
Ann masuk ke ruangan super mewah itu. Tatapannya nanar melihat sekeliling. Sepenuh lantai semua menggunakan karpet import premium. Sofa empuk dan besar begitu gagah di sebelah kiri pintu masuk. Di hadapannya telivisi Sharp LB 1085 yang seharga dua milyar lebih tertata rapi di sebuah interior rak hpl. Di rak tersusun beberapa piala, piagam berbingkai, aneka replika mobil VW dan pernak-pernik lainnya. Bersekat interior hpl mewah, ada sebuah pintu menjorok ke dalam yang menampakkan sebuah kursi santai. Satu rak lemari buku di depannya. Di sebelahnya ada satu buah kamar mewah yang juga memiliki satu set sofa import. Ada telivisi besar mewah lagi di dinding kamar lengkap dengan empat buah AC.
"Untuk apa kau membawaku kemari Bara?" Ann bertanya sambil mengikuti Alman duduk. Alman membuka jas hitamnya, meletakkan di sandaran kursi. Tersisa kemeja dan celana formal saja, sepatu pun tidak dilepasnya. Alman melonggarkan dasi.
"Bara, mengapa kau membawaku ke sini?" Ann kembali bertanya. Dia meletakkan tas kecilnya beserta sisa berkas di dalam map ke meja. Alman menatapnya diam.
"Pertama, kau harus tahu bahwa aku bukan Bara." Ann bicara sambil melepas sepatunya.
"Iya pak iya, maafkan aku, kamu Alman, aku percaya itu. Maaf pak, maafkan aku. Aku kira bapak bercanda hari itu...." Ann menjawab panjang dan gugup, dia menjadi khawatir jika terlalu lancang, pekerjaannya bisa terancam batal.
"Kedua, kamu jangan terlalu kaku berhadapan denganku." Alman bicara lagi.
"Iya pak iya, eh tapi bapak kan atasanku jauh atasanku." Ann segera menjawab. Dia nampak bingung sendiri.
"Ketiga..., kau harus bertanggungjawab penuh atas...."
"Atas apa pak Alman? Maafkan aku yang tidak sengaja menabrak Bapak yang tadi." Ann memotong ucapan Alman.
"Bukan itu."
"Owh maafkan aku pak jika karena keributan di...."
"Bukan pula tentang itu."
"Aku harus bertanggungjawab kenapa?" Ann benar-benar bingung dibuatnya.
"Eh iya aku akan mengembalikan kain panjangmu pak." Ann mengira perihal kain panjang yang dibawanya untuk dicuci sehabis dipakainya.
"Iya. Kau harus bertanggungjawab atas hal itu."
"Iya pak iya, besok saya bawa."
"Kau tau Ann, karena kain panjang itu, aku jadi tidak bisa tidur dengan nyenyak."
"Kenapa pak? Apa bapak punya kebiasaan...."
"Ann!"
__ADS_1
"Iya pak."
"Aku sudah melihat semua fisikmu." Alman berjalan mendekat ke arah Ann duduk. Ann seketika menutup muka dengan kedua lututnya yang berdiri. Dia kemudian menutup kedua telinganya. Hari itu, dia tidak bisa membayangkannya. Bagaimana mungkin dia telanjang bulat di hadapan seorang General Manager sebuah hotel bintang lima, tempat dia melamar pekerjaan dan diterima sebagai cleaning service.
"Kau tau Ann, ditambah ulahmu yang agak aneh, pingsan di tengah hutan karena takut ulat dan pacat, kemudian tangis kesedihanmu, ucapan terima kasihmu yang beribu kali, otakku tidak sekejap pun mampu melupakan semuanya." Alman duduk di atas sandaran sofa dekat Ann duduk.
"Masudnya pak?" Ann begitu lugu bertanya.
"Hatiku bergetar saat mengenang semua tentangmu."
"Tubuhku?"
"Salah satu yang tidak ingin aku lupakan."
"Dasar mesum!" Ann menggerutu.
"Jika aku mesum, kau mungkin tidak akan pernah bertemu Alman di sini. Aku bisa saja melahapmu saat di hutan, saat di pondok kayu atau ketika aku menginginkannya." Alman memegang jemari tangan Ann yang menahan sesak di dada. Entah kenapa berada dekat laki-laki itu, dadanya menjadi bergemuruh. Jantungnya berpacu cepat. Jiwanya berdebar-debar riang.
"Aku tak mengerti maksudmu." Ann bicara lugu.
"Apa maksudmu?" Ann menatapnya tak berkedip, menunggu jawaban.
"Aku mencintaimu Ann. Aku tidak bisa lupa momen sekejap bersamamu." Alman turun dari sandaran sofa sebelah kanan. Dia menggenggam erat kedua tangan Ann.
"Ini tidak mungkin pak. Bermimpi pun aku tak berani bisa sedekat ini denganmu." Ann berkaca-kaca menatap wajah tampan di hadapannya.
"Ini kenyataan Ann, kau tidak sedang bermimpi. Ayo kita bersama, menghabiskan waktu hingga tua nanti." Alman lekat menatap mata Ann. Pandangan keduanya bertemu pada satu titik. Cinta, mereka merasakan hal yang sama.
"Tolong bangunkan aku dari mimpi ini...." Ann mengerjap tak percaya, suaranya lirih hampir tidak terdengar. Bagaimana mungkin seorang Alman Daniyal Aji Syahbana berada di hadapannya, mengutarakan cintanya dengan tulus, kepadanya yang jauh dari kata layak.
"Kau tidak sedang bermimpi Ann...."
Alman merengkuh pundak lemah itu, membaringkannya di sofa yang diduduki gadis malang itu. Perlahan Alman melepaskan dasi yang terasa mengganggu, melemparkan ke arah jas tadi diletakkannya. Seketika dia menunduk, mencipta suasana hening. Sekejap mata Ann terdiam ketika bibir Alman mulai menyentuh bibirnya. Ann serasa tak mampu bernapas ketika ciuman lembut itu mulai mendarat di leher dan dagu serta bawah kedua matanya. Kuping Ann terasa berdengung sambil menikmati sentuhan lembut calon bos besarnya.
"Alman, apa yang kita laku...."
"Diamlah Ann..., biarkan kulepas sedikit kerinduan ini." Alman memejamkan mata, mencium hangat bibir lembut yang belum sekalipun terjamah laki-laki lain. Lidahnya nakal, menari-nari mengitari lidah Ann yang kenyal dan basah. Alman mulai melewati batas, dia seakan membutuhkan pelampiasan lebih. Sambil terus mencumbu Ann yang mulai pasrah, tangan Alman bergerak melepaskan kancing baju kemeja Ann yang basah. Bau lemon semerbak menyeruak. Alman semakin menikmati. Sementara Ann yang baru pertama menikmati permainan, merem melek memejamkan mata. Ada kehangatan menelusur aliran nadinya. Ada keinginan lebih memanggil-manggil birahinya. Inikah yang mereka dambakan dari seorang Alman? Ann memejamkan mata ketika Alman mulai menyusuri setiap inci lekuk tubuh bagian atasnya. Alman semakin liar, meski belum menikah, dia sudah khatam tentang bab-bab percintaan. Hapal sudah di luar kepalanya teori-teori memuaskan wanita. Dia semakin bergairah, tanganya meremas-remas bagian yang sangat sintal itu. Mengemut dan mengecup pucuknya yang kecoklatan. Ann serasa melayang, ada getar-getar baru menghentak badannya. Alman menarik tangan Ann dan meletakkan ke tempat paling sensitifnya. Ann meraskan sesuatu yang tegang, keras dan mulai mendorong ke arah bagian depan celana.
__ADS_1
"Pak Alman, kita belum menikah pak."
"Aku akan menikahimu Ann, tenanglah." Alman menjawab mirip sebuah rintihan, suaranya sudah menyatu dengan gairah, aliran darahnya mengalir lebih cepat karena dorongan nafsu. Bibirnya tak henti bergerilya, menyapu setiap tempat yang nyaman disinggahi. Ann pun terbawa suasana. Dia menikmati setiap sentuhan dari laki-laki yang pernah menyelamatkan nyawanya di tengah hutan belantara. Alman sudah tak sabar, ingin sekali dia segera menyelesaikan permainannya. Gadis tujuh belas tahun yang sedang bersamanya begitu menggairahkan. Badannya yang putih ramping dengan buah dada besar begitu menggiurkan. Alman mulai menurunkan tangannya, dia membuka resliting celana jeans yang dikenakan Ann. Ann tidak protes sedikitpun, dia malah ikut membantu melorotkan celananya. Dia hampir tidak mengenakan apa-apa lagi, tinggalah sehelai bra terlepas sangkuhannya dan celana dalam saja. Alman ikut melorotkan celana mahalnya hingga selutut. Mereka kembali saling berpagutan. Ann hanya pasrah. Alman akan membuka celana dalamnya, namun Ann seketika memejamkan mata dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Mengapa? Kau belum pernah melihat ini kan?" Alman bertanya sambil menunjuk kebanggaannya yang sudah menembus benteng banyak wanita. Namun Ann seketika bangkit dan duduk. Dia mengambil kembali dan mengenakan baju dan celananya, dia merapikan rambut dengan jari jemarinya, membuka pintu dan pergi dari ruangan yang hampir merenggut keperawanannya di luar pernikahan. Dia tidak menyadari, saat berguman dan memakai sepatu, seseorang memperhatikannya kebingungan.
"Hampir saja, hampir saja kejadian, aku hampir saja kehilangan kendaliku. Aku tidak ingin ini terjadi. Aku tidak ingin mengecewakan ibuku. Aku hampir saja berbuat dengannya. Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Dia orang kaya sekali aku gadis miskin sekali. Dia diperebutkan banyak wanita cantik, sedangkan aku? Uh..., hampir saja." Ann setengah berlari menuju pintu keluar. Kembali dia hanya turun dengan langkah cepat melewati tangga demi tangga berkarpet. Dia segera menelpon Fee minta tolong dijemput. Sementara di kamar president suite, Alman terduduk lesu di sofa sambil membenarkan pakaiannya kembali, yang on sudah susah off kembali. Seseorang mengetuk pintunya.
"Nenek?" Alman kaget melihat siapa yang datang.
"Siapa lagi wanita yang kau ajak ke sini hah?"
"Wanita?"
"Apa nenekmu ini buta?"
Nenek mencubit pipi cucu laki-laki satu-satunya. Alman tersenyum kecut.
"Duduk dan dengarkan nenek."
"Kenapa nek?" Alman menurut duduk di hadapan neneknya.
"Berhentilah bermain wanita, kau berganti-ganti membawa cewek setelah kasus Cintya."
"Mana ada? Nenek mendapat laporan dari siapa? Justru kasus Cintya membuat Alman harus pintar cari cewek.
"Alman."
"Kenapa nek?"
"Kau akan segera menikah."
"Menikah? Dengan siapa?"
"Kakekmu sudah mengurus semuanya." Nenek bicara sambil berdiri. Alman hanya melongo tak percaya.
*****bersambung*****
__ADS_1