Laut dan Cinta

Laut dan Cinta
Dekat Tak Bertatap


__ADS_3

Hari mulai gelap, Ann kembali bingung melihat suasana panti asuhan yang begitu ramai. Hiruk pikuk beberapa orang di beranda besar nampak dari kaca.


"Maaf dik cari siapa?" seorang laki-laki tua berbadan kurus tinggi mengagetkan Ann yang kebingungan.


"Mau ketemu bu Rosi pak." Ann dengan sopan menjawab.


"Oh iya masuk saja dik. Saya Pak Danu, sudah sejak berdiri panti ini kerja di sini, ya jaga-jaga." Pak Danu ramah menyambut kehadiran Ann.


"Iya pak, Aku Ann."


"Masuk saja nak, kita lewat sini, di sana lagi mau ada acara. Donatur yayasan kan baru resepsi, mereka mau acara dengan anak-anak kurang beruntung di sini." Pak Danu menjelaskan sambil berjalan.


"Duduklah di sini dulu Ann. Mungkin ibu lagi mengaji."


"Baik pak." Ann menjawab. Pak Danu kembali datang dengan sepiring kecil aneka kue basah dan air mineral kemasan gelas.


"Sambil menunggu ibu Rosi, silahkan dicicipi dik." Pak Danu bicara ramah, Ann berterima kasih.


Seperginya pak Danu, Ann mengamati ruang tamu. Di dinding nampak beberapa foto berbingkai besar. Kursi yang didudukinya kursi jati model lama. Lemari buku berdiri di sebelah pintu masuk. Aneka jenis buku ada di sana. Beberapa bingkai menghias dinding berbentuk aneka bunga dari hasil sulaman. Ann mengamati saja. Hatinya masih diliputi kebimbangan. Dia bingung akan pergi kemanakah selanjutnya. Apakah dia akan menumpang di sana selamanya? Tidak mungkin.


"Ann?"


"Bu...," Ann memeluk bu Rosi yang nampak begitu dewasa dan tenang. Ada puluhan orang di dalam naungannya dengan segala kisah. Bu Rosi paham betul, masing-masing dari mereka memiliki masalah sendiri-sendiri.


"Kau belum bertemu suamimu sayang?" Bu Rosi dengan ramah duduk di dekat Ann.


"Belum bu, aku mendengar dia bahkan sudah menikah." Ann berurai air mata. Bu Rosi mencoba mendengarkan dengan tersenyum tulus.


"Sementara berpikir dan lain sebagainya kau bisa tinggal di sini nak, ini rumah bersama, siapapun boleh tinggal di sini. Kebetulan malam ini kita ada tamu istimewah, donatur tetap yayasan. Ayo bawa barangmu, kau punya satu kamar di bagian belakang. Kau bisa pegang kuncinya langsung."


"Bu, maaf, bolehkah kalau aku istirahat saja sejenak." Ann merasa kelelahan. Dia membutuhkan istirahat, sholat dan menangis. Mengadu lagi kepada Allah yang memberinya nasib berbeda dari orang lain.

__ADS_1


"Boleh nak silahkan saja. Kalau mau bergabung di acara langsung ke depan ya." Bu Rosi mengantar Ann ke kamar bagian belakang. Di rumah bagian belakang, berjejer beberapa kamar dengan fasilitas untuk dua atau tiga orang. Bahkan sebuah kamar ada dihuni sampai sepuluh orang. Ann mengunci pintu dari dalam. Dia mandi dan sholat yang khusuk.


"Ampuni aku ya Allah, hanya mendekati-Mu di saat bersedih saja. Aku lalai, berikan aku petunjuk. Aku sangat merindukan suamiku ya Rabb, tolong berikan aku kesempatan menatap wajahnya, sebelum aku benar-benar pergi dari kehidupannya." Ann tersedu menangis di atas sajadah. Kerinduannya kepada Alman dia tumpahkan melalui sholat. Puas dia menangis, dia membaca Alquran yang ada di dekat tempat tidur. Sejenak dia melantunkan ayat-ayat suci perlahan.


*****


Kemarin malam. Di suatu tempat, setelah selesai sebuah perhelatan besar hingga larut, di sebuah hotel mewah di kota Muntok, di BRC Hotel, Alman melepas pakaian adat Muntok yang membuatnya gerah. Dia masuk ke singgasananya. Zellin mengikuti.


"Kalau bukan karena kakek aku tidak akan menikahimu. Harusnya kau tahu diri. Kau bilang tidak ingin menikahiku pada kakekmu, maka semua akan beres, aku pasti sudah bahagia bersama Ann." Alman marah melihat Zellin mengekornya terus.


"Jangan menyalahkanku terus dong, siapa juga yang suka sama kamu." Zellin protes.


"Ingat ya, jangan sekali pun mencoba merayuku. Potongan jasad dan jiwa ini sudah ada pemiliknya. Ann." Alman melotot ke arah Zellin yang hanya tersenyum melecehkan.


"Kebuasanmu akan berubah seketika kala ku membuka pakaianku." dengan senyuman licik Zellin menjawab.


"Aku tidak akan tergoda olehmu."


"Menjijikkan! Najis aku menyentuh seujung kukumu." Alman meninggalkan Zellin yang masih menatap Alman dengan segala rencana besar.


*****


"Sudah siap semua?" Nenek bertanya ketika di dalam mobil.


"Sudah nek." Zellin menjawab sok akrab, nenek hanya tersenyum setengah bibir, dia tidak menyukai Zellin, hanya saja sama dengan Alman, demi nyawa suaminya.


"Baiklah jalan pak Yoga." Nenek memerintahkan.


Mobil berisikan Alman, Zellin, Bu Lily, Pak Daniyal, dan Bu Cita itu pun melaju, mengarah menuju sebuah panti asuhan yang selama ini sering mereka kucuri dana operasional dan lainnya.


"Bersikaplah nanti, seolah kita tidak ada masalah." Nenek mengingatkan Alman.

__ADS_1


"Baiklah nek." Zellin menjawab cepat. Matanya melirik penuh arti ke arah suaminya.


"Aku capek harus menjadi orang yang berpura-pura baik sedangkan sebenarnya aku tidak baik-baik saja." Alman bicara datar. Nadanya menyiratkan ketidaksukaan.


"Sebentar saja Al, jangan sampai orang luar melihat ketidakharmonisan kalian." Nenek mengingatkan.


"Hanya sekali ini saja. Setelah itu aku akan mencari tahu sendiri dimana keberadaan Ann." Alman menjawab.


"Minimal pulihkan dulu kesehatan kakekmu." Nenek kembali mengingatkan.


"Itu tugas nenek." Alman menjawab sinis kembali.


"Al!" Pak Daniyal memandang Alman tidak suka. Alman diam, dia tidak ingin berdebat lagi.


*****


Ann yang bersiap bergabung dengan penghuni panti dalam sebuah acara seketika berhenti tatkala melihat koran terbuka yang menampakkan sebuah gambar yang tak asing lagi baginya. Ibunya. Iya itu foto ibunya ketika mudah dulu, mengapa ada di koran?


Ann mengambil koran dan membawanya ke dalam kamar kembali. Dia menunda niatnya bergabung beserta penghuni panti lainnya. Dibacanya judul besar pada halaman depan penuh warna.


"Pemilik Hotel SDwipa Palembang mencari anak kandung yang hampur dua puluh tahun menghilang."


Ann mengulang-ulang judul dengan huruf besar di halaman utama. Nampak di gambar sebuah foto persis foto ibunya, Darina. Ann berkonsentrasi pada isi artikel. Tidak salah lagi, dari sudut mana pun itu adalah foto ibu kandungnya. Ann kembali ke artikel, seorang pemilik hotel keturunan Jepang, Yoko Aidi dan istrinya sedang mencari satu-satunya anak kandung mereka yang diduga melarikan diri dan sudah tinggal lama di Bangka. Foto terakhir nampak seorang wanita tinggi semampai, mirip seperti Ann saat ini. Foto persis seperti foto yang tersimpan di album foto ibunya.


Mata Ann kembali menatap lekat foto pasangan di koran itu. Bukankah itu pak Yoko Aidi? Ann mengucek mata berkali-kali dengan jantung berdebar-debar kencang. Apa mungkin dia adalah keturunan pak Yoko? Benarkan nama Darina yang dulu membuatnya berdebar adalah Darina yang sama yang dibahas nenek dan pak Yoko. Ann terus menduga-duga dengan hati berdebar. Bagaimana mungkin foto itu sama persis dengan foto ibunya waktu dulu? Tapi jika ingin mengaku ke pak Yoko? Apakah dia akan terlihat begitu bodoh datang tanpa selembar bukti apapun. Bukankah rumah dan segala isinya sudah terbakar habis? Ah, meski abai dengan segala dokumen, Ann masih punya kesempatan mendapatkan duplikat atau arsip yang dimiliki badan kependudukan. Mengapa dia tidak mencoba? Ann bukan tergiur dengan segala kekayaan pak Yoko, hanya saja sebuah kerinduan ketika Ann yang merasa sudah hidup sebatang kara, ternyata memiliki keluarga sedarah. Ann bersemangat dan sudah bertekat akan mendatangi kantor kependudukan. Siapa tahu benar, dan inilah misteri mengapa ibunya tidak pernah dengan jelas menyebut siapa ayah kandungnya. Dia kembali sholat sunnah memohon kelancaran. Hatinya terus saja berdebar dan merasa dekat dengan Sang Pemilik Hidup. Dia terus menangis dalam doa panjang. Dia tumpahkan segala sesak di dada atas segala takdir yang tertulis untuknya. Dia tenggelam dalam doa panjang dan pengharapan besar. Tanpa menyadari, potongan hatinya yang terlepas sedang memotong nasi tumpeng bersama penghuni panti. Tanpa Ann sadari laki-laki yang dicarinya sedang berada tidak lebih dari sepuluh meter dari dia berada saat ini.


Sedangkan Alman? Dia menoleh ke kiri dan ke kanan selama berada di yayasan Khodijah itu, Hatinya berdenyut tiba-tiba, bergetar hebat mengalir di nasinya, dia bisa merasakan kehadiran Ann di sana, namun dia tidak menemukan wanita yang sangat dia rindukan itu.


Alman berusaha mencari di beberapa ruangan panti, Zellin mengamatinya tidak suka. Namun ketika dia mendekati ke lorong arah kamar Ann berada, nenek berteriak mengajaknya segera berfoto bersama para penghuni panti asuhan. Alman mrmutar badan, berjalan gontai mengikuti perintah neneknya. Sesekali kepalanya masih menoleh ke arah kamar Ann. Sedangkan Ann sendiri sedang beurai air mata, berdoa untuk kebaikan hidupnya ke depan.


*****bersambung*****

__ADS_1


__ADS_2