
Alman sudah membeli sebuah mobil pickup murah. Tekatnya sudah benar-benar bulat ingin pergi menghindari perjodohan dengan wanita yang tidak dia cintai, meski harus tersingkir dari semua kemewahan harta berlimpah. Dengan nomor dan akun sosial media baru dia mengikuti informasi seputar kakeknya yang ternyata sudah siuman. Banyak rumors menyebutkan, kakeknya hanya berpura-pura koma demi menanti kepulangannya. Namun untuk menelpon Alman, dia tidak mau melakukannya, dia masih menjaga gengsinya yang kokoh.
***
Alman dan Ann sudah menikmati masa bahagia mereka di hutan belantara eks hutan lindung pemerintah daerah yang pelepasannya dimenangkan tendernya oleh Alman. Mengajak beberapa orang tukang yang baru dekenalnya lewat media sosial, Alman merenovasi rumahnya di tengah kebun itu. Mereka membuatnya menjadi sebuah villa cantik di atas bukit yang dibawahnya terdampar ombak dan gelombang air laut. Rumah dibuat dengan tiang dan lantai cor berdinding papan namun berlantaikan cor dilapis kayu sintetis. Ada dua kamar dengan fasilitas mewah pula. Berbekal uang pemberian nenek, Alman memanjakan Ann, gadis 18 tahun yang baru tamat SMA.
Di bagian bawah villa itu, Alman membuat seperti sebuah ruangan serba guna dengan dapur yang bisa dipakai saat siang hari, sebuah meja dengan empat kursi makan terbuat dari kayu alami, ada pula tempat parkir motor dan menaruh alat-alat pertanian. Di lantai atas juga ada dapur minimalis terbuat dari kayu teras tua dengan sebuah tungku dan tabung gas kecil. Tempat tidur di dua kamar dibuat seperti di villa atau hotel-hotel mewah bernuansa alam yang sering dikunjungi Alman.
Rumah itu berberanda memutar sepanjang bangunan. Menghadap ke arah timur, ratusan batang durian dengan buahnya tanpa henti meliuk-liuk daunnya tertiup angin. Agak menurun ke bawah, nampak sebuah pemandian yang didesain Alman seperti sebuah kolam para raja zaman dulu. Hanya bermodalkan batu bata yang diangkutnya sendiri dengan mobil pick up, air mengalir tiada henti dengan bambu sebagai penyambung ke sumber mata airnya. Di sekeliling nampak aneka tanaman yang khas para petani, ada tomat, bawang daun, sawi pakchoy, sawi pahit, cabe dan aneka umbi-umbian. Selama ini, yang mengurusnya ada sepasang suami istri. Sebelum Alman dan Ann ke sana mereka terlebih dahulu telah pergi atas pesan dari Bu Cita.
Sebelah Barat dari villa itu, banyak pohon mangga Irwin sedang lebat berbuah, mengungu warnanya dengan pohon melingkar rata dan tidak tinggi, sekitar dua hingga tiga meter saja. Kedua sisi jalan menuju villanya dari pagar utama jalan lintas Tanjung Kalian, berbaris rapi pohon jambu jamaika yang berbuah tak kenal musim. Buahnya separuh sudah ranum merah menghitam dan sedikit pecah, sebagian masih merah menyala dengan sisa rasa asamnya, separuh juga masih nampak memutih dengan buntut-buntut memerah. Ann suka sekali memetik sendiri buah-buahan yang disukainya. Di jalan menuju sungai tempat Alman dulu menemukan Ann memakai kainnya sudah pula dibersihkan. Alman mengupah orang merumput dan memasangkan konblok di rute jalannya. Di sisi jalan sudah pula ditanam dengan bunga pucuk merah selutut. Hampir setiap sore mereka ke sana, mandi, mencuci, dan memancing ikan yang benihnya sengaja ditabur oleh penjaganya dulu. sebelah laut sudah dipasangkan pagar tembok tinggi. Sepintas memandang pagar dari bebatuan tinggi itu seperti sengaja dibuat, padahal memang dari alam sudah seperti itu.
Di kawasan tanah mereka tinggali itu, sejauh mata memandang kita akan merasakan sedang berada di surganya buah. Cempedak, sawo, srikaya semuanya ada di tanam mengitari sekitar dua ratus meter mengitari villa itu. Selebih yang dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari, Alman menjualnya di pinggir jalan, dengan memakai kumis palsu dan ikat kepala bertopi. Tak ada yang mengenalinya. Biasanya sehabis berjualan di pinggir jalan yang menuju ke objek wisata Pantai Asmara, Alman akan memborong sembako untuk keperluan mereka.
Begitulah kehidupan pengantin baru itu, mereka menikmati kehidupan yang berbahagia di hutan yang sudah dipagar tinggi.
Meski di hutan, penerangan mereka dengan listrik yang berdaya tinggi. Ada lima belas tiang tambahan dulu ketika Alman mengurus pemasangan ke PLN.
Pagar yang tinggi mengelilingi kawasan itu, tidak memungkin lagi orang bisa sembarangan masuk dari pinggiran pantai maupun dari jalan utama. Tempat yang berestetika itu hanya satu dua orang saja yang tahu. Para nelayan, pemancing atau pemburu saja, namun mereka tidak bisa masuk.
Selain durian, manggis, pisang di pinggiran lahan yang digarap hampir semua jenis pisang ada. Kolam ikan dibawah villa dipercantik lagi dengan pintarnya Ann menyusun pot-pot kembang bougenville aneka warna yang ada. Rumah unggas pun dicat dan dilukis Alman dengan meriahnya. Ann merasakan berada dikebun surga, apapun yang dia inginkan semuanya ada kecuali buah-buah dan sayur import yang tidak bisa tumbuh di dataran Mentok. Bahkan beberapa varian anggur ada pula hidup dan dibuat seperti pintu menuju istana di depan, tepat tanah menurun menuju tepian pantai. Tidak sampai sepuluh batang, namun sudah menampakkan buah kecil sepangkal lidi dengan lebatnya.
"Sayang..., abang ingin mencari investor untuk membangun kawasan ini menjadi sebuah kebun yang indah. Di sebelah sana, abang ingin ada hotel cantik yang cukup punya kamar dua puluhan saja. Di ujung sana, tempatnya agak landai, kita bangun sebuah kolam renang yang mewah dengan perosotan melingkar berdinding tinggi dengan air mengalir di dinding-dindingnya. Di sana lagi, kita buat di halaman terbuka sebuah resto alam tempat para tamu memanjakan lidah, kau bisa mengawasi pekerja semuanya dari sini." Alman terus bicara pelan sambil memeluk Ann. Cuaca mendung dengan hembusan angin semilir menyapa wajah keduanya. Mereka duduk di beranda villa menghadap ke laut lepas. Nampak air laut sedang pasang, ombak putih sesekali menerjang karang yang tinggi. Suara deburan gelombang ombak memecah di karang besar terkadang kuat terkadang samar tergantung arah angin. Sesekali pula tangan Alman menunjuk ke beberapa arah. Dia nampak antusias sekali mendesain tanahnya untuk dijadikan objek wisata bagi masyarakat Bangka Belitung.
__ADS_1
"Pantai yang indah...." Ann menjawab sambil menatap ke bawah. Sebuah perahu nelayan berlari cepat melewati area sana. Di kejauhan nampak beberapa buah kapal penggeruk timah sedang beroperasi. Nampak pula beberapa bagan atau bangunan tengah laut dari kayu dan baja, digunakan nelayan untuk menginap menangkap isi laut.
"Di sana nanti, di dekat pantai abang akan bangun sebuah kolam renang besar pula. Kolamnya akan membentang luas dengan jembatan meninggi berbunga-bunga membelahnya. Sepanjang pinggiran kolam kita buatkan pula air mancur kecil, anak-anak bisa bermain di sana. Gazebo-gazebo terbuat dari kayu, kita buat di pinggir-pinggirnya. Sedangkan di sekitar kolam, membentang taman beralas rumput menghijau dengan aneka bunga menghiasinya." Alman kembali mengurai denah dalam angannya.
"Ruang ganti laki-laki dan perempuan harus terpisah ya bang." Ann menyela. Hanya itu yang bisa dia gambarkan.
"Pasti dong." Alman menjawab sambil mencium tengkuk istrinya itu.
"Di ujung kolamnya nanti ada sebuah mini bar." Alman kembali mendesain di otaknya.
"Rencanamu sangat indah bang, jangan lupa ruang kesehatan yang nyaman dan sebuah mushola." Ann mengingatkan.
"Iya sayang, dan bertambah indah ketika nanti kita bersama, menggandeng anak-anak yang lincah mengitari semuanya sambil memeriksa kondisi di lapangan, memantau kinerja para karyawan dan menyambut tamu-tamu dengan gembira." Alman mengkhayalkan masa depan indah bersama sang pujaan hati. Keduanya nampak benar-benar menikmati kebersamaan mereka.
"Mengapa tidak gunakan uang dari nenek?" Ann tiba-tiba terbayang buntalan uang pemberian neneknya Alman.
"Hah? Ini bukan hanya ratusan juta sayang, butuh puluhan milyar untuk mewujudkan semunya." Alman tersenyum. Dikecupnya Ann yang tersenyum indah. Ann hanya mengedikkan bahu, tak bisa membayangkan uang sebanyak itu.
"Hahaha..., kamu ini lugu apa lucu sayang. Ah sudahlah, yang pasti abang mau mencari investor luar daerah, harus Melayu. Kalau mau kembali menjadi bonekanya kakek, abang bisa dapatkan uang itu dengan mudahnya." Alman mengelus-elus bahu kanan Ann.
"Entahlah aku tidak mengerti." Ann mendesah kecil. Dia membaringkan diri di paha Alman yang seketika menselonjorkan kakinya.
"Jangan makan durian dulu ya sayang, siapa tau tembakan-tembakan abang ada yang tepat sasaran." Setelah sejenak hening, Alman mengingatkan istrinya.
"Maksudnya?" Ann dibuat bingung.
"Yah kan abang pengen segera punya momongan Ann, siapa tau kamu hamil, kan gak boleh makan durian dulu hingga tiga bulan pertama." Alman menjelaskan pelan-pelan kepada istrinya yang belia.
__ADS_1
"Hamil? Hah? Ihhh kalau aku hamil?" Ann merasa aneh sendiri mendengarnya.
"Kenapa? Banyak kok yang usia delapan belas tahun sudah hamil. Abang maunya punya anak yang banyak. Biar tidak seperti kakek dan papa yang punya anak hanya satu dan dua saja." Alman menggenggam erat tangan Ann. Sesekali dia menciumnya.
"Ehmm..." Ann mendehem.
"Hemzzz kenapa? Kamu gak mau punya anak banyak?" Alman mengerti kegelisahan belahan jiwanya itu.
"Entahlah, membayangkan hamil dan punya anak masih sedikit ngilu dan malu sendiri." Ann menarik tangannya dari genggaman Alman. Dia menutup wajah tersipu malu.
"Ah sayang, kok malu sih, sebelumnya kau juga malu begituan." Alman menggelitik bawah ketiak kanan Ann. Ann kegelian dan terkikik manja.
"Begituan apa?" Ann mendongak, menikmati wajah tampan berbibir merah seksi dengan jambang sedikit tak terurus.
"Buktinya beberapa malam kemarin kau yang minta duluan."
"Ih abang, sudah ah maluuu...!" Ann menutup kedua telinganya. Alman malah menggelitik bawah ketiak Ann kembali. Mereka bersenda gurau bahagia tanpa dipusingkan dengan banyaknya peraturan dalam keluarga.
"Ann's Garden." Alman bergumam pelan.
"Apa?"
"Abang akan membuat proposal ke Pak Yoko di Palembang sana, siapa tau beliau percaya rencana suamimu ini akan berkembang pesat."
"Pak Yoko?"
"Iya Pak Yoko Aidi yang dulu pernah kehilangan anak kandung satu-satunya. Dengar-dengar beliau tertarik berinvertasi di tanah Bangka."
__ADS_1
"Owh." Ann mengangguk-angguk, mengenang dulu sempat menemani Bu Cita bertemu dengan laki-laki senja nan tampan itu.
*****bersambung*****