Laut dan Cinta

Laut dan Cinta
Makan Malam


__ADS_3

Kebahagiaan keluarga Aji Syahbana atas kepulangan kembali ke rumahnya dari perjalanan bisnis ditandai dengan jamuan makan malam bersama. Malam Minggu, semua keluarga berkumpul di ruang makan besar dengan interior ruangan dipenuhi kayu jati kelas utama. Bukan hanya karena kedatangan kakek, tetapi kehadiran satu keluarga lainnya semakin membuat suasana menjadi meriah, Zellin beserta kedua orang tuanya, juga kakek dan neneknya. Mereka hadir untuk membahas rencana pernikahan Alman dan Zellin.


Dua keluarga kumpul dalam satu meja jati fiber super dua belas kursi. Kali pertama Ann melihat langsung sosok Pak Aji Syahbana, seorang laki-laki kharismatik dan tidak terlalu banyak bicara. Senyumnya selalu ramah kepada keluarga tetapi mahal bagi orang asing seperti Ann. Badan besar tinggi kulit hitam manis dengan rambut putih tertata rapi. Jambang putihnya terpelihara. Wajahnya mirip sekali dengan Alman. Wajah bersih dengan tatapan mata yang tajam. Hidung mancung dipadukan dengan bibir tipis seimbang. Perpaduan nan elok dipandang. Sedangkan Pak Daniyal dan Bu Rily, Ann sudah mengenalnya beberapa sore kemarin.


Kakek Zellin duduk berdekatan dengan Pak Aji Syahbana, mereka nampak sangat akrab. Nenek Zellin pun duduk berdekatan dengan Bu Cita, Bu Rily, ibunya Ann duduk dengan bu Titik istrinya pak Suharli yang duduk dan mengobrol akrab juga dengan Pak Daniyal. Zellin sudah duduk diapit Bu Rily dan Bu Titik. Nitha dan suami duduk pula berdekatan, sedangkan Steve Ismail Syahbana, putra tunggal mereka, berusia empat tahun bermain dengan dua orang pengasuh.


"Al kemana, mengapa dia terlambat sekali turunnya." Pak Aji Syahbana menatap ke arah tangga yang kosong. Di bawah tangga berjejer empat orang pelayan wanita dengan seragam rapi. Agak berjarak satu meter dari ketiganya, Ann nampak berdiri pula di sana, siaga jika nenek memerlukan sesuatu.


"Andi, tolong kau panggilkan Alman agar segera turun dan ikut makan malam bersama." Pak Daniyal meminta tolong seorang sopir yang kebetulan masuk menggantungkan kunci mobil yang baru dicucinya.


"Baik pak." Pak Andi segera naik ke lantai atas dan segera turun dengan wajah agak kaku.


"Mana Al? Kulihat seharian dia malah di kamar terus." Pak Daniyal bertanya melihat pak Andi turun sendirian saja.


"Katanya belum lapar pak, dan badannya kurang sehat." Pak Andi menjawab.


"Okelah, terima kasih pak Andi, ayo makan sini." Pak Daniyal menawarkan.


"Terima kasih pak, nanggung makan sekarang mah saya belum lapar." Pak Andi menolak dengan halus.


"Itu siapa yang gantikan Nora itu, ayo makan sini nak, serempak sama-sama." Pak Daniyal memanggil Ann.


"Silahkan pak, terima kasih. Saya jarang makan malam." Ann menjawa lembut sambil membungkuk.

__ADS_1


"Ann kita bukan di Jepang, tidak usah membungkuk-bungkuk begitu, sini makan sama-sama." Bu Cita menawarkan, namun Ann membalas ucapan Nenek Alman itu dengan lambaian tangan dan permohonan maaf. Sementara pak Aji Syahbana hanya sekilas saja menatap ke arah Ann dan kemudian berjalan ke pangkal tangga mewah rumahnya.


"Al, turun makan, kalau kau tidak turun semua tidak akan makan." Kakek bicara dari bawah. Tidak lama kemudian Alman turun dengan wajah tidak bergairah. Tidak segaris pun nampak senyum di wajahnya.


"Apaan sih kakek, orang kurang enak badan begini dipaksa makan terus." Alman merutuk. Dia mengenakan baju kaos oblong putih dan celana Chinos selutut warna tosca.


"Tidak apa-apa Ji kalau Alman kurang enak badan, jangan dipaksa makan." Kakeknya Zellin mengingatkan.


"Dia makannya memang tidak teratur, semakin tidak diatur ya semakin menjadi-jadi saja." Kakek terkekeh kecil beralasan. Alman duduk di sebelah kakeknya. Bu Rily memberikan sepiring nasi dan semangkok lauk gulai ikan bakar kakap merah. Alman menerimanya sambil kepalanya mengedarkan pandang di seputar ruang makan itu. Hanya nampak empat pelayan wanita dan dua pelayan laki-laki. Dia mencari Ann, biasanya Ann selalu menunggui nenek makan.


"Kau mencari siapa Al?" Nitha tak urung bertanya melihat adik laki-lakinya celingak-celinguk. Mendengar pertanyaan itu semua mata mengarah kepadanya, termasuk Zellin yang dari tadi heran menatapnya. Dia menunggu pemuda tampan itu menyapanya dengan mesra. Mengajaknya berdiskusi masalah pernikahan mereka.


"Tidak mencari siapa-siapa. Hanya kurang enak di leher, makanya mesti agak diputar-putar sedikit." Alman berbohong sambil menggerak-gerakkan kembali lehernya. Nitha hanya mengedikkan bahu dan memonyongkan mulutnya sedikit mendengar jawaban Alman yang terkesan mengada-ada.


Suasana kembali senyap, semua fokus menikmati makanan. Sementara Bu Cita mengangkat kedua mata dan sedikit memoyongkan bibir menunjuk ke arah Ann yang sedang menelpon seseorang di luar. Alman memicingkan kedua mata melihat gerak wajah nenek yang seolah mengerti apa yang sedang dia lakukan, mencari Ann. Alman melongok keluar, nampak Ann sibuk menelpon seseorang. Alman mulai makan.


*****


Steve sudah rewel karena mengantuk. Namun dia sempat berbisik-bisik dengan Bu Cita. Alman sempat melihatnya.


"Jadi kau tidak akan mengambil gelar doktor ya Zell?" Kakek bertanya kepada Zellin yang sibuk menatap Alman. Namun Alman begitu cueknya. Tak ada sepatah katapun yang dia ucapkan telah sudi makan malam bersama kuarganya di Muntok.


"Tidak kek, sudah agak penat dengan materi kuliah." Zellin menjawab, matanya mengerling mengharap reaksi baik dari Alman. Namun Alman seolah tidak mendengarnya.

__ADS_1


"Nah makanya kita percepat saja pernikahan kalian, biar Zellin punya aktivitas baru nantinya, mengurus Al kan luar biasa, ditambah kalau kalian sudah punya momongan kan bisa membuang jenuh keseharian dengan anak kalian. Punya anak itu sangat menyenangkan lho." Kakek bicara sambil tersenyum ramah. Matanya mengitari semua yang ada di ruangan itu. Zellin hanya tersenyum malu.


"Sebenarnya itu tergantung mereka. Maunya kapan?" Neneknya Zellin bicara sambil bergantian menatap Alman dan Zellin.


"Iya kalau mereka mau besok pun, kita sudah siap kan Ly?" Bu Titik akrab bertanya kepada Bu Rily, ibunya Alman yang seketika mengangguk tersenyum.


"Bener san (panggilan akrab seakan sudah menjadi besan), kapan saja mereka mau kita tinggal telpon sana sini, selesai." Bu Rily menjawab. Sementara Bu Cita hanya diam saja. Dia menatap cucu kesayangannya yang nampak gelisah.


"Bagaimana Al? Mau dipercepat pernikahannya? Saya juga sangat mengharapkan punya cucu segera." Pak Daniyal bertanya kepada putra bungsunya.


"Apalagi saya pak Daniy, belum punya momongan sama sekali, jadi memang sudah pengen banget segera menimang cucu." Pak Suharli bicara santai. Matanya menatap ke arah Alman yang tidak kunjung menjawab.


"Bagaimana nak? Zellin? Al? Kapan waktu kalian mau menikah, orang tua kalian berharap sesegera mungkin." Kakek bertanya dan kembalu menatap Alman dan Zellin bergantian.


"Secepatnya saja tidak apa-apa. Terserah Al maunya kapan." Zellin malu-malu menjawab. All menatap Zellin sesaat, kemudian matanya berkeliling menatap ke semua yang ada. Nenek hanya tersenyum mengangguk kepadanya saat mata mereka bertemu. Neneklah yang tahu apa yang sebenarnya sedang dirasakan cucu kesayangannya. Sejenak hening, akhirnya Alman bicara dengan segala pertimbangan.


"Mohon maaf kakek berdua, nenek berdua, ayah ibu, tante Titik dan om Suharli terutama Zellin. Al merasa sama sekali tidak ada kecocokan dengan Zellin. Mohon batalkan rencana pernikahan ini. Jujur saja kakek, Al tidak ingin perjodohan ini dilanjutkan. Al sudah memiliki wanita yang benar-benar Al cintai." Alman sambil berdiri bicara. Dia kemudian naik tangga dan masuk kamar, terdengar suara pintunya ditutup. Semua yang ada di ruangan itu menjadi tercengang. Di luar dugaan mereka, Alman akan bicara seperti itu. Terlebih Ann yang baru kembali masuk ke ruangan itu sehabis menelpon. Dadanya bergetar hebat. Bagaimana mungkin Alman benar-benar akan mengatakan itu kepada kakeknya yang terkenal tegas. Ann mulai merasa tidak nyaman.


"Mungkin dia lagi ada masalah, jangan diambil hati pak Jaya, bu Jaya, nak Suharli dan Titik, apalagi Zellin. Kalian itu sangat cocok kok nak." Pak Aji Syahbana menahan emosinya mencoba bicara menenangkan. Namun kakeknya Zellin langsung berdiri.


"Mohon maaf Ji, aku salah mengira, kupikir cucumu sudah setuju menikah dengan cucuku. Tetapi dia malah berbicara seperti itu. Jika tahu hal ini sebelumnya, aku dan keluargaku tidak akan datang ke sini untuk mempermalukan diri." Pak Jaya tersinggung.


"Bukan begitu Jaya, dia sudah setuju kok sebelumnya, mungkin dia lagi ada masalah saja." Pak Aji Syahbana mencoba menenangkan kembali.

__ADS_1


"Terima kasih, kuanggap semua sudah usai Ji, jangan karena kami tidak sekaya kalian, cucumu menolak mentah-mentah seperti itu. Ayo bu, nak, Zellin kita pulang ke Pangkalpinang malam ini juga." Kakek Zellin berdiri diikuti istrinya. Pak Suharli dan istrinya masih mencoba beramah tamah dengan Pak Daniyal dan Bu Rily. Begitu juga dengan nenek, hanya kakeknya Zellin dan Pak Aji Syahbana yang nampak langsung berjarak. Mereka berlima akhirnya pulang dalam keadaan emosi. Zellin tidak berkata sepatah katapun setelah mendengar pernyataan Alman. Dia hanya menahan sakit hati bahkan sebuah dendam.


*****bersambung*****


__ADS_2