
Malam itu bulan dan bintang bersinar sangat terang. Hae Su duduk di atas atap rumah sembari memeluk sebuah selimut tebal dan menikmati segelas besar susu coklat.
Minuman paling disukainya. Atap rumah mereka memang menjadi tempat Hae Su menghabiskan waktu jika dia ingin sendirian.
Atap itu juga digunakan sebagai tempat untuk menjemur pakaian. Disitu terdapat sebuah meja dan juga kursi untuk makan bersama.
Hae Su mengangkat tangannya ke atas seperti seolah menyatukan bintang-bintang di langit. Dia menyipitkan sebelah matanya dan terus seolah-olah dapat menyatukan bintang-bintang itu untuk membentuk sebuah rasi bintang. Rambut panjangnya yang lurus diterpa angin malam.
"Sekeras apapun bintang itu tidak akan menjadi milikmu!"
"Ah Bibi!"
Bu Song datang membawa sepiring makanan ringan lalu duduk di samping Hae Su.
"Kau bisa sakit jika semalaman begadang disini. Angin malam buruk bagi kesehatan."
__ADS_1
"Bibi melarangku tapi ikut duduk disini." ucap Hae Su sembari meneguk susu coklatnya.
"Dari tadi Bibi penasaran..."
"Tentang apa Bi?"
"Apa kau disini karena sulit menentukan mana yang akan kau pilih dari ketiga lelaki tampan tadi?"
Hae Su pun melotot dan hampir menumpahkan susu coklat yang sedang dinikmatinya.
"Maksud Bibi!?"
"Bibi seperti cenayang saja."
"Yang satu, mempunyai profesi yang sama denganmu. Yang satu, berpakaian seperti pebisnis dengan setelan jas mahal. Yang terakhir, seperti seorang aktor kaya. Ketiganya sama-sama tampan dan tinggi. Tapi sepertinya Bibi lebih suka yang seperti aktor itu. Dia lebih tampan." ujar Bu Song sembari tertawa.
__ADS_1
"Bibi sudah tidak waras. Kalaupun aku akan memilih. Aku akan memilih Moon Jun Tae, itu pun sebagai teman. Aku bahkan tidak terlalu mengenal mereka."
Lalu dia menunjukkan tangannya yang diperban. "Bibi lihat tanganku ini. Ini semua karena lelaki berpakaian setelan jas mahal yang Bibi katakan itu. Dan lelaki yang seperti aktor kaya itu, dia selalu menghinaku dan pernah menabrakku sehingga minumanku tumpah mengenai seluruh bajuku saat berada di toko Geo Mi. Dan parahnya dia tidak mau minta maaf apalagi bertanggungjawab." tegas Hae Su pada Bu Song dengan kesal.
"Hae Su..”
"Hm.."
"Apa kau tahu? Setiap hubungan yang baik tidak selalu diawali dengan pertemuan yang manis. Nasib sial tetaplah nasib sial. Kau akan bertemu siapapun yang telah ditakdirkan untuk bertemu. Itulah sebabnya takdir... nasib dan ikatan... menakutkan.
Seperti kata Nenekmu kau tidak dapat mengelak ketika takdir itu telah datang padamu."
Bibinya pun menguap. "Sudahlah Bibi masuk dulu. Kau pun segera masuk dan istirahat. Supaya tanganmu tidak tetanus."
"Bibii!!"
__ADS_1
Hae Su kesal sendiri dan merenungkan semua perkataan Bibinya.
"Kenapa aku harus berurusan dengan orang aneh seperti mereka?"