Lavynds

Lavynds
Episode 10


__ADS_3

"Sekretaris Seo...Apa dia telah datang?"


"Belum Pak Direktur Kim. Saya mencoba menghubungi Tuan muda berkali kali. Tapi sepertinya dia mematikan ponselnya."


"Bukankah anak itu telah sampai kemarin malam?”


"Sudah Pak. Dia sampai tadi malam."


"Siapa yang menjemputnya?"


"Tuan muda tidak ingin dijemput oleh siapapun dari bandara semalam Pak. Saya sudah menghubungi beberapa pengawal, tetapi dia telah memesan mobil lain dan segera pergi. Saya rasa Tuan muda kelelahan dan sedang istirahat di apartemennya sekarang."


"Anak itu keras kepala sekali. Perjalanan dari Sidney hanya sebentar tapi dia seperti melakukan perjalanan dari bulan saja."


"Nanti saya akan coba menghubungi Tuan muda lagi. Tapi sepertinya Bapak harus segera ke ruang rapat karena para pejabat tinggi telah hadir. Rapat akan segera dimulai."


"Baiklah. Aku hanya tidak mengerti kenapa anak itu persis seperti Ibunya. Aku ingin mewariskan rumah sakit ini padanya, tapi dia sepertinya tidak mau. Seandainya saja aku punya dua anak laki-laki aku tidak akan pusing memikirkan hal seperi ini. Dia hanya perduli pada Ibunya yang sakit-sakitan dan tidak berguna itu. Padahal dia tidak dapat hidup tanpaku."


Pria itu pun bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah pintu keluar. Sekretaris Seo membukakan pintu kepada Direktur Kim dan membungkukkan tubuhnya.


Direktur Kim berhenti sebentar dan melihat ke arahnya.


"Sekretaris Seo. Kau baru beberapa bulan bekerja denganku. Aku juga tahu masih sangat muda dan kau seumuran dengan anakku. Kau boleh bergaul dengannya. Jadi tolong sampaikan padaku segala hal yang dilakukannya."


"Saya mengerti Pak Direktur Kim."


Kim Wang So adalah Direktur utama sekaligus pemilik rumah sakit internasional Pyeongchang. Rapat hari ini mengundang para pemegang saham tertinggi rumah sakit Pyeongchang.


Saat rapat, para petinggi itu terlihat sangat senang dan antusias karena rumah sakit Pyeongchang semakin tahun semakin mengalami kenaikan saham yang bagus.

__ADS_1


Rumah sakit Pyeongchang dikenal memiliki sistem dan fasilitas terbaik dan nomor satu di Korea Selatan. Rumah sakit itu juga melahirkan banyak dokter-dokter profesional yang handal di bidangnya dan juga banyak calon-calon dokter muda yang berlomba-lomba untuk dapat magang di rumah sakit itu.


Tak heran jika harga untuk dirawat dirumah sakit ini sangat mahal dan tidak semua kalangan bawah dapat menikmati kemewahan dan fasilitas dirumah sakit ini. Alat-alat medis pun menggunakam standar internasional dan telah memiliki kualifikasi yang diakui dunia.


Banyak para perawat dan mahasiswa kedokteran yang ingin sekali bekerja dan memulai karir mereka di rumah sakit ini karena dinilai memiliki masa depan yang cerah.


Bagi Hae Su, dia sangat bersyukur dapat diterima bekerja sebagai perawat di rumah sakit itu. Dia hanya ingin merasakan bagaimana bekerja ditempat Neneknya dulu bekerja sebagai juru masak.


°°°


Di pagi yang cerah ini Jun Tae sedang menikmati kopinya dan ponselnya berbunyi.


Drrrrttt. Drrrrttt.Drrrrttt


"Halo."


Jun Tae menjauhkan ponselnya dari telinganya. "Bicara pelan-pelan saja. Tidak usah berteriak. Bagaimana perjalananmu?"


"Biasa saja. Aku telah sampai di Korea tapi kenapa suaramu lesu begitu? Kau tidak suka lagi mendengar suaraku?"


"Hei Kim Hae Jun. Karena kau, ponselku dari semalam penuh dengan panggilan dari sekretaris Ayahmu."


"Salahmu sendiri kenapa tidak mau menjemputku dari bandara. Kalau kau mau datang ke bandara menjemputku, kau kan dapat dengan mudah berkata bahwa Kim Hae Jun yang tampan telah sampai di Korea. Hahaha.."


"Memikirkan wajah Ayahmu saja sudah membuatku merinding."


"Kau harus terbiasa dengannya. Hanya kau penyelamatku dari dulu bila sedang dirumah sakit. Aku tidak suka rumah sakit itu, tapi karenamu aku suka kerumah sakit dan bermain mobil-mobilan. Seru sekali!"


"Kim Hae Jun."

__ADS_1


"Hmm?"


"Berhentilah membuat Ayahmu khawatir."


Kim Hae Jun berhenti dari tertawa.


"Jun Tae. Aku tidak pernah membuatnya khawatir. Dia yang tidak memperhatikanku dan Ibuku."


"Tapi-..."


"Sudahlah Jun Tae. Aku sedang tidak ingin membahasnya. Lagipula aku hanya punya Ibu, bukan Ayah, karena Ibu yang melahirkanku. Yang ku tahu dia hanya memikirkan bisnisnya dari dulu. Kalau kau mau, kau dapat mengambilnya menjadi Ayahmu. Bagaimana?"


"Kau ini!"


"Aku rasa kita memang ditakdirkan bersama. Kita adalah dua lelaki kaya raya yang mempunyai Ayah super sibuk. Bedanya, Ayahmu sangat menyayangi kau dan Ibumu."


"Ya."


"Tapi Jun Tae. Kenapa kau harus jadi perawat dan juga bekerja di rumah sakit Ayahku? Apa


tidak ada rumah sakit lain? Atau tidak usah bekerja saja, kan Ayahmu kaya? Ah ya tidak usah dijawab pasti karena gadis kecil di masa lalumu dulu kan?"


"Kalau sudah tahu kenapa kau bertanya Lagipula gaji yang ditawarkan rumah sakit Ayahmu besar dan jika aku keluar dari rumah sakit itu latar belakang karirku akan bagus. Jadi bagaimana bisa kutolak?"


"Baiklah apapun alasanmu, aku akan segera ke apartemenmu sekarang. Tunggu aku disana!"


Klik.


Moon Jun Tae meletakkan ponselnya di atas meja dan berjalan ke arah balkon apartemennya. Dia menghirup udara segar pagi itu sembari menutup kedua matanya.

__ADS_1


__ADS_2