
[Aku melihat Ayah dan Ibu bertengkar dengan sangat hebat. Ketika Ayah keluar dari kamar. Ibu berteriak dengan sangat keras dan melempar semua barang-barang yang ada di hadapannya.
Aku masuk ke dalam kamarnya dan melihat Ibu sudah pingsan. Ada luka bekas pukulan Ayah di pipinya. Aku menghampiri Ibu.
"Ibu... Kenapa pipi Ibu berdarah?"
Tangan Ibu menyentuh wajahku dan berkata sembari menangis, "Hae Jun... Jangan menjadi seperti Ayahmu. Ibu mohon jadilah orang yang baik."
"Iya Bu. Aku janji."
Setelah itu, Ibu dibawa kerumah sakit dan koma selama beberapa bulan. Sampai saat ini, Ibu tetap dirawat dirumah sakit milik Ayah.
Pernah beberapa kali setelah sembuh, Ibu dibawa pulang kerumah akan tetapi Ibu mengalami mimipi buruk dan dibawa kerumah sakit berulang kali.
Hingga akhirnya Dokter mengatakan kalau lebih baik Ibu tinggal dirumah sakit. Sehingga Ibu diberikan sebuah kamar yang terlihat seperti rumah.]
Jun Tae melihat ekspresi sedih di wajah Hae Jun. Tiba-tiba Hae Jun berdiri dari tempat
duduknya.
"Baiklah hari ini aku ingin kau menemaniku ke suatu tempat!"
"Kemana?"
"Ke toko bunga. Apa kau tahu toko bunga yang paling bagus di Korea?"
"Aku tidak tahu toko yang paling bagus. Tapi aku tahu ada satu toko bunga yang lengkap."
"Ayo!"
"Tapi untuk apa kesana?"
“Aku tidak ingin bertemu Ibu dengan tangan kosong.
°°°
__ADS_1
Hae Su melirik jam di tangan kirinya.
"Sudah jam 3. Kita pulang yuk. Tadi Bibi bilang akan
masak makan malam buat kita."
"Tapi kita ke toko bungaku sebentar ya. Ada yang mau kukerjakan.”
"Oke!"
Hae Su berjalan ke arah kasir untuk mengambil macaron yang tadi telah dipesannya dan mengeluarkan sebuah kartu untuk membayar. Mereka berdua pun keluar dari cafe itu dan masuk ke dalam mobil.
"Mau apa kita toko bungamu?"
"Ada yang aku tunjukkan. Kau pasti menyukainya."
"Ulang tahunku masih lama."
"Terkadang rasa percaya dirimu tinggi juga ya. Aku baru mengimpor sebuah bunga. Namanya bunga Lavynds."
Rapat rumah sakit Pyeongchang baru saja selesai. Tampaknya para pemegang saham tersebut mendapat laba yang cukup memuaskan tahun ini. Terlihat dari senyum yang terukir di wajah mereka.
"Pak Direktur Kim. Saya sangat bangga dengan rumah sakit ini. Tidak menyesal rasanya dapat menanamkan modal saya di rumah sakit yang punya masa depan cerah seperti ini."
"Benar sepertinya rumah sakit ini akan terus berjaya dan tidak akan pernah redup. Pantas saja Pak Direktur Kim kelihatan tambah muda setiap saat."
"Ah Bapak dan Ibu terlalu memuji saya. Saya tidak melakukan apa-apa. Para pegawai di rumah sakit ini yang telah bekerja keras menciptakan rumah sakit ini."
"Pak Direktur Kim memang pandai merendah. Apa Kim Hae Jun telah menyelesaikan kuliahnya di Sidney?"
"Berkat kegigihannya dia telah menyelesaikannya dan sudah kembali ke Korea."
"Wah Pak Kim. Anda sungguh beruntung mempunyai anak yang tampan dan cerdas seperti. Rasanya saya ingin menjodohkannya dengan putriku."
"Itu ide yang bagus Bu Jang. Saya sangat tersanjung."
__ADS_1
"Tapi bagaimana keadaan Nyonya Han Akhir-akhir ini saya jarang melihat Nyonya Han. Apakah beliau sedang sakit?”
Pria itu sedikit terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh salah satu koleganya.
Seo Ji Hun tiba-tiba muncul dan menyela percakapan dan membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
"Nyonya Han sedang mengurus beberapa urusan bisnis butiknya dan sedang berada di
luar negeri.”
"Wah kau membuatku kaget saja Sekretaris Seo."
"Maaf jika saya mengagetkan Bapak dan Ibu. Tapi hari ini Pak Direktur Kim masih ada jadwal meeting selanjutnya."
Seo Ji Hun membuka tabletnya. "Pak Direktur. Hari ini Anda ada jamuan makan malam dengan Pak Gubernur."
"Pak Direktur Kim memang tidak salah merekrut Sekretaris seperti Pak Seo. Dia masih muda, gagah, tampan dan cekatan sekali."
"Begitulah. Saya sangat beruntung.” ujar Direktur Kim tersenyum sembari menepuk-nepuk pungung Seo Ji Hun.
"Saya tersanjung dengan pujian Bapak dan Ibu. Saya hanya berharap dapat bekerja dengan baik. Baiklah Bapak dan Ibu silakan dinikmati jamuan makannya. Kami pamit dahulu."
Seo Ji
Hun membungkukkan tubuhnya sekali lagi kepada kolega-kolega Direktur Kim dan berjalan mengikutinya Direktur Kim dari belakang.
"Wah seandainya dia bukan seorang Sekretaris aku pasti mau menjodohkannya dengan putriku. Dia sungguh tampan memakai setelan jas itu."
"Bukannya tadinya kau mau menjodohkan putrimu dengan anak Pak Direktur Kim?"
"Aku hanya mencoba memilih yang terbaik. Lagipula aku hanya berpura-pura. Pacar anakku seorang Pilot."
"Wah kau pandai berakting Bu Jang."
"Aku hanya ingin mengambil hati.Hahahaha."
__ADS_1