
Tingtong.tingtong.tingtong
"Moon Jun Tae. Jun Taeee!!"
"Ya sebentarrr!" Jun Tae membuka pintu apartemennya.
"Tadaaa!!!"
Jun Tae tersenyum melihat sahabatnya itu dan memeluknya. Lelaki itu mempunyai tinggi yang sama dengan Jun Tae. Siapapun yang melihatnya dapat menebak hanya dari setelan yang dipakainya kalau dia berasal dari keluarga berada dan kaya.
Dia memakai kemeja biru bermerek dipadukan celana jeans menampilkan kakinya yang jenjang dan sneaker mahal. Kulitnya putih sama seperti Jun Tae.
Kim Hae Jun adalah sahabat selama ini. Mereka bertemu pertama sekali saat di rumah sakit. Kala itu, Moon Jun Tae sering dititipkan Ayahnya pada Suster Kepala Seon.
Jika dirumah tidak ada yang menjaga Jun Tae karena Ibunya sedang sakit. Suster Kepala Seon adalah satu satunya kenalan yang dipercaya Ayah Jun Tae untuk menjaga
putranya ketika dia sedang melakukan penyelidikan.
Sementara di satu sisi, Kim Hae Jun tidak
suka berada dirumah sakit karena Ayahnya hanya akan meninggalkannya bersama pengawal dengan segudang mainan tanpa ada teman bermain. Akhirnya dia pun berkeliling sendirian dirumah sakit dan bertemu Moon Jun Tae.
Para gadis sering mengatakan bahwa Kim Hae Jun sedikit mirip dengan aktor Korea bernama Kim Soo Hyun.
"Boleh aku masuk?" Jun Tae membuka pintu apartemennya lebar untuk Kim Hae Jun.
"Wah apartemenmu terlihat sangat klasik sekali. Sesuai dengan kepribadianmu."
__ADS_1
"Kau tahu aku dari dulu tidak suka yang terlalu ribet."
"Ya kau punya selera yang bagus. Kita sama." Hae Jun berhenti dan memandang sebuah foto keluarga berukuran besar yang terpajang di dinding ruang tamu apartemen sahabatnya.
"Kami terlihat seperti keluarga bahagia, kan?"
"Kalian memang bahagia."
"Sudah tidak usah iri. Kau juga punya yang seperti itu kan dirumahmu."
"Tapi aku tidak suka melihatnya."
"Mau tidak mau kau harus melihatnya setiap saat."
Hae Jun pun berkeliling dan melihat lihat apartemen sahabatnya itu.
"Apa ada bir?"
Jun Tae memasang wajah datar. "Kalau mau bir kenapa kerumahku. Apa lingkungan di Sidney telah merubahmu menjadi lelaki penyuka bir?"
"Tidak juga. Aku jadi ingin mabuk saat melihat foto tadi." Jun Tae melemparkan sebuah minuman bersoda ke arah Hae Jun.
"Terimakasih atas sodanya."
Jun Tae menghampiri Hae Jun dan duduk di depannya. "Bagaimana kuliah di sana.?"
"Lumayan. Tapi gadis-gadis disana tidak terlalu menarik. Aku lebih suka gadis Korea."
__ADS_1
"Aku bertanya soal kuliahmu. Bukan gadis-gadis disana."
"Hei! Gadis-gadis itu terkadang menambah semangat kuliahku. Sudahlah yang penting aku telah pulang Korea dengan selamat."
"Apa Pak Direktur Kim tidak menghadiri wisudamu disana?"
"Kau mengenalnya, kan? Sudah kubilang aku hanya punya Ibu, bukan Ayah. Dia mengirim pengawalnya sebagai ganti dirinya. Tentu saja aku menyuruh pengawal sialan itu pergi!"
"Aku hanya berharap Pak Direktur dapat berubah."
"Seorang singa tidak mungkin berubah menjadi kucing yang manis."
"Kudengar Ayahmu merekrut seorang Seketaris baru."
"Ya. Dia seumuran dengan kita. Namanya Seo Ji Hun.”
"Aku ingin memberitahu soal Ibumu. Keadaannya masih seperti dulu. Belum ada yang berubah. Hanya terkadang sakit jantungnya sering kambuh."
"Terimakasih Jun Tae. Kau telah merawat Ibuku dengan baik."
"Tidak aku hanya melakukan tugasku dengan baik. Aku telah menganggapnya Bibiku."
"Aku tidak tahu sampai kapan Ibu seperti itu. Dia sering stress." Hae Jun menghela napasnya.
"Bersabarlah. Suatu hari pasti Ibumu akan pulih."
"Ya memang lebih baik Ibu tinggal dirumah sakit. Jika tinggal dirumah itu akan membuatnya semakin sakit. Rumah itu memang sebesar istana. Tapi bagiku dan Ibu, itu seperti penjara yang Alcatraz. Aku hanya ingin melihat Ibu tersenyum dan cantik seperti dulu."
__ADS_1