
"Ann? Kau sudah siap sayang? Danu sudah menunggu tuh di luar." Alman memanggil istrinya lagi yang masih di atas. Sedangkan Alman sudah lama menunggunya di bawah villa kayu. Dia sudah selesai menabur makan ikan dan menyiapkan pakan ternaknya untuk dua hari ke depan. Termasuk dua puluh tiga ekor sapi sudah dikasihnya rumput basah. Alman melakukan semuanya? Iya, ternyata dia bahagia menjadi seorang petani.
Semalam Alman sudah menghubungi pak Yoko dan mereka akan bertemu di hotel mewah milik pak Yoko yang ada di kawasan perbelanjaan cukup berjalan kaki sekitar enam menit berjalan kaki dari Stadion Bumi Sriwijaya. Tak ada yang tahu, hotel itu delapan puluh persen dimiliki oleh Pak Yoko Aidi, seorang warga keturunan Jepang-Jawa yang lama tinggal di bumi Sriwijaya.
"Danu temanmu itu ya?"
"Iya, dia akan mengantarkan kita ke bandara, cepetan, kalau terlambat kita akan menunggu hingga esok karena penerbangan ke Palembang dari Pangkalpinang hanya ada sekali saja sehari."
"Iya tunggu, tinggal pakai lipstik ini."
"Lama sekali sih...,"
"Salah sendiri."
"Salah gimana?"
"Yah salah sendiri, sudah tahu mau pergi buru-buru eh sempat-sempatnya minta anu sehabis sholat Subuh...." Ann mulai berani beralasan.
"Idiiihhh..., pandainye kau beralasan sekarang ye." Alman menjawab dengan bahasa entitasnya. Ann tak menyahut lagi, dia cekikikan kecil sambil menuruni anak tangga.
"Hati-hati sayang...." Alman menggapai tangan istri cantiknya. Dia terpesona melihat sang istri nampak begitu mempesona. Hanya dengan jeans denim sobek hitam kebiruan berpadukan tunik turunan bordir dengan sendal lilit lepek hijau lumut dia mengalahkan kecantikan seorang Nia Ramadhani.
"Kau cantik sekali Ann."
"Itu kalimat yang sama ke seratus kau ucapkan sejak malam tadi Al." Ann menjawab cepat sambil mengangkat hidung menggoda suaminya.
"Dan aku akan mengucapkan ribuan kalimat itu setiap hari kepadamu Ann..., hingga tutup usiaku." Alman memikul koper ping besar berisi pakaian keduanya setelah menggombal istrinya. Ann hanya tersenyim cantik sambil mencubit pinggang kiri Alman. Alman membalasnya dengan elusan mesra di kepala bagian belakang.
"Ayo naik mobil, hati-hati sayang." Alman membantu Ann naik ke mobil pick upnya.
"Ini mengingatkanku pada masa itu, hari dimana kita bertemu."
"Kalian naik mobil seperti inilah?"
"Iya."
"Nanti jika berjodoh untuk keadilan, abang pasti akan menangkap komplotan itu." Alman menjanjikan. Ann diam saja, ingat pula waktu dia diantar Alman ke rumahnya dan hanya mendapati rumahnya yang memang reot sudah rata dengan tanah.
"Bantu aku menemukan adikku Al."
"Iya sayang, bertahap ya. Kita akan menemukannya. Soalnya, ayah tirimu tidak.lagi menjadi tukang parkir di minimarket Kak Nitha." Alman menjawab.
"Terima kasih Al."
__ADS_1
"Berbahagialah sayang. Sepertiku yang sangat bahagia memilikimu." Alman mencium pipi putih mulus memerah itu sambil menyalakan mesin mobil. Hanya dua menit kemudian mereka sudah sampai di pinggir pagar rolling door besar di pembatas wilayah menuju ke villanya Alman. Mobil pick up ditinggalkan saja di belakang pintu.
"Tidak ada yang tahu kan Dan?" Alman bertanya ke Danu yang sudah hampir satu jam menunggu mereka keluar.
"Tenang bro, seperti baru mengenalku ke.arin saja." Danu sahabat Alman dari SMA bicara santai.
"Waw, wajau kau rela lari dari rumah Al."
"Kenapa?"
"Istrimu seperti seorang artis istrinya si Ardi Bakri."
"Cantikan istrikulah bro."
"Memang, matamu luar biasa Al, sangat jeli melihat wanita terbaik." Danu menatap ke spion berkali-kali. Dia takjub melihat kecantikan Ann yang sempurna. Dulu dia nampak sedikit dekil karena sering berjemur matahari membantu ibunya bertani. Sebentar saja ke salon diajak Fee, bekerja bersama Bu Cita di ruangan berAC, nutrisi cukup, penampilannya bahkan bertambah lebih seratus persen dari sebelumnya.
"Hemzzz..., Al...." Danu nampak ragu bicara. Dia mengerling sesekali kepada Ann di belakang selama perjalanan menuju Pangkalpinang. Ann duduk sendirian di jok tengah.
"Kenapa Dan? Bicara saja. Ann sudah kujinakkan. Iya kan sayang?" Alman tersenyum bicara dan menoleh bertanya kepada sang istri yang santai bersandar ke sandaran mobil dengan bantalan leher berwarna abu-abu.
"Anu Al, hemzzz, bagaimana bilangnya ya...?" Danu masih susah menjelaskan.
"Kenapa bang Danu, kau bilang saja, aku akan menutup kupingku...." Ann menjawab sambil membetulkan bantalan lehernya, dan menutupkan ujung-ujungnya ke telinga. Namun itu tidak membantu, dia masih bisa mendengar jelas obrolan keduanya.
"Eehm... maaf ya mbak Ann." Danu yang seusia Alman dan seorang Auditor ASN di Inspektorat itu menoleh kembali ke spion tengah, menatap Ann, meyakinkan tidak ada kemarahan nantinya."
"Cintya kembali mencarimu Al...," Danu bicara pelan. Alman seketika menoleh ke arahnya yang fokus ke jalanan.
"Siang kemarin dia bertandang ke kantorku dan meminta nomormu yang baru." Danu melanjutkan lagi.
"Kau kasih?" Alman bertanya seketika.
"Tentu tidak karena kuyakin kau pasti tidak setuju." Danu tersenyum kecil.
"Kau memang sahabat baikku." Alman menepuk pundak laki-laki yang mengemudi itu.
"Tapi Al...." Senyum sumbang nampak di wajah Danu. Matanya mengerling sesaat ke arah Al.
"Kenapa?" Alman bertanya.
"Dia datang lagi ke rumahku saat aku sedang mandi."
"Terus?"
"Dia bilang dia sedang terburu-buru kepada ibu, kau tau kan ibuku? Baiknya itu setengah hidup.
"Setengah mati. Al memotong.
__ADS_1
"Iya baiknya ibu setengah mati. Dibukanya hapeku yang memang tidak terkunci, disebutlah nomor barumu, dicatatnyalah dan dia pergi mencium pipi ibuku berkali-kali." Danu tertawa kecil menggeleng-gelengkan kepala lagi. Dia merasa kacau.
"Matilaaahhh...." Alman mendesah perlahan.
"Dia belum menghubungimu?" Danu kembali bertanya.
"Belum dan aku tidak mau dia menghubungiku. Berhenti pas ada konter hp, aku mau beli kartu baru." Alman melanjutkan.
"Sebegitukah? Fobia? Kau takut tergoda lagi? Apa kau tidak ingin dia mengganggu hubunganmu?" Danu nyengir bertanya.
"Aku tidak ingin berhubungan dengannya lagi. Mau apa gadis gila itu kembali mencariku. Menjijikkan sekali...." Alman menggerutu. Dia menoleh ke arah istrinya di belakang yang memejamkan mata.
"Kau tau Al?" Danu kembali mengajak Al mendengarkan ucapannya.
"Apa?"
"Dia adalah sepupunya Zellin, anaknya Pak Suharli yang akan menikah denganmu." Danu kembali menjelaskan.
"Siapa yang akan menikah?" Al kaget mendengarnya.
"Bukankah nenekmu sudah menyiapkan segalanya Al." Danu malah bingung sendiri mendengar pertanyaan Alman.
"Tidak mungkin. Nenek mengerti perasaanku Dan." Alman menjawab santai.
"Entahlah aku tidak tahu isi dalam rumahmu, namun menurut koran dan berita-berita online, kau tetap akan dinikahkan demi menjaga kehormatan kakekmu dan kakeknya Zellin."
"Itu tidak akan terjadi." Alman menatap Ann yang seketika berpura-pura tertidur. Hatinya nyesak. Nenek alias Bu Cita adalah satu-satunya yang mendukung pernikahannya dengan Alman. Dan jika Bu Cita sudah menyiapkan semuanya? Entahlah, Ann merasakan detak jantungnya menjadi tak nyaman seketika.
*****
Hampir dua jam di perjalanan, akhirnya Alman dan Ann tiba di bandara yang sudah ramai. Danu sudah pergi dengan berkali-kali menyampaikan permohonan maaf karena obrolannya mungkin ada yang mengganggu. Benar, baik Alman maupun Ann, merasakan keretakan di jiwa mereka. Ada rasa getir yang kembali terusik. Baru beberapa bulan mereka merasakan kebahagiaan dengan segala rencana. Kabar dari Danu membuat keduanya menjadi kepikiran hal-hal buruk.
"Kau tetap tenang sayang, jangan terpengaruh. Bagiku, siapapun itu sudah tidak ada ruang kosong di hati ini. Hatiku sudah utuh menjadi milikmu seorang." Alman merayu istrinya yang mulai nampak tak seceria sebelumnya.
"Mengapa Bu Cita melakukan itu? Bukankah nenekmu menyetujui hubungan kita." Ann banyak terdiam di ruang tunggu. Berkali-kali dia menelan ludah.
"Jangan pikirkan yang tidak-tidak Ann. Aku bersamamu sekarang, besok dan ingin sampai jiwaku lepas dari raga ini." Alman berbisik dengan tangan di atas bahu Ann. Ann menarik napas dalam dan tersenyum hambar. Tidak ingin menjawab lagi. Tak lama kemudian terdengar nada panggilan khas dari pengeras suara.
"Informasi kepada pelanggan Garuda Indonesia Nomor penerbangan A74, Pangkalpinang - Palembang atas nama tuan Alman Daniyal Aji Syahbana, ditunggu di bagian informasi sekarang."
"Lah kenapa pula ini? Kau tunggu disini sayang ya. Apa mungkin ada barang kita yang tertinggal." Alman berdiri, dengan langkah cepat menuju bagian informasi namun kemudian diarahkan petugas menuju pintu keluar. Alman nampak berkata kepada Ann yang tak berkedip melihat kepergiannya dari kejauhan. Namun Ann tidak mendengar sedikitpun, dia hanya tersenyum cantik kepada Alman. Alman pergi melalui pintu keluar.
Ann meletakkan handphonenya ke dalam tas. Dia mencoba mengobrol dengan seorang wanita seusia Bu Cita di sampingnya.
"Dia suamimu? Kalian pasangan baru?" dengan ramah ibu yang mengenalkan namanya bunda Rosi itu bertanya. Ann mengangguk. Matanya terus menatap ke arah jalur antrian periksa bagi penumpang sebelum masuk ke ruang tunggu utama. Setengah jam berlalu, penerbangan masih lima belas menit lagi. Namun Alman belum juga kembali. Hati Ann mulai berdebar-debar tidak nyaman. Ini adalah penerbangan pertama baginya. Berharap besar akan menjadi pengalaman yang indah. Namun tidak, Ann punya firasat bahwa ini adalah perjalanan yang buruk baginya, karena dia lelah menunggu dengan sejuta tanda tanya. Satu jam lewat begitu saja, dia mengabaikan panggilan untuk segera naik ke pesawat tadi karena suaminya belum juga kembali. Dua jam kemudian, dia semakin gelisah menunggu, sedangkan pesawat yang harusnya mereka tumpangi dipastikan sudah sampai ke rute tujuan. Ann semakin gelisah, hari semakin siang, kursi-kursi di sekitarnya sudah berkali-kali berganti orang yang mendudukinya, sedangkan dia masih di situ, dengan degup jantung mengkhawatirkan suami dan dirinya sendiri. Mengapa Alman belum kembali juga? Sedangkan saat ditanya ke bagian informasi mereka bilang tidak mengerti, sepertinya hanya urusan keluarga. Ann mencoba menelpon Alman, namun sayangnya kedua handphonenya ada di dalam tasnya, dititipkan Alman saat dia ke toilet tadi. Ann semakin gelisah dibuatnya.
*****bersambung*****
__ADS_1