Lavynds

Lavynds
Episode 24


__ADS_3

Bandara internasional Incheon selalu ramai seperti biasanya. Jun Tae duduk di sebuah bangku tempat menunggu kedatangan penumpang.


Hari ini Jun Tae memakai setelan sweeter biru muda dipadukan celana jeans dan sneaker putih serta kacamata hitam.


Penampilan sederhananya pun mampu membuat para gadis yang melewatinya tidak dapat memalingkan wajah mereka. Saat dia melihat sosok yang sangat dia kenali, dia pun melambaikan tangannya.


"Ayahhh!!!"


Sosok yang merasa dipanggil pun memandang ke arah datangnya suara dan berlari mendapatkan Jun Tae. Mereka pun berpelukan satu sama lain.


"Ayah sampai tidak mengenalimu sekarang. Kau sungguh tampan!"


"Baru pergi 6 bulan masa langsung tidak mengenaliku?" Mereka tertawa bersama sembari berjalan menuju sebuah restoran yang masih ada di dalam kawasan bandara tersebut.


"Kita makan dulu ya. Ayah sangat lapar." Mereka pun duduk dan memilih-milih menu


makanan yang dibawakan oleh pegawai restoran.


"Makanan di pesawat tidak pernah enak. Hanya masakan Ibumu yang paling enak.” Jun Tae tersenyum melihat tingkah Ayahnya.


"Aku tidak percaya itu. Makanannya yang tidak enak, apa pramugarinya yang kurang cantik?"


"Ya mungkin keduanya." Jun Tae menggelengkan kepala melihat Ayahnya.


"Sudah saatnya Ayah mencari pasangan."


"Tidak akan Jun Tae. Aku lebih memilih hidup bersamamu sampai aku mati. Ayah sangat mencintai Ibumu. Tidak ada yang sepertinya di dunia ini."


"Ya Ayah benar! Memang Ibu yang paling terbaik dan tercantik."


Tak lama kemudian, makanan mereka pun datang. Pegawai itu menyajikannya di hadapan mereka berdua.


"Silakan dinikmati." Lalu pergi meninggalkan meja Jun Tae dan Ayahnya.


"Jadi bagaimana pekerjaanmu sebagai perawat? Ayah tidak tahu kenapa kau memilih sebagai perawat? Apa karena gadis yang kau temui di masa lalumu saat di rumah sakit dulu? Ayah masih ingat bagaimana kau semangatnya menceritakan tentang gadis itu."


Jun Tae diam dan berpura-pura menikmati makanannya.


"Sudahlah... Cinta pertama tidak akan pernah berhasil apalagi kau masih 14 tahun."


"Aku tidak menunggu gadis itu Ayah. Dia telah kulupakan." Jun Tae berbohong.


“Pekerjaanku baik-baik saja. Beberapa pasien ada yang sembuh dan ada juga yang tidak sembuh. Aku suka pekerjaanku. Jika pekerjaan Ayah menyelidiki penjahat maka aku menyelidiki kesehatan seorang manusia."


"Ya baguslah kalau begitu. Ah tapi apa kau sudah punya gadis yang akan dikenalkan pada Ayah?"

__ADS_1


Jun Tae memandang Ayahnya. "Hm.. Sebenarnya ada satu. Tapi aku tidak tahu jika dia mau padaku atau tidak."


"Apa kau sudah menyatakannya? Kalau dia menolak, itu namanya cinta bertepuk sebelah tangan! Kalau dia tidak mau lupakan dia. Carilah yang lain. Kau tampan. Tidak mungkin tidak ada yang tidak mau padamu."


"Aku hanya masih berusaha Ayah..."


"Baiklah Moon Jun Tae. Kalau kau memang suka padanya. Jangan lepaskan dia!" Jun Tae merasa termotivasi dengan perkataan Ayahnya.


°°°


"Saya bisa melihat yang ini?"


"Baik Tuan. Sebentar saya ambilkan."


"Cantik sekali."


"Ya Tuan. Gelang ini adalah koleksi terbaru. Terbuat dari permata berkualitas dan dibuat


dengan sangat teliti dan juga punya manfaat yang bagus sekali."


"Manfaat?"


"Ya. Salah satunya adalah gelang ini dipercaya dapat menyembuhkan dan menenangkan jiwa pemakainya."


Seo Ji Hun memperhatikan gelang itu. Gelang itu terbuat dari emas putih dan berlapis permata. Sangat cantik dan juga berkilauan.


"Ah bukan. Ini untuk seorang gadis yang terluka karena saya. Saya hanya ingin meminta maaf padanya."


"Cocok sekali kalau begitu. Seperti yang saya katakan selain cantik, gelang ini juga bermanfaat untuk menyembuhkan."


"Kalau begitu saya ambil yang ini."


"Baik Tuan. Kami akan segera mengemasnya. Mohon menunggu sebentar."


Ji Hun pun duduk di sofa yang ada pada ruang tunggu toko perhiasan tersebut.


"Tuan Seo Ji Hun."


Ji Hun berdiri dan menghampiri pegawai toko tersebut dan menerima gelang yang telah dikemas dengan rapi dalam sebuah bungkusan mewah. Lalu Ji Hun pergi dari toko perhiasan tersebut.


Hari ini Ji Hun tidak berpakaian formal seperti biasanya. Dia memakai kemeja putih polos dengan celana jeans dan sepatu sport. Saat akan berjalan ke parkiran dia bertemu dengan seseorang yang dikenalnya dengan baik.


Lee Bo Ra.


"Hai Seo Ji Hun. Telah lama kita tidak bertemu di luar seperti ini. Kelihatannya kau sedang sibuk karena punya kekasih baru." sapanya pada Ji Hun dengan senyuman yang sedikit angkuh.

__ADS_1


Gadis bernama Lee Bo Ra itu memiliki tubuh yang tinggi. Dia memakai dress ketat yang pendek berwarna merah, serta sepatu hak tinggi berwarna emas untuk menampilkan kaki jenjangnya.


Tubuhnya kurus bak supermodel. Rambut pendeknya berwarna pirang. Dia menyapa Ji Hun sambil menenteng tas merah yang kelihatannya memiliki harga selangit.


"Aku tidak tahu kau punya sisi romantis. Apa aku meminta pada Ayahku untuk dinikahkan


padamu saja? Kau juga tidak kalah tampan dan seperti Kim Hae Jun. Aku tertarik.” ucapnya sembari menggoda Ji Hun dengan menyentuh dada Ji Hun yang bidang.


"Tapi sayang kau tidak punya orangtua lagi." bisik Lee Bo Ra menyindir dengan senyum sinis.


Ji Hun menepis tangan Lee Bo Ra. "Apa yang kau inginkan?!"


"Tidak ada. Aku hanya kesepian. Jangan marah begitu. Tadinya aku ingin pergi dengan Hae Jun untuk memesan cincin pertunangan. Tapi dia tidak mau."


Mata Lee Bo Ra tertuju pada bingkisan di tangan Ji Hun. "Apa kau baru dari toko perhiasan itu. Apa yang kau beli? Boleh aku melihatnya?"


Ji Hun langsung membuka pintu mobilnya dan meletakkan bingkisan itu di dalam mobilnya.


"Bukan urusanmu! Aku mau pergi. Ada yang harus kuurus. Ada lagi yang mau kau katakan?"


"Ah kau ini kasar sekali. Aku akan mengadukanmu pada Direktur Kim."


"Jika orangtuamu tidak kaya. Kau tidak akan pernah dijodohkan dengan Hae Jun. Jagalah calon suami dan mulut kasarmu itu." ucap Ji Hun tegas.


Lee Bo Ra memutar bola matanya dan pergi meninggalkan Ji Hun. Tanpa pikir panjang Ji Hun langsung masuk ke mobilnya dan keluar dari halaman parkir.


Sembari menyetir mobilnya dia mengeluarkan secarik kertas putih dari dalam dashboard mobilnya.


"Jl. Yeonsang No.22. Semoga Suster Kepala Seon tidak memberikan alamat yang salah


padaku." ucapnya sembari memegang secarik kertas itu.


Tak lama, mobilnya memasuki sebuah jalan yang sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Suster Kepala Seon. Setelah sampai di sebuah rumah yang tertera nomor 22.


Dia pun turun dari dalam mobilnya sembari menenteng bingkisan tadi. Dia pun berjalan mendekati pagar rumah itu dan melihat seorang wanita paruh baya sedang sibuk mengurus beberapa tanaman.


"Permisi."


Wanita yang membelakanginya pun segera membalikkan tubuhnya dan melihat seorang pemuda tampan dan tinggi sedang berdiri di luar pagar rumahnya.


"Ya ada apa, Nak!?"


"Ah maaf... Begini Bi. Saya sedang mencari sebuah alamat. Ini alamatnya." Seo Ji Hun memberikan secarik kertas yang dipegangnya kepada wanita itu.


"Ini alamat rumah saya. Ada apa ya?" tanya wanita itu sedikit bingung. Pemuda itu pun

__ADS_1


tersenyum.


__ADS_2