
Tingtong. Tingtong. Tingtong
"Permisi Pak ini ada paket"
Dua pegawai apartemen kelihatan kesulitan membawa sebuah kardus paket berwarna coklat yang berukuran besar yang mereka letakkan di lantai.
"Bisa tolong bawa ke dalam?" Mereka pun mengangkat paket besar dengan susah payah dan meletakkannya di lantai apartemen lelaki itu.
Seo Ji Hun memberikan tip kepada masing-masing pegawai apartemen itu. Dia lalu menutup pintu dan berjalan ke ruang tamu menghampiri kardus itu, lalu kemudian mengambil gunting dan membukanya.
Terdapat beberapa barang-barang serta dokumen-dokumen di dalamnya. Barang-barang yang ada di dalam kardus itu adalah sebagian besar barang yang ada di kamarnya dahulu.
Dia memutuskan untuk menyewa sebuah apartemen mewah yang berada beberapa blok dari tempat rumah sakit Pyeongchang berada, karena dia tidak suka jika harus tinggal dirumahnya yang besar sendirian.
Rumah itu banyak meninggalkan kenangan bersama dengan Almarhum Ayahnya. Sehingga yang tinggal dirumah itu adalah para pelayan yang membersihkan dan merawat rumah itu.
Rumah Ayahnya cukup besar. Selain itu mereka juga mempunyai kebun dan ladang yang cukup luas yang berada di pingir kota Seoul. Pegawai-pegawai Ayahnya yang mengerjakan semuanya itu.
Seo Ji Hun hanya merasa tidak nyaman tinggal dirumah itu seorang diri dan dia pun memutuskan untuk tinggal di sebuah apartemen mewah yang cukup untuk dirinya sendiri.
Dia mengambil sebuah kotak. Kotak itu tidak terlalu besar dan berwarna hitam. Di dalam kotak hitam berukuran sedang itu, ada sebuah bingkai foto berwarna putih dan sebuah syal merah bercorak bunga.
Dia mengambil foto itu dan memperhatikan orang di dalam foto itu. Di dalamnya Seo Ji Hun berfoto bersama Ayahnya di sebuah restoran ayam cepat saji.
[Dokter berlari mendahului Seo Ji Hun dan membawa tubuh Ayahnya yang telah tak berdaya.
"Pasien mengalami luka tusukan. Mungkin ada lima luka tusukan. Cepat siapkan ruang operasi Suster!"
Seo Ji Hun kala itu kalut dan duduk sembari melipat tangannya untuk berdoa. Seorang Suster mendatanginya dan menyuruhnya untuk tetap tenang. Seo Ji Hun seorang diri saat itu.
Tidak ada kerabat atau saudara yang menemaninya disaat terberat dalam hidupnya. Saat-saat dia menghadapi kemungkinan Ayahnya akan mati atau hidup dengan banyak luka tusukan. Seo Ji Hun kemudian didatangi oleh beberapa polisi dan membawanya ke rumah sakit.
"Ayahku! Aku mau disini! Aku tidak mau kerumah sakit Pak polisi!" teriak Seo Ji Hun saat para polisi memintanya untuk ikut bersama mereka untuk membantu penyelidikan. Karena kasus itu adalah kasus pembunuhan.
"Ayahmu akan baik-baik saja. Ayahmu pasti akan sembuh. Apa kau tidak mau pembunuh Ayahmu ditangkap? Tenanglah Nak, kami akan menjagamu. Bila kau disini sendirian. Pembunuh itu akan datang
dan membunuhmu juga!"
Mendengar hal itu Seo Ji Hun pun gemetar dan ikut bersama dengan para polisi. Sesampainya di kantor polisi mereka menanyakan Seo Ji Hun perihal hal yang dilihat oleh anak itu.
"Jadi apa kau melihat wajah orang itu, Nak?" Seo Ji Hun menggelengkan kepalanya.
"Apa kau mengingat bagaimana ciri ciri dari pelaku itu. Baju apa yang dia pakai, rambut atau sepatunya?"
Seo Ji Hun tetap terdiam. Di tangannya terdapat sebuah syal merah bercorak bunga. Polisi pun melihat syal itu berlumuran darah.
"Apa syal itu milikmu?"
__ADS_1
"Bukan.."
"Jadi kenapa syal itu ada bersamamu?"
"Ayah bilang ini milik seorang Nenek yang menolong Ayah."
"Seorang Nenek?"
"Ayah bilang Nenek itu membantunya dengan menekan darah yang keluar dari tubuh ayah dengan cara mengikatnya."
"Apa ketika kau datang, Nenek itu masih bersama Ayahmu?"
"Tidak. Saat aku datang di tubuh Ayah sudah ada syal ini yang mengikat tubuhnya. Lalu aku berteriak memanggil orang-orang untuk menghubungi polisi."
"Jadi kau masuk ke dalam toilet dan saat itu Ayahmu telah terbaring dan ada syal ini mengikat pada tubuhnya?" Seo Ji Hun menganggukkan kepalanya.
Dia menundukkan kepalanya dan menangis mengingat Ayahnya yang menderita kesakitan. Tiba tiba Seo Ji Hun mengangkat kepalanya dan mengingat sesuatu. "Kalajengking!"
"Kalajengking?"
"Orang itu mempunyai tato bergambar kalajengking di punggung tangannya."
Seo Ji Hun menjawab datar dan menatap kosong ke depan.
"Coba jelaskan lebih rinci, Nak!"
Para polisi saling bertatapn satu sama lain. Seo Ji Hun hanya bisa pasrah saat itu.
"Pak tolong selamatkan Ayahku!" Dia menangis dan meraung dengan pilu saat itu.
"Aku tidak punya siapa-siapa lagi jika Ayah meninggal. Tolong aku Pak..."
Suara telepon berbunyi. Polisi itu mengangkatnya. "Kantor Polisi Pyeongchang."
Polisi itu menghela napasnya ketika mendengar informasi dari telepon dan melihat Seo Ji Hun.
"Apa itu dari rumah sakit?"
"Nak. Kami minta maaf. Ayahmu telah meninggal.."
Seo Ji Hun saat itu langsung berdiri dan berbicara terbata bata.
"Ti-dak mung-kin. TIDAKKKK!!! KEMBALIKAN AYAHKUUU!!! AKU MAU AYAHKUU!!!"
Para polisi mencoba menghentikan Seo Ji Hun yang menjerit-jerit histeris dan tidak mau diam. Seorang medis yang bekerja di kantor polisi itu datang dan menyuntikkan sebuah obat penenang.
Seketika Seo Ji Hun pingsan dan tertidur.
__ADS_1
Ketika bangun dia menyadari dirinya telah berada di rumah sakit dengan ruangan yang serba putih. Seorang Dokter wanita berdiri di sebelahnya sedang mengambil darah dari lengannya.
"Kau telah siuman. Tekanan darahmu tinggi sekali padahal umurmu baru 14 tahun."
"Dimana syal itu?"
"Syal?"
"Ah ini.." Dokter wanita itu mengambil sebuah syal dari laci meja kamar itu.
"Tadinya Ibu mau memberikannya ketika kau sadar." Seo Ji Hun mengambil syal merah itu dan tidak berkata apa-apa.
"Baiklah Ibu tinggal sebentar. Istirahatlah." Dokter itu meninggalkan kamar Seo Ji Hun.
Beberapa pelayan dan pegawai yang bekerja di rumahnya kemudian masuk dan membawakan seluruh peralatan dan baju yang dibutuhkan Seo Ji Hun. Mereka mengatakan Tuan Seo Min Ho telah dimakamkan, dan dia tidak usah khawatir.
Seo Ji Hun menyuruh mereka semua keluar dan pergi karena dia ingin sendiri. Dia turun dari atas tempat tidurnya dan berjalan ke arah kaca jendela.
Dia melihat pemandangan di taman rumah sakit. Banyak orang-orang yang mencoba menghirup udara segar.
Dia melihat seorang anak perempuanbseusianya. Anak itu juga memakai baju pasien yang sama dengan dirinya dan sedang duduk sendirian tanpa ekspresi di bangku taman.
Dia memalingkan wajah dan menutup matanya untuk mencoba memgingat hal yang dikatakan Ayahnya saat kejadian itu.
"Tolonggg aku!! Siapa saja tolong Ayahku!" jerit Ji Hun dari dalam toilet.
"Ji-Hun de-ngar-kan Ayah se-bentar" Ayah Ji Hun menariknya mendekat dan mencoba berbicara dengan napas tersengal sengal sembari menyentuh wajah Ji Hun dengan tangan yang berlumuran darah.
"Tolong a-yah! Waktu a-yah tidak ban-yak. Cari-lah pe-milik syal ini." Ayahnya melepaskan syal merah ditubuhnya itu dan memberikannya pada Ji Hun.
"Ada se-orang wanita tua. Dia telah men-yelamatkan A-yah. Kau harus se-ge-ra mencari mere-ka dan melin-dungi mereka. Kalau ti-dak mereka pas-ti dalam ba-haya. Tolong balaskan bu-di Ayah pa-da keluarga i-tu. Ayah tidak sang-gup lagi..”
Ayah Ji Hun seketika tidak sadarkan diri. Tak lama Ji Hun mendengar sirene ambulans. Beberapa orang berdatangan ke dalam toilet dan menolong Ji Hun dan Ayahnya.]
Seo Ji Hun membalik bingkai foto dan tiba-tiba jarinya terkena sebuah paku kecil yang menempel pada bingkai foto itu.
"Ahhhh!"
Darah segar mengalir dari jari telunjuk tangannya. Dia bangkit dan mengambil alkohol serta antiseptik di lemari P3K.
Setelah dia membersihkan luka itu dengan alkohol, dia lalu membalut telunjuknya dengan plester luka. Ketika dia melihat jarinya yang terluka tiba-tiba Seo Ji Hun teringat gadis siang tadi yang terluka karena dirinya.
Ketika gadis itu jatuh di pelukannya. Dia masih dapat mengingat mata gadis itu menatap dirinya dan ketika gadis itu menangis atas hinaan yang dilontarkan Hae Jun.
"Matanya memiliki sesuatu yang sangat dalam. Kenapa dia bisa mengenal Jun Tae dan Hae Jun? Dan kenapa dia tidak mau menerima permintaan uang ganti rugi yang kuberikan padanya?"
Dia pun menghela napasnya panjang dan beranjak ke tempat tidurnya.
__ADS_1