
Sekitar tiga puluh menit bercengkerama bersama kakek, nenek dan kedua orang tua Zellin, akhirnya seorang gadis lebih tua dari Ann turun dari tangga rumah menuju lantai bawah. Nampak seorang gadis menuruni satu demi satu anak tangga dengan anggun. Cantik sekali. Dia menyapa Bu Cita dengan ramah. Kecerdasan nampak dari sorot mata dan senyumannya. Dia nampak tertarik dengan Alman yang sebelumnya dia merasa tidak akan menyukainya. Setelah bertemu Zellin terpesona juga melihat Alman dengan pembawaan yang berkharisma.
"Kalian pernah bertemu beberapa kali ketika kecil dulu, silahkan mengobrol di tempat lain, mungkin kalian memerlukan privasi lebih." Bu Cita menyilahkan Alman dan Zellin meninggalkan mereka. Zellin tersenyum mengangguk sementara Alman hanya menggelengkan kepala.
"Di sini saja nek, tidak ada hal yang tidak ingin didengarkan oleh orang lain." Alman menjawab santai. Zellin menatapnya mulai tidak suka.
"Tapi aku mau membicarakan hal pribadi kepadamu Alman." Zellin bicara dengan mata menatap tajam ke arah Alman.
"Sepribadi apakah itu? Kamu bisa kirimkan di nomor handphoneku saja, sekarang kamu bisa bicarakan yang tidak pribadi di sini." Alman bicara tersenyum. Nenek memandangnya keheranan, ada apa dengan Alman. Dia tidak biasa bicara begitu tertahan dan seolah-olah tidak tertarik dengan gadis secantik Zellin. Dia sangat aktif dan menyenangi bersama para gadis cantik dan seksi.
"Baiklah bu Suharli, bapak, kami mau pamit dulu, semoga nanti acara kita berjalan lancar." Bu Cita segera menyudahi melihat gelagat Alman yang kurang mengenakan. Alman dan Ann ikut berpamitan kepada semuanya. Ann tersenyum ramah ke Bu Suharli.
"Mengapa kau mengambil sekretaris muda dan cantik lagi? Apa kau tidak takut dia ada affair dengan suami, anak dan cucumu?" Bu Suharli setengah bercanda melirik ke arah Ann yang agak kikuk mendengarnya.
"Dia tidak seperti itu Tik." Bu Cita menepuk bahu kanan Bu Titik, istri pak Suharli. Ann sebenarnya merasa tersinggung, tetapi apa mau dikata, bekerja dengan orang membutuhkan waktu yang lebih untuk memupuk kesabaran.
*****
"Al, mengapa kau bersikap kurang sopan tadi?" Bu Cita bertanya kepada Alman yang sudah kembali menyandarkan kepala ke sandaran kursi mobil. Matanya kembali terpejam.
"Al merasa tidak melakukan itu." Alman menjawab santai.
"Tapi nenek bisa membacanya nak, mendengar suaramu, melihat caramu, nenek tahu betul perangaimu." Nenek menambahkan.
"Alman tidak menyukai Zellin nek. Alman menyukai wanita lain." Alman membuka mata, melirik sedikit ke kanan. Ann tak peduli, dia bertahan tidak nenatap laki-laki itu. Namun tangan kanan Alman mulai bergerak. Dia bergeser lagi ke kanan melihat nenek sudah kembali menutup wajah dengan tisu. Posisi kaca mata pun sudah di atas kening. Nenek bersiap kembali tidur.
Saat Alman sudah menggeser-geser duduknya, handphone Ann berbunyi. Fee menelponnya.
"Halo Fee..., kau tidak bisa? Kenapa? Owh jadwalmu shift sore ya. Iyalah kalau begitu, nanti aku bisa naik ojek sendiri. Oke, byeee...." Ann menutup telponnya dengan raut sedih. Dia menghela napas berat dan memejamkan mata. Tak lama kemudian setitik demi setitik bulir bening itu menetes ke pipinya yang putih kemerahan. Dia menelan ludah berkali-kali.
"Kau mau pergi kemana naik ojek?" Alman mendekati Ann. Dia sudah memastikan nenek sudah tertidur lagi di depan, dengkurannya sudah terdengar. Ann tidak menggubrisnya. Lelehan air matanya saja yang terus mengalir.
"Kenapa kau menangis? Katakan kau mau kemana? Aku ingin mengantarmu." Alman kembali bicara, namun Ann masih diam saja. Sesekali tenggorokannya bergerak menelan ludah disertai tangis tertahan. Alman menarik selembar tisu di depan. Pak Yoga hanya melirik sejenak, dia kemudian kembali memutar arah spion tengah.
__ADS_1
"Jangan menangis. Apa yang telah membuatmu menangis Ann?"
"Berhentilah bicara pak Alman, aku ingin istirahat." Ann menjawab lirih. Dia agak memutar badan ke kanan, menghindari tatapan Alman yang semakin penasaran dan tidak mampu dia bertahan.
"Aku sedih melihatmu bersedih, berbagilah denganku, percayalah, aku akan berjuang untuk cinta kita Ann." Alman menjadi puitis, dia merayu kekasih hati agar tenang dan mempercayakan usahanya. Namun Ann, semakin sedih diperlakukan seperti itu. Alman memeluk Ann dari belakang. Tangan kanannya erat merengkuh pinggang sebelah kanan Ann. Alman menyandarkan dagunya ke bahu kiri Ann.
"Kau mau kemana bersama temanmu? Aku akan mengantarmu sayang." Alman dengan mesra memanggil sayang. Ann berdebar mendengarnya. Pertamankalinya Alman memanggilnya sayang, biasanya gadis cengeng, gadis sial, gadis menyedihkan atau panggilan jelek lainnya.
"Tidak kemana-mana, duduklah yang tenang di kursimu, nanti ibu terbangun." Ann melepaskan pelukan Alman. Alman menatap wajah cantik berurai air mata itu. Perlahan-lahan dirangkulnya kembali Ann, Alman mencium pipi kirinya. Nenek tiba-tiba terbangun, Alman segera merosot duduk kembali di kursi sebelah kiri Ann.
"Kita belum sampai?" Bu Cita tersadar, menggosok mata sejenak lalu melihat ke jalanan.
"Setengah jam lagi bu." Pak Yoga menjawab sembari menganggukkan kepala. Nenek kembali menutup wajah dengan tisu. Dia sepertinya akan melanjutkan mimpinya yang terputus.
*****
"Bu, maaf sebelumnya, apa Ann boleh izin sampai habis Magrib?" Ann bertanya sopan ke Bu Cita setelah mengantarkan sampai ke rumah megah itu. Nenek baik itu langsung mengangguk tersenyum.
"Silahkan Ann, sekarang kan tidak begitu sibuk sebenarnya, kau pun bisa istirahat lebih cepat jika kau membutuhkannya." Bu Cita menjawab santai. Dia sudah masuk ke ruang pribadinya.
"Tidak ada, lagian aku bisa meminta tolong pelayan di rumah ini. Kau pergilah." Bu Cita menyilahkan Ann pergi.
"Terima kasih Bu." Ann membungkuk rendah.
"Iya hati-hati. Dan tak perlu membungkuk lagi denganku." Bu Cita mengingatkan. Ann hanya tersenyum bahagia.
*****
Ann pergi dengan menumpang motor pelayan rumah Bu Cita yang kebetulan ada keperluan di luar. Sesampainya di rumah dia langsung memesan ojek. Dia ingin pergi ke pusara ibunya. Entah mengapa, mendengar Pak Yoko menyebut nama yang sama dengan nama ibunya, kerinduannya membuncah. Ingin menyapa ibunya yang masih basah pusaranya.
Ann mengenakan baju kaos rajut warna putih dengan jeans standar. Di lehernya sebuah selendang dia buat seperti sebuah syal. Perpaduan yang mempercantik tampilannya. Dia menunduk mengikatkan tali sepatu di teras sehabis mengunci pintu rumah utama. Dan ketika memutat badannya, seketika kaget melihat Alman ada di belakangnya, duduk di atas dinding teras, sebelah bunga di pot dengan mengenakan celana jeans biru dan baju putih pula. Nampak seperti janjian mengenakan pakaian yang sama, Ann bergantian menatap pakaian yang dikenakannya dengan pakaian yang dikenakan Alman.
"Mengapa kau ke sini?" tanyanya yang terkejut.
__ADS_1
"Menjemputmu." Alman menjawab santai, matanya tak henti memandangi pesona sekretaris pribadi neneknya.
"Kemana?" Ann bertanya sinis.
"Kemanapun kau akan pergi." Alman kembali menjawab santai, dia sudah berdiri kini, kedua tangannya di belakang memegang kunci mobil.
"Kau menyopir sendiri?" Ann bertanya seketika melongok di luar Alman memarkir mobilnya, dalam keadaan mesin mati dan tidak ada pak Alex atau Indra.
"Iya."
"Mengapa tidak pakai sopir?"
Aku hanya ingin berdua denganmu." Ann menggelengkan kepala mendengar jawaban Alman. Dia menatap pemuda di depannya dengan hati berdebar-debar. Alman hanya tersenyum manis, semakin menambah ketampanannya, semakin pula membuat hati Ann kejang-kejang karena pesonanya.
"Aku hanya merindukan ibuku." Ann bicara perlahan. Alman mengangguk pengertian.
"Aku sudah memesan ojek online tadi, sebentar lagi pasti datang, kau bisa pergi." Ann melanjutkan.
"Aku sudah membayarnya, dia sudah pergi. Aku akan mengantarmu ziarah ke pusara ibumu. Ayo cepatlah, jangan sampai kemalaman lagi." Alman bicara menegaskan.
"Aku juga akan bertamu ke rumah bibi Ratih, kau pergi saja." Ann mencoba menolak lagi dengan alasan lain.
"Itu bukan masalah." Alman menjawab.
Ann tidak berkata lagi. Dia sempat menarik napas dalam lagi, kemudian mengikuti langkah Alman yang seketika menarik tanganya menuju mobil yang terparkir di luar pagar kontrakannya. Alman membukakan pintu untuk Ann sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Sementara di kejauhan sebuah mobil berhenti sekitar lima puluh meter karena melihat mobil cucunya ada di sana.
"Pak Yoga benar, wanita yang dicintai Al itu adalah Ann. Tapi bagaimana mereka bisa berkenalan? Sebelum bertemu denganku Tau setelahnya?" Nenek tersenyum manis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kasihan sekali kalian nak, Alman akan segera menikah." Nenek mengeleng-gelengkan kepala lagi.
Berawal dia ingin membicarakan sesuatu dengan Ann sebelum kepulangan suaminya, dia akan menjemput Ann dan pergi ke suatu tempat. Nenek menghentikan mobil setelah melihat mobil Alman terparkir di kontrakan Ann. Pak Yoga kemudian membuka sebuah rahasia di perjalanan ketika nenek tidur.
"Pantas saja dia bertingkah aneh." Bu Cita tersenyum kembali.
__ADS_1
*****bersambung*****