
Hae Su masuk ke dalam ruangan Suster Kepala Seon.
"Apa Suster Kepala Seon mencari saya?"
"Benar. Ada yang harus aku sampaikan padamu. Sekarang kau mempunyai pekerjaan khusus."
"Pekerjaan khusus? Saya tidak mengerti apa yang Suster katakan."
"Apa kamu masih ingat pasien wanita yang berada di kamar 202?"
"Masih. Ada apa dengan Ibu itu?"
"Namanya adalah Nyonya Han Yoo Min. Beliau telah tinggal dirumah sakit ini selama belasan tahun. Dulu dia pernah mengalami koma, tapi akhirnya dia bisa terbangun dari komanya. Tidak ada yang tahu kenapa dia bisa seperti itu. Beberapa kali dia pernah pulang ke rumahnya tetapi akhirnya dia kembali lagi ke rumah sakit. Dokter menduga dia tidak hanya sakit secara fisik, tetapi juga psikis. Dia mempunyai seorang anak yang usianya sama denganmu."
Hae Su mendengarkan penjelasan Suster Kepala Seon dengan seksama.
"Bagaimana dengan suami Nyonya Han. Apakah dia masih hidup atau sudah meninggal?"
"Untuk hal itu kau tidak perlu tahu. Ibu mengatakan ini, karena ini sangat penting untuk kau ketahui."
"Tapi kenapa aku harus tahu tentang Nyonya Han?"
"Karena mulai saat ini kau adalah perawat pribadi Nyonya Han."
__ADS_1
"Apa?!"
"Ya. Mulai sekarang kau akan menjadi perawat pribadinya, tapi kau juga harus bekerja untuk pasien lain. Dengan kata lain kau akan digaji dua kali lipat. Dari pagi kau akan bekerja merawat pasien dirumah sakit ini sampai siang, dan siangnya kau bekerja untuk merawat Nyonya Han."
"Tapi kenapa seperti itu?"
"Bukankah bagus? Kau akan digaji dua kali di tempat kerja yang sama. Putra Nyonya Han yang memintanya sendiri." Hae Su terkejut setengah mati ketika mendengar hal itu.
"Apa Ibu tidak salah informasi?"
"Tidak. Apa kau keberatan? Ibu tahu kalau kau telah mengenal putera dari Nyonya Han. Ibu sering memperhatikan kalau kau sering bertengkar dengan anak itu."
Hae Su menunduk.
"Bukannya saya tidak mau, Bu. Tapi apakah harus saya yang melakukan ini. Ini bukan masalah tentang putera Nyonya Han."
Hae Su keluar dari dalam ruangan Suster Kepala Seon dengan termenung. Dia tidak tahu apakah harus berterimakasih pada Suster Kepala Seon atau tidak.
"Jadi kau menerima tawaran merawat Ibuku, kan?"
Tiba-tiba Hae Jun telah ada disampingnya sembari menyandarkan tubuhnya di dinding. Hae Su yang sedang berjalan otomatis berbalik dan memasang tampang kesal ketika melihat lelaki itu.
"Aku tahu kau pasti akan menerimanya. Gadis sepertimu butuh uang. Aku memilihmu hanya karena Ibuku yang memintanya. Jadi kau tidak usah merasa terlalu percaya diri karena masih banyak Perawat yang lebih berkualitas darimu. Lagipula kau terlihat penyabar jadi kau cocok untuk merawat Ibuku." ujar Hae Jun dengan tersenyum.
__ADS_1
Hae Su memandang wajah Hae Jun lalu berjalan perlahan mendekatinya.
"Kau adalah lelaki paling kesepian yang pernah kutemui seumur hidupku."
Hae Su semakin mendekatkan wajahnya pada Hae Jun. “Aku tidak tahu kenapa kau bisa muncul terus di hadapanku. Tapi aku berharap aku tidak pernah menyukai lelaki sepertimu.” ujar Hae Su pelan.
Lalu Hae Su berbalik dan pergi meninggalkan Hae Jun. Hae Jun mematung di posisinya. Belum pernah dia berbicara sedekat itu dengan gadis manapun.
"Hei! Apa yang kau katakan! Heii!!"
Hae Su tidak perduli lagi dengan teriakan Hae Jun yang memanggilnya dan fokus berjalan ke depan.
°°°
"Hae Su menjadi Perawat khusus di kamar 202?!" Nam Dae Ri menganggukkan kepalanya.
“Iya. Kau tahu kan? Ibu yang kaya sekali itu.” Mendengar hal itu Jun Tae segera berlari dan mencari Hae Su di seluruh rumah sakit. Ternyata Hae Su telah pulang sejak tadi.
Besok adalah hari Minggu. Jadi Hae Su tidak bekerja. Bila tidak bekerja Hae Su sering membantu Bu Song di kedai.
Sudah lama rasanya dia tidak membantu Bu Song di kedai itu sejak dia menjadi perawat. Malam itu Hae Su kembali duduk di atas atap rumahnya sembari memeluk selimut tebalnya. Kini dia juga memeluk boneka kelinci berwarna biru yang sejak dulu telah menemaninya.
"Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus menerima tawaran itu? Aaaaaa aku tidak tahu!"
__ADS_1
Dia pun membaringkan dirinya di atas meja itu sembari melihat ke langit malam.
"Hahh...aku lelah! Kenapa aku harus berurusan dengan banyak orang aneh akhir-akhir ini. Padahal sebelumnya hidupku damai dan tentram bersama Bibi. Sungguh sial!"