Lavynds

Lavynds
Episode 25


__ADS_3

Saat ini Ji Hun dan Hae Su sedang duduk berhadapan. Bu Song menyiapkan minuman di dapur untuk Hae Su dan Ji Hun sembari sesekali melirik ke arah ruang tamu karena penasaran dengan apa mereka bicarakan.


"Bagaimana Anda bisa tahu rumah saya?"


"Maaf jika aku sampai datang menemuimu seperti ini. Aku meminta alamatmu pada Suster Kepala Seon" terang Ji Hun.


"Kenapa Anda bisa mengenal Suster Kepala Seon? Apakah Anda juga bekerja dirumah sakit itu?”


“Benar. Saya bekerja di bagian manajemen rumah sakit. Jadi saya bisa mengenal Suster Kepala Seon.”


“Tapi ada apa sampai datang kesini? Apa untuk memberitahu bahwa saya akan dipecat?"


"Ah tidak. Bukan seperti itu. Saya hanya ingin meminta maaf. Karena saya telah membuatmu terluka seperti itu dan tidak dapat bekerja." jawab Ji Hun sembari menunjuk ke arah tangan Hae Su yang masih diperban.


"Tentang masalah itu tidak usah diperbesar. Saya telah mengatakan bahwa itu juga salah saya. Anda tidak perlu sampai repot-repot meminta maaf dengan datang ke rumah saya."


"Tidak. Sudah seharusnya saya melakukannnya. Nomong-ngomong nama saya Saya Seo Ji Hun. Kamu dapat memanggilku Ji Hun dan berbicara santai jika kita sedang tidak bekerja. Karena sepertinya usia kita hampir sama."


"Baiklah Ji Hun. Saya Kang Hae Su."


"Saya sudah tahu." ujar Ji Hun tersenyum pada Hae Su.


Bu Song datang dan membawa dua gelas minuman sirup dan beberapa kue kering.


"Jadi namamu Seo Ji Hun ya?"


"Ah iya Bi. Saya yang telah membuat tangan keponakan anda terluka dan tidak dapat bekerja sementara. Saya minta maaf." Ji Hun berdiri dan membungkukkan tubuhnya.


"Oh begitu rupanya. Kau tampan sekali ya. Apa kau juga seorang perawat?"


"Saya bukan perawat Bi. Saya bekerja di bagian manajemen rumah sakit Pyeongchang."

__ADS_1


"Wah bagus sekali. Ayo diminum dulu. Maaf aku tidak dapat memberikan minuman mahal.


Hanya ada jus jeruk ini."


"Tidak masalah Bi. Saya kesini karena ada sesuatu yang mau saya berikan. Saya tidak tahu apa ini cukup sebagai permintaan maaf."


Ji Hun mengambil bingkisan mewah yang sedari tadi diletakkannnya di belakang tubuhnya dan memberinya pada Hae Su.


"Ini. Tolong diterima."


"Tidak usah seperti ini."


"Hae Su kumohon dibuka dulu. Aku juga tidak bisa mengembalikan itu ke toko.”


Hae Su memandang Bibinya. "Sudah diterima saja dulu. Dia sudah jauh-jauh datang kesini dan memberikanmu ini. Setidaknya hargailah pemberiannya."


Hae Su membuka bingkisan itu, dan di dalamnya ada sebuah kotak perhiasan persegi panjang.


"Maaf aku benar-benar tidak dapat menerimanya. Ini terlalu berlebihan. Gelang itu pasti sangat mahal."


Seo Ji Hun terkejut ketika mendengar Hae Su menolak pemberiannya. Bu Song pun mengerti kalau Hae Su merasa tidak dapat menerima pemberian Ji Hun yang sangat mahal itu. Hae Su terdiam di tempat duduknya.


"Bibi minta maaf padamu Seo Ji Hun. Tapi memang itu sangat mahal. Bibi mengira kau hanya memberinya sebuah benda lain."


Ji Hun pun mengambil kotak perhiasan itu dan memasukkan kembali ke dalam bingkisan itu dan tersenyum pada Hae Su dan Bu Song.


"Tidak apa-apa Bi. Saya juga minta maaf jika pemberian saya membuat Bibi dan Hae Su


merasa tidak enak. Saya hanya mencoba meminta maaf."


Hae Su melihat Ji Hun dan berkata. "Seo Ji Hun aku telah mengatakan tidak apa-apa. Luka ini akan sembuh sebentar lagi. Kau tidak usah khawatir dan memberiku gelang mahal itu. Aku tahu kejadian itu tidak sepenuhnya salahmu. Jadi kau tidak usah sampai merasa bersalah seperti ini." Seo Ji Hun mengerti.

__ADS_1


Dia pun mengangguk. "Baiklah. Aku merasa lega jika kau telah benar-benar memaafkanku. Aku tidak tahu akan kuapakan gelang ini. Mungkin aku akan mengembalikan ini toko itu. Jika aku masih Ibu. Mungkin aku akan memberikan ini padanya." ujar Ji Hun tertawa.


Hae Su dan Bu Song saling bertatapan ketika mendengar kata-kata Ji Hun. Ji Hun kemudian melihat seluruh ruang tamu dan dia berdiri karena tertarik dengan beberapa piala dan piagam milik Hae Su serta beberapa bingkai foto yang disusun dengan rapi.


"Kalau begitu Bibi ke dapur dulu untuk memasak. Kalian mengobrolah."


Hae Su masih duduk di kursinya dan memperhatikan belakang punggung Ji Hun yang bidang. Lelaki itu sedang melihat-lihat bingkai foto dirinya.


Mata Ji Hun tertuju pada sebuah foto usang seorang gadis dengan seorang wanita tua di depan kue ulang tahun. Foto itu adalah foto yang juga pernah dilihat oleh Jun Tae saat berada dirumah Hae Su.


Tapi yang membuat mata Ji Hun terbelalak bukan karena foto itu sudah lama atau terkagum dengan foto itu. Tapi gadis itu memakai sebuah benda yang sama dengan benda yang dimilikinya.


Syal merah bercorak bunga. Gadis itu memakainya di lehernya. Hati Ji Hun menjadi sedikit pilu ketika melihat syal itu.


"Itu aku dan Nenek saat ulang tahunku ke-8."


Ji Hun tampak terpaku dan wajahnya pucat pasi seperti orang yang kekurangan darah. Hae Su melihat wajah Ji Hun yang pucat dan bertanya pelan.


"Seo Ji Hun kau kenapa? Kau baik-baik saja?"


"S-yal me-rah itu..?"


"Ah itu syal milik Nenek. Aku selalu memakainya jika musim hujan. Tapi suatu hari Nenek bilang syal itu tidak ada lagi karena telah dipakai untuk membantu orang. Dan sehari setelahnya Nenek ku pergi untuk selamanya."


"Jadi kau.." Mata Ji Hun sudah berlinang air mata menatap Hae Su dengan tatapan sedih.


“Maafff. Aku minta maaf padanu Hae Su" pinta Ji Hun menyesal.


Dia memeluk Hae Su dengan tiba tiba dan berkata dengan suara yang lirih. "Maafkan aku. Semua karena aku. Maaffff..."


Hae Su yang bingung karena tidak tahu apa-apa seketika mengernyitkan keningnya. Dan segera melepaskan dirinya dari pelukan Ji Hun.

__ADS_1


__ADS_2