Lavynds

Lavynds
Episode 5


__ADS_3

10 Tahun kemudian.


"Selamat pagi Bibii!"


"Pagi sayang." Bu Song sedang menyendokkan nasi ke mangkuk untuk sarapan mereka berdua. Sarapan telah tersedia di meja makan.


"Wahh coba lihat siapa ini... Seragam perawat itu sangat cocok sekali untukmu. Kau sangat


cantik!"


"Ah Bibi. Aku sudah lapar.. Ayo sarapan. Nanti aku bisa terlambat kerja di hari pertama."


"Iya iya... Bibi tahu ini hari pertamamu kerja. Tapi apa memang harus rumah sakit itu?"


"Bi..aku ngelamar di rumah sakit itu karena disitu gajinya besar. Lagipula itu dulu tempat


Nenek bekerja. Dari kecil aku hanya ingin tau gimana rasanya kerja dirumah sakit tempat


Nenek bekerja."


"Baiklah. Baiklahhhh. Ayo cepat habiskan makananmu. Setelah selesai bekerja jangan lupa pulang kerumah. Bibi jadi harus mencari pekerja paruh waktu untuk kedai kita karenamu."


Hae Su tersenyum melihat Bu Song. Selesai sarapan Hae Su pun bergegas menyandang


totebagnya dan membereskan peralatannya. Dia mengambil sepatu dari rak dan memakainya.


Bu Song mengantarkan dan membukakan pintu pagar untuknya. "Wah putri angkatku sudah benar-benar besar sekarang. Waktunya aku pensiun dari kedai kalau begitu."


"Tentu. Aku adalah putri angkat yang baik hati. Suatu saat aku akan membalas semua kebaikan hatimu." Mereka pun tertawa bersama kemudian.


Hae Su melambaikan tangannya. "Aku akan pulang cepat, Bi!!" teriak Hae Su dari kejauhan.


Hae Su berjalan santai menuju tempat pemberhentian bus. Dia menghirup udara pagi yang segar dan menikmati oksigen yang masuk ke dalam paru-parunya.


Bunga-bunga musim ini sudah mulai bermekaran. Dia pun mengambil handphone dan headset dari dalam totebagnya. Lalu memutar lagu kesukaannya.


Spring Is Gone by Chance FMV GFRIEND.

__ADS_1


Dari kejauhan bis yang ditunggunya telah datang dan berhenti tepat di depannya. Dia pun naik dan menempelkan kartu bisnya. Suasana di dalam bis tidak ramai, dan dia memilih tempat duduk di dekat jendela.


Dia membuka sedikit kaca bis agar udara segar dapat masuk dan menyapu wajah putihnya. Sembari tetap menikmati lagu kesukaannya di telinganya dan memandang keluar jendela.


Beberapa menit kemudian bis berhenti. Hae Su membuka matanya. Dia tidak sadar sudah ketiduran di dalam bis. Tapi untunglah dia tidak kelewatan. Halte tempatnya berhenti masih beberapa blok lagi.


Bis sudah dipenuhi oleh beberapa orang yang akan bekerja. Dia menyapu pandangannya dan melihat seorang lelaki tampan dan mempunyai wajah yang bersih.


Lelaki itu tinggi dan mempunyai dada yang bidang. Senyumnya manis. Hae Su melihatnya seragam yang dikenakannya. Ternyata dia mengenakan seragam yang sama dikenakan oleh Hae Su.


Apakah pria itu juga bekerja di rumah sakit Pyeongchang..? gumamnya dalam hati.


Hae Su sedikit senang karena itu artinya dia akan sering bertemu lelaki itu. Dia tersenyum-senyum sendiri. Kemudian dia tersadar..


Hei apa yang kau pikirkan!


Hae Su kembali melirik lelaki di sampingnya itu. Akan tetapi lelaki itu tidak melihatnya dan tetap menatap lurus ke depan. Tenggorokan Hae Su tiba-tiba serak.


Dia mencari botol minumannya tetapi tidak ada. Di dalam tas tidak ada. Di bangku juga tidak ada. Matanya kemudian tertuju pada kaki lelaki itu. Ternyata saat dia tertidur botol minumannya terjatuh dan berguling ke arah kaki lelaki itu.


Kenapa botol itu bisa berguling sampai kesana?! teriaknya pada dirinya sendiri.


"Ah permisi..." Tidak ada jawaban. "PERMISI!" Hae Su mengeraskan volume suaranya dan


mencoba memanggil lelaki itu.


Lelaki itu tersadar dan melirik ke arah Hae Su. "Iya. Apa anda memanggil saya?" balas lelaki


itu kepada Hae Su.


"Maaf. Itu. Botol minuman saya menggelinding ke arah sana."


Pria itu mendongak ke bawah kakinya, dan melihat botol minuman itu tepat di samping kakinya.


Dia pun mengambil botol minuman itu dan memberikannya pada Hae Su.


"Maaf saya tidak tahu.." balasnya pada Hae Su tersenyum sembari memberikan botol minuman itu pada Hae Su.

__ADS_1


"Ah tidak itu salah saya. Tadi saya ketiduran dan ternyata botol itu sudah ada disana."


"Hmm baiklah." Lelaki itu tersenyum dan kembali bersandar di tempat duduknya.


Hae Su masih melirik ke lelaki yang duduk di seberangnya. "Maaf apa aku boleh bertanya?"


"Ya kenapa?"


"Kau memakai seragam yang sama denganku. Apa kau juga bekerja sebagai perawat di rumah sakit Pyeongchang?"


Lelaki itu melihat seragamnya dan tersenyum. "Ah iya. Hari ini adalah hari pertamaku bekerja. Bagaimana kamu bisa tahu?"


"Itu karena aku juga memakai seragam yang sama denganmu. Aku juga seorang perawat."


"Begitu rupanya. Sepertinya cukup menyenangkan jika dapat bekerja sama denganmu." ujar lelaki itu sembari mengulas senyumnya lagi pada Hae Su.


Sejenak Hae Su terpaku melihat senyum manis yang diberikan lelaki itu padanya. Ada sesuatu di dalam hatinya.


"HALTE RUMAH SAKIT PYEONGCHANG!!!"


Suara pengeras dari dalam bis membangunkan lamunan Hae Su. Mereka berdua pun turun bersama dari dalam bis.


"Kau boleh pergi duluan. Aku harus ke suatu tempat terlebih dahulu."


"Ba-baiklah." jawab Hae Su sembari mengangguk.


Lelaki itu membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Hae Su yang sedang tersenyum-senyum sendiri melihat kepergian lelaki itu. Tiba-tiba dia merasa kesal dan memukul kepalanya.


"Aishh bodoh. Kenapa aku tidak bertanya siapa namanya. Dia sungguh tampan. Dasar Hae Su bodoh."


Dia pun berjalan masuk ke arah halaman rumah sakit dengan kesal.


Saat berjalan melewati koridor rumah sakit itu. Masih jelas didalam kenangan Hae Su semua kejadian malam itu yang merenggut nyawa Neneknya, dan semua kenangan dengan Bu Song yang telah dianggapnya Bibi sekarang.


Baginya Bu Song adalah sosok yang telah memberikan kehidupan kedua, sehingga dia tidak perlu takut untuk hidup sendiri lagi. Mereka saling melengkapi karena pernah mengalami pahitnya sebuahnya kehilangan.


Bu Song selalu mengatakan padanya bahwa hidup adalah seperti berjalan di atas lapisan es yang tipis. Untuk itu dia harus selalu hidup berhati-hati. Tapi jatuh cinta bukan sesuatu yang berbahaya, kan?

__ADS_1


Ya jatuh cinta.


__ADS_2