
"Suster! Suster! Sa-saya Song In. Hae Su dan Neneknya ada dimana!?" tanya Bu Song pada Suster yang sedang berjaga di meja resepsionis dengan kalut.
"Apa Ibu mengenal pasien yang baru saja kecelakaan tersebut?"
Dari arah lain seorang Suster Kepala mendatangi Bu Song, "Apakah Ibu satu-satunya kerabat dari Bu Kang?” tanya Suster itu lembut.
"Ya Suster. Saya kerabatnya walaupun mereka bukan saudara saya, tetapi mereka tidak punya kerabat lain selain saya." ujar Bu Song lirih sembari mengusap air matanya.
"Baiklah. Mari saya antarkan Bu."
Suster Kepala itu mengantarkan Bu Song ke kamar tempat Hae Su dirawat. Hae Su masih
dalam keadaan tidak sadar. Bu Song melihat banyak luka goresan dan memar akibat tergores di aspal saat Hae Su berlari ke arah Neneknya.
"Pasien mengalami luka goresan dan memar. Tapi tidak ada luka yang cukup serius, hanya
mungkin dia sedikit terguncang. Ibu tidak usah khawatir, kami memberinya obat penenang agar pasien dapat tertidur. Karena pasien mengalami sedikit trauma atas kejadian tersebut."
Bu Song memegang tangan Hae Su dan menggengamnya.
"Sebagai satu-satunya kerabat dari korban, saya ingin menyampaikan hal yang penting. Sayatidak bisa menyampaikan langsung ke pasien, karena saya takut dia tidak dapat menerima kenyataan."
Suster Kepala itu menghembuskan napas panjang. "Ibu Kang tidak dapat kami selamatkan. Beliau kehilangan banyak darah ketika sampai dirumah sakit, dan ada pendarahan hebat di bagian otak kecil sehingga bagian belakang kepala beliau pecah. Kami telah berusaha semaksimal mungkin segera melakukan operasi, tetapi nyawa korban tetap tidak dapat diselamatkan. Dan karena rumah sakit ini adalah tempat beliau bekerja. Pihak rumah sakit akan mengurus biaya pemakaman beliau. Saya turut berduka dan prihatin dengan yang terjadi, dan saya juga tidak menyangka hal ini bisa terjadi pada Ibu Kang Myeon Hee. Hanya ini yang dapat saya sampaikan. Saya permisi." Suster Kepala itu pun memberi hormat lalu pergi.
Mendengar hal itu Bu Song menutup kedua wajahnya dan menangis. Dia tidak percaya sore itu adalah hari terakhirnya bertemu Bu Kang. Walaupun mereka bukan keluarga, tapi dia sudah menganggap Hae Su dan Bu Kang adalah keluarganya. Dia pun menatap Hae Su yang terbaring.
"Hae Su sayangg..." Dia mengelus kepala Hae Su. "Kenapa bisa ini semua terjadi.... Kenapa
kamu harus mengalami ini semua....?"
°°°
Esok paginya Hae Su terbangun. Dia melihat Bu Song tertidur dengan keadaan mendekap
tangannya sambil duduk disebuah bangku.
__ADS_1
"Bu Song... Bu Song..." Hae Su berusaha
membangunkan Bu Song yang tertidur.
"Hae Su. Kau sudah sadar sayang? Sebentar Ibu panggilkan Suster."
Hae Su menarik tangan Bu Song. "Tidak usah, Bu. Hae Su baik-baik saja."
"Benar kau baik-baik saja? Ada yang sakit?"
Hae Su menyentuh kepalanya. "Hanya sedikit pusing, Bu."
Hae Su melihat sekeliling kamarnya. "Nenek dimana, Bu? Kenapa Nenek dari tadi tidak kelihatan?"
Bu Song menunduk dan mengalihkan wajahnya. Dia tidak berani menatap gadis berumur 14 tahun itu.
"Bu... Kenapa Ibu diam?" Bu Song semakin sedih dan air matanya telah turun membasahi kedua pipinya. Dia menunduk dan menangis.
Melihat ekspresi Bu Song, sepertinya dia tahu apa yang telah terjadi. Dia tahu Neneknya tidakdapat bertahan dan akan pergi meninggalkannya.
Tapi dia tidak sangka akan sakit sekali rasanya jika menghadapinya secara langsung seperti ini. Takdir itu telah terjadi padanya dan dia tidak dapat mengelak.
"Bu Song."
Bu Song dengan gemetar memegang tangan Hae Su sembari mengusap air matanya.
"Kenapa aku tidak bisa menangis?"
Mendengar itu Bu Song menjadi takut. "Menangislah sayang. Keluarkan semua isi hatimu." Bu Song memeluk kepala Hae Su.
"Aku tidak bisa. Kenapa semua orang meninggalkanku, Bu? Apa kau tahu alasannya, Bu? Apa aku berdosa? Apa dosaku?"
Matanya melihat Bu Song seperti anak yang kehilangan harapan dan putus asa. Matanya terasa kosong dan begitu banyak kesedihan didalamnya.
"Bagiku tidak apa-apa jika harus berpindah-pindah rumah dan makan seadanya. Tidak apa-apa kalau aku tidak bisa makan enak dan memakai baju baru. Tidak apa jika kami tidak punya pakaian hangat di musim dingin. Atau ketika kami hanya bisa makan mie pedas darimu." ujar pelan Hae Su lirih sembari menahan tangisnya.
__ADS_1
"Iya sayang..." Bu Song masih memeluk kepala Hae Su sembari menangis.
"Atau ketika Ayah dan Ibuku tidak pernah menginginkanku karena aku hanya menjadi beban bagi mereka. Aku akan terima Bu.... Tapi, aku tidak ingin hidup sendiri! Aku benci sendiri Bu! Tolong aku! Tolong panggil Nenek kembali! Aku mohonnn!!!"
Hae Su pun tidak dapat menahan tangisnya dan menangis sekuat-kuatnya. Dia tidak bisa
mengerti kenapa hidupnya selalu menderita dan sendirian.
Dia merasa kesepian dan tidak diharapkan. Dia membenci takdir sialan itu. Dia ingin lari dari takdir itu. Tapi takdir sialan itu terus mendatanginya.
°°°
"Takdir adalah seperti saat kau tersandung batu. Kau tidak dapat menghindarinya tapi harus bangun dan berdiri untuk menghindarinya."
-Kang Myeon Hee-
Hae Su meletakkan bunga mawar putih itu di vas tempat abu Neneknya.
"Nenek terimakasih telah menjagaku selama ini. Sekarang Nenek telah tenang disana. Maaf... kalau aku selalu membuat pinggang Nenek sakit karena bekerja untukku. Maaf... kalau aku selalu membuat Nenek lelah. Hae Su sayang Nenek."
"Kang Myeon Hee... Semoga kau tenang di sana. Kau tidak usah khawatir. Aku akan menjaga Hae Su untukmu. Aku akan merawatnya seperti putriku sendiri. Walau aku tidak bisa menjaganya sebaik dirimu, tapi aku akan berusaha."
Selesai mengucapkan doa-doa, mereka
pun pergi dari tempat itu dan berjalan bersama.
"Hae Su..."
"Ya Bu Song...?"
"Mulai sekarang kau tidak usah khawatir. Aku akan selalu berada di sampingmu. Jadi kau tidak perlu takut. Kita akan tinggal bersama sekarang."
"Bu Song...".
"Hm...?"
__ADS_1
"Kenapa Ibu sangat baik padaku? Aku bukan keluargamu dan juga bukan anakmu."
Bu Song memandang Hae Su. "Hae Su. Terkadang orang lain bisa seperti keluarga. Lagipula Ibu hanya ingin menebus dosa dan kesalahan Ibu."