
Ann dipersilahkan duduk setelah berkasnya diterima panitia. Dia diseret Fee agar duduk di kursi bagian depan yang masih kosong. Ann sebenarnya ingin duduk di bagian paling belakang bahkan di ruangan yang berlainan dengan orang banyak. Selain kurang percaya diri, dia takut nanti mengantuk di depan saat ada pengarahan dari Pemilik Hotel megah ini. Ann semalaman tidak bisa tertidur pulas, selalu terjaga dan begitu terkesan dengan handphone baru beserta uang tunai dua juta sisa diberikannya kepada Bibi Ratih. Ann bertukar nomor Whatapp dengan Fee. Seorang pelamar laki-laki yang duduk persis di sebelahnya juga ikut meminta bertukar nomor whatapp dengannya. Ann memang menarik. Tatapan mata indahnya membuatnya nampak lebih dewasa dari usianya. Hidungnya yang mancung menbah daya tariknya. Dia murah tersenyum kepada siapa saja, itu yang membuat dia disukai orang meski bertemu baru untuk kali pertama.
"Hadirin, kita sambut ibu Cita Retnowiyati Aji Syahbana yang akan memberikan sedikit pesan kepada kita semua. Berikan tepuk tangan yang meriah untuk Ibu Cita Syahbanaaa...," suara seorang Host mengagetkan Ann yang sedang asyik bertukar nomor telepon dengan laki-laki di sebelahnya. Diletakkannya handphone ke saku celana jeansnya. Lalu Ann menatap ke arah serombongan orang yang baru datang ditengah gegap gempita tepukan tangan para pelamar. Lagi-lagi Ann terpanah. Nampak menuju mimbar seorang Nenek cantik yang sangat bersahaja. Para pelamar berdiri menyambutnya. Ann mengikuti dengan perasaan heran. Dia baru menyadari nenek yang familiar dalam ingatannya yang buntu waktu itu dulu, rupanya adalah pemilik Hotel BRC. Bu Cita Syahbana. Wanita yang telah memberinya sebuah handphone yang mahal.
"Baik, berbekal pengalaman penerimaan karyawan sebelumnya yang ricuh, kali ini sebelum tes berlangsung, Ibu Cita Syahbana akan memberikan sedikit saja sambutan perihal penerimaan karyawan kali ini. Silahkan Ibu Cita." Host laki-laki itu kembali menyilahkan Bu Cita yang segera berdiri, berjalan anggun menuju mimbar bertuliskan BRC Hotel. Dia mengangguk dan tersenyum indah. Sebelum memegang microfon dia menurunkan selendang keemasan ke bahu dari kepalanya yang berjilbab modis.
"Selamat Pagi semuanya. Assalamualaikumwarahmatullahiwabarokatuh."
Bu Cita dengan anggun menyapa para pencari kerja. Hadirin menjawab bergemuruh. Ann tiba-tiba merasa merinding kagum. Dia tak henti berdecak terpesona.
"Baik, sedikit saja, Ibu hanya ingin menyampaikan kepada anak-anakku semua yang nampak antusias ingin bekerja sama di hotel ini, mohon kiranya kepada para pelamar yang nantinya tidak lulus sampai akhir atau belum diterima bekerja di sini agar tidak melakukan keributan sebagaimana yang terjadi sebelumnya. Itu hanya akan membuat kita sama-sama dirugikan. Seperti yang terjadi tahun kemarin, para pembuat onar malah masih mendekam di penjara hingga sekarang. Siap tidak anak-anakku untuk berlaku sportif?" Bu Cita bicara sekaligus bertanya dengan intonasi yang sangat keren dimata Ann.
"Siap bu." Hadirin serentak menjawab.
"Baiklah, bersainglah secara sportif, dan semoga kalian beruntung." Nenek itu mengangguk, melambaikan tangan dan langsung kembali berjalan diikuti rombongan pengawal dan keluarga dekatnya menuju pintu keluar.
Sepanjang ruangan menyusuri karpet Bu Cita tersenyum menawan kepada beberapa kamera wartawan dan para pelamar. Semua orang berdiri menghormatinya, beberapa orang di dekat kursi deretan sebelah kanan berkesempatan bersalaman langsung. Ann berdebar-debar menyaksikan. Namun jaraknya tidak mungkin tersentuh untuk ikut bersalaman.p
"Nenek!" Ann spontan memanggil Bu Cita yang anggun sekali berjalan menuju pintu keluar diiringi pengawal dan anggota keluarganya. Seketika para pelamar menatapnya iba. Ada pula yang cekikikan merasa lucu melihat tingkahnya. Jangankan menyahut, menoleh pun bu Cita tidak sama sekali. Mungkin karena panggilannya berbaur dengan sapaan ramah para pelamar, maka suaranya tidak terdengar oleh bu Cita. Ann kembali duduk. Beberapa orang masih cekikikan menertawakannya. Ann menahan malu yang teramat dalam. Namun mencoba menepisnya.
"Makanya jangan sok kenal, sok akrab sok dekat. Biar apa coba? Malu sendiri jadinya." Seorang gadis cantik yang duduk di belakangnya menegur sinis. Ann hanya menoleh sesaat.
"Maaf, tapi aku serasa mengenal Beliau," Ann bicara perlahan.
"Hahaha..., "Gadis cantik bergaya rambut seperti seorang artis di belakangnya tadi tertawa lagi. Dia berpandangan sinis penuh arti dengan beberapa teman di dekatnya. Ann mencoba untuk tidak mempedulikan, meski kupingnya memerah menahan malu dan sakit hati.
"Kalau merasa tidak mampu bekerja di sini, gih susul nenekmu keluar sana. Tidak usahlah mau mencari simpati kami seolah-olah kau mengenalnya. Kami tidak akan tertarik dengan semua itu." Gadis itu mencemooh lagi. Namun Ann masih tidak membalasnya. Dia diam saja dengan dagu menopang kedua lengannya yang lurus di meja.
"Hei cucu nenek, kau tak mendengarku?" Gadis itu menendang ke arah kursi Ann melewati bawah meja depannya. Ann masih saja diam, tak ingin menanggapi.
Fee tiba-tiba berdiri tegak dan langsung menggebrak meja.
__ADS_1
"Hei, dia mau memanggil nenek, kakak, kakek terserah dia, apa urusannya denganmu? berhentilah menghina orang." Fee meradang. Beberapa pelamar mulai bergerombol mendekat mendengar keributan.
"Kau yang seharusnya diam tau. Aku kan tidak mengganggumu, mengapa kau yang ikut campur hah?" Gadis itu ikut berdiri, tangannya berdiri dengan tinju menggumpal erat. Kecantikannya hilang saat emosi. Ann menarik napas melihatnya.
"Sudahlah Fee, maafkan aku." Ann menarik lengan sahabat barunya. Fee memandang wajah memelasnya lalu dia menurut saja, kembali duduk sambil menggerutu.
"Owh mereka berteman rupanya, pantesan wajah-wajahnya mirip cleaning service." Gadis itu menghina keduanya. Fee menoleh lagi dengan marah. Namun Ann malah berdiri di dekatnya agar pandangan Ann terhalang ke wajah Gadis yang masih sengaja memancing emosinya. Fee diam, dia mengambil handphonenya lalu mengutak-atiknya sembari langsung menuju media sosial. Update status.
"Ra, Rara..., diamlah itu idolamu sedang lewat menuju ruang interview khusus pelamar sekretaris pribadi keduanya. Katanya dia langsung yang interview karena berbeda pandangan sama sekretaris pribadinya yang satu itu dan juga HRD." Salah satu teman Gadis yang dipanggil Rara tadi mencolek Rara sambil bicara. Rara seketika menghentikan rencananya untuk kembali memancing emosi Fee dan Ann. Dia menoleh ke arah yang ditatap sahabatnya.
"Waw, benar-benar berkharismaaa..., Dia bertambah ganteng sejak putus dengan Cintya." Rara berdiri kegirangan. Alman melewati ruangan itu beserta dua orang pengawal dan satu sekretaris pribadi laki-laki yang lebih tua dari usianya.
"Kau melihatnya Ann?"
"Siapa?" Ann lesu menjawab.
"Itu yang barusan lewat. GMnya hotel ini, pak Alman yang ganteng itu, yang tadi lewat lift pribadi waktu di loby hotel." Fee mengingatkan Ann. Ann segera menegakkan badan. Namun tidak nampak lagi siapa yang dimaksud Fee ketika dia menoleh.
"Sudah lewat. Kamunya lama mikir." Fee mencubit lengan Ann. Sementara Rara mulai asyik dengan sebuah tas kecil di meja depan tempat duduknya. Dia memoles bedak dan lipstik kembali. Menyemprot badan dengan parfum yang lembut wanginya. Ann sejenak saja menoleh. Dia tidak ingin mata Rara lama melototinya tidak suka. Selesai berdandan, Rara cekrak cekrek kembali berselfie. Dia nampak semakin cantik saja.
"Baik kita akan mulai interview dengan bagian HRD, semua yang sudah masuk di ruangan ini artinya sudah memenuhi syarat secara administrasi. Kita sudah atur ruangan ini untuk dibagi berdasarkan jenis pekerjaan. Selain pelamar Sekretaris Pribadi Kedua pak GM, semua tetap di sini, pelamar sekretaris ke ruangan sebelah langsung bertemu Pak Alman." Pihak panitia menginformasikan melalui microfon. Ann menatap Fevia yang tersenyum girang. Dia akan wawancara langsung dengan Alman yang tampan itu.
"Saya ke ruang sebelah ya Ann, tunggu aku, kita pulang barengan saja, kita mampir makan bakso dulu, setuju? Aku yang traktir." Fee menepuk pundak Ann dengan hangat. Rara sudah meninggalkan mereka dengan penuh percaya diri. Ann mengikuti arahan panitia, menunggu antrian sebagai pelamar cleaning service. Dari hampir ribuan pelamar, hanya cleaning servicelah yang paling sedikit peminat. Sejumlah tujuh belas orang yang dibutuhkan sepuluh orang. Ann optimis akan mendapatkan jatah kuota satu.
Sedetik, Semenit, dua menit dan belumlah sampai lima belas menit dia menunggu, Fee datang mengagetkannya dengan wajah kurang darah. Mukanya lesu tanpa gairah. Ann penasaran dibuatnya.
"Bagaimana hasilnya Fee? Apa saja yang ditanya pak Alman? Apa kau bisa menjawab semua pertanyaannya dengan baik?" Ann antusias bertanya. Fee duduk di sebelah Ann dengan kasar meletakkan pantat seksinya.
"Jangankan lolos, ditanya saja tidak." Fee menjawab sedih.
"Lho katanya wawancara?" Ann semakin bingung.
__ADS_1
"Iya, tetapi dari pintu masuk sudah dilihatnya sama si sombong itu dari cara berjalan, cara berpakaian, dan entah apa-apa yang dilihatnya secara fisik. Kurang apa coba aku ini? Sudah cantik, langsing, berpendidikan, bisa bahasa Inggris. Huh! Memang benar-benar menyebalkan GM itu. Sombong sekali dia padahal wajahnya tidak ganteng-ganteng amat ih." Fee nampak sebal menjelaskan.
"Bukankah tadi kamu bilang dia ganteng banget?" Ann berseloroh memancing.
"Ah itu mah tadi, mataku saja yang salah." Fee kembali menyahut.
"Jadi keterima tidak nih?"
"Belum wawancara saja punggung tangannya sudah mengisyaratkan agar aku keluar ruangan." Fee merengut bicara.
"Hah? Searogan itukah dia?" Ann mengernyitkan keningnya.
"Iya." Fee menjawab cepat.
"Huh! Andai saja aku tahu bakal begini mending melamar ke divisi kamu saja, jadi house kepper atau cleaning service begitu, aku menyesal Ann." Fee merebahkan wajah ke pundak Ann. Ann hanya tersenyum saja.
"Sudahlah, jadikan pelajaran, mungkin rejeki kamu ada di tempat lain Fee." Ann menjawab bijaksana.
"Tapi aku pengen sekali jadi sekretaris keduanya pak Alman Ann..., Dia itu ganteng sekali Ann...."
"Lha? Kok ganteng sekali. Tadi tidak ganteng-ganteng amat, yang bener yang mana? Aku kan jadi bingung."
"Dia nggak ganteng sama sekali ah." Fee kembali emosi.
"Itu Pak Alman lewat." Ann bercanda.
"Mana mana mana, mana si ganteng itu." Fee menegakkan badan menatap ke arah pintu. Ann terkikik kecil sambil mendorong badan Fee yang menggelitiknya. Nampak mereka mulai akrab meski baru bertemu. Senyum keduanya mengembang. Tak lama kemudian Rara melewati pintu depan dengan wajah yang tak kalah cemberut dari Fee.
"Dia pasti juga kena usir dengan punggung tangan Pak Alman." Fee terkakak besar. Para pelamar spontan menatap ke arahnya. Fee menutup mulutnya dengan tawa tertahan. Sementara Ann tersenyum-senyum lucu. Dia bahagia menemukan teman baru.
*****bersambung*****
__ADS_1