
Di jalanan kota Seoul yang ramai meluncur sebuah mobil sport putih dengan kecepatan
maksimum. Tak lama mobil sport itu sampai di depan pagar besi mewah berwarna perak yang
menjulang tinggi ke atas. Mobil itu membunyikan klakson dengan sangat keras.
Selang beberapa menit kemudian pagar itu terbuka lebar dan mobil itu memasuki sebuah
halaman yang luas. Di sisi-sisinya ditumbuhi pohon cemara muda. Mobil sport itu sampai
didepan rumah mewah yang besarnya seperti istana. Berwarna putih dan mempunyai tiga
lantai.
Ada beberapa pilar yang menyangga rumah itu. Arsitek rumah itu mendesignya dengan sangat
kokoh dan memberi sentuhan ala rumah di zaman victoria tapi diselingi oleh sentuhan
ornamen-ornamen Korea di setiap pilar-pilarnya.
Seorang wanita bak model keluar dari dalam mobil sport putih itu. Dia memakai setelan kaus
ketat berwarna biru, short pants yang pendek serta sepatu higheels dan kacamata hitam. Dia
berjalan ke arah pintu depan rumah yang sebesar istana itu dan memencet bel sembari
membetulkan kacamatanya. Tak lama asisten rumah tangga yaitu seorang wanita paruh baya
membukakan pintu.
"Nona Lee Bo Ra. Selamat pagi."
Wanita itu masuk melewati asisten rumah tangga itu tanpa mengucapkan sepatah kata
apapun."Dimana Kim Hae Jun?"
"Tuan muda sedang ada di lapangan golf di belakang, Nona." Wanita itu segera berbalik dan
meninggalkan asisten rumah tangga itu. Dia berjalan melewati koridor rumah yang luas itu
menuju halaman belakang. Dari balkon dia melihat seorang lelaki yang sedang bermain golf
ditemani beberapa pegawai yang bekerja dirumah itu. Wanita itu pun menuruni tangga balkon
menuju halaman golf.
"Apa seru jika hanya main sendiri?" Kim Hae Jun melirik ke belakang sebentar dan melihat
wanita itu, tapi tidak menghiraukannya. Dia hanya melanjutkan bermain golfnya. Wanita itu
pun memutar bola matanya melihat tingkah Kim Hae Jun.
Lalu dia mengambil tongkat golf milik Kim Hae Jun dengan paksa. "Harus seperti ini baru kau
menatapku?" Hae Jun menatap wanita itu, dan mengambil kembali tongkat golf di tangan Lee
Bo Ra.
"Aku datang pagi-pagi kesini hanya ingin memberitahumu karena kau tidak memgangkat
__ADS_1
teleponku. Hari ini jadwal kita makan malam. Kau harus menjemputku jam lima sore. Aku tidak mau terkena macet. Aku akan memberitahu tempatnya lewat sms." Setelah mengatakan
itu Lee Bo Ra pergi meninggalkan Hae Jun.
Selesai mandi dan menyegarkan tubuhnya dia mendengar suara dering sms dan segera
membuka.
Dari : Lee Bo Ra
Kita akan makan Restoran Vodelly...
Aku menunggumu sayang ❤
Dia melempar ponselnya dengan kesal ke atas tempat tidur dan menghempaskan tubuhnya.
Lengannya terulur menutupi wajahnya dan menangis.
["Jika kau ingin Ibumu sehat kau harus mendengarkan perkataanku."
"Apa Ayah tidak perduli lagi pada Ibu?"
"Tentu saja aku perduli padanya. Kalau tidak untuk apa aku memberinya sebuah kamar mewah di rumah
sakit itu. Aku hanya tidak ingin kau seperti Ibumu."
"Apakah Ayah harus menjodohkanku dengan orang yang tidak kukenal sama sekali?" bentak Hae Jun.
"Nantinya kau akan mengerti. Itu semua kulakukan demi dirimu." Direktur Kim pergi meninggalkan Hae
Jun seorang diri. Hae Jun meluapkan emosinya dengan menghancurkan seluruh isi kamarnya dan
Air matanya mengalir setiap kali mengingat hal itu. Ibunya tidak tahu jika Hae Jun menderita
karena harus dijodohkan dengan wanita yang tidak dia cintai sama sekali karena dia tidak ingin
Ibunya merasa khawatir dan sedih. Dia hanya ingin Ayahnya tetap merawat Ibunya maka dia
menerima perjodohan buta itu. Karena itu adalah janji Ayahnya.
Hae Jun mengambil kunci mobilnya dan berjalan menuju garasi. Di garasi itu terparkir sekitar
belasan mobil-mobil mewah milik Ayahnya. Hae Jun bisa menaiki semua mobil mewah itu.
Tapi hari ini dia menaiki sebuah mobil sedehana yaitu mini cooper berwarna coklat keluaran
BMW.
Hae Jun mengemudi dengan santai. Di kiri dan kanan jalan tampak orang-orang sedang
menikmati hari Minggu mereka dengan bahagia bersama keluarga dan teman-teman. Mobil Hae Jun berhenti di sebuah kedai mie pedas. Dia masuk ke dalamnya dan duduk seorang diri
di pojok. Seorang pegawai datang dan memberinya menu.
"Aku pesan mie pedasnya dua porsi." Pegawai itu mengangguk dan mencatat pesanan Hae Jun.
"Hai anak muda apa aku boleh duduk bersamamu?" Hae Jun melihat ke sekeliling.
"Ya. Aku bicara padamu."
__ADS_1
"Ah maaf Pak. Saya kira Bapak berbicara dengan yang lain." Tanpa menunggu persetujuan
Hae Jun. Bapak itu langsung duduk di depannya.
"Apa yang kau lakukan disini seorang diri? Apa kau tidak punya teman?"
"Ah bukan... Teman-temanku sedang punya urusan masing-masing. Jadi mereka tidak dapat
menemaniku saat ini."
"Kau kasihan sekali."
"Begitulah Pak. Aku selalu membayangkan tentang orang-orang yang kesepian karena aku.
Aku berharap setidaknya sekali saja mereka akan kesepian karena aku tidak ada." ujar Hae Jun
dengan datar.
Bapak itu menghembuskan napas. "Dengar Nak, kau tidak bisa seperti itu. Manusia akan selalu
mencari kebahagiaan mereka. Walau hanya sedikit harapan untuk menemukannya. Kau juga
harus mencari kebahagiaanmu. Jangan biarkan hidupmu diatur oleh orang lain. Apa kau tahu?
Biarpun aku hanya seorang penyapu jalan, aku tetap mencari kebahagiaanku walau sekecil
apapun. Aku tidak tahu kau sekaya apa. Tapi kebahagiaan tidak bisa diukur dengan uang
walaupun kau punya seluruh uang di dunia.” Hae Jun tertegun mendengar perkataan Bapak itu.
"Apa kau baru kali ini kesini?"
"Tidak. Tempat ini sering aku datangi dulu bersama Ibuku saat masih dibangku SMP. Saat itu
Ibu masih sehat. Namun sekarang dia tidak dapat lagi ke tempat ini. Jadi aku hanya akan
membelinya dan membawa pulang untuknya."
Seorang pegawai kedai datang membawa dua mangkuk mie pedas pesanan Hae Jun. Melihat
Bapak yang di depannya tidak memesan apapun dia pun menawarkan semangkuk mie pedas
itu.
"Apa Bapak mau makan semangkuk mie pedas ini bersamaku?”
"Baiklah jika kau memaksa. Aku pun belum makan dari tadi."
Hae Jun dan Bapak tersebut menikmati makanan mereka pagi itu. Setelah satu jam lebih duduk
bersama Bapak tersebut berkata. "Aku mau kembali bekerja. Apa kau mau tinggal lebih lama
disini?" Hae Jun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Bapak itu meninggalkan Hae Jun sembari memakai topinya yang telah kelihatan usang dan
mengucapkan terimakasih padanya. Hae Jun memandang keluar. Disinilah awal semua
kejadian itu terjadi.
__ADS_1