Lavynds

Lavynds
Episode 31


__ADS_3

Di jalanan kota Seoul yang ramai meluncur sebuah mobil sport putih dengan kecepatan


maksimum. Tak lama mobil sport itu sampai di depan pagar besi mewah berwarna perak yang


menjulang tinggi ke atas. Mobil itu membunyikan klakson dengan sangat keras.


Selang beberapa menit kemudian pagar itu terbuka lebar dan mobil itu memasuki sebuah


halaman yang luas. Di sisi-sisinya ditumbuhi pohon cemara muda. Mobil sport itu sampai


didepan rumah mewah yang besarnya seperti istana. Berwarna putih dan mempunyai tiga


lantai.


Ada beberapa pilar yang menyangga rumah itu. Arsitek rumah itu mendesignya dengan sangat


kokoh dan memberi sentuhan ala rumah di zaman victoria tapi diselingi oleh sentuhan


ornamen-ornamen Korea di setiap pilar-pilarnya.


Seorang wanita bak model keluar dari dalam mobil sport putih itu. Dia memakai setelan kaus


ketat berwarna biru, short pants yang pendek serta sepatu higheels dan kacamata hitam. Dia


berjalan ke arah pintu depan rumah yang sebesar istana itu dan memencet bel sembari


membetulkan kacamatanya. Tak lama asisten rumah tangga yaitu seorang wanita paruh baya


membukakan pintu.


"Nona Lee Bo Ra. Selamat pagi."


Wanita itu masuk melewati asisten rumah tangga itu tanpa mengucapkan sepatah kata


apapun."Dimana Kim Hae Jun?"


"Tuan muda sedang ada di lapangan golf di belakang, Nona." Wanita itu segera berbalik dan


meninggalkan asisten rumah tangga itu. Dia berjalan melewati koridor rumah yang luas itu


menuju halaman belakang. Dari balkon dia melihat seorang lelaki yang sedang bermain golf


ditemani beberapa pegawai yang bekerja dirumah itu. Wanita itu pun menuruni tangga balkon


menuju halaman golf.


"Apa seru jika hanya main sendiri?" Kim Hae Jun melirik ke belakang sebentar dan melihat


wanita itu, tapi tidak menghiraukannya. Dia hanya melanjutkan bermain golfnya. Wanita itu


pun memutar bola matanya melihat tingkah Kim Hae Jun.


Lalu dia mengambil tongkat golf milik Kim Hae Jun dengan paksa. "Harus seperti ini baru kau


menatapku?" Hae Jun menatap wanita itu, dan mengambil kembali tongkat golf di tangan Lee


Bo Ra.


"Aku datang pagi-pagi kesini hanya ingin memberitahumu karena kau tidak memgangkat

__ADS_1


teleponku. Hari ini jadwal kita makan malam. Kau harus menjemputku jam lima sore. Aku tidak mau terkena macet. Aku akan memberitahu tempatnya lewat sms." Setelah mengatakan


itu Lee Bo Ra pergi meninggalkan Hae Jun.


Selesai mandi dan menyegarkan tubuhnya dia mendengar suara dering sms dan segera


membuka.


Dari : Lee Bo Ra


Kita akan makan Restoran Vodelly...


Aku menunggumu sayang ❤


Dia melempar ponselnya dengan kesal ke atas tempat tidur dan menghempaskan tubuhnya.


Lengannya terulur menutupi wajahnya dan menangis.


["Jika kau ingin Ibumu sehat kau harus mendengarkan perkataanku."


"Apa Ayah tidak perduli lagi pada Ibu?"


"Tentu saja aku perduli padanya. Kalau tidak untuk apa aku memberinya sebuah kamar mewah di rumah


sakit itu. Aku hanya tidak ingin kau seperti Ibumu."


"Apakah Ayah harus menjodohkanku dengan orang yang tidak kukenal sama sekali?" bentak Hae Jun.


"Nantinya kau akan mengerti. Itu semua kulakukan demi dirimu." Direktur Kim pergi meninggalkan Hae


Jun seorang diri. Hae Jun meluapkan emosinya dengan menghancurkan seluruh isi kamarnya dan


Air matanya mengalir setiap kali mengingat hal itu. Ibunya tidak tahu jika Hae Jun menderita


karena harus dijodohkan dengan wanita yang tidak dia cintai sama sekali karena dia tidak ingin


Ibunya merasa khawatir dan sedih. Dia hanya ingin Ayahnya tetap merawat Ibunya maka dia


menerima perjodohan buta itu. Karena itu adalah janji Ayahnya.


Hae Jun mengambil kunci mobilnya dan berjalan menuju garasi. Di garasi itu terparkir sekitar


belasan mobil-mobil mewah milik Ayahnya. Hae Jun bisa menaiki semua mobil mewah itu.


Tapi hari ini dia menaiki sebuah mobil sedehana yaitu mini cooper berwarna coklat keluaran


BMW.


Hae Jun mengemudi dengan santai. Di kiri dan kanan jalan tampak orang-orang sedang


menikmati hari Minggu mereka dengan bahagia bersama keluarga dan teman-teman. Mobil Hae Jun berhenti di sebuah kedai mie pedas. Dia masuk ke dalamnya dan duduk seorang diri


di pojok. Seorang pegawai datang dan memberinya menu.


"Aku pesan mie pedasnya dua porsi." Pegawai itu mengangguk dan mencatat pesanan Hae Jun.


"Hai anak muda apa aku boleh duduk bersamamu?" Hae Jun melihat ke sekeliling.


"Ya. Aku bicara padamu."

__ADS_1


"Ah maaf Pak. Saya kira Bapak berbicara dengan yang lain." Tanpa menunggu persetujuan


Hae Jun. Bapak itu langsung duduk di depannya.


"Apa yang kau lakukan disini seorang diri? Apa kau tidak punya teman?"


"Ah bukan... Teman-temanku sedang punya urusan masing-masing. Jadi mereka tidak dapat


menemaniku saat ini."


"Kau kasihan sekali."


"Begitulah Pak. Aku selalu membayangkan tentang orang-orang yang kesepian karena aku.


Aku berharap setidaknya sekali saja mereka akan kesepian karena aku tidak ada." ujar Hae Jun


dengan datar.


Bapak itu menghembuskan napas. "Dengar Nak, kau tidak bisa seperti itu. Manusia akan selalu


mencari kebahagiaan mereka. Walau hanya sedikit harapan untuk menemukannya. Kau juga


harus mencari kebahagiaanmu. Jangan biarkan hidupmu diatur oleh orang lain. Apa kau tahu?


Biarpun aku hanya seorang penyapu jalan, aku tetap mencari kebahagiaanku walau sekecil


apapun. Aku tidak tahu kau sekaya apa. Tapi kebahagiaan tidak bisa diukur dengan uang


walaupun kau punya seluruh uang di dunia.” Hae Jun tertegun mendengar perkataan Bapak itu.


"Apa kau baru kali ini kesini?"


"Tidak. Tempat ini sering aku datangi dulu bersama Ibuku saat masih dibangku SMP. Saat itu


Ibu masih sehat. Namun sekarang dia tidak dapat lagi ke tempat ini. Jadi aku hanya akan


membelinya dan membawa pulang untuknya."


Seorang pegawai kedai datang membawa dua mangkuk mie pedas pesanan Hae Jun. Melihat


Bapak yang di depannya tidak memesan apapun dia pun menawarkan semangkuk mie pedas


itu.


"Apa Bapak mau makan semangkuk mie pedas ini bersamaku?”


"Baiklah jika kau memaksa. Aku pun belum makan dari tadi."


Hae Jun dan Bapak tersebut menikmati makanan mereka pagi itu. Setelah satu jam lebih duduk


bersama Bapak tersebut berkata. "Aku mau kembali bekerja. Apa kau mau tinggal lebih lama


disini?" Hae Jun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Bapak itu meninggalkan Hae Jun sembari memakai topinya yang telah kelihatan usang dan


mengucapkan terimakasih padanya. Hae Jun memandang keluar. Disinilah awal semua


kejadian itu terjadi.

__ADS_1


__ADS_2