
Hae Su memandang wajah Bu Song dengan penuh tanda tanya.
"Dulu... Ibu pernah punya seorang putri. Ibu mengandungnya dengan sangat lelah. Dia lahir dengan sangat cantik sepertimu. Tapi suatu hari dia meninggal karena sakit. Lalu suami Ibu menyalahkan Ibu atas kejadian semua kejadian itu, dan pergi entah kemana. Setiap kali Ibu melihatmu, Ibu teringat padanya. Jika sekarang dia masih hidup mungkin dia sedikit lebih tua darimu." jelas Bu Song dengan tersenyum.
"Dan mulai sekarang, kau jangan memanggilku Bu Song, tetapi Bibi. Kau juga tidak perlu takut karena aku akan merawatmu dan juga akan membiayaimu sekolahmu."
Hae Su memandang Bu Song dan memeluk pinggangnya sembari menangis. "Terimakasih..."
Dia menyembunyikan wajahnya dibalik tubuh Bu Song. Dia tidak tahu apakah harus bahagia atau menangis. Hanya dia berjanji suatu saat akan membalas kebaikan Bu Song seperti yang dikatakan oleh Neneknya.
"Sudahlah sekarang kita harus kembali kerumah sakit mengambil barang-barangmu lalu kita akan tinggal bersama."
Hae Su tersenyum dan menghapus air matanya. Dia sedikit lega karena ternyata dia tidak akan hidup sendiri. Ada satu hal yang berubah dari dirinya, tapi dia tidak tahu apa itu.
°°°
__ADS_1
Selesai membereskan barang-barang, mereka segera turun ke lantai satu rumah sakit. Mereka mendatangi Suster Kepala untuk menyampaikan terimakasih karena telah membiayai perawatan Hae Su dan mengurus pemakaman Neneknya. Selesai mengucapkan terimakasih mereka pun pamit.
Saat melewati koridor rumah sakit, mereka melihat sebuah taman dan duduk di kursi taman rumah sakit itu.
Hae Su bertanya pada Bu Song. "Bi... Waktu aku dan Nenek masuk kerumah sakit. Apa Bibi ada melihat anak laki-laki sebayaku yang juga dirawat?”
Bu Song mencoba mengingatnya. "Hmm setahu Bibi tidak ada. Ada apa Hae Su?"
"Ah tidak apa-apa. Hanya disaat kejadian, anak laki-laki itu juga terbaring dengan kaku di samping Nenek. Kepalanya berdarah dan terluka parah."
"Apa dia temanmu?"
"Bukan. Aku juga tidak mengenalnya."
"Apa perlu kita tanya Suster Kepala?"
__ADS_1
"Ah tidak usah, Bi. Mungkin aku hanya salah lihat." ujar Hae Su yang masih sangat penasaran dengan anak laki-laki itu, tapi dia juga tidak ingin membuat Bu Song cemas dan merepotkannya.
"Oh begitu.... Bibi jadi ikut penasaran. Ngomong-ngomong tadi kamu bertanya apa pada Suster Kepala?"
"Buku dongeng yang dibelikan Nenek saat aku berulang tahun ke-8. Buku itu hilang saat kecelakaan. Aku telah mencarinya, tetapi tidak ada. Aku selalu membawa buku itu kemanapun. Suster bilang polisi telah memeriksa semua barang yang ada lokasi kecelakaan, tapi hanya buku dongeng itu tidak ada."
"Yasudah nanti Bibi belikan yang baru ya." ujarnya tersenyum.
"Tidak usah Bi. Aku sudah 14 tahun. Buku itu hanyalah sebuah buku dongeng tentang kisah seorang putri. Aku masih ingat, saat itu aku marah pada Nenek karena membeli sebuah buku yang mengatakan kebohongan. Buku itu bercerita bahwa seorang putri harus hidup bahagia. Nenek bilang aku adalah seorang putri, tapi kenyataanya hidup kami tidak sebahagia itu. Aku hanya merindukan kenangan saat Nenek membacakan dongeng itu untukku."
"Baiklah. Jangan pernah lupakan kenangan itu di dalam hatimu. Kalau begitu ayo kita pulang dan makan mie pedas kesukaanmu." ujar Bu Song tersenyum.
Mereka berdua pun bangkit dari kursi taman tersebut. Ketika mereka sedang berjalan ke arah jalan raya, tiba-tiba Hae Su terdiam dan terpaku.
Kakinya tidak bergerak dan matanya memerah menatap sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam yang melewatinya, dan memasuki halaman rumah sakit. Kaca mobil itu sangat gelap sehingga dia tidak dapat melihat orang yang mengendarai mobil sedan itu.
__ADS_1
Mobil itu kenapa ada disini..!