
Geo Mi yang telah selesai mengurus beberapa urusan dengan pegawainya keluar menghampiri mereka untuk mengetahui keributan terjadi.
"Hae Su bajumu kenapa?!"
Geo Mi pun terkejut melihat penampakan yang terjadi di halaman teras tokonya. Dia melihat baju Hae Su sudah basah dan kotor, serta tubuh lelaki di depan Hae Su yang terkena tumpahan kopi.
Hae Su yang kesal pun segera masuk kedalan toko diikuti oleh Geo Mi.
Hae Jun pun berjalan masuk ke dalam mobilnya sembari mengumpat.
"Dasar gadis gila. Merusak suasana saja! Aku harus ganti baju lagi untuk bertemu Ibu. Kenapa ada gadis seperti dia di dunia?!"
Dia memukul setir mobilnya lalu mengambil beberapa tisu basah dan tisu kering di dashboard mobilnya untuk membersihkan sisa-sisa kopi dari tubuhnya.
Tak lama kemudian Jun Tae datang dengan membawa buket bunga mawar putih yang telah selesai dirangkai. Jun Tae masuk ke dalam mobil dan meletakkan bunga itu disamping Hae Jun lalu mengambil dompet serta ponselnya.
"Kau pulang sendiri saja sana! Ada yang harus aku urus!"
"Hei Jun-..!" Jun Tae langsung menutup pintu mobil Hae Jun dengan keras dan pergi.
Lalu tiba-tiba dia kembali dan membukanya lagi. "Kau masih hutang buket bunga padaku."
Setelah itu Jun Tae menutup pintu mobil untuk terakhir kalinya.
"Ahhhh sialll!" Dia pun melajukan mobilnya meninggalkan halaman toko bunga itu dengan perasaan kesal.
Jun Tae masuk ke dalam toko bunga itu dan melihat Hae Su sedang membersihkan diri dibantu oleh Geo Mi.
Setelah beberapa lama akhirnya baju Hae Su kering dengan menggunakan hairdryer milik Geo Mi. Hae Su melihat Jun Tae yang sedang duduk di kejauhan dan menghampiri.
"Hai."
Jun Tae langsung berdiri ketika melihat Hae Su menghampirinya.
"Apa bajumu sudah kering?"
"Sudah. Walau masih ada sedikit nodanya."
"Hmm apa kau masih kesal dengan sikap temanku?"
"Ya masih."
"Aku minta maaf karena sikapnya."
"Ah tidak apa. Aku juga bersikap kekanakan tadi. Kau tidak usah minta maaf. Kau tidak salah."
"Tapi tetap saja. Temanku telah bersalah. Aku tidak ingin menjadi pria yang tidak
bertanggungjawab."
__ADS_1
"Ah kau mendengar itu?"
"Jadi apa kau memaafkan temanku?"
Hae Su tersenyum melihat tingkah Jun Tae. "Ya karena kau memintanya. Aku memaafkannya"
"Terimakasih Hae Su."
Beberapa gadis tiba-tiba berjalan melewati mereka berdua dan berbisik.
"Wah dia mirip sekali dengan aktor Kim Woo Bin!"
Hae Su dan Jun Tae yang mendengar bisikan itu saling bertatapan lalu mereka berdua tertawa.
"Kalau begitu aku pamit duluan."
"Kau mau kemana Hae Su?"
"Aku mau pulang. Tadinya aku masih ingin tinggal lebih lama disini. Tapi tidak mungkin
dengan kondisi baju seperti ini."
"Mau kuantar?"
"Eh?"
"Apa tidak apa-apa?"
"Tentu saja. Aku tidak tega gadis sepertimu pulang sendiri dengan keadaan baju yang penuh noda."
"Baiklah. Aku mengambil barang-barangku dulu dan pamit pada temanku."
Jun Tae menganggukan kepalanya. Hae Su mendekati Geo Mi yang sedang berbicara dengan pegawainya di meja kasir.
"Hae Su kau sudah mau pergi? Bajumu sudah kering?”
"Iya sudah kering. Bibi menghubungiku dan bilang kalau dia telah menungguku."
"Yah padahal aku mau menunjukkan padamu sesuatu."
"Lain kali saja. Aku pamit ya."
"Baiklah. Hati-hati!" Hae Su meninggalkan meja kasir dan melambaikan tangannya pada Geo Mi. Dia berjalan kearah Jun Tae dan keluar dari dalam toko bersama-sama.
"Maaf aku tidak dapat mengantarmu naik mobil. Tadi aku kesini dengan mobil temanku."
"Tidak masalah. Aku suka naik bis. Bukankah kita bertemu pertama kali di dalam bis?"
"Ya karena botol minuman itu."
__ADS_1
"Hahaha benar!" Mereka berjalan sampai di halte bis dan duduk disitu.
"Kalau boleh aku tahu. Toko bunga itu milik temanmu?"
"Ah iya. Namanya Cha Geo Mi. Aku sudah berteman dengan selama 10 tahun. Dia sahabat yang selalu menolongku setiap aku kesulitan."
"Begitu rupanya." Bis yang mereka tunggu pun datang. Mereka memilih tempat duduk disebelah kiri.
"Jadi sekarang kau tinggal bersama siapa setelah kepergian Nenekmu?"
"Aku tinggal bersama orang yang sangat baik. Namanya Bu Song. Dia bukan saudaraku, tapi dulu saat masih bersama Nenek kami sering mampir ke kedainya untuk membeli semangkuk mie pedas, tapi dia tidak pernah membiarkan Nenek membayar mie itu. Setelah kepergian Nenek, dia mengadopsiku sebagai keponakannya dan menyuruhku untuk mulai memanggilnya Bibi. Kami adalah orang yang sama-sama pernah mengalami kehilangan. Anaknya meninggal saat masih bayi dan suaminya meninggalkannya."
"Aku turut prihatin..."
"Dia orang yang sangat baik. Aku berjanji suatu hari membalas kebaikan hatinya."
"Ya kau harus melakukannya!" seru Jun Tae sembari mengacungkan jempolnya. Hae Su
tersenyum.
"Tapi boleh aku bertanya satu hal?"
"Ya boleh."
"Orangtuamu kemana Hae Su."
Hae Su melihat pemandangan ke arah jendela.
"Jun Tae."
"Ya?"
"Apa kau pernah melihat kuda?"
"Aku pernah dibelikan oleh Ayahku."
"Wah pasti Ayahmu kaya sekali sampai membelikanmu seekor kuda." ujarnya sembari menenteng bungkusan macaron di tangannya.
"Mungkin begitu."
"Orangtuaku seperti kuda."
"Eh?"
"Kuda selalu berlari dan bersikap aneh. Kuda tidak pernah kembali ketika dia pergi. Begitu juga orangtuaku."
Hae Su menatap kedua mata Jun Tae dengan lembut dan tersenyum dan melanjutkan perkataannya.
"Bagiku. Mereka seperti kuda. Karena mereka tidak pernah kembali."
__ADS_1