Lavynds

Lavynds
Episode 17


__ADS_3

Hae Su memalingkan wajahnya dari Jun Tae dan melihat ke arah jendela. Hae Su membuka kaca jendela bis dan membiarkan angin menyapu wajah gadis itu yang putih.


Seketika sesuatu yang berbeda berdegup di dalam dada Jun Tae. Hatinya terasa berdenyut setiap kali melihat rambut hitam gadis itu tersapu angin yang masuk ke dalam bis.


Pipi gadis itu putih dan bersih dengan kedua mata yang sangat indah. Bibirnya yang dipoles lipstik merah muda membuat hati Jun Tae berdenyut dan ingin menyentuh bibir itu.


Hae Su melihat wajah Jun Tae kembali dan tersenyum.


"Kenapa ku memandangku seperti itu?"


Melihat wajah Hae Su, ada sesuatu yang tidak dapat dijelaskannya di dalam hatinya. Ada sesuatu yang sedang berdegup kencang di dalam hatinya. Tiba-tiba saja perutnya dipenuhi oleh ribuan kupu-kupu yang berterbangan.


Rasa apa ini. Kenapa aku tidak dapat berhenti melihat wajahnya....? gumamnya dalam hati.


Hari sudah sore dan langit sudah berwarna jingga. Bis berhenti tepat di halte rumah Hae Su. Mereka berdua pun turun dan mulai berjalan.


"Apa rumahmu masih jauh?"


"Ah tidak hanya beberapa meter dari sini. Kau tidak langsung pulang kerumahmu? Aku bisa jalan sendiri kerumah."


"Hmm aku penasaran dengan Bu Song. Tidak apa kan kalau aku berkunjung kerumahmu?"


Hae Su tersenyum melihat tingkah Jun Tae.


"Bibi juga punya sebuah kedai mie di simpang jalan itu. Tidak jauh dari halte tadi. Sejak aku tinggal bersama Bibi. Aku membantu Bibi di kedai sepulang sekolah."


"Apa dia tidak punya pegawai yang lain?"


"Tentu saja ada. Bibi punya 5 pegawai di kedainya. Kedai itu cukup besar. Aku hanya membantu mengantar makanan pada para tamu. Selebihnya mereka yang kerjakan."


"Sepertinya menarik."


"Begitulah. Karena aku sekarang bekerja, Bibi merekrut seorang siswi SMA untuk bekerja


paruh waktu."


"Aku jadi ingin berkunjung."


"Pastinya. Kau harus berkunjung jika ada waktu."


Tak terasa mereka telah sampai di depan rumah. Rumah Bu Song memiliki bentuk yang cukup bagus dengan dua lantai.


Halamannya cukup besar yang dipenuhi bermacam-macam tanaman hipotek dan bunga. Bu Song suka merawat tamannnya dan menyiraminya setiap sore.


Bila hari libur datang, Hae Su ikut membantu Bu Song merawat tamannya. Sementara kedai mie Bu Song berada di persimpangan jalan yang tak jauh dari halte bus berada.


Bu Song berkata jika dia telah tiada nanti. Rumah dan kedai itu akan dia wariskan kepada Hae Su karena wanita itu telah menganggap Hae Su anaknya.


"Bibi aku pulanggg!"


"Ya masuk sajaaa. Bibi ada dapurrr!"


Hae Su pun mempersilahkan Jun Tae untuk duduk.


"Duduk dulu ya. Aku ke kamar sebentar.


Kau mau minum biar aku ambilkan."


"Ah nanti saja. Aku mau melihat-lihat sebentar."

__ADS_1


"Baiklah."


Hae Su pun naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.


Jun Tae mengamati ruang tamu mungil yang ada di rumah itu. Jun Tae melihat banyak


kehangatan di dinding rumah itu. Sofa di ruang tamu itu berwarna coklat muda dengan beberapa vas bunga di sudut-sudut ruangan.


Walaupun ruang tamu itu tidak sebesar ruang tamu di rumah Jun Tae, tapi dirinya menyukai kehangatan di rumah itu. Banyak bingkai-bingkai foto kenangan yang digantung dinding rumah itu dan sederet piala piala penghargaan yang diraih oleh Hae Su ketika sekolah hingga perguruan tinggi.


Semua piala dan piagam penghargaan Hae Su ditata oleh Bu Song di sebuah lemari kaca berwarna putih yang merapat ke dinding. Dia melihat beberapa foto kenangan Hae Su dan


seorang wanita yang dia rasa itu adalah Bu Song.


Kemudian mata Jun Tae melihat sebuah bingkai foto yang sedikit usang. Di dalam foto itu ada seorang gadis yang kira-kira berumur delapan tahun sedang berfoto dengan seorang wanita tua.


Anak gadis itu kelihatan sedang memegang sebuah buku cerita dongeng di tangan kanannya. Di depan mereka ada sebuah kue ulang tahun yang diletakkan di sebuah meja.


"Itu aku dan Nenekku."


Jun Tae terkejut melihat Hae Su yang sudah ada disampingnya.


"Itu saat aku berulang tahun yang ke-8 tahun dan Nenek memberiku sebuah kue ulang tahun dan sebuah buku cerita dongeng yang dibelinya ketika ada diskon besar besaran.”


"Aku turut menyesal."


"Tidak apa-apa."


"Jadi saat itu kau berulang tahun yang ke 8 ya. Aku juga telah menebak tadi walau tidak ada lilin angka di atasnya."


"Benarkah? Wah tebakanmu tepat sekali!" seru Hae Su.


"Hae Su kau sudah makan?"


"Belum, Bi. Aku sangat lapar."


Lalu Jun Tae muncul di hadapan Bu Song.


"Wah siapa lelaki tampan?! Kau tinggi sekali Hae Su darimana kau menculiknya?!"


Hae Su yang mendengar gurauan Bibinya pun terkejut. "Bibi! Aku tidak menculiknya! Dia


temanku."


"Ah kalaupun kau menculiknya tidak apa."


"Dia mau segera pulang, Bi."


"Ah benarkah. Kau tidak ingin makan atau minum dulu, Nak?"


"Hari sudah malam, Bi." desak Hae Su


"Aish hari masih sore. Lihat matahari belum tenggelam."


Jun Tae tertawa melihat Hae Su dan Bu Song. "Tolong Bibi dan Hae Su jangan bertengkar


karena saya. Baiklah saya akan ikut makan malam."


"Nah begitu. Ayo duduk" Bu Song pun menyiapkan beberapa makanan di meja dibantu oleh Hae Su.

__ADS_1


"Ah jadi kau temannya Hae Su ya? Anak ini tidak pernah mengajak seorang teman lelaki pun kerumah ini. Jadi aku sedikit terkejut ketika melihatmu tadi. Bertahun-tahun dia hanya bermain dan berteman dengan temannya yang itu-itu saja. Bibi sampai pusing melihat anak ini. Bibi sudah tua dan khawatir pada Hae Su. Apa kau mau jadi menantu Bibi? Pekerjaan Ayahmu


apa?"


Hae Su yang mendengar hal itu terkejut dan mencoba menghentikan Bibinya.


"Bibi!"


Jun Tae kembali tersenyum melihat tingkah Bu Song dan menikmati makanannya. Hae Su merasa malu sekali pada Jun Tae sampai pipinya memerah.


Hari sudah malam sekali dan Jun Tae pun mohon pamit pada Bu Song.


"Kapan-kapan datanglah kerumah Bibi lagi. Bibi akan mengajakmu ke kedai Bibi dan


memasakkanmu mie yang enak sekali."


"Saya sangat tersanjung Bi. Hae Su telah menceritakan kalau Bibi punya kedai mie yang sangat enak. Saya ingin mencicipinya."


"Tentu saja kau harus datang! Aku sudah mengundangmu."


"Baiklah kalau begitu saya pamit dulu."


"Aku akan mengantar dia ke halte dulu Bi."


"Ya hati-hati kalian berdua!"


Jun Tae menbungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Bu Song.


Mereka berdua berjalan menuju halte.


"Hmm Jun Tae maaf kalau tadi sikap Bibiku agak aneh ya. Dia memang seperti itu."


"Aku senang kok. Tidak masalah. Sudah lama aku tidak makan masakan rumahan seperti itu. Rasanya seperti makan masakan Ibu lagi setelah sekian lama."


"Eh maksudnya?"


"Lupakan saja."


Tiba-tiba bis dari yang ditunggu oleh Jun Tae telah datang dan berhenti di depan mereka


berdua.


"Baiklah aku pulang dulu Hae Su. Sampai ketemu hari Senin!"


Hae Su mengangguk dan tersenyum pada Jun Tae ketika lelaki itu naik ke dalam bis. Ketika bis mulai berjalan Hae Su melambaikan tangannya pada lelaki itu.


Dia tidak segera pergi dari halte itu dan memilih duduk sembari melihat langit yang penuh bintang. Di depannya ada hamparan sawah yang luas.


"Aku tidak paham yang dikatakannya. Seperti makan masakan Ibu lagi? Dia kan masih punya Ibu. Kenapa bertingkah seperti tidak punya Ibu? Ah sudahlah!" Hae Su pun berjalan pulang kerumahnya.


"Bagaimana apa dia mengatakan suka padamu?"


Hae Su terkejut dengan perkataan Bibinya. "Bibi dia itu hanya temanku. Kami bekerja di rumah sakit yang sama."


"Bukankah itu bagus jika kalian bekerja di tempat yang sama. Lagipula dia tampan sekali."


"Sudahlah Bi. Aku mau tidur dulu ya Bibiku sayang." Hae Su naik ke kamarnya di lantai dua.


"Aigoo bagaimana aku dapat meninggalkan anak itu dengan tenang jika dia tidak bahagia. Bisa-bisa arwah Neneknya datang memarahiku." Bu Song pun masuk ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2