
Hari sudah siang. Hae Su dan wanita itu selesai menyantap mie pedas mereka. Tidak terasa Hae Su telah bersama wanita itu selama setengah hari.
"Bu, aku harus segera mengganti tirai jendela itu."
"Tidak apa. Biar perawat pria saja yang melakukannya."
"Tapi tadi Suster Kepala Seon menyuruh saya untuk melakukannya. Saya tidak enak bila harus menyuruh orang lain Bu."
"Hmm baiklah. Tapi kamu hati-hati."
Hae Su pun berjalan ke ruang tamu dan bergegas mengambil bangku yang tadi dipakainya.
"Ibuu!! Aku datang!"
Hae Su mendengar suara seorang lelaki yang berteriak. Dia pun tidak menghiraukannya dan melanjutkan pekerjaanya.
"Kau sudah datang? Kenapa lama sekali?"
"Tadi aku beli mie pedas dulu. Kedai itu ramai sekali Bu."
"Yah..tapi Ibu sudah makan mie pedas instan tadi."
"Benarkah? Ibu sekarang sudah mampu memasak sendiri?"
"Bukan. Gadis baik hati itu yang menolong Ibu memasak.."
Wanita itu menunjuk Hae Su yang sedang mengganti tirai jendela.
Hae Jun melihat perawat wanita itu.
"Ah begitu. Terimakasih telah membantu Ibuku."
Hae Su pun turun dari bangku kecil itu untuk membalas hormat yang diberikan lelaki itu. Saat mereka saling bertatapan. Hae Su membuka mulutnya terkejut bukan main.
"KAUU!!"
"KAUU!!"
Mereka saling menunjuk.
"Kenapa gadis gila ini ada disini? Hei! Kau membuntutiku ya? Kau mau minta ganti rugi
__ADS_1
sampai kesini? Kau apakan Ibuku?!"
"Wah kau! Kau benar-benar! Aku tidak tahu tahu kau ada disini. Untuk apa aku mengikutimu sampai kesini?"
"Tidak mungkin! Kau pasti mata-mata! Kau gadis aneh. Aneh!!"
"Aku bekerja disini dasar sialan!"
"Kau pasti perawat gila yang lari dari rumah sakit. Ibu jangan bertemu gadis gila ini lagi. Dia gila Bu!!"
Hae Su kesal sekali dan tidak tahan melihat tingkah lelaki itu. Dia melemparkan sebuah bantal sofa ke arah lelaki itu dan lelaki itu membalas melemparkan bantal yang lain.
"SUDAH HENTIKAN! Hae Jun hentikann!!"
Hae Jun pun menghentikan aksinya pada Hae Su.
Mereka berdua sekarang duduk berjauhan di sofa sembari melipat kedua tangan di dada.
"Hae Su, maafkan anak saya yang sangat kekanakan ini ya." Hae Su menurunkan tangannya dan tersenyum pada Ibu itu.
"Dia memang sering bertingkah seperti ini dari kecil karena aku sering sakit, jadi tidak ada yang memperhatikannya."
"Ibuu."
"Diam kau!"
Ibu Hae Jun pun kembali berbicara pada Hae Su.
"Kau tidak usah khawatir. Nanti biar anak ini
saja yang mengganti tirai jendela itu. Kau kembali saja bekerja. Ibu minta maaf ya."
"Hmm baik Bu. Saya juga minta maaf karena tidak dapat menahan emosi saya. Kalau begitu saya pamit dulu Bu." Hae Su memberi hormat dan meninggalkan kamar itu.
Dia pergi menuju atap rumah sakit.Ketika sampai di atap dia menjerit sekuat tenaga.
"SIALAN KAUUUUU!!!!"
"Hei!" Seorang lelaki yang berada dibawahnya terbangun karena mendengar suara Hae Su.
"Moon Jun Tae?!"
__ADS_1
"Kau bisa membangunkan seluruh semesta dengan suara itu." Jun Tae bangkit dan berdiri di sebelah Hae Su.
"Maaf."
"Kenapa kau marah?"
"Ah itu. Kenapa kau tidak bilang padaku kalau temanmu yang gila itu ada di rumah sakit ini? Apa dia pasien yang sakit jiwa di rumah sakit ini?"
"Oh ternyata kau telah bertemu dengan Kim Hae Jun.."
"Maksudnya ‘ternyata’?"
"Ya baik-baiklah padanya. Kau akan sering bertemu dengannya."
"Untuk apa aku sering bertemu dengannya. Jadi nama lelaki itu Kim Hae Jun. Tidak sesuai dengan kepribadiannya."
"Kalau kutebak. Kau pasti baru saja dari kamar 202."
"Kenapa kau bisa tahu?"
"Itu kamar Ibunya." Hae Su terdiam mendengar perkataan Jun Tae.
"Kim Hae Jun sudah berusaha merawat Ibunya sejak kecil. Apa kau tahu? Ibunya sudah berada di kamar itu selama 10 tahun." Hae Su terkejut mendengar hal itu.
"Ibunya sempat koma saat dia berumur 14 tahun. Dugaanku pasti Suster Kepala Seon yang menyuruhmu ke kamarnya untuk menghiburnya karena kau yang dilihatnya paling ceria dirumah sakit ini."
"Ya benar. Tapi aku tidak seceria itu."
"Tidak. Menurutku kau seperti itu. Dengan senyumanmu kau dapat membuat hati orang
menjadi ikut ceria. Begitu juga denganku."
"Eh?"
"Kau membuat hariku semakin berwarna Hae Su."
Jun Tae menatap lekat kedua mata indah Hae Su yang juga sedang menatapnya. Tangan Jun Tae perlahan terulur merapikan rambut Hae Su yang menyapu wajahnya dan membuatnya ke belakang telinga Hae Su. Mereka berdua saling bertatapan dalam waktu yang lama.
Jam menunjukkan pukul 11 malam dan Hae Su sudah berada di kasurnya sejak sejam yang lalu, tapi dia tidak dapat memejamkan matanya. Kata-kata Jun Tae masih membekas di hatinya.
"Apa aku memang gadis seperti itu?" Dia pun memeluk bantal gulingnya dan mulai menutup matanya agar segera terlelap.
__ADS_1