
Tubuh Ji Hun keringat dingin dan seluruh wajahnya kini pucat pasi. Lelaki itu seketika sempoyongan dan mau jatuh.
Hae Su refleks membantu lelaki itu agar tidak jatuh dan memapahnya duduk di kursi ruang tamu. Ji Hun pun menutup matanya sejenak untuk menenangkan pikirannya.
Hae Su segera ke dapur dan membuatkan sebuah minuman herbal penenang. Kemudian mengambil tisu. Ji Hun mengelap keringatnya dengan tisu dan meminum air herbal hangat yang diberi oleh Hae Su.
Dia berbaring sebentar untuk menghilangkan pusing di kepalanya. Tak lama kemudian Ji Hun pun tertidur. Pria tampan itu berbaring di kursi ruang tamu yang sederhana itu.
Bu Song datang dari dapur dan melihat Ji Hun telah terbaring pulas di kursi ruang tamunya.
"Kenapa dia seperti itu Hae Su. Apa dia sakit?" tanya Bu Song panik.
Hae Su menghampiri Bu Song dan berbisik. "Aku tidak tahu Bi. Saat dia melihat fotoku dan Nenek. Dia menjadi panik dan pucat pasi. Tubuhnya keringatan lalu dia sempoyongan. Dia tiba-tiba memelukku dan berulang kali minta maaf. Dia seperti bilang syal..syal..begitu."
Bu Song bingung dengan penjelasan Hae Su.
"Bibi tidak menaruh obat di minumannya kan?" goda Hae Su.
"Apa-apaan kau ini! Memangnya kita mau membunuh orang?! Kalau Bibi mau sudah kulakukan pada Moon Jun Tae lebih dulu dan mengancamnya menikah denganmu. Yasudah nanti ketika dia bangun. Kau segera beri dia air hangat."
"Baik Bi."
Setelah satu jam lebih tertidur, Seo Ji Hun terbangun. Tetapi Bu Song dan Hae Su tidak ada di ruang tamu tersebut.
Dia pun bangkit dari kursi itu dan berjalan ke arah dapur. Terlihat Hae Su dan Bu Song sedang membuat kimchi dan juga beberapa makanan dalam jumlah yang cukup besar untuk pasokan makanan pasien dirumah sakit.
Ji Hun mengetahui itu untuk rumah sakit Pyeongchang karena ada label di setiap kotak itu. Makanan itu disusun rapi dalam kotak-kotak sehingga kurir rumah sakit bisa mengantarnya dengan aman dan tidak tumpah. Jumlahnya sekitar ratusan kotak.
"Ah kau sudah bangun? Bagaimana kepalamu, apa masih pusing?"
"Sudah baikan Bi."
"Tapi kenapa kau tiba-tiba pingsan seperti itu Apa minuman yang tadi Bibi berikan tidak cocok untuk perutmu?"
__ADS_1
"Bukan Bi. Aku hanya kurang tidur belakangan ini." ujar Ji Hun berbohong.
Hae Su memberikan segelas minuman hangat lagi pada Ji Hun. Ketika Ji Hun mengambil gelas itu dari tangan Hae Su, tangan Ji Hun menyentuh tangan Hae Su sehingga mereka bertatapan sekitar beberapa detik.
Hae Su cepat-cepat melepaskan tangannya kembali membantu Bu Song. Sementara Ji Hun masih sesekali melirik ke arah Hae Su. Melihat mereka sibuk. Ji Hun duduk di kursi meja makan dan berpura-pura bertanya.
"Ini semua apa? Apa kalian ada acara?"
"Tidak. Ini untuk rumah sakit Pyeongchang. Bibi mendapat tawaran dari rumah sakit untuk memasok beberapa makanan untuk pasien rumah sakit. Bibi hanya memasok beberapa sayur yang bergizi saja." jelas Hae Su pada Ji Hun.
"Wah bagus sekali kalau begitu."
"Ya begitulah. Salah satu pegawai mereka yang merekomendasikan. Aku tidak tahu siapa dia." tambah Bu Song menjelaskan.
"Biar aku membantu sedikit mengemasnya." potong Ji Hun sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Baiklah kalian berdua tolong bantu mengemas ya. Sebentar lagi pegawai rumah sakit akan mengambilnya. Setelah dikemas tolong masukkan ke dalam keranjang besar itu. Aku ingin pergi ke kedai untuk mengecek kedaiku."
°°°
"Jun Tae."
"Ya Suster Kepala Seon."
"Kau telah selesai bekerja hari ini?"
"Ya. Saya baru saja mengecek kondisi beberapa pasien pria."
"Baiklah. Hari ini kurir kita akan mengambil makanan dari salah satu vendor kita. Tolong kau temani ya. Ibu takut dia tidak bisa mengecek kondisi makanannya."
"Baik Suster Kepala Seon."
"Tapi apa aku boleh bertanya satu hal." Jun Tae mengangguk.
__ADS_1
“Mengapa kau merekomendasikan Bu Song In Ra untuk menyuplai sebagian makanan pasien?"
"Ahh.. Itu karena masakan Bu Song cukup lezat. Saya pernah mencicipinya. Seperti masakan rumahan. Jadi saya pikir akan lebih bagus jika para pasien dapat menikmati makanan yang ketika mereka makan terasa seperti masakan rumah. Sehingga mereka dapat lebih sehat."
"Begitukah? Apa kau pernah kerumahnya sehingga kau berkata seperti itu?"
Jun Tae terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Suster Kepala Seon. "Tentu saja tidak! Saya hanya pernah mengunjungi kedainya." ujarnya berbohong.
"Baiklah. Kurirnya telah menunggu dibawah. Kau bisa berangkat sekarang."
"Baik Suster Kepala Seon."
Ji Hun dan Hae Su menyusun dengan rapi kotak-kotak makanan itu ke dalam keranjang dengan hati-hati. Jumlah kotak makanan itu ada sekitar 300 kotak. Ji Hun memperhatikan tangan Hae Su.
"Apa tanganmu masih sakit?"
Hae Su sadar bahwa Ji Hun memperhatikanya sejak tadi. "Tidak. Sudah sedikit lebih baik." jawab Hae Su tersenyum manis.
Hati Ji Hun berdenyut ketika melihat senyuman Hae Su. Gadis itu mencepol rambutnya ke atas sehingga rambut-rambut halus di sekitar keningnya sedikit keluar. Membuat gadis itu semakin manis di hadapan Ji Hun.
Kenapa senyumnya bisa seindah itu? bisik Ji Hun dalam hati.
Tangan Ji Hun seketika terangkat dan perlahan jemarinya mendekati Hae Su seperti ingin menyentuh kepala gadis itu.
Hae Su yang menyadari itu tiba-tiba terkejut melihat tangan Ji Hun telah berada di atas kepalanya lalu dia segera menjauhkan diri dari Ji Hun.
"Maaf..aku..tadi ada nyamuk dikepalamu. Jadi aku ingin mengambilnya." Wajah Hae Su memerah dan tersipu malu.
"Memang rumah ini sudah semakin tua jadi selalu banyak nyamuk dirumah ini." balas Hae Su tersenyum.
Ketika mereka selesai memasukkan ratusan kotak makanan itu ke dalam keranjang besar. Suara klakson mobil berbunyi di depan rumah.
Moon Jun Tae dan kurir rumah sakit telah sampai di rumah Hae Su untuk mengambil pasokan makanan.
__ADS_1