Lavynds

Lavynds
Episode 4


__ADS_3

Mobil-mobil yang lain membunyikan klaksonnya dengan sangat keras karena Hae Su berdiri di tengah-tengah pintu masuk menuju halaman rumah sakit. Satpam yang melihat memberi isyarat pada Hae Su agar menepi.


"Hae Su kamu kenapa?! Kamu hampir saja tertabrak mobil itu!" Hae Su tidak menghiraukan suara Bu Song. Matanya tetap mengikuti mobil sedan itu.


"Mobil."


"Apa? Mobil apa?"


"Kenapa mobil sedan itu ada disini?!"


"Mobil sedan apa Hae Su?! Bibi tidak tahu apa maksudmu?!"


"Mobil yang telah menabrak Nenek, Bi! Itu mobilnyaaa! Dia pembunuhnyaaa!!" Hae Su berteriak pada Bu Song dan berlari kearah mobil sedan itu.


Semua orang melihat Hae Su berlari, dan Bu Song mengejarnya. Kakinya yang masih sakit membuatnya terjatuh. Sontak Bu Song segera menghampiri Hae Su yang terjatuh dan membantunya berdiri. Akan tetapi gadis itu tidak sanggup untuk berdiri. Bu Song pun membantunya untuk bangkit dan menuntunnya duduk kembali di bangku taman rumah sakit itu.


Salah satu Satpam yang melihat kejadian itu mendatangi mereka dan bertanya. "Adik kenapa tadi berlari mengejar mobil seperti itu?"


Bu Song melihat ke arah satpam tersebut. "Maaf, Pak. Dia sedang lapar jadi mungkin sedikit agak pusing. Tidak ada apa-apa. Bapak dapat kembali bekerja. Maafkan sikap anak saya."


Hae Su melirik ke arah Bu Song ketika mendengar ucapannya. Bu Song berulang kali membungkukkan tubuhnya dan meminta maaf pada Satpam itu. Air mata Hae Su mengalir ketika melihat itu.


Dia teringat akan hal yang sering dilakukan Neneknya dulu. Ketika Hae Su membuat kesalahan, Neneknya akan selalu membungkukkan tubuhnya dan meminta maaf pada orang lain. Dia langsung memeluk Bu Song dan membuat Bu Song terkejut. Wanita itu membiarkan Hae Su menangis dipelukannya dan membiarkannya tenang.

__ADS_1


Bu Song membelikan sekotak susu coklat dan roti. Hae Su memakan semuanya karena perutnya sangat lapar. Mereka berdua terdiam sejenak.


Bu Song melihat ke langit. "Biru sekali awannya. Sangat cantik. Seperti kamu Hae Su."


Gadis itu masih terlihat terdiam sembari menggenggam susu coklat di tangannya.


"Hae Su... Apa kamu yakin itu mobil sedan yang kamu lihat malam itu?" Hae Su masih terdiam.


"Apa mobil itu yang menabrak Nenek dan melarikan diri begitu saja?"


Hae Su tidak menjawab dan mengeluarkan sebuah catatan kecil dari tasnya dan memberikannya pada Bu Song.


Bu Song mengambil catatan kecil itu dari tangan Hae Su dan membukanya.


Bu Song menghela napas. "Sayang. Bibi tahu kamu sangat menyayangi Nenek, dan Bibi juga sangat mendukung kamu untuk melaporkan orang jahat yang telah melukai Nenek." Hae Su memperhatikan wajah Bu Song.


"Tapi jika kita melaporkannya sekarang itu tidak ada gunanya. Ada banyak hal yang tidak kamu mengerti karena kamu masih belum dewasa. Kita adalah orang-orang lemah bagi mereka. Kita hanya akan berakhir seperti Nenek jika kita melaporkannya sekarang. Karena kita tidak tahu apa maksud mereka melakukan itu terhadap Nenek."


"Jadi apa yang harus aku lakukan Bi...?"


Bu Song mengusap kepala Hae Su. "Tumbuhlah menjadi gadis yang kuat dan dewasa. Untuk mendapatkan sesuatu kamu harus bersabar dan menunggu. Jika telah tiba waktunya, Bibi akan jadi orang paling pertama yang mendukungmu. Saat kamu tumbuh menjadi gadis yang kuat, saat itulah kamu dapat bertindak dan melaporkan semua apa yang kau lihat."


Hae Su melihat kembali awan dan langit yang sangat cerah itu.

__ADS_1


Tunggu Hae Su, Nek...


°°°


"Perawat Hyo, bagaimana kondisi pasien di kamar 204?"


"Ah pasien anak laki-laki yang ikut tertabrak bersama Nenek itu sudah tidak ada lagi di


kamarnya, Suster Kepala."


"Maksudnya tidak ada?" Suster Kepala itu mengernyitkan dahinya.


"Besok paginya setelah kecelakaan malam itu. Seseorang telah menjemputnya dan mengatakan akan memindahkannya pasien untuk dirawat dirumah saja."


"Benarkah?" Perawat Hyo menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana rupa orang yang mengambilnya?"


"Seperti bodyguard. Tubuhnya tinggi dan dia memakai setelan jas yang cukup mahal. Dan


memiliki perlengkapan seperti mata-mata. Mungkin dia Ayahnya." jelas perawat Hyo sembari memperagakan gaya seorang bodyguard.


"Hahaha mana ada yang seperti itu. Yasudah lanjutkan bekerja." Suster Kepala itu pergi sambil tersenyum.

__ADS_1


"Yasudah kalau tidak percaya."


__ADS_2