
Seorang gadis memarkir motornya di rumah kontrakan mereka. Dia membuka pintu depan yang terkunci. Kebiasaannya bersama Ann karena waktu pulang mereka tidak bersamaan, mereka memegang kunci masing-masing. Siapapun yang pulang duluan akan mencabut kunci rumah agar yang terakhir pulang bisa membuka pintu tanpa mengganggu temannya.
Jam dua belas malam lewat sepuluh menit Fee masuk rumah kontrakan dengan wajah kesal. Mereka memang punya masing-masing satu kamar. Namun tidurnya lebih sering berbarengan sambil bercerita dan melepas unek-unek masing-masing.
Begitu juga malam ini, Fee masuk kamarnya sesaat lalu melemparkan tas kerjanya ke atas tempat tidur. Dia kemudian langsung menuju kamar Ann yang terbuka dan menghempaskan diri di kasur. Dia melenguh panjang.
"Ann, bagaimana pekerjaanmu hari ini? Aku kesal banget malam ini, Pak Daniyal marah-marah di sekretariat hanya gara-gara gelas minum tamu di lobby tinggal tiga buah. Pak Aji tiba-tiba melakukan inspeksi ke bagian-bagian, semua pada kaget, ada salah sedikit semua kena semprot. Entahlah semua jadi kacau, karyawan pada mengeluh malam ini. Katanya semua berubah seketika karena ulah si cowok tampan itu Ann." Fee menepuk-nepuk selimut. Dia memutar badan menghadap ke Ann biasa tidur.
"Kau tau gosipnya tidak Ann? Katanya Pak Alman malam ini pergi mau kawin lari dengan seorang gadis biasa Ann, si doi tidak mau dijodohkan. Se hotel-hotel dan se-kota ini dibuat heboh padahal baru juga kejadian beberapa jam lalu. Uhhh.... andai saja gadis biasa itu adalah aku Ann, aku yang diajak kawin lari oleh si tampan tajir itu. Ya Allaaah..., akan kupeluk cium dia tujuh hari tujuh malam tanpa makan tanpa minum, tanpa ganti baju atau tidak berbaju sekalian." Fee memeluk Ann dalan selimut yang menjauhinya. Sementara mahkluk dalam selimut menggigit lidah karena hampir tercelekit menahan ketawa mendengan perkataan Fee barusan.
"Kau kenapa sih Ann? Kok pakai selimut menutup sekujur tubuh begitu? Kau sakit? Sakit hati juga mendengar Pak Alman lari dengan wanita biasa saja yang disebut-sebut orang sebagai cinta sejatinya? Udah kayak pocong saja kau dibuatnya." Fee masih mencoba menarik dan memeluk Ann. Namun manusia dalam selimut itu berusaha menahan agar selimutnya tidak terbuka.
"Ann! Ih nggak asyik banget sih kamu malam ini. Gosip hebooohhh..., Pak Alman Daniyal Aji Syahbana, pria playboy cap tenggiri itu, si hensam sejagat kota ini, yang meski tempramen dan songong itu lho Ann, dia pergi dari rumahnya demi gadis biasa. Awh awh awh..., so sweet banget sih tu cowokkk...." Fee dengan gaya lucu masih mencoba memeluk Ann.
"Fee? Kau sudah pulang? Fee! Menjauh dari situ." Ann seketika menarik Fee yang terdiam dan bingung. Dikiranya Ann lah isi selimut yang sering mereka pakai berdua. Dengan agak terhuyung Fee berdiri dan mengernyitkan kening penasaran.
"Ann? Kau? Lha ini siapa di bawah selimut kupeluk-peluk dari tadi?" Fee kebingungan menjauh.
"Kau peluk? Fee..., ih kok bisa kau peluk? Fee! Kau tidak baca pesanmu ya? Ih...! Percuma aku ngetiknya udah kayak puisi Chairil Anwar saja, ujung-ujungnya kau peluk juga suamiku, tak kau baca pesanku." Ann merengut marah namun tidak serius. Dia geli melihat ulah satu-satunya sahabat dekatnya saat ini.
"Apa? Suamimu? Kapan kau menikah Ann?" Fee mencoba membuka selimut kembali namun selimut akhirnya dibuka sendiri oleh Alman yang dari tadi menahan tawa lucu.
"Siapa tadi yang dibilang cowok playboy cap tenggiri? Cowok tempramen? Kalau hensam sih iya saya banget." Alman duduk membuka selimut sambil tersenyum penuh percaya diri.
__ADS_1
"Pak Alman?" Hah? Jadi Pak Alman rela meninggalkan segalanya demi gadis biasa..., apakah Ann? Kau kah yang membuat heboh sejagat kota ini? Bapak beneran Pak Alman kan? Bukan hantu kan?" Fee menepuk-nepuk kedua pipinya, mencoba menyadarkan diri sendiri bahwa apa yang dia lihat hanyakah sebuah mimpi.
"Fee..., baca whatappmu." Ann menggelitik Fee yang masih terbelalak tak percaya. Fee tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ann..., Pak Alman..., jadi ini benar kalian? Kalian akan segera menikah benarkah?" Fee masih belum yakin.
"Kami sudah menikah." Ann dan Alman berbarengan menjawab. Alman berdiri, dan nampak dia mengenakan baju tidur Ann berwarna ping motif kembang-kembang. Celana itu hanya menutup sedikit dibawah lutut Alman yang berbadan tinggi.
"Aku tak percayaaa Ann..., ini mimpi atau aku sudah gila?" Fee menutup kedua telinganya dan keluar dari kamar. Dia duduk di sofa ruang tamu setelah mengambil handphone dalam tasnya di kamar. Matanya terbeliak dengan mulut ternganga menggeser-geser layar handphone, melihat foto-foto yang dikirimkan Ann beberapa menit yang lalu.
"Aku harus bilang apa Ann?" Fee meringis. Dia meletakkan ponsel ke atas meja. Tangannya menengadah sambil mengedikkan bahu.
"Entahlah, aku juga tak tau harus bilang apa." Ann duduk di samping Fee. Sementara Alman kembali ke kamar berganti baju yang dipakainya sehari ini. Dia tidak punya baju lainnya lagi.
"Jadi Ann berhenti bekerja? Lha gimana kontrakan, aku auto pindah dong Ann kalo sendirian. Ini mahal kalo sendirian bayarnya.
"Entahlah." Ann menjawab bingung.
"Jadi apa rencana kalian setelah semua ini terjadi, kok entahlah?" Fee ikut bingung.
"Kami akan mengasingkan diri dari keramaian. Menikmati hidup berdua, bertiga, berempat dan seterusnya di dalam hutan. Itu akan menyenangkan." Alman menjawab santai. Dia tersenyum-senyum membelai rambut Ann yang terurai.
"Pak Alman tolong pak." Fee bicara seolah memelas.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Jangan bermesraan di depanku, aku takut menjadi gadis halu." Fee pura-pura menangis.
"Hahahahaaa...," Ketiganya akhirnya tersenyum akrab, banyak cerita yang mereka bagi di malam itu. Tentang kehebohan kantor karena mereka berdua. Tentang gagalnya rencana merger hotel BRC dengan Hotel Anom milik kakeknya Zellin yang juga punya perusahaan air minum kemasan lokal. Ann dan Alman bergantian bercerita bagaimana kisah mereka menikah dan resepsi langsung dengan sekitar dua puluh orang saja bermenukan burger dan minuman segar. Ann bercerita bagaimana Alman kekurangan uang cash saat mau membayar pesanan onlinenya. Ketiganya kembali tertawa Subuh yang dingin, Subuh muda dengan hiasan rintik hujan menemani mereka yang mencoba mendirikan pondasi cinta yang kokoh.
"Eh, sudah hampir jam tiga. Apa kalian belum mau tidur? Kalian belum anu kan?" Fee bertanya dengan mata berkedip penuh arti. Ann dan Alman hanya menggeleng-gelengka kepala tersenyum.
"Aku mau tidur ah..., kalau kalian mauuu..., anu..., jangan berisik suaranya, di mute aja ya. Aku tidak ingin merasakan manusia paling kesepian malam ini." Fee mengambil handphonenya di meja tamu. Lalu dia melambaikan tangan kepada pengantin baru itu, masuk kamar, menutup pintu dan merebahkan badan dengan senyum mengembang.
"Ann sungguh beruntung...." Dia memejamkan mata dan mencoba membuang semua rasa 'halu'.
Sementara Ann sudah digendong Alman menuju ke kamar satunya lagi. Alman menghidupkan kipas angin, kembali menatap sekeliling, dia tersenyum memeluk Ann.
"Akan aneh jika kita bercinta di sini, dia pasti akan mendengarnya." Alman berbisik ke telinga Ann yang tersenyum bergidik kaku.
"Apa yang terjadi? Bagaimana mungkin aku berada di atas kasur yang sama dengan generasi penerus keluarga Pak Aji Syahbana." Ann bergumam dalam hati. Dia kemudian terkikik kecil melihat suaminya kembali berganti pakaian dengan baju ping berbunga-bunga tadi.
"Terima kasih atas semuanya Al, entah dengan apa aku akan membalas jasamu."
"Cukup balas cintaku, dan berikan aku anak yang banyak." Alman berbisik di telinga Ann. Keduanya berbaring, berhadap-hadapan, menyusun rencana esok yang tinggal beberapa jam lagi.
*****bersambung*****
__ADS_1