Lavynds

Lavynds
Episode 20


__ADS_3

Pagi ini sangat cerah. Hae Su sedang senggang saat ini. Dia sedang berjongkok menghadap ke arah kandang kelinci yang dipelihara rumah sakit di taman ini. Dia membawa beberapa potong wortel di tangannya.


"Ayo makan yang banyak kelinci-kelinci lucu!”


Dia mengulurkan wortel-wortel itu kepada


kelinci yang sedang berada di dalam kandang. Mereka kelihatan suka ketika Hae Su mengunjungi mereka karena pastinya Hae Su membawa makanan untuk mereka.


"Jangan bertengkar. Ayo makannya yang baik. Jangan serakah pada temanmu. Besok aku akan datang lagi. Pokoknya kalian harus cepat besar ya. Aku harus kembali bekerja lagi." Hae Su pun bangkit.


Brukkkk.


Seseorang lelaki menabrak tubuh Hae Su sehingga dia terjatuh dan tangan kanannya berdarah terkena pecahan batu yang tajam saat menahan bobot tubuhnya. Darah segar mengalir dari telapak tangan Hae Su.


"Astaga maafkan saya Nona! Kau terluka parah sekali!"


Hae Su tidak dapat berbicara karena memang tangannya terasa sangat sakit sekali dan terluka parah.


Lelaki itu membopong tubuh Hae Su ke dalam rumah sakit yang berjalan tertatih-tatih.


Dokter Park membersihkan luka di tangan Hae Su dengan alkohol. Hae Su terlihat sangat kesakitan karena perih di tangannya.


"Lukamu cukup dalam. Kita harus membersihkan dan menjahitnya. Bagaimana mungkin memberi makan kelinci bisa membuatmu terluka seperti


ini?"


"Maafkan saya Pak. Tadi itu semua kesalahan saya."


"Kau harus bertanggungjawab atas luka gadis ini."


"Sekali lagi saya minta maaf."


Hae Su yang sedari tadi kesakitan hanya bisa diam saja membiarkan Dokter Park merawat


tangannya.


"Kau ini pasti berlari seperti kuda yang sering berlari kesana kemari. Kau harus berhati hati


terhadap sikapmu Hae Su."


"Iya Dokter Park." jawab Hae Su pada Dokter senior paruh baya itu.


"Saya akan membayar semua pengobatan Nona ini. Dimana saya harus membayar?"


"Tidak usah. Bayar saja dengan cara lain. Dia perawat dirumah sakit ini. Kau tidak melihat seragamnya? Tentunya dia mendapat fasilitas kesehatan dari rumah sakit ini." sela Dokter Park.


"Oh Maafkan saya. Saya tidak memperhatikan."


Dokter Park kelihatan hati-hati menjahit tangan mungil Hae Su dan membalutnya dengan perban sampai ke pergelangan tangan Hae Su.


"Nah selesai. Mungkin kau dapat beristirahat beberapa hari. Kau tidak dapat bekerja dengan kondisi tangan seperti itu. Aku akan berbicara dengan Suster Kepala Seon."


"Baik Dokter Park. Terimakasih."


Hae Su memberi hormat pada Dokter Park begitu juga dengan lelaki yang menabrak Hae Su. Mereka meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


"Anak muda memang tidak dapat menjaga tingkah mereka." gumam Dokter Park sembari membetulkan kacamatanya.


°°°


"Tidak apa-apa. Anda tidak usah membayar apapun. Saya baik-baik saja!"


Lelaki itu terus mengikuti Hae Su.


"Tapi aku telah melukaimu. Sebagai seorang pria aku harus bertanggungjawab.”


Dia menarik salah satu lengan Hae Su. Gadis itu linglung dan salah satu kakinya terselip sehingga membuatnya oleng dan jatuh.


Lelaki itu segera menangkap tubuh Hae Su dan menariknya ke pelukannya. Mata mereka bertemu. Hae Su menatap lekat mata lelaki yang memeluknya itu. Tubuh lelaki itu terasa hangat dan tubuhnya.


Indah sekali mata gadis ini... ujarnya dalam hati


"SEO JI HUNN!!"


Seorang lelaki lain memangil namanya, membuat Hae Su melepaskan dirinya dari pelukan lelaki itu.


"Apa yang-.."


Hae Jun melihat bahwa Seo Ji Hun baru melepaskan Hae Su dari pelukannya.


"Jadi selain gadis gila, kau juga suka menggoda pria tampan sepertinya?"


Mata Hae Su melihat Hae Jun dengan kesal.


"Kau ini! Bukan seperti itu, tadi aku telah menabraknya dan membuatnya jatuh di taman sehingga tangannya terluka."


Hae Su tidak tahan mendengar hinaan Hae Jun. Matanya memerah karena Hae Jun menghinanya seperti itu. Dia mendekat perlahan kepada Hae Jun dengan mata yang memerah.


"Aku... Tidak pernah mengenal kalian! Aku tidak peduli siapa kalian! Uang kalian ataupun status keluarga kalian!"


Mata Hae Su masih menatapnya lekat, membuat Hae Jun memalingkan wajahnya dari gadis itu sembari memutar bola matanya. Matanya kini tertuju pada lengan gadis itu yang diperban cukup besar.


"Dan kau harus satu hal. Aku tidak pernah ingin berurusan dengan kalian. Kalian yang datang ke hidupku dan merusak semuanya. Jadi tolong! Berhenti muncul di hadapankuu!"


Air mata mengalir di pipi Hae Su. Dia tidak terima dengan ucapan kasar dan tuduhan palsu Hae Jun yang menyakiti hatinya dan merendahkan harga dirinya ditambah sakit dan perih di tangannya.


Tiba-tiba Jun Tae lewat menghampiri mereka.


"Ada apa lagi dengan kalian? Hae Su tanganmu kenapa diperban seperti itu?!"


Hae Su segera menghapus air matanya ketika melihat Jun Tae datang. Dia menepis tangan Jun Tae ketika lelaki itu ingin menyentuh tangannya yang terluka.


Kini mereka bertiga berhadapan dengan Kang Hae Su dan menatap gadis itu. Moon Jun Tae. Kim Hae Jun dan Seo Ji Hun kini berada di hadapan gadis itu dengan tatapan yang berbeda.


"Hae Su?"


Ketiga lelaki itu berhenti menatap Hae Su ketika seorang wanita paruh baya lewat dan memanggil nama gadis itu.


"Bibi?!"


Hae Su berlari ke pelukan Bu Song.

__ADS_1


"Aigo kenapa kau menangis? Kenapa tanganmu seperti ini?" Bu Song panik ketika melihat perban di tangan Hae Su.


Seo Ji Hun yang merasa bersalah pun membungkukkan tubuhnya pada Bu Song.


"Itu semua salah saya Bu. Maafkan saya.."


Jun Tae juga memberi hormat pada Bu Song.


"Kau bukannya yang kemarin kerumah Bibi?" Jun Tae tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Hae Jun melihat kearah Jun Tae ketika mendengar Bu Song mengatakan bahwa Jun Tae pernah berkunjung kerumah gadis itu.


Hae Su masih memeluk Bu Song dan memalingkan wajahnya dari ketiga pria itu.


"Ayo kita pergi dari sini, Bi."


Seo Ji Hun dan Moon Jun Tae memberi hormat pada Bu Song. Sementara Hae Jun masih dengan wajah kesalnya menatap Jun Tae.


Seo Ji Hun memandang Hae Jun.


"Ayahmu mencarimu sejak tadi. Dia ingin kau ikut rapat perusahaan bersamanya. Kau selalu saja jadi anak yang merepotkan. Kalau saja aku tidak seusiamu aku sudah menendangmu."


Dia pun pergi meninggalkan mereka berdua dengan kesal.


"Wah dia sungguh sekretaris muda yang kejam. Kenapa Ayahku harus merekrutnya?!"


"Semua juga akan berlaku sama jika berhadapan dengan orang sepertimu!" bentak Jun Tae.


"Kau memihak pada siapa sekarang?"


"Aku memihak pada Ayahku."


"Daebak!"


"Jadi kau rumah gadis gila itu tanpa sepengetahuanku?!"


"Bukan urusanmu!"


Tiba-tiba Jun Tae berhenti. "Jangan memanggilnya gadis gila. Kau yang gila berkeliaran tanpa tujuan seperti ini dirumah sakit Ayahmu."


"Wah kau!" Hae Jun mengikutinya sampai keruang ganti. "Apa kau suka padanya?"


Perkataan Hae Jun membuat tangan Jun Tae terhenti.


"Ah kau tidak menjawab. Berarti kau memang suka padanya."


"Ya aku suka padanya. Kenapa?!"


"Heol! Jun Tae kau tidak dapat membuka matamu?! Dia itu gadis kasar dan aneh. Apa yang kau suka darinya?! Dia tidak lembut sama sekali. Akan kucarikan gadis-gadis yang lebih baik."


"Pergilah aku mau ganti baju! Aku tidak mengejar gadis-gadis di luar sana. Urus saja tunanganmu itu!"


Jun Tae mendorong Hae Jun agar keluar dari ruang ganti itu.


"Dia bukan tunanganku!"

__ADS_1


Ponselnya berbunyi. Di layarnya tertulis. Lee Bo Ra.


__ADS_2