk sopan. Nenek itu mengelus kedua pangkal lengan Ann.
"Naiklah, kami akan mengantarmu pulang." Nenek itu agak menarik tangan Ann.
"Tidak usah nek, di simpang itu ada ojek, nanti Ann naik ojek saja." Ann bicara sopan. Nenek tersenyum.
"Kalau begitu minta nomor hapemu nak. Ly! Rily coba catat nomor hape gadis ini." Nenek memerintahkan wanita yang dari tadi kepalanya nongol lewat pintu kaca melihat nenek dan Ann.
"Berapa dik nomornya? Namanya siapa?" Wanita cantik paruh baya itu bertanya.
"Ann tante, nenek, namaku Ann. Hehe maaf, Ann belum sempat beli hape, tadinya baru mau mencari hape yang buruk-buruk saja, yang penting bisa nelpon, tetapi Ann melihat nenek tidak sengaja menjatuhkan dompetnya." tersipu malu Ann menjawab. Kedua wanita itu bertatapan heran.
"Kamu beda nak, biasanya gadis seusiamu, ke toilet saja membawa hape." Nenek terkekeh sejenak. Lalu menarik Ann, memaksanya masuk ke dalam mobil.
"Andi, kembali ke counter tadi sejenak. Dia mau beli hape." Nenek mendorong tubuh Ann agar segera masuk.
"Jangan nenek, Ann bisa ke sana sendiri."
"Naiklah gadis baik. Kau tahu? Isi dompet ini bahkan bisa membeli puluhan counter hape. Nenek bukan menyombongkan diri nak, tetapi nenek sangat berterima kasih kepadamu. Jika saja kau tidak mengejar kami, nenek akan direpotkan mengurus semua kartu-kartu di dalam dompet ini." Nenek bicara sambil menutup pintu. Ann merasa begitu kikuk berada di dalam mobil mewah yang sering diceritakan orang hanya dimiliki kalangan tertentu saja. Alphard. Ann mencoba merampingkan diri. Tak ingin mengenai pakaian mewah kedua wanita itu. Namun nenek malah menepuk-nepuk bahu, bahkan paha kirinya sambil memuji-muji kebaikan hati Ann.
__ADS_1
Lima menit memutar, akhirnya mereka kembali ke counter hape lagi. Ann malu-malu ikut rombongan yang nampak seperti orang-orang kalangan atas. Ann juga mencoba mengingat-ngingat lagi sepertinya dia sering melihat wajah nenek itu. Tapi otaknya tak mampu menelusuri.
"Halo ibu, kami senang sekali ibu kembali lagi. Apa masih ada yang bisa kami bantu bu?" Seorang pelayan laki-laki menyambut nenek dan tante itu dengan super ramah.
"Iya mau menemani cucu beli hape. Ann, silahkan pilihlah yang mana handphone yang ingin kamu miliki?" Nenek sekalian bicara ke pelayan dan Ann. Ann tergagap.
"Terima kasih nenek sudah mengantar Ann, nenek dan tante pulang saja, nanti Ann bisa menelpon teman Ann minta dijemput." Ann bicara ke nenek dan tante yang nampak kebingungan.
"Kami memastikan kau sudah selesai membeli handphone dulu, setelah itu kami akan pulang." Nenek menjawab. Ann akhirnya ragu-ragu bicara dengan pelayan yang mendekatinya dari tadi dengan keramahan luar biasa. Dia berbisik-bisik.
"Cari handphone merk apa kak?" Pelayan bertanya ramah.
"Nggak tau, ada nggak yang hape seken dibawah dua ratus ribu?" pelan sekali Ann bertanya. Kedua pelayan saling berpandangan. Lalu mereka juga menatap ke arah Nenek dan Tante yang menunggunya di conter sebelah depan. Pelayan itu mengambil sebuah handphone senter warna hitam.
"Kau sudah menemukan handphonenya?"
"Sudah nek."
"Mana?"
"Dia mau yang ini ibu." Pelayan memperlihatkan kotak hp yang akan dibeli Ann. Nenek menatapnya semakin heran saja. Aneh sekali gadis ini. Nenek menarik tangan Ann, diajaknya ke etalase yang berkilau dengan lampu pencahayaan.
"Ini banyak pilihan nak, kenapa pilih yang seperti itu. Pilihlah mana yang kau mau? Ini Galaxy S20, Ini Galaxy Note 9, Ini ada Galaxy A71 dan banyak lainnya, pilihlah yang mana kamu mau nenek yang bayar." Nenek menunjuk-nunjuk beberapa handphone yang dipajang rapi sambil menampilkan slide demi slide berupa iklan.
"Ah tidak usah nek, jangan. Ann cukup pakai yang biasa saja." Ann menolak. Namun nenek sudah memberikan isyarat kepada pelayannya agar mengganti dengan hape Samsung Galaxy Note 9. Nenek meninggalkan Ann yang masih termangu kebingungan. Nenek itu membutuhkan waktu hampir sepuluh menit, akhirnya menyodorkan sebuah kantong berisi handphone baru dan kotaknya.
__ADS_1
"Nenek sudah simpan nomor Nenek di hape kamu, dan nomormu sudah Nenek simpan di hape Nenek. Jika kamu membutuhkan sesuatu kamu boleh menghubungi nenek." begitu saja yang terucap dari nenek. Dia bahkan mencium kening Ann yang hanya mampu berterima kasih. Nenek telah pergi bersama mobilnya. Sementara Ann, masih mematung antara percaya dan tidak. Serasa dia sedang bermimpi, namun dia tidak ingin segera terbangun.
"Berapa harga handphone ini kak?" Ann mendekati salah satu karyawan counter.
"Sebelas juta, enam ratus delapan puluh delapan ribu."
"Sebelas juta?" Ann membuka menyentuh hp dalam kantongnya. Pelayan hanya tersenyum maklum.
"Itu juga sudah dibelikan nenek tadi kartu dan paket internet juga case yang paling mahal."
"Case mahal?"
"Iya. Itu casenya enam ratus ribu." Pelayan menjawab tersenyum.
"Tapi itu belum seberapa, bagi mereka itu keciiilll sekali." Pelayan itu melanjutkan sambil menjentikkan jari kelingking kanan.
"Mereka siapa?" Ann bertanya.
"Lho masa kamu tidak tahu?" Pelayan nampak heran.
"Siapa mereka kak?" Ann kembali bertanya.
"Rani, kwitansi pengadaan printer kantor Dinas Pendidikan sudah distempel belum? Orangnya mau datang." Seorang laki-laki paruh baya memanggil pelayan itu sebelum sempat menjawab. Ann menarik napas dalam. Dia semakin kebingungan. Seorang ojek melintas. Ann melambaikan tangan, ojek berhenti, diapun naik dan pergi dengan hati riang bukan kepalang.
*****bersambung*****
__ADS_1