
Seminggu kemudian.
Luka ditangan Hae Su telah mengering walau belum sepenuhnya. Bibi membantunya membuka perban dan menggantinya dengan plester luka karena tangan Hae Su sudah dapat ditutup dengan plester luka.
"Sudah selesai."
"Terimakasih Bibi."
"Nah ayo lekas berangkat. Nanti kau bisa ketinggalan bis."
"Siap Bi. Aku sudah tidak sabar ingin kembali bekerja. Aku sudah bosan dirumah terus."
"Iya iya. Cepatlah berangkat."
Hae Su telah sampai dirumah sakit dan sedang mengganti pakaianya dengan seragam perawat.
"Akhirnya kau sembuh juga. Aku khawatir padamu Hae Su." ujar Nam Dae Ri sambil memeluk Hae Su.
"Iya lepaskan aku dulu. Aku susah berganti pakaian."
"Maaf.." Nam Dae Ri pun melepaskan pelukannya dari Hae Su.
"Kau tahu pacarmu itu sering diam karena kau tidak masuk selama seminggu."
"Pacar yang mana?"
"Ya Moon Jun Tae. Siapa lagi?" jawab Nam Dae Ri tertawa.
"Astaga! Dia bukan pacarku! Kami hanya berteman."
"Ya kalian teman. Tapi teman spesial!"
"Tidak. Kau salah sangka. Jangan salah paham terhadap kedekatan seseorang. Nanti kau bisa dicap pembawa gosip."
"Aku kan melihat sesuai kenyataan."
"Yasudah aku mau bekerja. Ayo minggir."
"Iya iya."
Hae Su pun meninggalkan Nam Dae Ri di ruang ganti pakaian. Nam Dae Ri menggelengkan kepalanya. "Wah Kang Hae Su. Bagaimana bisa dia tidak tertarik pada Moon Jun Tae?"
Hari ini Hae Su sedang banyak pekerjaan. Mulai dari memeriksa kondisi para pasien.
__ADS_1
Mengganti sprei dan sarung bantal di kamar pasien dan juga memberikan obat.
Hingga tiba saat makan siang, dia merasa perutnya sudah lapar. Dia melihat jam di tangan kanannya sudah menunjukkan pukul 12.00 siang.
Hae Su meletakkan dokumen ditangannya dan beranjak ke kantin rumah sakit untuk makan siang. Dia mengantri makanan bersama dengan para pegawai rumah sakit ini.
Setelah mendapatkan makanannya dia membawa nampan makanannya dan memilih duduk di dekat jendela agar dapat menikmati makanannya sembari memandang orang-orang di taman.
"Boleh aku duduk disini?"
Hae Su menoleh kebelakang dan melihat Jun Tae membawa nampan makanannya dan mengangguk Jun Tae duduk berhadapan dengan Hae Su.
"Kenapa kau makan sendiri ? Nam Dae Ri tidak ikut?"
"Dia sedang diet. Jadi aku makan sendiri."
"Mungkin dia sedang ingin kencan buta."
"Hahahah" Hae Su tertawa lebar.
"Tanganmu sudah benar-benar sembuh ya?"
"Iya Bibi telah menggantinya dengan plester biasa. Sudah kering." jawab Hae Su sembari
Jun Tae memegang telapak tangan kiri
Hae Su dan menggengamnya. "Jangan sampai terluka lagi. Aku jadi selalu khawatir karenamu." bisik Jun Tae lirih tapi
menusuk ke dalam relung hati Hae Su.
Dia menarik tangannya dari genggaman Jun Tae dan kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Wah wah daebak!! Sepertinya ada yang berpacaran disini!" Hae Su menoleh ke arah datangnya suara. Dia mengenali suara itu.
"Pergilah!" cetus Jun Tae pada Hae Jun karena melihat mimik wajah Hae Su yang berubah.
"Aku semakin suka rumah sakit ini. Apalagi melihat ada pasangan perawat nan romantis."
Hae Su tidak menghiraukan tingkah laku Hae Jun. Di dalam hatinya dia hanya ingin menghabiskan makanannya dengan cepat dan pergi dari kantin itu.
Entah kenapa dia harus selalu bertemu dengan lelaki biang masalah ini. Lelaki itu masih berceloteh sendiri. Akhirnya Hae Su dapat menghabiskan makanannya dan bangkit dari tempat duduknya.
"Kang Hae Su!"
__ADS_1
"Aku telah selesai Jun Tae. Aku harus kembali bekerja. Permisi." Hae Su meninggalkan Jun Tae dan Hae Jun.
"Sombong sekali gadis itu. Apa kau mau berpacaran dengan gadis seperti dia?"
Jun Tae meletakkan sendoknya. "Hae Jun aku menghargaimu karena kau sahabatku dan kau anak dari pemilik rumah sakit ini. Tapi kau sangat kekanakan."
Jun Tae meninggalkan Hae Jun seorang diri di kantin rumah sakit dengan perasaan kesal. Dia tidak pernah punya waktu untuk berbicara serius dengan Hae Su. Bagaimana bisa dia mengutarakan perasaannya pada gadis itu.
Jun Tae melihat Hae Su dan mengejarnya. "Apa kau marah?"
"Buat apa marah?"
"Karena-.."
"Dia hanya butuh perhatian. Aku tidak mungkin marah pada lelaki seperti dia. Aku hanya kasihan melihatnya bertingkah seperti itu."
"Syukurlah kalau begitu."
"Dia hanyalah tipe orang yang tidak mendapat perhatian dan kasih sayang sejak kecil. Oleh sebab itu dia sering mencari perhatian orang lain dengan bertingkah menyebalkan sehingga orang-orang akan mulai marah padanya dan memusatkan perhatian mereka padanya. Baru dia merasa puas." Jun Tae terdiam mendengar perkataan Hae Su.
"Apa kau tahu Jun Tae? Ibunya ternyata pasien wanita yang berada di kamar 202. Kamar mewah itu. Kasihan sekali dia. Kau tidak tahu kan? Jangan bilang siapa-siapa ya. Aku pernah menemani Ibunya memasak mie pedas. Sepertinya Ibunya sangat menyukai mie pedas."
"Ah iya aku akan menyimpan rahasia itu." Mana mungkin aku tidak tahu hal itu? ujar Jun Tae dalam hati.
"Soal tawaranku saat dirumahmu. Apa kau mau?"
"Tawaran apa?"
"Soal mentraktirmu."
"Oh itu. Aku mau tapi-..."
"HAE SUU!!!" Nam Dae Ri berlari-lari dan mencoba mengatur napasnya yang sesak karena mengejar Hae Su.
"Ada apa Nam Dae Ri? Pelan-pelan bicaranya.” sela Hae Su.
"Aku mencarimu dari tadi. Kukira kau masih ada di kantin tapi ternyata disini. Kau dicari oleh Suster Kepala Seon!"
"Aku? Dicari oleh Suster Kepala Seon?"
"Iya. Ayo cepat!"
"Ayo!" Hae Su pun mengikuti Nam Dae Ri untuk menjumpai Suster Kepala Seon. Jun Tae hanya bisa pasrah ditinggalkan oleh mereka berdua.
__ADS_1
Susah sekali mendekatimu Kang Hae Su... ujarnya sambil memperhatikan Hae Su berlari.